Bos Ajaib

Bos Ajaib
51. Belajar Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Hari Minggu, aku benar - benar capek. Jadi aku memutuskan untuk bersantai di rumah.


Mas Malik pagi - pagi sudah menyapa via whatsapp.


Mas Malik :


Juleha sayang, sudah bangun belum?


Rachel :


Hhmmm


Mas Malik :


Kok gitu aja jawabnya? Mau bubur?


Rachel :


Masih ngantuk Mas. Mas enggak usah kesini, aku mau nyantai. Badanku capek Mas.


Mas Malik :


Yaah.. Mas kan kangen. Ya udah deh, nanti berkabar ya. Mas mau masak sama bersih - bersih apartemen deh.


Rachel :


Besok juga kitakan ketemu. Nanti Mas bosen lihat aku terus. Udah ah Mas, aku mau tidur lagi.


Mas Malik :


Oke sayang. Mimpiin Mas ya.


Rachel :


Ogah ah. Byee


Begitu tutup whatsapp, aku sudah tidak ngantuk. Aku memilih untuk mandi sebelum keluar kamar.


Saat aku berendam, aku banyak memikirkan hubunganku dengan Mas Malik. Karena masih anget, jadi masih gampang kangen.


Ahay! Aku juga teringat omongan Mas Malik yang dulu menganggapku sebagai adik. Nah, kalau sekarang aku jadi calon istri, tandanya.. Ada yang enggak beres. Aku harus segera menyelesaikan mandiku.


Setelah selesai mandi, aku pun menelepon Mas Malik.


"Halo Mas Malik."


("Iya Ha, ada apa?")


"Mas, sibuk nggak?"


("Nggak. Kenapa emangnya?")


"Mas kalau mau kerumah boleh deh. Ada yang mau Rachel omongin. Serius ini."


("Soal apa?")


"Udah nanti saja kalau Mas dah di rumah."


("Siang ya? Mas Makan siang di rumah Leha ya?")

__ADS_1


"Iya boleh. Mas yang beli makanannya kan?"


("Kamu pesan saja, ayam goreng atau bebek deh Ha. Mas transfer sekarang ya.")


"Boleh. Transfernya yang banyak ya. Rachel kan cewek matre, jadi Mas enggak usah malu-malu transfer ke Rachel. Oke?" Aku langsung ngajak ngomong ngaco aja. Lagian, hanya untuk makan siang aja, pakai diganti. Makan siangnya dirumah aku lagi.


("Sip. Langsung buat satu bulan nih.")


Eh? Kenapa dia serius ya? Apa selama sebulan, makan siang dia aku yang ngurus? Lah, bakalan ketahuan anak-anak kantor ini mah. Ah, si Petruk suka cari gara - gara nih.


"Ya sudah ya Mas. Rachel tunggu di rumah. Rachel mau sarapan dulu. Ini Rachel masih di kamar. Byee. " Aku mengakhiri percakapan.


("Byee sayangnya Mas.")


***


Akhirnya aku memilih membeli nasi bakar dengan ayam goreng di restoran langgananku. Aku beli dua ekor ayam sekalian, biar kalau sisa bisa untuk nanti malam.


Siangnya saat aku sedang nunggu Mas Malik datang, ternyata Jaka yang datang.


"Lah, kenapa elo yang dateng? Yang gue tungguin Mas Malik, Jak."


"Janjian gue sama Reyka. Dia mau ke toko buku, sekalian aja, gue juga lagi nyari kertas."


"By the way, gimana menurut elo adek gue? Jujur Jak, gue ngeliat kalian cocok."


"Sejauh ini, iya gue seneng sama Reyka karena gue merasa, dekat sama dia hidup ini jadi berwarna. Norak ya Chel alasannya?"


"Enggak kok Jak. Memang kalau sama Reyka kita tidak akan merasa flat. Yang gitu - gitu aja. Kadang dia suka melakukan sesuatu yang tidak kita fikirkan."


"Yang gue bingung, dengan sifatnya yang seperti itu, bagaimana bisa dia hidup sendiri di Leiden?"


Aku mengerti kalau Reyka manja saat ini, karena dia kangen dengan kami dan ingin dimanja seperti ketika dia belum dilempar ke negara kincir angin itu.


Saat lagi ngobrol di teras dengan Jaka, Mas Malik datang. Namun saat Mas Malik masih di garasi, Jaka bertanya, "kalian jadian?"


"Iya Jak. Baru kemarin resminya. Kelihatan ya?"


"Mas Malik kelihatan suka sama elo dari awal gue kenal dia yang di kantor itu."


"Ooh. Kenapa gue enggak nyadar ya? Beberapa temen memang sudah bilang sih. Eh orangnya dah deket, ganti topik deh." Aku memperingati Jaka untuk tidak membicarakan Mas Malik lagi.


"Asalamualaikum. Eh Jak, sudah sampai?" salam Mas Malik.


"Iya, janjian habis makan siang mau jalan sama Reyka, Mas."


"Itu anak, baterainya merek apa ya? Mbaknya dipakein juga deh."


"Dia sih kebanyakan energi." Jawabku. "Eh, itu anak belum tahu ya, kalau elo dah sampai? Sebelum jalan makan dulu ya Jak. Yuk,duduk didalam saja." Aku lalu mengajak dua cowok itu masuk.


Para pria kemudian melanjutkan obrolan di ruang keluarga. Mama dan papa kebetulan lagi pergi sejak pagi karena ada undangan dari kolega papa. Biasanya sore mereka baru pulang.


Aku sedang menyiapkan makan siang buat mereka ketika Reyka menyusulku ke meja makan.


"Mbak, aku nanti pergi sama Mas Jaka ya?" Dia minta ijin ke aku.


"Iya, tadi Jaka juga sudah bilang sama Mbak kok. Rey, menurut kamu Jaka bagaimana? Kamu suka enggak sama dia?" tanyaku. Hahaha iseng juga sih pertanyaannya, Reyka baru beberapa hari kenal sudah ditanyain macam - macam.


"Hehehehe. Dari awal ketemu Rey sudah suka sama dia Mbak. Ditambah lagi tahunya sifatnya oke banget kan kalau buat pasangan hidup," kata Rey sambil berbisik takut terdengar para cowok. Yes! Senang banget aku mendengarnya. Kalau begini semua rencanaku lancar. Ini bocah juga sudah mikirin soal pasangan hidup euy.

__ADS_1


"Nah, Mbak juga melihatnya kamu tuh cocok dengan dia."


"Tapi nanti mama papa marah nggak ya kalau Rey jadian sama dia?"


"Emang Jaka suka sama kamu?" tanyaku iseng. Habis, kok yakin benar kalau bakalan jadian.


"Dari gelagatnya gitu. Lihat aja, dia dengan sukarela mau nemenin aku jalan kan?" Reyka bicara sambil senyum. Dasar!


"Suruh mereka makan Rey. Ini sudah siap."


"Oke Mbak."


***


Reyna dan Jaka sudah pergi setengah jam yang lalu. Kini aku duduk diruang keluarga sambil nonton HBO yang menayangkan film Dinosaurus.


Karena Mas Malik transfer uang lumayan banyak, aku lalu beli cemilan melalui aplikasi grab untuk menemani kami.


"Leha, itu Jaka sepertinya suka sama Reyna ya?"


"Iya. Waktu mau jemput Reyna tempo hari, aku juga sudah nanya Jaka, mau enggak aku jodohin sama Reyna. Tadinya dia agak kurang setuju, tapi ternyata mereka cocok. Tadi aku sudah tanya ke keduanya. Kemungkinan besar sih mereka akan jadian."


"Kok kamu baru cerita? Padahal Mas sudah cemburu terus saat melihat kalian berdua."


"Makanya, kalau Rachel ngomong tuh dipercaya. Dari awal kan Rachel dah bilang kalau perasaan Rachel ke Jaka biasa saja, meskipun dekat kalau hati enggak ketar ketir ya enggak jadian lah. Kami cuma teman diskusi."


"Yah, namanya juga cemburu, kamu bisa sajakan bohong."


"Ya sudah, sekarang mulai percaya enggak? Kalau enggak percaya sebelum melangkah jauh kita bubar saja, gimana?" Aku bertanya dengan kesal, karena disangka bohong.


"Yee ngambek aja. Kamu ada apa, tahu - tahu minta Mas datang? Apa yang mau dibicarakan?"


"Oh iya, itu Mas. Kemaren ya kan Mas nganggep Rachel sebagai adek, nah itu sudah bilang belum sama mama papa Mas Malik?" Mas Malik terlihat bingung dengan pertanyaanku. Terlihat jelas dari mukanya, yang dahinya berkerut.


"Enggak ngerti ya? Bingung ya?" tanyaku yang dijawab anggukan kepalanya dan jari tangannya meremas di jemariku. Lupakan itu film yang sedang tayang di HBO, karena ternyata ngobrol dengan yayang bebeb lebih menyenangkan.


"Kalau Rachel jadi istri Mas Malik, Rachel gagal dapat warisan dong?" Aku menanyakan sambil senyum menggoda.


"Ya ampun, kirain sih apaan Ha. Tenang, Mas akan kerja bagaikan kuda untuk hidup kita nanti."


"Hehehehe asyik, itu salah satu alasan biar ketemu Mas Malik juga sih. Habis, tadi lagi berendam jadi kangen Mas Malik," kataku jujur. Mas Malik minta aku jujur, ya aku akan lakukan biar dia juga jujur dengan aku. Semua harus diawali dengan keterbukaan kan?


Mas Malik langsung meraih tubuhku. Dia memelukku dan mencium rambutku. Untung tadi keramas, jadi masih harum.


***


.


.


Baper ya? baper ya? Hahahahaha masalahnya author-nya baper🙄


Pembaca setiaku, makasih banyak ya sudah setia dan menunggu perkembangan kelakuan Rachel.


Terima kasih juga suda like dan comment.. Meskipun nggak dibales tetep dibaca kok, sebagai mood booster author untuk rajin up date.🥰🥰🥰


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2