Bos Ajaib

Bos Ajaib
21. Gulai Ikan


__ADS_3

"Rachel! Neng Rachel!"


Aku mencari asal suara yang memanggilku. Ternyata Mas Malik sedang duduk di bangku hotel sambil membaca koran Kompas yang sedikit terlipat.


"Ngapain Mas duduk disini? Emangnya dikamar enggak dikasih koran ya?" tanyaku dengan keheranan. Masalahnya seniat itu dia baca koran malam-malam saat sedang liburan.


"Kamu pikir ini hotel bintang berapa, yang dikamar dikirimkan koran?" jawabnya.


"Eh kita enggak dapat koran ya? Ya, maaf kalau saya salah," jawabku dengan nada cuek.


"Kamu mau makan malam?" Mas Malik mengganti topik, tidak membahas soal koran lagi.


"Iya," jawabku singkat. Aku memang keluar kamar untuk makan malam di restoran hotel.


Saat ini seharusnya menjadi momen aku menikmati hidup, karena niat cuti untuk refreshing. Tapi, sepertinya itu hanya khayalanku saja, karena Mas Malik ada didepan mataku saat ini.


Dalam bayanganku, dia yang tadi habis snorkeling akan capek dan beristirahat di kamar. Tapi nyatanya dia duduk di lobi. Meskipun tanpa ransel yang tadi dia bawa, dia masih menggunakan baju yang sama dengan baju yang dia kenakan saat tour tadi.


Dia bangun dari duduknya dan menghampiriku. "Saya juga mau makan malam. Kita makan malam diluar saja yuk. Jangan makan di hotel terus ah, bosen," komentar si bos sambil menaruh koran ke tempatnya.


Aku memandang Mas Malik dengan wajah menyelidik, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Risih, risih deh loh dilihatin seperti itu.


"Iya Chel, saya belum mandi. Belum wangi seperti kamu. Tapi tadi kan sehabis snorkeling saya sudah mandi. Pulang dari makan malam, sebelum tidur saya juga akan mandi kok," ujarnya.


"Saya enggak minta penjelasan lengkap dari Mas Malik kok," kataku.


"Oh, jawaban saya kepanjangan ya?" ucapnya, yang aku jawab dengan anggukan dilengkapi wajah bingung.


"Jadi? Makan malam diluar ya?" ajaknya dengan percaya diri.


"Hhmmm, tapi saya malas ganti baju lagi Mas." Maksud hati biar makan di hotel saja.


Tapi apa daya malah di jawab, "Emang mau pakai baju apa? Kamu nyiapin baju pesta ya buat dinner sama saya?"


"Seniat dan sepenting itu saya jalan sama Mas Malik?" Jawabku dengan nada sewot.


"Ya mana saya tahu. Kan kamu membahasakan seakan tidak siap pergi dengan baju yang kamu pakai sekarang," jawabnya ngeles.


"Niat mau ngajak makan malam atau mau ngajakin perang Mas?" Aku bertanya sambil memasang muka judes dengan mulut cemberut.


"Aih aih, anak buah gue yang satu ini emang cute kalau lagi kesal. Jangan salahin atasan kalau suka mancing-mancing biar dapat wajah seperti ini." Dia bicara sambil tersenyum lebar dan kelihatannya tuh puas banget.

__ADS_1


What? Jadi dia selama ini bikin aku emosi karena berharap aku marah? Wong edan!


"Oke, oke. Yuk kita makan malam diluar. Saya sudah booking mobil hotel untuk kita ke Rumah Makan Pauh Piaman." Si bos ngomong sambil tangannya menggandeng tanganku. Kami pun jalan bersisian.


Aku pergi dengan tampilan minimalis. Iya minimalis, layaknya seorang gadis yang mau tidur, hanya mengenakan kaos oblong, celana training, sandal jepit, serta tas kecil yang berisi dompet dan ponsel. Tidak hanya itu saja, minimalis ini juga didukung wajah polos tanpa sentuhan apapun. Tapi rambut tetap cetar, kan baru diwarnain. Hahahaha.


Kami berdua duduk di kabin tengah mobil Innova milik hotel.


"Mas, kenapa milihnya rumah makan itu? Bukan yang lain?" Aku penasaran karena dia niat sampai sudah sewa mobil hotel segala.


"Saya baca rekomendasi dari Google, katanya makanannya enak- enak, terutama gulai ikannya. Sayang kan kalau makan sendirian, makanya ajak kamu," katanya sambil menatap pemandangan dari balik jendela. Muka aku lagi enggak bagus euy, makanya dicuekin.


"Kalau saya tadi enggak turun, gimana? Mas mau jalan sendirian?" tanyaku iseng.


"Ya enggaklah. Saya kan bisa telepon kamu. Kalau enggak diangkat saya gedor kamar kamu," jawabnya. Kali ini si bos sambil memandang wajahku.


"Ooh, gitu ya kelakuan bos ke anak buah," jawabku dengan nada tengil.


Saat ingin menjawab ocehanku, ponsel Mas Malik yang ditaruh di atas pahanya berbunyi. Tertulis Ravelino di layar ponselnya.


"Iya Bang Rav," sapanya.


"Iya, iya," jawab si bos lagi.


"Hey! Jangan ngaco deh Bang, " Lagi-lagi dia menjawab sambil tertawa lepas.


Aku mendengar suara tertawa bahagianya seakan ikut bahagia, padahal enggak tahu apa yang dibicarakan dengan abangnya. Tapi yang pasti, ini pertama kali aku melihat si bos tertawa seperti itu.


"Oke. Tiga hari lagi pulang. Mau jemput? Sip deh. Yap! Thanks. Bye," katanya lagi. Percakapan telepon pun berakhir. Ada rasa ingin tahu, apa sih yang dibicarakan, tapi aku sama sekali enggak bisa dengar omongan Bang Ravel. Iih hii, sebel! Eh aku kok kepo? Kacau!


Yang lucunya, begitu si bos kelar telepon, kami pun sampai di Rumah Makan Pauh Piaman. Bisa pas ya?


Kami berdua masuk ke rumah makan tersebut dengan jalan bersisian. Sekarang si bos punya kebiasaan baru, menggandeng tanganku, tanpa aku bisa melepaskannya.


Karena tadi kata Mas Malik rekomendasinya gulai ikan, maka aku mau fokus makan itu dulu, sisanya baru menu lainnya. Semoga perutku cukup, aamiin.


"Chel, lihat saya sebentar." Saat aku melihatnya, dia sedang memegang ponselnya. "Yee, kalau mau motret jangan pas gaya seperti ini dong, kan enggak bagus," protesku.


"Muka kamu pas innocent kok. Bagus!" katanya sambil senyum-senyum.


"Mas hapus ah. Besok aja deh kalau mau motret. Ini saya lagi nyetel tampang capek," ujarku memohon.

__ADS_1


"Enggak kok, bagus. Tenang Chel, ini enggak akan saya sebarkan kok."


"Eh, emang besok muka kamu mau disetel tampang apa? Kamu ini, muka kok disetel," protesnya. Aku tidak membalas ocehannya, percuma. Lebih baik aku melanjutkan bertempur dengan gulai ikan.


"Eh Chel, kamu pulang kapan?" tanya si bos sambil ngunyah. Padahal guru agama waktu SD bilang, kalau lagi makan enggak boleh ngomong. Aku mau kasih tahu, tapi masalahnya dia bos, kalau aku protes nanti debat, terus ribut lagi. Aku kudu piye iki?


"Beberapa hari kedepan. Kenapa Mas?" Aku pura-pura tanya, padahal tadi dia sudah kasih tahu kalau besok destinasinya samaan denganku.


"Besok jadwal kamu samaan kan dengan saya?" Watdesik! Tahu dari mana dia? Ruwet, ruwet, ruwet, kalau begini. Gagal semua rencanaku.


"Maksudnya yang Mas mau ke pulau itu?" tanyaku datar, dan saat mulutku sudah tidak mengunyah makanan.


"Iya," jawabnya singkat.


"Hhmmm ya gitu deh. Kalau sudah tahu kenapa nanya?" jawabku enggak bersemangat.


"Ya sudah, besok kita berangkatnya bareng, pulang dari sana juga bareng. Biar kamu enggak kaget besok." ujarnya.


"Atur saja lah Mas. Saya ikut saja. Tapi saya kok jadi merasa aneh ya, Mas Malik bisa tahu aktifitas cuti saya?" tanyaku tanpa menutupi kecurigaanku.


"Malik gitu loh," katanya dengan nada norak.


"Mas habis dari dokter mata ya?" tanyaku.


"Hah?" komentar Mas Malik bingung.


"Iya, masalahnya sekarang Mas bisa membaca isi fikiran saya. Saya jadi takut nih!" kataku dengan nada sebal.


Mas Malik malah membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak. Nah, kalau lagi ketawa gini, kelihatan gantengnya. Haduh, nih cowok pacarnya siapa sih? Eh, kok aku korslet ya? Fokus Chel, fokus dia bos kamu.


.***


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2