Bos Ajaib

Bos Ajaib
47. Jemput Reyka


__ADS_3

Aku pun mengirim fotoku ke instagram stories. Beberapa foto aku upload dan semuanya menandakan kebersamaanku dengan Jaka.


Konyolnya Jaka setuju aku arahin gaya ngaco. Jujur aku suka sama Jaka sebagai teman yang kompak dan mengerti kemauanku.


Total ada lima foto yang aku upload ke instagram stories. Lalu aku pun mengirim foto ke grup whatsapp cuti.


Rachel :


*send picture*


Gue sekarang lagi di bandara sama Jaka ๐Ÿ˜‰ #tidak menerima pertanyaan๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


Mas Kelana :


Sebel gue sama elo. Si bos bener - bener cemburu kayaknya Chel


Rachel :


Lah? Pasalnya apa dia cemburu sama gue? Emangnya dia siapa selain sebagai atasan di kantor?


Mas Kelana :


Gue suruh dia nembak elo aja ya? Tapi harus elo terima ya?


Rachel :


Apaan sih Mas! Auk ah


Indra :


Gelagatnya sih dah kelihatan kalau suka sama elo Chel


Rachel :


Please, jangan disebarin apa yang kalian rasakan dan lihat. Gue males digosipin. Apalagi ada mahluk yang suka juga sama si bos


Kak Bertha :


Jadi, elo suka juga gak sama bos Chel?


Rachel :


Enggak tahu. Tapi dia suka nyinyir, gue sebel sama dia


Kak Bertha :


Kalau dia sudah enggak nyinyir lagi? Elo bisa jadi suka enggak?


Rachel :


Enggak tahu juga deh.


Indra :


Tapi elo ke Jaka perasaannya gimana?

__ADS_1


Rachel :


Ya enggak gimana - gimana lah. Biasa aja.


Saat masih mengetik, masuk whatsapp dari Mas Malik. Hahaha pasti habis kepo instagram aku nih. Jadi untuk sementara aku tutup chating dengan grup cuti.


Mas Malik :


Leha, kamu ngapain ke bandara? Sekarang kalian masih di bandara?


Rachel :


Saya mau lihat pesawat Mas ๐Ÿ˜.


Iya, sekarang masih di bandara


Mas Malik :


Ya sudah, hati - hati ya. Jangan capek - capek, jaga kesehatan kamu.


Mas Malik :


Iya Mas. Terima kasih.


Saat aku menutup aplikasi whatsapp Jaka mengajak ke terminal kedatangan karena sudah jam 10.


Sekitar 40 menit kami menunggu hingga akhirnya Reyka keluar dengan koper besarnya dan gembolan tas ranselnya yang bengkak serta tas selempang. Rempong banget deh pokoknya.


"Mbaaaak Acheeel! Kangeeeen!" Teriak Reyka sambil jalan cepat. Kami pun berpelukan cukup lama.


"Heey, sudah. Mbak kesini sama Mas Jaka, kenalan dulu Rey, ini teman Mbak." Aku berusaha memperkenalkan Jaka ke Reyka yang kalau enggak diperingati akan terus memelukku.


"Saya Jaka."


"Kalau Mbak cantik enggak Rey? Kok kamu yang paling cantik sih? Kan anak mama papa dua duanya cewek."


"Hahahahaha Mbakku ini paling manis," jawabnya sambil merangkul aku.


"Ya sudah yuk, ke mobil. Kasihan Mas Jaka harus nganter kita dulu, besok dia masih harus kerja." Aku mengajak Reyka dan Jaka. Tanpa diminta Jaka langsung mengambil alih koper Reyka dan menariknya.


Selama di mobil, Jaka lebih banyak diam. Memang ini cowok sepertinya harus dipancing. Belum lagi Reyka yang terus nyerocos dengan banyak permintaannya selama pulang.


"Mbak besok bolos saja mau enggak? Aku mau jalan ke Bogor deh. Kita kulineran Mbak."


"Ya enggak bisa dong Rey. Weekend saja mau enggak? Eh Jaka, ikutan yuk, biar seru kita jalan bertiga."


"Benar ya Mbak Sabtu besok kita ke Bogor. Dari pagi ya? Biar puas."


"Iyaa, adekku sayang." Jaka yang dari tadi belum balas omonganku, langsung aku colek tangannya. "Gimana, Sabtu besok mau jalan enggak? Kalau perlu kita yang nyamper ke rumah kamu, deh Jak." Aku memberikan solusi, biar Jaka enggak kepikiran dia ikut cuma dijadiin supir.


"Boleh deh saya jalan sama kalian. Tapi nanti saya saja yang jemput kalian Sabtu pagi."


"Asyiiik. Makasih ya Mas, mau nemenin kita. Enak ya Mbak, kalau kita punya kakak cowok." Ucap Rachel yang memang dari dulu senangnya main sama kakak sepupu kami yang cowok.


"Ya, kamu boleh kok anggap saya sebagai kakak kamu," kata Jaka.

__ADS_1


"Beneran Mas? Asyiiik. Mas rajin main kerumah ya, selama Reyka disini."


"Rey, anggap jadi kakak bukan berarti jadi supir kamu loh! Kalau mau pergi - pergi kamu harus nyetir sendiri. Pakai mobil papa," ucapku tegas.


"Iya Mbak. Takut bener sih. Tenang, kalau nabrak kan papa yang nanggung. Oh iya Mbak, aku belum cerita. Waktu itu masa ada cowok, adik kelas aku asal Jerman, dia kasih aku kembang mawar."


"Dia suka sama kamu?" tanyaku.


"Enggak tahu. Tapi itu pertama kali loh Mbak ada yang kasih aku kembang. Eh, Mbak pernah ada yang kasih kembang juga enggak?"


"Ada dong. Waktu itu Mbak dikasih kembang tahu, sudah hancur pula!"


"Yeay! Ngaco ih Mbak. Kasihan banget Mbak aku. Aku turut sedih ya Mbak." Reyka bicara dengan nada sedih sambil menepuk pundakku.


"Reyka, kamu di pesawat habis isi baterai ya? Kok masih kuat? Apa jetlag ya?" tanya Jaka yang bingung dengan Reyka yang masih segar dan selalu ngoceh.


"Lebih bawel dari gue kan? Ada dia, pasti ceria Jak." Aku mengingatkan Jaka dengan pembicaraan kami saat tadi waktu berangkat.


"Yaaa Mas Jaka ke ganggu ya? Maaf ya."


"Eeh, enggak kok Rey. Saya malah senang kamu ngomong terus. Kalau sama Mbak kamu doang, sering sepinya. Kurang hidup mobilnya."


"Jadi? Reyka penghidup suasana ya Jak?" Aku menanyakan sekaligus menggodanya. Siapa tahu misi percomblangan berhasil.


"Iya, semakin hidup suasana di mobil." Jaka menjawab sambil tersenyum.


"Jadi Rey masih boleh ngomongkan Mas? Kangen banget nih sama Mbakku yang kerjaannya nasehatin mulu," kata Reyka sambil gigit gemas lenganku.


"Wooy sakit tahu! Iseng deh. Malu tuh sama Mas Jaka. Jaga image sedikit kenapa sih?"


"Mbak aja yang jaga image, aku sih ogah. Kan aku kangen sama Mbak. Nanti aku tidurnya sama Mbak ya. Aku nginep ya di kamar Mbak."


"Enggak! Besok Mbak harus kerja, kalau kamu nginep di kamar Mbak yang ada enggak tidur. Malam Minggu aja kalau mau nginep."


"Yaaa, kan Sabtu kita ke Bogor Mbak. Mas Jaka sudah mau. Jarang - jarang Mbak kita pergi ada cowoknya."


"Memangnya kalian enggak pernah jalan sama cowok?"


"Seringlah Mas. Cuma biasanya yang suka hore - hore bareng sama kita ya sepupu - sepupu kita. Kalau jalan sama teman cowok ya aku enggak ngajak Mbak lah. Mbak juga kalau jalan sama cowok enggak pernah ngajak aku."


"Ya sudah kamu istirahat saja dulu, nanti dirumah kamu bakalan diserbu mama papa. Mama juga sudah siap dengan masakan kesukaanmu." Aku mengingatkan Reyka kalau mama dan papa sudah nunggu di rumah dan tidak sabar untuk bertemu.


Reyka memang anak yang ceria, dia juga ceplas ceplos. Kalau dia enggak bawel tandanya dia tidak nyaman dengan sekitarnya atau sedang lapar bisa juga karena sedang ngantuk.


Karena anak bontot kelakuannya selalu kekanakan bila bersama keluarga, hal ini berbeda saat dia bersama teman-temannya. Bahkan selama di Belanda pun dia yang yang sering jadi koordinator untuk beberapa kepentingan. Dia juga aktif di kampusnya.


***


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2