
Semalam aku menghubungi Astrid, untuk menanyakan apakah aku bisa bicara dengan Mas Ricky tanpa ada yang tahu, selain dia tentunya. Mau enam mata aja gitu.
Ketika Astrid minta bocoran aku hanya mengatakan mau diskusi serius. Hahahaha dan Astrid semakin penasaran. Aku tidak akan membocorkannya, takut Mas Ricky nanti malah nanya sama Mas Malik.
Akhirnya kami janjian di jam makan siang. Aku kerumah mereka yang letaknya pas disebelah kantor.
Keluar kantor sendirian di jam makan siang itu sedikit rumit, karena teman - teman pasti akan nanya mau kemana dan segala macam. Sedangkan ini masuk ranah pribadi. Jadi aku disini sedikit bohong dengan bilang kalau mau janjian dengan Jaka.
Aku janjian sama Astrid di parkiran belakang dan masuk rumahnya lewat lantai dua kantor yang aksesnya dari tangga luar yang terdapat di bagian belakang. Dulunya Astrid sempat tinggal disana selama belum nikah, dia tinggal bareng Sisi. Sekarang hanya ditempati Sisi kalau kerjaannya lagi banyak. Yaaa seperti rumah kedua Sisi deh.
Kami memasuki rumahnya melalui lantai dua dan nembus ke ruang santai keluarga di lantai dua.
"Ayo mulai cerita, mau ngomong soal apa?" tanya Astrid yang masih penasaran.
"Mas Ricky nya mana?Biar enggak bolak balik cerita," ucapku.
"Bentar, kita ngobrol di meja makan saja ya. Gue cek Mas Ricky diruang kerjanya dulu."
Tidak lama kemudian Mas Ricky muncul dengan Astrid. "Hai Chel, ada apa nih, sampai dirahasiakan segala," kata Mas Ricky.
"Iyalah, kalau enggak nanti bocor. Ini enggak ada yang tahu, termasuk teman - teman se-divisi."
"Ya sudah cerita sekarang, bikin penasaran aja loh. Sambil makan aja ya," kata Astrid sambil mengambil makanan yang sudah tersaji di meja makan.
"Mas Ricky, saya di rolling dong," Aku mengatakan dengan nada memelas
"Heh, kok minta di rolling? Permintaan kamu waktu di rumah sakit serius Chel?" tanya Mas Ricky.
"Sekarang iya. Emosi saya suka naik turun Mas kalau menghadapi sikap Mas Malik."
"Emang Mas Malik suka bikin elo kesel Chel?" tanya Astrid penasaran.
"Ya gitu deh. Gue kayak anak buah tiri gitu. Kadang mikir kalau karya yang harus di revisi itu seratus persen ide gue masih mending, ini idenya dia juga, sudah didiskusikan sama dia, tahu - tahu suruh revisi, terus didampingi dengan kata - kata yang nyelekit." Curhatku ke mereka.
"Chel, kalau gue lihat Mas Malik suka sama elo deh. Mungkin dia bingung gimana harus bersikap, biar dapet perhatian elo." Astrid mengungkapkan pendapatnya.
"Benar Chel. Malik itu suka sama kamu. Inget enggak waktu di rumah sakit, saya kan bilang ke kamu kalau kamu pindah nanti Malik nangis." Mas Ricky menambah keterangan Astrid.
"Apalagi pas waktu elo belum sadar. Dah kayak lagi nunggu istri mau lahiran tau! Tegang dia. Kelihatan banget stres." Ungkap Astrid menceritakan apa yang dia lihat waktu aku baru masuk rumah sakit.
__ADS_1
"Yaa, jadi gimana dong Mas? Saya suka hilang moodnya kalau abis dinyinyirin sama Mas Malik. Dia senangnya bikin saya kesal Mas."
"Kalau kamu saya pindahin, otomatis saya harus ngomong sama Malik, kamu sudah siap menghadapi sikapnya? Dia akan merasa dilangkahi loh nanti."
"Kemarin saya sudah bilang kalau mau ngomong sama Mas Ricky."
"Hhmm pasti Malik nyangkanya kamu hanya gertak sambel saja. Kamu tahan - tahan deh, sampai dia nunjukin apa maunya. Kamu masih bisa kan?"
"Enggak tahu deh Mas, bingung saya." ucapku putus asa dan bingung. "Ya kalau enggak, nanti saya cari akal lagi deh." Ucapku sambil makan balado udang, tempe mendoan, yang dilengkapi sayur bayam.
***
Seperti biasa di hari kerja, jam pulang kantor pasti macet, jadi aku memutuskan untuk menambah jam kerja alias memilih pulang malam.
"Loh, kamu belum pulang Ha?" tanya Mas Malik sambil mendatangi kubikelku.
"Masih macet Mas kata radio. Jadi nanti agak maleman aja pulangnya." Ssttt, tapi sekarang aku lagi buka google mencari artikel tentang 'cara menghindar dari pria yang menyukaimu tapi kamu masih bingung'.
"Ya sudah, kamu pulang sama saya saja. Tidak ada penolakan!" Setelah bicara dengan sedikit perintah, dia langsung masuk dong ke ruangannya. Lah, gimana aku mau bales omongannya?
Saat aku lagi konsentrasi dengan artikel yang kubaca di google, si bos, ternyata sudah siap. "Leha, yuk pulang sekarang aja. Kita cari makan malam dulu ya."
"Bentar Mas, matiin komputer dulu. Mau makan apa emangnya?"
"Sop Konro yang di Tebet mau?"
"Boleh. Yuk! Saya kebawah duluan ya. Nanti langsung ke mobil saja ya Ha."
"Perjalanan dari kantor dikawasan Kayu Putih menuju Tebet, lumayan macet. Tapi aku enggak protes. Aku memilih menyetel radio untuk mengurangi rasa bosan.
Mas Malik memilih makan Sop Konro di Mamienk Daeng Tata dan kebetulan tidak terlalu ramai. Mungkin karena sudah lewat dari jam makan malam.
"Disini saja ya. Saya suka karena dagingnya empuk."
Aku mengangguk, menyetujui pendapat Tuan Muda Malik ini, karena memang ketika aku menyebut sop konro yang terbayang adalah tempat ini.
Pilihan makanan kami sama, Tata Ribs dan es jeruk. "Leha, pesanan kamu hanya ini saja?"
"Iya. Simple yang penting kenyang, Mas."
__ADS_1
Tapi saat makan, fikiranku berkelana, eh kayak judul lagunya penyanyi dangdut senior itu ya. Tapi beneran deh, aku mikir, apa begini sikap bawahan sama atasan? Memang sekarang Mas Malik agak berubah dikit, catet ya dikit.
"Konronya nggak enak?" tanya Mas Malik saat aku memasukkan suapan ke dalam mulut dan cuma diam terbengong setelahnya.
Aku menggeleng dengan tampang bingung, aneh pertanyaannya. Kan ini juga dah terkenal enak. “Enak, kok. Ini saya makan lagi."
Mas Malik mengacungkan jempol, lalu ikut menyantap makan malamnya.
Sekarang - sekarang ini, Mas Malik sering ngajak bareng dan supaya tidak ada penolakan dia pasti pakai kata yang memaksa.
Apa aku pancing ya? Lah tapi kalau dia beneran suka sama aku seperti kata Mas Ricky dan Mas Kelana gimana? Pencarian di google tadi belum selesai. Kan bingungkan? Udah deh, nikmatin aja, seperti biasa. Nanti malah dibatasin lagi pergaulan aku. Ye kan? Ini aja dia dah repot kalau aku naik motor sport.
"Mas, ini yang bayar saya aja ya? Sekali kali traktir bos gitu. Biar kesannya anak buahnya keren."
"Enak aja. Saya kan laki - laki Ha, masak dibayarin sama cewek?"
"Dih, saya gak bilang situ cewek kok. Anggap aja ucapan terima kasih, karena sudah merawat saya selama di rumah sakit." Kepikiran juga sih, kalau pergi makannya selalu dibayarin, nanti dipikir aji mumpung.
"Enggak usah Leha. Uang kamu, kamu tabung saja."
"Gini deh, anggap aja pakai uang taksi saya Mas. Gimana?"
"Ini bocah, kenapa ngotot amat sih? Ditabung, Julehaaaaa." Mas Malik ngomongnya gumush gitu ke aku.
"Mas saya sih kalau soal uang enggak masalah, yang penting murah."
"Hiiiih. Ini mahal. Besok kamu bawain saya cemilan saja, beli di alpa atau di indoreret juga gak masalah. Okey?"
"Okey!" Aku males debat lagi sama si bos, karena pasti kalah.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung