Bos Ajaib

Bos Ajaib
72. Nikah Secepatnya!


__ADS_3

Sehari setelah lamaran, Mas Malik mengajak kencan dengan masak bareng di apartemen. Ceritanya perayaan ulang tahun berdua. Xixixixi biar ceritanya romantis gitu, kayak orang - orang.


Tapi sebenarnya yang masak sih Mas Malik, aku cuma gerecokin aja. Tapi ya gitu, mentang - mentang lamarannya sudah aku terima, Mas Malik jadi tambah iseng. Seneng banget dia colek - colek pipi aku, kalau aku kelihatan sudah kesel, dia buru - buru minta maaf sambil cium pipi.


Belum lagi saat aku lagi bantuin motong wortel, tahu - tahu dia malah peluk aku dari belakang terus nyium pipi aku. Iih pokoknya resek deh! Untung aku cinta.


"Mas, Adek suka sama rasa kue ulang tahun yang kemarin. Enak Mas, belinya dimana? tanyaku.


"Mau dibeliin buat cemilan di rumah? Nanti Mas pesenin ya."


"Asyiiik, mau banget Mas. Makasih ya."


Kami pun makan siang dengan menu pasta dan steak ala Mas Malik dilengkapi dengan sayur - sayuran dan kentang goreng.


Setelahnya, aku menemani Mas Malik nonton film dengan aneka cemilan yang kami bawa dari hotel kemarin. Tapi, karena hari Minggu adalah waktunya aku nge-charge tubuh dengan tidur, aku pun tertidur di sofa saat nonton film.


Aku terbangun saat wajahku terasa geli. Siapa lagi yang gangguin aku, kalau bukan Mas Malik. Saat aku buka mata aku mendapati Mas Malik sedang menatapku dengan tersenyum.


"Mas, Adek masih ngantuk. Boleh tidur di kamar Becky nggak?"


"Yaaa.. Mas nggak ada temannya dong. Ngantuk banget?" Aku menjawab dengan anggukan, karena saat bersamaan aku menguap.


"Ya sudah, tidur di kamar deh. Mimpi indah ya sayang. Kalau nanti kamu bangun Mas nggak ada disini, tandanya ada di kamar Mas ya. Nggak Mas kunci, jadi kamu bisa masuk dan bangunin Mas kalau ternyata ketiduran."


"Iya Mas." Aku pun langsung ke kamar Becky.


Aku terbangun jam 3 siang. Lumayan deh, total numpang tidur 1,5 jam. Aku mendapati Mas Malik malah tertidur di sofa dan televisi dalam keadaan masih menyala. Aku tidak membangunkannya. Tapi langsung ke dapur membuat kopi untuk kami berdua.


Sorenya, saat kami sedang ngobrol di meja makan sambil ngemil, Bang Ravel telepon minta kami untuk ke rumah Cipete. Katanya ada temennya Becky, tepatnya seniornya Becky di rumah sakit yang mencari Mas Malik. Dia juga masih anak buah Mama sih, makanya berani datang ke rumah.


Akhirnya aku tahu, kalau temannya Becky ini sering gangguin keluarga Mas Malik karena berharap bisa dekat dengan Mas Malik. Ya gitu deh, berharap Mas Malik bisa jadi suaminya.


Tapi yang buat aku gemas, ketika kami sampai rumah Cipete, itu wanita berani loh. Di depan mata kami, ada Bang Ravel dan Kak Raisa, serta Becky, dia main cipika cipiki dan merangkul pinggang Mas Malik. Oke deh, cipika cipiki aku masih santai, sok akrabnya ini, belum lagi megang - megang dada Mas Malik. Ingin rasanya aku teriak, 'wooy, gue calon bininya, wooy! Gue aja belum pernah megang - megang dada laki gue wooy!' tapi aku tahan lah. Biar kelihatan aku berwibawa dan berkelas gitu. Harga diriku tuh tinggi, setinggi langit saudara - saudara.


Setelah Mas Malik berhasil melepaskan diri dari Miranda, nama wanita itu, Mas Malik mendekat ke arahku dan merangkul aku.


Akhirnya di depan mata Miranda, lagi - lagi aku melakukan seperti yang pernah aku lakukan di depan Eli, mengecup bibir Mas Malik.

__ADS_1


Xixixixi, adegan kemarin yang Mas Malik lakukan saat melamar, sedikit memberi keberanian buatku untuk mengulanginya lagi di depan orang lain. Nekaaat loh Chel! Eh nggak papa deh kan cuma ngecup doang, nggak lebih kok. Suer!


Eh tapi, dasar Mas Malik, setelahnya dia malah mengajak aku senam bibir. Suka error nih cowok. Kan aku malu, masalahnya bukan cuma ada Miranda sebagai sasaran untuk dia stop gangguin keluarga ini, tapi ada Bang Ravel and the gank kan?


Setelah selesai Mas Malik berekspresi, aku mengatakan, "Mas cepat cari gedung pernikahan. Kita harus segera nikah."


"Hah? Beneran nih Dek? Asyiiik! Yuk nyari sekarang aja," Mas Malik langsung menarikku meninggalkan Miranda yang masih bengong dengan apa yang kami lakukan.


Ingin rasanya aku teriak, 'Ape loh? Ape loh? Mas Malik milik gue. Jangan macem - macem loh!' Tapi, you know lah, aku nggak katakan itu lah. Harga diri cyiiin. Ingat, harga diri Rachel setinggi langit.


Keputusan ini memang sepertinya harus aku ambil. Coba bayangin aja, ini sudah tiga cewek loh. Semuanya tipe cewek yang agresif bo, beda bener sama aku. Iya kan? Aku kan kalem, lemah lembut, bertutur kata sopan. Eeh, jangan protes, tinggal bilang iya doang kok.


Dasar Mas Malik cowok langka, dia beneran langsung mengajak aku meninggalkan rumah orang tuanya tanpa pamit. Kami langsung menuju mobilnya dan hanya pamit sama penjaga rumah yang stand by di depan.


Saat kami sudah berada di Cipete Raya, Bang Ravel menelepon ponsel Mas Malik. "Dek, kamu yang angkat."


"Halo Bang."


("Kalian main kabur aja. Mau kemana?")


("Hah? Kamu masih waras kan Chel? Nggak lagi sakit?")


"Yeeey Bang Ravel nih. Giliran bilang tahun depan mau nikah disuruh mikir, giliran mau buru - buru dikomentarin gitu."


("Habis kok mendadak Chel.")


"Ya, habis... Mas Malik sekarang senangnya nyosor mulu Bang. Biar tenang kalau di sosor bebek, nikahnya disegerakan aja deh Bang."


("Hahahahaha itu alasannya. Oke deh, Abang setuju. Jadi Malik bebek ya? Chel, bilangin Malik, kalian besok saja nyari gedung pernikahannya. Abang bantu nanti. Besok kamu ikut zoom meeting aja deh.")


"Oh gitu Bang. Iya deh. Nanti Rachel bilang ke Mas Malik. Makasih ya Bang."


Aku pun langsung menutup percakapan dan mematikan ponsel.


Mas Malik langsung komentar, "Main bilang Mas nyosor mulu lagi. Padahal tadi kan kamu yang mancing. Mas jadi bebek? Oke, kamu jadi ikan, karena senangnya mancing."


"Et dah. Adek kan cuma ngecup, biar cewek - cewek minggat dari Mas Malik, bukan kode minta bantuan nafas buatan." Aku protes dong, enak aja mau nyalahin aku.

__ADS_1


"Iya iya... tapikan kamu sudah mau jadi istri Mas. Gak papa lah ya. Warming up Dek, warming up, sebelum akad."


" Yeee! Si gelo! Mas, kebiasaan di Eropa jangan di lanjutin disini dong. Pokoknya jangan main cium di depan banyak orang kayak tadi. Tadi aja Adek nekat ngecup karena kemarin Mas nyontohin."


"Jadi kalau cuma lagi berduaan nggak papa ya? Asyiiiik..." Mas Malik komentar sambil senyum - senyum bahagia.


"Terserah tuan tanpa terima penolakan saja deh." Capeeek aku tuh, capek ngomong sama Mas Malik. Kenapa jadi jail gini sih? Kirain tuh, Mas Malik cowok berwibawa. Taunya... gitu! Huuh!


"Hahahahaha kamu melabeli Mas tanpa terima penolakan. Iya sih, Mas emang nggak suka kalau di tolak atau dibantah. Tapi kamu dulu sering banget ngebantah, makanya Mas jadi gemas, eeeh malah jadinya senang melihat kamu monyong."


"Diih si ngaco. Pantesan sering bikin kesal kalau di kantor. Nyebelin! Oh ya Mas, Bang Ravel bilang katanya nyari gedungnya besok saja, nanti dia bantu."


"Oooh gitu. Ya sudah, kita ke apartemen dulu ya, beresin makanan yang tadi kita buat. Takutnya malah rusak lagi."


"Iya Mas. Adek juga lapar lagi sih."


"Okey, nanti langsung dipanasin ya." Mas Malik lagi - lagi mengusap rambutku.


"Mas, ngapain sih megang - megang kepala Adek?"


"Cuma mau mastiin, ada pakunya apa nggak kok Dek."


"Iiih Mas Malik mah ngaco!" Sebel aku tuh dijawab seperti itu. Emang aku apaan.


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2