
Waktu yang menyenangkan adalah saat menjelang makan siang, desain yang dibuat sudah mulai memperlihatkan kecantikannya. Biasanya kami yang diruangan pun mulai berisik. Tidak terkecuali hari ini. Terutama Kak Bertha yang penasaran dengan kejadian tadi malam.
Sherin yang sedang ada di kubikelnya pun ikut penasaran. Si bocah yang kemarin seharian ada di ruang foto minta update berita pergosipan. Yiiihaa... Dia bakalan dapat gosip tentang si bos denganku.
Indra yang mulai kemarin memantapkan untuk selalu pulang cepat pun tidak kalah penasarannya setelah tadi pagi Kak Bertha bergosip dari versinya.
Penasaran mereka bertambah setelah si bos membocorkan kalau dia tadi menjemput aku terlebih dahulu saat berangkat ke kantor.
Sepenting itu ternyata ya, memberitahukan para fans kalau dia jemput aku dulu.
"Iya, tadi malem gue protes lah, planning gue kan pulang naik motor, pagi ini ke kantor naik motor mau mampir beli makanan buat makan siang. Eh dia bilang, ya sudah besok pagi kamu saya jemput. Sudah jangan marah. Tapi dia sadar loh gue kesel sama dia."
"Wedeeh. Kayaknya elo jadi anak buah kesayangan Chel," teriak Indra.
"Terus tadi pagi dia jemput gue, ketemu sama nyokap bokap gue dong. Gue sudah berasa kayak punya pacar deh," curhatku.
"Ngobrol Chel mereka?" tanya Kak Bertha kepo.
Aku mengangguk. "Nyokap gue kayak tersihir sama si bos. Padahal tadi pagi itu kan pertemuan kedua mereka. Susah deh, radarnya tajem nyokap kalau sama yang bening-bening. Si bos belum aja kenal deket, bakalan ganti panggilan juga deh dia. Kayak dia main ganti seenaknya nama gue."
"Terus bokap gimana Chel? Kan namanya bapak - bapak pasti mikir, anak gue di jemput bosnya," tanya Kak Bertha masih mau tahu cerita lengkapnya.
"Bokap mah ngobrol basa basi biasa. Emak gue dong nanya kerjaan orang tuanya si bos segala."
"Wah gue kalau gitu nitip pertanyaan ke nyokap elo aja ya Chel," sahut Indra yang masih penasaran sama kehidupan pribadinya si bos.
"Titip aja Ndra. Emak gue ternyata kayak wartawan, nanyanya detail. Gue sih bodo amat, kalau si bos kapok kan dia enggak resek lagi sama gue. Sampai bela-belain jemput gue."
"Iih enak bener di anter jemput sama Mas Malik. Sherin jadi ngiri," ucap bocah sambil nyengir.
"Lah elo bawa mobil, gimana mau dianter? Konvoi?" tanya Indra.
Kak Bertha cekikikan sambil ngomong, "gue lagi bayangin Sherin konvoi sama si bos." Aku, Sherin, dan Indra pun ikut tertawa.
__ADS_1
"Gue kayaknya ketinggalan gosip nih," kata Mas Kelana yang datang keruangan bersama Mas Malik ketika melihat kami sedang ngerumpi dari kubikel masing-masing. Jadi kebayang ya, suaranya sudah kayak di hutan. Antar kubikel gitu loh!
Kami langsung menghentikan tawa. Ada Mas Malik, bo. Dia kan bos yang enggak bisa ditebak mood-nya. Kadang asyik diajak bercanda, kadang nyinyir, kadang sewot kayak tadi malem. Pas dipikir-pikir kayak bunglon deh.
Aku pura-pura sibuk di depan komputer. Padahal layar 27 inchi itu hanya menampilkan photoshop dengan desain yang sudah selesai aku kerjakan.
"Nggak usah pura-pura kerja, kan sekarang sedang jam istirahat," ucap Mas Malik dengan nada menjengkelkannya.
Yang lain menertawakan aksiku. Resek deh!
Tapi, iya ya, mereka santai-santai saja, kenapa aku sibuk biar terlihat sok bekerja? Rachel enggak mikir nih!
"Pegawai teladan, Mas," kata Mas Kelana ke Mas Malik. Aku mendelik sebal. Mas Kelana tertawa tapi Mas Malik hanya menampilkan wajah datarnya sambil menatapku.
"Eh, iya. Mau ingetin nih, besok jangan lupa datang, ya. Acara syukuran rumah sama ulang tahun my baby bala bala, mulai jam 10 pagi ya. Tapi karena acara utamanya pagi, jadi banyak orang tua gitu. Kalau mau dateng pas jam makan siang juga gak masalah kok."
Mas Kelana berbicara soal syukuran rumah baru sekaligus syukuran ulang tahun pertama putrinya, Kanaya.
Setelah tinggal dirumah mertua indah, Mas Kelana baru mengajak Mbak Wiwit lima bulan lalu ke rumah baru yang sudah dia beli setahun lalu. Acara syukuran baru bisa dilaksanakan sekarang karena mencari momen yang pas katanya. Nah besok kebetulan pas tanggalan merah, jadi deh acaranya besok, bukan di weekend.
Mas Kelana mengangguk. "Iya acaranya nyantai kok. Daripada nanti kepenuhan orang dirumah. Keluarga gue yang dari Bandung dan Bogor juga dateng soalnya."
"Kak Bertha, gue nebeng, dong." Aku menaik-naikkan alis sambil memasang tampang memelas. "Rumah baru Mas Kelana kan jauh Kak. Elo nggak kasian sama gue, kalau harus naik ojek, jauh banget."
"Lebay," ejek Indra. Aku pasang muka judes ke Indra tapi tersenyum penuh arti ke Kak Bertha.
"Coba, jalan bareng sama Sherin. Lagian tumben elo enggak pinjem mobil bokap?" sahut Indra.
Sherin langsung menggeleng. "Gue langsung aja. Udah dekat banget kalau dari rumah gue."
"Lagi enggak kompak bokap gue. Kalau mau pake diem-diem takut efeknya juga," sahutku.
"Bareng dong, Kak. Pleaseeee." Aku merayu Kak Bertha kembali dengan mimik wajah memelas.
__ADS_1
Kak Bertha akhirnya mengangguk. Aku bersorak kegirangan. Bukan apa-apa, pasalnya di divisi desain, yang membawa mobil hanya Kak Bertha dan Sherin. Indra setia dengan motor besarnya yang sudah di modif dan sangat tidak nyaman untuk diduduki untuk jarak jauh.
"Besok jam sebelas teng gue jemput ya. Harus sudah siap loh. Jadi nyampe kita bisa langsung makan."
"Siap, Kak."
"Lo datang juga kan, Mas?" tanya Mas Kelana pada Mas Malik.
Mas Malik mengangguk. "Tenang saja."
"Ceweknya dibawa dong, Mas. Supaya nggak penasaran nih kita - kita," goda Mas Kelana. Di kantor, hanya Mas Kelana yang memiliki keberanian menyenggol secara terang-terangan ke Mas Malik. Yang lainnya hanya ngikutin arus setelah ada kompornya.
Aku langsung shock dengar kalimat itu. Bukan apa-apa, karena selama ini Mas Kelana kan yang curiga sama gerak gerik si bos yang menurutnya naksir aku. Apalagi tadi malem habis ngajakin pacaran, gara-gara nanya sudah punya pacar apa belum. Deg -degan aku tuh. Enggak tahu apa sebabnya.
Suasana hening sejenak, dengan semua mata tertuju pada Mas Malik. Kami mengunci mulut karena penasaran dengan jawaban si bos.
"Kalian suka menggosipi saya, ya? Masih penasaran dengan wanita yang dilihat Sisi di GI?" ucapnya sambil menatap kami satu persatu, seakan tidak terima dia jadi bahan gosip. Yaaa maap.
"Sesekali. Tapi bagaimana kabarnya cewek GI nya Mas?" sahut Kak Bertha. Si bos menggeleng-geleng, lalu meninggalkan kami semua begitu saja. Enggak pamit bo. Selamet.. aku selamet.
Kan.. kan.. kan... Lagi enggak bagus mood-nya doi. Tapi bagusnya, dia enggak nyinyir. Pokoknya aku aman.
"Yaaa.. enggak ketahuan deh Mas Malik punya pacar apa enggak." Keluh Sherin kecewa ketika si bos sudah masuk ke ruangannya.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung