Bos Ajaib

Bos Ajaib
63. Kapan Kamu Mau Nikah?


__ADS_3

"Maaas.. sudah ah berenangnya, naik dulu."


"Masih kurang Dek. Tiga putaran lagi ya. Tunggu ya sayang."


"Hahahaha, Chel asal kamu tahu, Malik belum pernah manggil orang lain dengan sebutan sayang loh. Ini perubahan besar," kata Bang Ravel.


"Oh ya? Waah saya melayang ini Bang."


"Kaget juga akhirnya dia berani nembak kamu Chel. Walaupun lama ya kasih kode ke kamunya?"


"Hah? Maksudnya bagaimana Bang?"


"Biar nanti Malik yang bicara terus terang ke kamu saja ya. Tapi terima kasih ya, kamu mau menerima Malik yang sableng ini."


Tidak lama Mas Malik pun pun menepi ke arah aku dan Bang Ravel. "Mas Malik, kalau lagi berenang, terus haus, boleh langsung minum air kolamnya nggak?" tanyaku ketika Mas Malik nyengir ke arahku.


"Caranya gimana ya? Langsung mangap, tapi pas menelannya susah Dek. Idenya boleh tuh, nanti Mas coba deh."


"Kalau sudah dicoba, kabarin ya. Rachel penasaran juga."


"Sudah kamu naik dulu Lik. Ini mama papa sudah mau sampai. Rania ikut mereka juga."


"Ooh, Malik fikir Rania lagi sama Kak Raisa di rumah omanya."


"Nggak, Raisa lagi tugas kantor ke Korea."


"Ooh. Baru tahu Malik."


"Rania sama Kak Raisa itu siapa?" tanyaku ke Mas Malik saat posisi kami berdekatan.


"Rania anaknya Abang. Kak Raisa itu istri tercintanya.


Aku tuh ingin tertawa. Ternyata disini Bang Ravel berperan sebagai Hamish Daud. Mirip sama Indra. Aku nggak berani godain Bang Ravel, takut di kutuk jadi Cinderella. Jadinya senyam senyum aja.


"Kenapa kamu mesam mesem gitu? Pasti ada yang lagi difikirin nih," tebak Mas Malik penasaran.


Aku akhirnya tertawa lebar.


"Hei, cerita Dek! Ada apa? Ayo berbagi." Mas Malik memaksa aku untuk bercerita isi fikiranku.


"Nggak, lucu aja. Mas tahu kan penyanyi Raisa? Dia kan panggilannya Yaya. Di kantor kita punya Indra sebagai Hamish Daud, eh di sini ada Bang Ravel sebagai Hamish Daud juga."


"Astaga, kalian ya. Suka menyamakan orang."


"Hehehehe.. Ya udah, Mas mandi dulu deh. Tapi jangan pakai lama ya."


"Oke, tunggu ya. Kamu nonton tivi dulu ya sama Abang." Aku menjawab dengan anggukan dan berjalan menuju ke tempat Bang Ravel berada.


***

__ADS_1


Saat ini aku sedang makan siang dengan orang tua Mas Malik dan ada Bang Ravel serta Rania, anaknya Bang Ravel.


"Chel, Mama senang deh akhirnya Malik mengenalkan pasangannya ke kami. Tapi Mama mau tahu keseriusan hubungan kalian. Boleh ya?" tanya Mama Abigail, nama mamanya Mas Malik. Kemudian Mama meminta baby sitter Rania untuk mengajak Rania main di teras belakang.


"Boleh kok Mah." Masa iya aku jawab tidak boleh, kan nggak mungkin ya? Suka iseng nih mama dokter satu ini.


"Malik, kamu ada niat untuk nikahin Rachel kan? Mama tanya ini di depan Rachel sekalian, biar Mama tahu kedepannya."


"Ya ampun Mama. Ya niat dong. Ampun deh! Masa Mama nanya sama bos begitu," kata Mas Malik ke Mamanya dengan nada manja.


"Bas bos bas bos. Apapun jabatan kamu di kantor, kamu tetap anak Mama yang kalau salah tetap harus kami tegur. Ini Mama yakin, Rachel pasti anak kesayangan orang tuanya, Mama nggak mau kamu main - main." Aji gile, Mamanya Mas Malik orangnya tegas banget. Ketahuan nih, di rumah sakit kayak apa kalau lagi mimpin rapat.


"Iya Mah. Kami sudah bahas soal pernikahan kok."


"Good. Kapan?"


"Tahun depan Mah."


"What? Kamu kapan mau ngenalin Mama dan Papa ke orang tua Rachel?"


Kacau deh! Ini Mamanya Mas Malik sepertinya nggak bisa diajak santai.


"Belum tahu Mah." jawab Mas Malik sambil makan semangka.


"Rachel, kamu ulang tahun kapan?" tanya Mama Abigail ke aku.


"Minggu depan Mah."


"Hah?" Kaget dong aku, mana pernah anak nyonya Keya ulang tahun dirayain. Bisa diketawain sama Reyka ini.


"Kalau bingung urusan tempat, biar Malik yang ngatur. Dia biasa ngatur lokasi ulang tahun sama Becky, untuk kita semua. Masa diminta ngatur ulang tahun calon istrinya nggak mau." Mama Abigail bicara tanpa bisa dibantah. Dari sini aku tahu, sifat dan sikap Mas Malik yang nggak mau dibantah dari mana.


"Iya Mah." Bingung aku tuh.


" Kamu jangan stres gitu Chel. Mama galaknya cuma ke Malik kok." Si Mama ngomong sambil senyum. "Mama akan melindungi kamu, kalau Malik nyakitin kamu."


"Diih Mama. Nggak ada niat Malik ngakitin Rachel, kan Malik nggak mau pisah dari Rachel."


"Kamu manja sama anak orang. Manja tuh sama Mama Lik. Kamu yang manjain Rachel. Awas ya kalau Mama dapat laporan kalau kamu nggak manjain Rachel. Botol infus melayang nanti." Ancam Mama Abigail ke Mas Malik. Hahaha tahunya dia preman juga.


"Mama suka galak, jadi Malik nggak mau manja sama Mama, mendingan manjanya sama Rachel." Mas Malik malah nyari gara - gara ke Mama.


"Ya sudah, nanti malam kamu tidur sama Mama deh. Nginep sini ya?" Pinta Mama Abigail.


"Iya, Malik mau nginep, mau main sama Rania juga. Tapi besok pagi Malik mau jalan sama Rachel."


"Mau kemana?"


"Rachel mau beli motor sport," kata Mas Malik. Bener- bener ini keluarga. Semuanya diomongin.

__ADS_1


"Hah? Kamu bisa mengendarai motor sport?" Papa Tirta yang dari tadi diam langsung bertanya dengan intonasi kagetnya.


"Iya Pah. Habisnya Mas Malik sering minta Rachel pulang kerja sore, dan di jam segitu pas macet - macetnya, jadi lama dijalan."


"Waah, nanti kalau habis nikah kalian tinggal disini saja ya? Jadi Mama ke rumah sakit bisa dianter Rachel. Pasti keren tuh, Mama turun dari motor sport. Pasien - pasien di poli nanti melihat kalau dokternya, cewek metal. Belum ada tuh."


"Maah, ingat umur dong," tegur Papa.


"Hahahaha, tambah lagi Pah, sudah oma - oma, masih naik motor sport. Keren Pah." Mama menambahkan.


"Mama, kamu itu sudah keren kok dengan jadi istri Papa," jawab Papa.


Mama Abigail menjawab dengan memberi sun di pipi Papa. Mesra beneeer.


"Malik mau tinggal berdua saja sama Rachel, selama kami belum punya baby. Nginep disini dan dirumah orang tua Rachel nanti akan kami atur," jawab Mas Malik.


"Yaaaah.. Mama sedih loh Lik."


"Mama masih ada Becky. Nanti suruh Becky naik motor juga aja."


"Aah nggak seru. Yang seru itu menantu sama mertua kompak Lik." Mama masih juga merajuk.


"Iya iya, boleh Mah. Tapi sesekali aja ya, itu pun kalau Rachel lagi punya waktu nganter Mama. Sudah, Mama nggak boleh protes," jawab Mas Malik. Aku? Cukup diam mengamati interaksi keluarga ini. Bang Ravel pun diam saja, sibuk makan jeruk dan buah naga.


"Ya sudah, ngobrolnya kita lanjut di ruang tengah saja yuk. Rachel nggak papa kan, kalau minggu depan keluarga kami ikut merayakan ulang tahun kamu?" tanya Mama sambil merapikan piring bekas makan kami dan aku pun ikut membantunya.


"Iya Ma, nggak papa kok. Tadinya, Rachel nggak kepikiran untuk merayakannya."


"Rayain aja Chel, selagi adek kamu disini juga kan? Sekalian kita semua kenalan," kata Bang Ravel menimpali sambil berdiri dan merapihkan kursi makannya.


"Loh, adeknya Rachel memang tinggal dimana?" tanya Papa.


"Dia lagi ambil S2 di Leiden, Belanda, Pah," jawabku.


"Ooh.. Keren itu. Fakultas apa? Nanti kalau sudah lulus kerja di perusahaan Papa saja ya." Belum juga di jawab jurusannya, sudah main nawarin kerjaan aja. Keren banget sih adek aku itu.


"Dia ngambil sains Pah," jawabku.


"Waaah pas itu, untuk perusahaan kita Vel." Jawab Papa bersemangat sambil ngasih tahu ke Bang Ravel. Yang di jawab Bang Ravel dengan senyuman dan jempol ke arah Papa.


***


.


.


... Selamat hari Seniiin 🥳🥳🥳...


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2