Bos Ajaib

Bos Ajaib
28. Pernikahan Indra (1)


__ADS_3

Minggu pagi aku sudah repot. Karena Indra meminta tim gesrek untuk datang ke akad nikahnya. Biar rame katanya. Akad nikah memang diadakan di Minggu pagi, sedangkan resepsi pada siang harinya.


Ditawarin seperti itu, siapa takut? Lumayanlah bisa ngeceng, siapa tahu dapat kenalan cowok kece. Cuma kenalan ya, bukan buat jadi pacar apalagi suami. No no no!


Aku kadang bangga dengan keterampilanku merias wajah dan rambutku. Masih lihai walaupun sudah jarang dandan heboh. Enggak sia-sia dulu mama memaksa aku untuk kursus make up and hair do di Puspita Martha. Meskipun niat mama adalah kalau dia mau kondangan, enggak perlu ke salon lagi. Sedih ya? Mama aku tuh gitu. Untung aku anak yang penurut dan tidak sombong.


Meskipun berkebaya, aku datang dengan mengendarai mobil sendiri. Untungnya papa minjemin, kalau enggak repot pas pulangnya. Kalau begini aku bisa gaya seperti sosialita. Parkir mobil tinggal pakai valet hotel deh.


Akad nikah dan resepsi diadakan di hotel Fairmont, Senayan. Nah karena sebelahnya mol, maka aku sudah bawa sepatu kets dan baju sporty, biar kelar pesta bisa langsung jalan-jalan.


Oh iya, aku belum cerita, tadi malem tuh si bos whatsapp ke aku. Aneh deh tuh cowok sekarang. Masa dia nanyain aku mau dateng sama siapa.


Lah dia kan bos, mana berani aku cerita macem-macem, mau datang sama siapa. Nanti dipikir aku kekurangan teman lagi.


Mas Malik :


Rachel, besok kamu ke pernikahannya Indra?


Rachel :


Ya iya dong! Masa ya enggak dong. Bisa di kutuk jadi kuda nanti sama Indra


Mas Malik :


Kamu pergi dengan siapa?


Rachel :


Rahasia dong Mas


Mas Malik :


Ditanya sama atasan kok gitu?


Rachel :


Habis atasannya kepo. Want to know aja iih


Mas Malik :


Saya jemput kamu saja ya? Habisnya aneh kalau jalan sendiri


Rachel :


Jiaaaah.. Mau bikin gosip Mas? Mas enak punya ruangan sendiri, nah saya? Bisa² kerjaan enggak kelar karena digangguin terus. Jangan iseng deh


Mas Malik :


Ya sudah, kamu kerjanya diruangan saya saja


Rachel :


Hiya.. hiya.. hiya... Seng mboten mboten wae deh. Kalau iseng, foto yang lagi liburan saya sebar nih


Mas Malik :

__ADS_1


Loh kok belum dihapus? Tapi nanti saya bisa sebar juga foto kamu. Saya punya banyak candid foto kamu


Rachel :


Waaah, Mas Malik paparazi ya?


Mas Malik :


Mau ya, besok saya jemput


Rachel :


Enggaaaak. Saya jalannya juga pagi kok Mas. Indra minta saya datang pas akad


Mas Malik :


Ooh gitu. Ya sudah deh. Kita ketemu disana


Rachel :


Oke Mas. See u tomorrow


Untungnya, percakapan whatsapp berakhir damai sejahtera.


Saat ini aku sudah duduk manis bersama teman-teman kantor. Akad nikah baru saja usai. Pengantin sedang sibuk foto keluarga.


Kak Bertha hanya datang dengan anaknya yang paling besar, Rendy. Suaminya lagi dinas luar kota, sedangkan anaknya yang kecil lagi nginep sama mertuanya. Sedangkan Mas Kelana datang bersama istrinya, Mbak Wiwit.


Setelah makan kami tim gesrek mencari lokasi untuk foto-foto narsis. Yang jadi fotografer dadakan adalah Rendy. Anak ini seperti mengerti kalau ibunya banci kamera. Tanpa canggung dia mengatur ibunya.


"Mami kelihatan bongkok, jelek. Agak miring ke kanan dikit Mi." Rendy mengeritik gaya Kak Bertha.


"Aah Mami oke atau enggak, tetap jadi ibunya Rendy kok. Tenang aja." Rendy menjawab dengan nada tengil.


Hahahaha.. ternyata Rendy masuk katagori anak sableng. Bagus.. bagus. Aku suka sama nih bocah.


Foto-foto ala selegram terus berlangsung dengan kehebohan kami. Sampai ada yang nyeletuk, "Rachel gayanya jangan lemas gitu dong. Jadi seperti kangkung yang kejemur."


Langsung nengok dong kita semua ke sumber suara. Siapa lagi kalau bukan si bos yang kalau ngomong suka menyayat hati bagaikan sembilu.


Herannya, dia tuh senang banget gangguin aku. Jadinya akukan bawaannya mau balas dendam dengan melontarkan umpatan. Kan gak boleh ya kita mengumpat dengan kata-kata yang menyakiti. Tapi, bosnya suka cari gara-gara sih.


"Mas, saya tahu kok kalau di mata Mas Malik saya itu bagaikan sayur yang sulit dilupakan. Karena Mas Malik selalu bayam bayam diriku. Iyakan?"ujarku kesal. Mas Malik hanya senyum melihatku.


"Eeh si bocah mulai ngaco," Mas Kelana nyolek aku sambil tertawa ditahan.


"Dia cari gara-gara Mas," laporku.


"Tapi dia bos elo Chel," jawab Mas Kelana.


"Ye, bos elo juga kan Mas. Dia seneng banget sih usil sama gue. Heran gue," keluhku.


"Kan gue sudah bilang, Mas Malik suka sama elo Chel," kata Mas Kelana lagi.


"Cowok kalau suka sama cewek tuh di deketin secara romantis, terus menyatakan cinta. Lah dia kan enggak. Yang ada kalimat yang keluar dari mulutnya suka bikin gue kesel. Udah ah, sebel gue Mas."

__ADS_1


Aku pun mendekat ke Kak Bertha dan Mbak Wiwit yang sedang ngobrol sambil senyam senyum, meninggalkan Mas Kelana dan Rendy yang kemudian mendekat ke Mas Malik.


Tapi tidak lama kami masuk lagi ke ballroom, karena acara resepsi sudah mau di mulai. Kali ini Mas Kelana terlihat posesif sama Mbak Wiwit. Dirangkul terus pinggangnya. Aku jalan sama Kak Bertha, sedangkan Rendy sama si bos dibelakang kami.


"Rendy, sini jalan sama Mami," kata Kak Bertha sambil tangannya minta di gandeng sama Rendy.


"Lah Kak, gue kan lagi jalan sama elo. Terus gue jalan sama siapa dong?" tanyaku ke Kak Bertha.


"Saya kan juga manusia Chel. Kamu bisa jalan sama saya. Kamu enggak menganggap saya ada ya?" tanya Mas Malik yang main nimbrung di komunikasi kami.


"Nganggep sih Mas. Ya sudah saya jalan sama Mas Malik." Sebenarnya agak gimana gitu, jalan sama Mas Malik, agak risih juga. Banyak teman kantor, aku enggak suka jadi bahan gosip, meskipun suka gosip. Egois ya?


Kalau lagi di pesta gini orang yang melihat Mas Malik pasti terpesona, apalagi batik yang dipakainya bagus.


"Nah gitu dong. Santai saja, enggak usah mikir omongan orang," kata Mas Malik yang melihat aku berusaha mencoba nyaman jalan berdampingan dengan dia.


"Iya ya Mas, saya juga bingung. Saya suka mikir, kenapa saya harus mikir ya?" balasku. Eh, Mas Malik malah ketawa terbahak-bahak. Kan jadi dilihatin sama tamu lainnya. Termasuk orang-orang kantor. Kan... kan.... kan... gosip deh nih besok.


Ini aku di acara nikahan, tapi dari tadi ngobrol terus sama si bos. Mending yang diomongin berbobot, enggak sama sekali. Jadi enggak konsentrasi lihat pengantinnya.


"Kamu kesini tadi naik apa?" Mas Malik bertanya dengan pelan.


"Tadi pinjem mobil papa. Saya booking seharian."


"Memang mau ngapain seharian? Enggak capek pakai kebaya seharian?" tanya si bos kepo.


"Sebelah kan mol Mas. Ya jalan-jalan siang sampai sore. Kalau perlu sampai malam."


"Pakai kebaya Chel ke mol?"


"Ya ampun, Ferguso! Ya enggak lah. Saya bawa ganti. Saya tuh sudah niat mau ke mol. Mau nyari lipstik sama eyeliner," jawabku dengan sejelasnya.


"Wah, kenapa kamu enggak bilang? Saya kan bisa ikutan. Eeh, tapi saya bisa beli baju di mol juga deng. Nanti saya ikut kamu ke mol ya?!" Pinta si Tuan Muda.


"Hah? Mas Malik mau beli lipstik dan eyeliner juga? Iih jangan ah." Protesku.


"Chel, kita ke penghulu yuk!"


"Dih, ngapain ngajak saya. Tadi ada penghulunya Indra, bukannya datang agak pagian, terus ketemu sama penghulunya Indra. Emang mau ngapain ke penghulu Mas?"


"Nikahin kamu, biar enggak bawel lagi."


Haduh! Kena lagi kan aku!


***


.


.


...Authornya lagi pengen senyum nih... ...


...Jempol di bawah di pencet yak?! Nanti author-nya senyum deh😉...


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2