
Saat ini aku sedang menunggu telepon dari Jaka. Tadi kami sudah janjian akan teleponan jam 8 malam.
Tadi aku sampai rumah jam 5 sore. Reyka baru sampai jam 6, saat Mas Malik pamit. Hahahahaha Mama Papa seperti tempat konsultasi saja, menemui pacar anaknya gantian.
Saat sedang sibuk membaca berita dari internet, Jaka pun menelepon.
"Yap Jak. Gimana - gimana?"
("Alhamdulillah, semua lancar Chel.. Jadi sebelum gue ngomong perasaan gue ke Rey, gue ngomong dulu ke nyokap.")
"Woow. Terus - terus?"
("Ceritanya nyokap gue nanyain terus apalagi gue sering kerumah kalian. Penasaran doi. Nah gue ceritain lah kalau gue bukan tertarik sama elo, tapi sama yang lain. Kaget lah dia. Shock Chel nyokap gue. Dipikir gue mau mempermainkan elo. Kok nggak tertarik tapi rajin main kerumah elo. Gue belum cerita soal Rey pada saat itu. Kan topik utama elo.")
Aku tertawa ngebayangin Jaka diomelin sama Tante Gita.
"Elo sih Jak, rajin ngapel ke sini, tapi bukan pendekatan sama gue. Hahahahaha."
("Ketawa lagi loh! Nyokap gue murka tau! Nyokap gue pas marah sama gue tuh pas baru pulang dari pesta dan pakai high heels. You khow Chel? Dia sampai ngacungin itu sepatu seakan si high heels yang runcing itu bakalan dia tancepin ke jidat gue, saking marahnya.")
"Astaga." Kok bisa segitu marahnya sih?"
("Lah iya lah. Dia sudah bayangin gue bakalan nikah sama elo. Hahahaha. Taunya malah nggak ada hubungan apa - apa, terus rajin dateng pula. Lengkapkan gue bikin emosi nyokap. Terus pas gue suruh sabar, dia masih ngomel. Gue bilang aja, 'Mama, tenang. Jaka akan tetap usahakan Mama besanan sama Tante Keya'. Eeh dia bingung.")
"Hahahahahaha, kenapa elo gangguin nyokap elo sih Jak? Kayaknya bukan elo banget deh. Elo tuh kan tenang, kalem, pemikir."
("Yeee... Ini juga karena keseringan bareng kalian. Gue jadi ketularan iseng.")
"Hahahaha kita buat hidup semakin berwarna lah Jak. Jangan serius terus."
("Iya Chel. Eh nyambung lagi nih. Pas gue ceritain gue tertarik sama Rey, dan gue ceritain kalau elo juga menilai kalau karakter gue pas sama Rey, dia mulai mikir. Dia bingung, biasanya kalau anak nggak mau dijodohin kan musuhan atau hubungannya nggak bagus lah ya, tapi kenapa gue sama elo tetap nyantai. Ya gue jelasin deh. Termasuk kalau elo deket sama Mas Malik, dan kita sudah beberapa kali jalan berempat bareng.")
"Shock dong nyokap elo?"
("Yaa dia merasa aneh aja sama kita. Nyokap juga mikirnya Rey masih kecil. Lah sekarang umurnya saja sudah 24 tahun. Yaa gue jelasin seputar Rey yang ramai, nggak bisa diam, dan lebih heboh dari elo, dan sifat - sifat yang bertolak belakang dari gue tapi gue suka dan kemungkinan nyokap gue juga senang punya mantu seperti Rey.")
"Aaaah terharu gue Jak."
("Tapi, yang jadi masalah, nyokap maunya gue segera nikah setelah Rey kelar kuliah. Nah ini yang mau gue diskusiin ke elo.")
"Wooow.. tapi elo sudah tanya sama Rey belum Jak?"
("Belum. Dan gue juga minta nyokap untuk nggak ngebahas soal nikah dulu. Kan habis ini hubungan gue sama Rey akan LDR. Ya, paling gue main ke sana sekali atau dua kali, tapi jugakan nggak bisa lama. Gue mau nyokap ketemu sama Rey dulu deh.")
"Waduh, masalah waktu nikah ternyata emang makanan emak -emak ya Jak. Kemarinnya juga keluarga Mas Malik minta segera nikah gitu. Tapi gue bilang mau mikir dulu."
("Kayaknya kalau umur sudah cukup, ada pasangan, punya penghasilan, keluarga emang akan ribut deh Chel.")
"Iya ya. Padahal gue masih mau adaptasi sama Mas Malik. Aah lihat nanti deh, pusing sendiri nanti."
("Iya. Gue juga bingung nih. Tapi sambil jalan deh. Susah deh emak - emak kalau sudah ada maunya.")
"Embeeeer. Ya udah, elo telepon cewek elo dulu deh. Gue mau gangguin Mas Malik."
("Astaga, tinggal nyebut nama adek elo susah bener sih Chel?")
"Biar gaya ah. Kesannya kalau nyebut nama adek gue, elo habis curhat mendalam soal hubungan elo sama Rey."
("Okay deh. Makasih ya Chel. Eh calon kakak ipar deng. Hahahahahaha.")
"Kalau kata sinetron di tivi ikan terbang judulnya, 'Wanita Yang Dijodohin Ibuku Jadi Kakak Iparku'."
("Wakakakakaka, ngaco loh ah. Ya udah, setoran deh loh sama Mas Malik. Sekali lagi, makasih ya Chel.")
"Sip Jak. Byeee."
__ADS_1
Seperti rencanaku semula, aku pun whatsapp Mas Malik.
Rachel :
Mas lagi apa? Adek baru selesai teleponan sama Jaka
Selama sepuluh menit whatsapp aku nggak di jawab, aku ketik lagi.
Rachel :
Mas Malik.... Mas!
Rachel :
Kamu lagi apa?
Rachel :
Hallllloooooo....
Rachel :
Ya udah deh, kalau nggak mau ngobrol. Byeee
Iiih, tumben deh Mas Malik nggak jawab whatsapp aku, biasanya dia siaga satu, kalaupun lagi sibuk pasti kasih tahu, dan kalau sudah selesai kesibukannya dia akan ngabarin.
Hhmmm... Sebenarnya cowok tuh suka kangen nggak sih walau habis ketemu pasangannya? Apa cuma cewek doang? Aku suka sebel kalau kangen kayak gini. Apa aku setujui aja ya, nikah dalam waktu dekat?
Tolooooong... Aku kangen, tapi doiku dimana? Aku nggak tahu rimbanya saat ini.
Tidak lama ponselku pun berbunyi. Aku pikir dari Mas Malik, tapi ternyata dari nomer yang nggak dikenal gitu.
"Halo"
("Halo Chel! Ini Becky. Nomer aku di save ya")
("Aku sama Mama lagi di apartemen Mas Malik. Aku habis ngintip nomer kamu dari ponsel Mas Malik.")
"Oalah. Aku whatsapp Mas Malik nggak di jawab dari tadi. Dia lagi dimana?"
("Dia lagi di dapur sama permaisuri. Dia lagi kesel")
"Hah? Kesel kenapa Beck? Kesel sama siapa?"
("Hahahaha. Keseleo dia tadi. Tuh lagi manja - manja sama Mama. Nggak pantes banget deh pokoknya. Dari tadi Becky ketawain.")
"Kok bisa keseleo?"
("Mama minta buatin lasagna. Nggak ngerti tadi dia ngambil sesuatu di lemari terus dia teriak - teriak, katanya sakit. Iih pokoknya nggak banget deh Chel.")
"Yaaah kasihan amat. Parah nggak Beck?"
("Dia disini lagi sama dua dokter, kalau parah kan aku sudah paksa dia dibawa ke rumah sakit. Mau manja kayaknya tuh sama Mama.")
"Oh iya ya. Ya udah kalau gitu, nggak jadi khawatir deh. Dibatalin khawatirnya."
("Setuju, Chel. Batalin aja khawatirnya. Kamu siap - siap aja besok dia manja ke kamu, seperti dia manja ke Mama.")
"Waduh!"
("Hehehehe ya sudah gitu dulu deh Chel laporan pandangan matanya. Eh, kamu pura - pura belum tahu kalau Mas Malik keseleo ya. Nunggu dia cerita aja. Kalau dia tahu kamu sudah tahu, nanti bisa tambah parah manjanya.")
"Hahahahaha... Okay, siap Beck. Pura - pura kita belum ada komunikasi ya."
("Iya. Siiip deh. Okay ya Chel. Aku mau gangguin Mas tersayang dulu. Dadaaah.")
__ADS_1
"Byee.."
Huuf.. dapat info baru lagi. Mas Malik bisa manja. Kan kan kan... coba deh dibayangin, cowok yang selama ini ngeselin, muka datar, tahunya manja. Haduuuh.. nggak kebayang deh, kalau dia manja ke aku, dah kayak punya adek cowok itu.
Aku pun memilih menonton film sambil nunggu ngantuk dan jaga - jaga kalau Mas Malik menghubungi aku.
Tapiiii... Pria idaman aku baru menghubungi aku satu jam kemudian disaat mata aku sudah lima watt dan aku sedang menyusun mimpiku.
"Hhhmmm iya Mas? Masih inget aku ya?" Aku menjawab telepon dengan berat hati karena ngantuk.
("Maaf sayang. Tadi Mama dan Becky datang ke apartemen. Pas kamu whatsapp Mas lagi di dapur dan ponsel di ruang tengah.")
"Ooh.. ya udah nggak papa. Mas belum ngantuk? Adek sudah nyusun mimpi tadi."
("Asyiiik.. Mas seneng deh kamu bahasin dengan Adek.")
"Iya, terus besok ganti panggilan lagi deh. Eh Mas sudah ngantuk belum? Tidur dulu aja deh."
("Beluuum... Mas mau minta sesuatu ke kamu besok. Kamu mau ya ngasih ke Mas.")
"Ngasih apaan Mas?"
("Tapi kamu jangan marah kalau Mas minta ya... Please, Dek.")
"Iya apaan? Tinggal jawab susah amat sih?"
("Janji dulu mau ngasih ya?")
"Nggak mau janji. Apaaan?" Gemes juga lama - lama aku tuh. Sudah ngantuk dibikin penasaran.
("Mas mau dipeluk kamu besok.")
"Hah?" Jangan - jangan ini nih yang dibilang Becky tadi. Suka ngaco nih si bos.
("Mau ya? Ya ya ya?")
"Nggak mau Mas. Terserah deh kamu mau marah sama Rachel. Bodo amat."
("Yaaaa... Kan aku calon suami kamu.")
"Belum lamaran, dan yang pasti kamu juga belum jadi suami Rachel."
("Kok jadi Rachel lagi sih? Adek dong. Biar romantis dikit gitu.")
"Heeem... Ya sudah tidur dulu deh. Besok kamu datang pagian kan? Katanya mau zoom meeting sama Bang Ravel dan tim segala."
("Iya. Ya udah deh. Jadi nunggu kita nikah Dek?")
"Sudah sana tidur. Jangan mikir macem - macem. Byeee Mas Malik.
("Byeee honey.")
Setelah telepon berakhir, aku langsung mikir. Mas Malik sopan juga ternyata ya, mau peluk minta ijin dulu. Hahahaha kita lihat besok deh, apa yang terjadi. Kasihan bener si bos ini.
***
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung