Bos Ajaib

Bos Ajaib
42. Di Apartemen


__ADS_3

"Hei! kalau jalan yang benar dong. Jalanan ramai malah haha hihi. Baju orang jadi basah!" Aku memarahi segerombolan anak abg yang numpahin minuman yang sedang dibawanya dan terkena ke kaos yang sedang ku kenakan.


"Maaf Kak, enggak sengaja," jawab anak yang menumpahkan minumannya tersebut.


"Kalau mau olah raga tuh yang niat! Bercanda sambil jalan, kalau mau bercanda di rumah! Minuman yang kamu tumpahin juga dingin, saya bisa masuk angin ini!" Aku masih ngamuk.


Anak yang aku marahin hanya nunduk. Teman - temannya pun ikut nunduk. Ingin rasanya aku memukulnya, tapi aku tahan. Entahlah, emosiku benar - benar tinggi saat ini.


"Lain kali enggak boleh bercanda tanpa mempedulikan sekitar ya. Kasihan dong istri saya, kalau sakit saya yang repot. Coba minta maaf lagi," kata Mas Malik yang tahu - tahu nimbrung sambil merangkul bahuku.


"Maaf Kak, saya tidak sengaja," ucap anak itu lagi. Aku tidak menjawab, karena Mas Malik meremas ujung bahuku, yang menurut aku kode supaya aku tenang.


"Ya sudah, lain kali hati - hati ya. Ya sudah kalian lanjutkan olahraganya. Yang benar tapinya, jangan bercanda di tengah jalan," kata Mas Malik dengan tenang dan suaranya layaknya seorang dewasa yang pengertian.


"Iya Kak. Terima kasih. Sekali lagi, maaf ya. Kami permisi dulu," ucap anak itu.


"Yuk, kita ke mobil sekarang. Jangan marah - marah lagi ya," kata Mas Malik sambil mengajak aku balik badan.


"Bagaimana enggak marah, saya sudah minggir - minggir. Mereka menguasai jalan, jalan bukannya berbaris kek, ini malah melebar gitu," protesku.


"Iya, kan mereka juga sudah minta maaf tadi," jawab Mas Malik.


"Sekarang saya yang marah ke Mas Malik," ujarku sambil berusaha melepas tangannya dari bahuku.


"Loh kok?" tanyanya sambil mengeratkan rangkulannya dibahuku.


"Loh kok loh kok! Sadar enggak, Mas itu enggak adil. Yang mereka lakukan jelas salah, eh gampang bener maafinnya. Coba kalau saya, pasti sudah dinyinyirin. Fix, besok saya mau menghadap Mas Ricky saja. Males punya atasan kayak Mas Malik," ujarku dengan nada marah.


"Eh kok kamu jadi marah - marah sih?" tanya Mas Malik yang tetap mempertahankan tangannya di bahuku.


"Iya, karena Mas enggak adil! Saya mau pulang sendiri saja. Lepas deh Mas tangannya," kataku sambil menahan kesal.


"Ini baru Juleha, yang kalau ngomong panjang. Kalau Rachel biasanya enggak gitu loh." Mas Malik ngomong gitu sambil ngacak -ngacak rambut aku, padahal ini kaos bagian depan beneran basah sah sah sah.


Aku sudah tidak bicara lagi. Badan depan aku mulai kedinginan. Sikapnya Mas Malik juga berubah, enggak kayak dikantor. Malah kayak seorang kakak yang sayang sama adiknya gitu.

__ADS_1


"Leha, kita sekarang ke apartemen Becky saja, itu di belakang Grand Indonesia. Kamu mandi disana, bisa pinjam baju Becky. Jadi enggak perlu emosi. Oke?" kata Mas Malik.


Aku diam saja, tidak menjawab. Mau menetralkan emosi aku dulu. Selama di mobil pun aku diam saja, tapi sesekali Mas Malik mengacak - ngacak rambutku sambil sesekali melihat ke arahku. Kayaknya ngacak-ngacak rambut jadi kebiasaan barunya dia ke aku deh.


Aku belum pernah masuk apartemen seperti ini. Jadi apartemennya, parkirnya di depan unitnya langsung. Beda dengan apartemen kebanyakan, yang penghuni kalau masuk harus lewat lobi dan parkir kendaraan ditempat parkir seperti di gedung pada umumnya.


Ternyata Mas Malik punya kunci apartemennya. "Assalamu'alaikum Becky, Mas dateng," teriaknya setelah masuk. "Yuk, sepatunya pakai aja, lepas di dalam. Saya cari Becky dulu, pinjam kaos buat kamu," ujarnya sambil gandeng aku masuk.


"Iya Mas. Eh sama teman, kenalkan saya adiknya Mas Malik yang tercantik sejagat raya," ujar Becky.


"Rachel," kataku sambil mengajak bersalaman, tapi Becky malah mengajak cipika cipiki.


"Iyalah adik yang paling cantik, enggak punya saingan. Kamu sudah rapi, mau jaga?" tanya Mas Malik.


"Iya diminta permaisuri," jawab Becky.


"Beck, pinjem kaos dong buat Rachel. Tadi lagi car free day, ketumpahan minuman abg." Mas Malik menjelaskan sambil nunjuk noda di kaos yang aku pakai.


"Oh yuk, Chel. Sekalian mandi aja ya? Oh iya Mas, aku habis belanja, kalau mau masak boleh banget. Seperti biasa, sisain ya." Becky bicara sambil menggandeng aku menuju kamarnya.


"Rachel, nanti kalau mau pakai kamar, kamar ini saja ya. Ini memang apartemen aku, tapi sudah dikuasai sama Mas Malik. Dia minta kamar sebelah hanya boleh dia yang pakai," Becky menjelaskan.


"Oh oke." Aku mengerti sekarang kenapa Mas Malik punya kunci sendiri.


"Ya sudah, kamu mandi dulu saja. Aku berangkat ke rumah sakit ya. Diminta jaga sama nyokap." Becky berkata sambil merapihkan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


"Oke, Terima kasih ya Beck." Kami pun cipika cipiki sambil Becky menunjukkan kamar mandinya.


Selesai mandi dan dandan ala kadarnya, aku pun ke dapur yang letaknya di samping ruang tamu. Eh ruang tamu apa ruang keluarga ya? Pokoknya ada satu ruangan itu saja, karena apartemennya juga enggak besar, tapi ada tiga kamar.


"Mas, saya mau buat kopi deh. Ada kopi enggak?" tanyaku yang melihat Mas Malik sedang sibuk menyiapkan sayuran dan aneka bawang.


"Oh sebentar. Kamu bisa buat sendirikan? Saya ambilkan kopinya dulu. Alatnya itu ya," kata Mas Malik sambil menunjuk coffee maker yang terletak dipojokan dapur.


"Oke."

__ADS_1


Mas Malik pun memberikan mug dan satu wadah kotak berisi kopi, gula, krimer, dan susu cair uht ukuran kecil.


"Saya masak dulu ya buat makan siang kita. Kamu mau bantu atau mau ngemil kacang?" tanyanya saat aku sedang mengoprasikan coffee maker.


"Ngemil kacang aja deh. Kacang sukro?" Aku menyebutkan kacang kesukaanku.


"Bukan, kacang panjang. Ini dia. Mau?" tanya Mas Malik sambil memamerkan kacang panjang yang dia pegang sambil senyum.


Aku menjawabnya dengan memonyongkan mulutku, sambil mencampur kopi dengan gula dan susu. Setelahnya aku memilih duduk di depan televisi yang sudah terpasang channel HBO. Sambil nonton, mataku pun terasa berat.


"Juleha, bangun. Nanti kepalanya sakit loh kalau tidurnya begini." Kudengar sayup - sayup suara Mas Malik.


"Mas, kok saya masih ngantuk ya? Padahal saya sudah buat kopi," tanyaku heran ketika menyadari kalau aku tertidur.


"Kopinya sudah kamu minum belum?" tanyanya yang duduk disebelah aku sambil menatapku.


"Belum Mas." Aku menjawab reflek.


"Terus enggak diminum tapi berharap enggak ngantuk tuh gimana ceritanya sih," tanya Mas Malik ketawa sambil berantakin rambutku.


Iya ya. Kenapa enggak diminum tadi? Ah Rachel, suka bikin malu di depan bos nih.


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2