
Hari ini sesuai rencana pulang naik motor kantor. Saat aku bilang ke Astrid, ternyata Mas Malik sudah ngomong ke Mas Ricky tadi malam.
("Jadi sebenarnya yang mau minjam siapa sih? Gimana sih ceritanya? Bikin gue penasaran nih!")
Astrid menanyakan rasa penasarannya saat aku telepon dia. Gaya ya? Dikantor, tinggal ngetok ruangannya aja aku sudah bisa bertemu dia, ini malah via telepon. Eh sebenarnya ini gaya apa malas gerak sih?
"Gue kejebak sama cowok protektif Trid."
("Tapi elo cinta nggak?")
"Iya, pakai banget lagi," jawabku sambil tertawa. Kudengar Astrid pun mentertawaiku.
("Cerita loh! Enak aja pakai backstreet - backstreet segala. Jangan sok ditahan deh, keluarga elo aja dah pada tahu.")
"Apaan, gue belum ngomong secara resmi tahu ke bonyok kalau gue jadian sama Mas Malik."
("Gila loh, kok bisa? Kan Mas Malik rajin ngapel.")
"Dia ngapel datengnya sering bareng sama cowok yang dijodohin sama gue, yang sekarang malah pendekatan sama adek gue. Seru ya? Terus kadang kalau dateng pas kebetulan bonyok lagi enggak dirumah."
("Astaga! Eh ini gimana ceritanya elo bisa cerita lancar ke gue? Emang ruangan elo kosong?")
"Lagi pada di pantry. Kak Bertha bawa makanan."
("Oh pantes. Nah terus elo kapan bilangnya?")
"Minggu - minggu ini sih gue mau bilang, karena sekarang gue sudah merasa mantap."
("Asyiiik. Tapi tetep ya, elo harus cerita ke gue. Oh ya, kunci motor dah di Mas Ricky, jadi nanti pinjam meminjam urusan cowok deh, elo dah nggak usah ikutan.")
"Oke, sip. Iya Trid, kalau urusan keluarga dah beres gue cerita ke elo. Kayaknya sebelum outing deh. Ya udah ya Trid, takut gerombolan pada masuk."
("Oke, sip. Congrats ya. Yang akur ya, sudah dinasehatin tuh Mas Malik sama Mas Ricky waktu itu.") Astrid malah kasih bocoran. Hahahaha kayaknya kalau ada apa - apa sama hubungan aku karena keegoisan Mas Malik bisa curhat ke Mas Ricky dan Astrid nih.
"Waah nanti kita ngobrol yaTrid. Seru nih kayaknya. Oke, bye bye Trid and thanks."
Tim gesrek belum kembali ke kubikelnya, sepertinya seru nih kalau ke nyusul mereka.
Tapi, ketika aku masuk pantry, situasi dalam keadaan kosong. Memang ada banyak makanan di meja pantry lantai dua ini.
Aku pun ngecek posisi mereka, ternyata mereka ada di balkon sedang lesehan dengan makanannya.
Aku memutuskan untuk ke pantry terlebih dahulu, untuk membuat minum.
__ADS_1
Saat sedang memainkan tali teh celup Dilmah aku, tahu-tahu Mas Malik masuk dapur juga.
"Yang lain pada dimana Dek? Kok sepi?"
"Lagi di balkon Mas."
"Mas, mau teh? Biar Rachel buatin sekalian." Aku menawarinya.
"Itu teh Dilmah siapa?" tanyanya saat membaca ujung tali teh yang sedang aku pegang.
"Teh saya Mas. Ada beberapa stok rasa kalau mau juga," ujarku.
"Saya? Kamu bicara sama Mas masih pakai saya? Kan kemarin baru kita obrolin sayang ... " Saat omongan Mas Malik belum selesai terdengar suara benda jatuh dari arah pintu pantry. Aku dan Mas Malik pun menoleh kearah sumber bunyi.
Jegeer! Indra terlihat salah tingkah saat kami tatap.
"Hey Ndra, apaan yang jatuh?" tanya Mas Malik dengan nada standar. Sikapnya pun biasa saja, beda dengan aku yang langsung salah tingkah.
Aku langsung memberikan teh yang aku buat untuk Mas Malik, dan aku langsung membereskan meja bekas membuat teh dan merapihkan makanan bawaan Kak Bertha.
"Gelas Mas. Untung melamine, jadi enggak pecah," Indra menjawab sambil melangkah masuk.
"Chel, gue mau minta teh Twinings elo dong." Indra meminta stok teh aku.
"Hooo, nggak apa-apa deh, gue pakai teh Sosro saja." Dia langsung membuka kabinet di pantry.
Tumben. Biasanya Indra paling tidak mau minum teh kantor. Indra itu paling suka minum stok teh aku entah yang Dilmah atau Twinnings. Karena katanya, selera minum tehku layak seorang bangsawan. Etsaah!
"Misi..." kata Indra ke aku dan Mas Malik.
"Hehehehe..." Indra menunduk lagi untuk meminta jalan.
Mas Malik yang sekarang sudah duduk sambil memegang mug berisi teh dan ngemil makanan yang di bawa Kak Bertha tersenyum. Aku? Mati kutu!
Sambil mengaduk teh pun, Indra melirik ke arah kami lagi. Tersenyum, kemudian menunduk lagi.
"Saya duluan," pamitku buru-buru meninggalkan pantry, sebelum kegiatan mengaduk teh Indra yang tidak tahu kapan selesainya itu memancing percakapan yang tidak aku harapkan.
Aku memilih kembali ke kubikel dan berkutat dengan desain yang aku kerjakan. Kemudian sebuah mug berisi teh pun hadir dimejaku.
"Nih, sekali - sekali minum teh Sosro. Gue kan sering minta teh mahal elo," kata Indra sambil tersenyum simpul.
"Makasih. Tapi tumben. Enggak elo ludahin kan?" Aku mengambil mug dengan ragu.
__ADS_1
"Ooh, tentu tidak dong. Kan gue baik hati."
"Ini teh dicampur air keran ya?" Aku menuduhnya.
"Kagaak Neng.." Indra menjawab dengan sabar.
"Atau kantong tehnya elo celupin ke air bilasan cucian piring sebelum elo kasih ke gue?" Aku masih belum menyerah.
"Nggak, astagaaa!" Indra menggeleng lagi. Kebaikan Indra yang simple ini sungguh mencurigakan. Dibuatin teh bo! Gue kan bukan Yaya.
Apalagi selama bertahun-tahun aku mengenalnya, dimintai tolong untuk mengambil makanan di meja saja belum tentu mau. Indra bukan Mas Kelana yang baik hati. Aku menatapnya curiga, sementara dia hanya senyam-senyum mencurigakan.
"Ah ini sih sudah elo ludahin. Gue yakin," tuduhku lagi sambil mengendus teh.
"Astagaaaa, enggaaaak Rachel. Itu gue buatin khusus buat elo!" Kali ini intonasi Indra naik. "Elo enggak suka ya, kalau sekali - kali gue baek sama elo?" tanyanya sedikit emosi tapi terlihat dia tahan.
Akupun kemudian menyeruput sedikit teh Sosro buatan Indra.
"Hubungan elo sama si bos... akrab ya," pancing Indra.
Aku tersenyum sambil menyeruput teh lagi. "Tuh, tuh, mulutnya ya ampun... Gue sudah curiga elo nggak mungkin tiba-tiba jadi orang baik, melayani gue seperti ini. Pasti ada maunya deh!"
"Gue bikin teh sekalian dua kok. Gue tadi lihat, teh elo dikasihin ke Mas Malik. Terus elo keluar enggak bawa apa - apa," kata Indra. Oke, aku tidak bisa mendebat soal ini.
Ini yang aku belum mau. Teman-teman aku akan curiga dengan hubungan ini, sedangkan hubungan kami pun masih terbilang baru. Apalagi mama papa belum aku kasih tahu secara resmi.
Hanya Reyka yang tahu. Dia pun akhirnya aku kasih tahu soal perjodohan aku dan Jaka. Serta bagaimana aku menolaknya. Semua kejadian aku ceritakan ke Reyka, karena aku tidak mau Reyka nantinya cemburu nggak jelas ke aku.
Saat ini aku hanya bisa membatin, 'Mas Malik, gara - gara kamu, aku jadi mati kutu seperti ini di depan Indra!'
***
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1