
Sesampainya di kantor aku masuk terlebih dahulu karena Mas Malik ke rumah Mas Ricky mengembalikan helm dan jaket yang dia pinjam kemarin.
Teman - temanku sudah duduk manis di kubikelnya masing - masing dalam keheningan karena mengerjakan desain yang diusahakan minggu ini semua selesai, karena rencananya minggu depan akan ada desain baru lagi yang harus kami kerjakan. Sherin selama beberapa hari sedang mendapat tugas luar kota. Jadi diruangan ini hanya kami berempat.
Menjelang makan siang, saat serius menatap mesra layar komputer, tahu - tahu ada mug berisi es teh di sisi tanganku. Daan yang baik hati memberikannya adalah Indra!
"Hah? Tumben Dra. Makasih banyak ya, elo baik banget deh. Gue seneng deh, elo jadi rajin buatin gue teh."
"Minum dulu deh. Biar hati elo adem."
"Apaan sih loh? Lagian bentar lagi kita mau makan siang kan? Biar adem apanya?" Aku enggak ngerti dengan omongan Indra.
"Aduuuh, gue enggak bisa ngomong, karena elo sendiri enggak mau terbuka sama gue." Omongan Indra malah membuat aku semakin nggak ngerti.
"Ndra, kalau ngomong yang jelas. Jangan kode - kodean gitu ah," Kak Bertha ikutan nimbrung obrolan aku dan Indra yang enggak jelas.
Baru juga Kak Bertha selesai bicara, ada suara agak kebulean yang mendekat ke arah ruangan kami. Seorang wanita cantik muka blasteran sedang menelepon dengan suara keras.
Pada saat bersamaan Mas Malik pun keluar ruangannya sambil menelepon juga.
Daaaan si bule cantik itu pun teriak, "Maliiiik! I miss you so much!" Kalimat itu terucap di depan mata anak buahnya dan aku sebagai pacarnya, itu wanita cipika cipiki dan mencium bibir Mas Malik!
Indra yang posisinya masih berdiri disamping bangku aku langsung mengambil es teh manis dan menyodorkannya ke mulutku. Aku langsung meminumnya.
Kak Bertha menatap apa yang terjadi dengan si bos dan si bule kemudian beralih menatap ke aku dan Indra. Bolak - balik muka Kak Bertha menatap secara bergantian. Aku lemas, cemburu, dan marah. Akukan pacarnya! Itu bibir pacar aku! Harusnya aku dong yang dapat jatah, bukan bule itu! *Eh!
Iya aku tahu kalau itu yang agresif si bule, bukan Mas Malik. Tapikan... Pokoknya dadaku rasanya seperti diaduk - aduk.
Begitu Mas Malik membawa si bule ke dalam, Indra langsung bicara, "Kak Bertha, Mas Kelana, kita sudah lama enggak maksi di mol. Kita ke Kelapa Gading yuk. Komputer kita matiin dulu dua jam deh." Indra pun berjalan meninggalkan kubikelku ke kubikelnya.
"Wah boleh. Yuk Chel!" Ajak Kak Bertha yang aku jawab dengan anggukan. "Naik mobil gue tapi bukan gue yang nyetir ya. Gue sama Rachel pokoknya duduk belakang."
"Gue aja yang nyetir," jawab Mas Kelana.
Tidak menunggu pakai lama. Setelah komputer kami mati, kami langsung cabut meninggalkan kantor.
Di jalan, Indra langsung buka suara. "Chel, kalau elo enggak mau jawab lengkap dari pertanyaan gue nggak papa, tapi cukup jawab iya dan tidak. Oke?" Aku menjawab dengan anggukan sambil mematikan ponsel. Males aja kalau Mas Malik nanti nelepon aku.
"Chel, kita bertiga inikan sudah beberapa kali lihat gelagat Mas Malik yang naksir elo. Dari omongan Mas Malik yang gue denger kemarin, gue berkesimpulan kalian sudah jadian. Benarkan?" Indra menanyakannya dengan suara yang tenang.
Aku pun menjawab, "iya," sambil mengangguk.
"Oke. Enggak masalah kalau elo masih mau nutupin dari kita. Hak elo mau cerita apa enggak, tapi gue percaya kita semua, teman nyablak elo, enggak mau, kalau ada apa - apa, elo merasa sendiri. Kita biasa cerita kan Chel? Dan si bule tadi itu adalah cewek yang gue lihat di Bali, yang gue bahasakan sebagai Sophia Latjuba."
"Ya udah, sekarang kita ke mol maksi dan ngademin perasaan elo yang pasti cemburu. Tapi nanti elo tanya baik - baik sama Malik. Elo jangan emosi. Elo harus percaya sama omongan pasangan elo. Kalau enggak percaya jangan cemburu, tapi selidiki." Kak Bertha kemudian menasehatiku. Aku langsung memeluknya.
"Gue belum nyaman buat cerita. Sorry ya. Gue cerita ke nyokap aja baru tadi malam." Masih dalam pelukan Kak Bertha aku mengungkapkannya.
__ADS_1
"Gak papa Chel, santai aja. Ada saatnya kita bersikap dewasa dan ada saatnya kita gesrek. Iya kan?" Mas Kelana pun ikut nimbrung.
"Tapi jelas kok, bahasa tubuh Mas Malik tadi seakan menolak perlakuan si Sophie itu," kata Mas Kelana lagi.
"Wooy, nama orang maen ganti nama seleb. Kita ganti jadi si bulbul aja ya? Dari kata bule," ucap Kak Bertha mengajak menyamakan sebutan si bule.
"Atur aja deh", " Boleh". Jawaban yang bersamaan dari dua cowok yang duduk di depan.
"Kita pakai valet parking aja ya, biar kayak Rachel. Sekarang kita senang - senang dulu. Dan elo Chel, jangan terlalu diambil hati kejadian tadi." Kata Mas Kelana. Aku enggak menjawabnya.
Kami pun turun di pintu masuk mol 5 samping Hotel Harris, dan menyerahkan kunci ke petugas valet.
"Chel, kamu deh yang milih makan siangnya." Mas Kelana langsung memberi perintah ke aku.
"Depan mata ada Pancious yang belum ramai. Kita makan itu aja dulu. Setelah itu baru belanja."
"Kita bolos aja yuk!" Ajak Indra.
"Ngaco loh! Jangan sampai kita ada yang resign karena nggak kuat dengan nyinyiran atasan deh. Gue udah seneng nih di kantor ini, temennya kayak kalian pula." Tolak Kak Bertha.
"Chel, kok elo belum berkicau sih? Udah dong. Marahnya nanti aja langsung ke Mas Malik," pinta Indra. Kak Bertha sedang milih tempat duduk di Pancious yang di arahin sama pelayannya.
"Ndraaa.. Masa mereka kissing sih." Aku pun merajuk ke Indra.
"Itu yang namanya rezeki Chel. Apalagi dari cewek cantik. Lagian, emangnya Mas Malik bales? Kan enggak." Haduuuh, Indra kok kayak belain Mas Malik sih?
"Kalau gue putusin Mas Malik, gimana?" tanyaku ketika kita sudah duduk.
Kami sepakat makannya sharing, dengan pilihan dua jenis pasta, pancake, dan waffles. Minumnya kami sepakat es teh tawar, biar bisa refill.
"Oke Chel, kalau elo mau bahas. Alasannya apa elo mau putus? Hanya gara - gara Mas Malik di kecup bibirnya? Kalau iya, gue kasih saran mendingan elo begitu ketemu nanti langsung elo kecup juga biar dia jadi terbayang - bayang kenekatan elo." Kak Bertha malah kasih ide ngaconya.
"Sableng loh Kak. Mana mau Rachel maen nyosor gitu. Dia mah, mulut aja yang ngaco, tapi kalau sama cowok chicken." Aku langsung nabok lengan Indra. Tapi emang iya sih, ngapain aku yang nyosor duluan.
"Chel, Mas Malik kan sukanya sama elo. Ya si bulbul itu mungkin suka tapi Mas Malik enggak suka. Dia nggak tahu kalau Mas Malik punya pacar semanis madu gini. Omongin aja deh. Jangan dibuat pusing. Cemburu wajar kok Chel."
"Iya Chel, lagian gue yakin, kalian jadiannya kan belum lama, masih adaptasi. Obrolin deh." kata Indra.
"Huuuf oke, nanti gue omongin deh. Biar hati gue enggak kebakar lagi. Cemburu gue." Akhirnya aku buka suara dengan kalimat yang agak panjang.
"Wajar kok Chel. Yang penting, elo jangan emosi." Kata Mas Kelana.
Es teh kami pun dihidangkan. Di saat bersamaan telepon Mas Kelana berbunyi. "Dari Mas Malik," katanya kepada kami.
"Iya Mas."
"Lagi di Kelapa Gading. Dah lama enggak makan siang di mol."
__ADS_1
"Rame - rame dong. Sekalian Rachel mau belanja katanya. Tadi dia bilang, gaji bulan lalu masih utuh, jadi mau dikurangin dulu Mas. Kita sih nemenin aja sebagai teman yang baik."
"Wah enggak tahu Mas. Bentar ditanyain dulu." "Chel, ponsel elo dimatiin ya." Aku jawab dengan anggukan.
"Iya Mas katanya. Oh, kita di Pancious. Masuknya yang gampang lewat pintu samping Hotel Harris Mas."
"Oke. Kita tunggu."
Komunikasi via ponsel Mas Kelana pun berakhir. Dan dia langsung bicara, "Mas Malik mau nyusul. Sepi katanya kantor tanpa kita."
"Jie jie. Tanpa kita atau karena Rachel nya hilang?" tanya Kak Bertha ngeledek.
Untungnya selanjutnya makanan kita pun disajikan. Wuiiih.. Indra pesan waffles dengan es krim. Tahu aja nih cowok, hatiku harus di ademin.
Sepertinya kami kelaparan, Mas Kelana akhirnya memesan dua menu lagi untuk kami. Aku sekarang mau jadi Rachel yang tenang dan pendiam dulu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Mas Malik muncul diantara kita. "Waaah, sudah pada makan semua ya? Lan, sudah pesan lagi?" Mas Malik nanya ke Mas Kelana.
"Sudah beres Mas." Yang dijawab dengan tepukan di bahu Mas Kelana sama si bos.
"Ini traktiran buat yang baru jadian ya Lik?" tanya Kak Bertha.
"Hahahaha kalian sudah dikasih tahu ya? Ya sudah, nanti saya yang bayar." Mas Malik bicara tapi matanya sering melirik ke aku.
"Waah, thanks ya Lik," ucap Kak Bertha dengan bahagia. Gimana nggak bahagia, sudah lama kita nggak jalan bareng seperti ini terus dapat makan siang gratis lagi.
"Mas, saya boleh pesan es krim ya?" ucapku saat merasa mau makan es krim, setelah es krim di pancake tadi susah aku habiskan.
"Boleh. Pesan aja Dek." Mas Malik menjawab dengan sebutan seperti biasanya.
"Wait! Elo manggil Rachel apa Mas? Dek?" tanya Mas Kelana.
"Udah ah, suka - suka gue deh! Kan calon bini gue." Mas Malik menjawab tanpa mau membahas.
Untungnya, makanan pesanan Mas Kelana datang. Aku pun memesan es krim.
***
.
.
...xixixixi pasti nggak sabar sama kelanjutannya... ...
...🙈🙈🙈...
.
__ADS_1
.
Bersambung