
Hari Senin lagi, rapat lagi. Tapi pagi ini aku seperti memiliki semangat baru dan energi tambahan. Hal ini disebabkan tadi malam mendapatkan ide cemerlang untuk web Bu Mona yang kriyacantik.
Ketika aku datang, ternyata diruanganku sedang ramai. Maksudnya semua personil sedang kumpul termasuk Mas Malik, eh kecuali Indra tentunya yang sedang bulan madu.
"Good morning, selamat pagi semuanya," ucapku dengan nada ceria. Seperti yang aku bilang, aku lagi semangat.
"Morning", " Met pagi Rachel", "good morning Neng", " Wiih Mbak Rachel lagi happy nih". Itulah jawaban dari sapaanku pagi ini.
"Tumben ngumpul gini, ada kejadian apa nih?" tanyaku penasaran.
"Enggak ada apa-apa kok. Cuma ngebahas ada office girl baru," jawab Mas Kelana.
"Terus, istimewanya apa? Sampai kumpul kayak gini," tanyaku penasaran.
"Tadi dibawah anak-anak lagi pada makan bubur, katanya enak. Pada minta beliin sama office girl itu. Dia berani naik motor juga, jadi minta tolong sama dia, kita tertarik juga sarapan bubur yang katanya enak itu," kata Kak Bertha.
"Ya udah, besok kita ikutan beli bubur aja. Pesennya dari sekarang, kalau besok kita belum sampai kantor, bisa ditaruh di meja kita," usulku.
"Setuju saya dengan usul Rachel," kata Mas Malik.
"Nanti kita panggil kesini saja ya anaknya, terus kita pesen bubur buat besok," Kak Bertha mengulangi keputusan kita semua.
"Iyes Kak. Ya sudah ah, gue kerja dulu. Mas Malik, rapat agak siangan boleh enggak? Biar saya kerjain semaksimal dulu nih tugasnya." Aku bicara kesemuanya, berharap semua setuju.
"Oke, sehabis makan siang atau jam 3 gitu ya? Lihat kondisi, nanti siap diantara jam itu saja ya," kata Mas Malik.
Akhirnya rapat diadakan pukul 3 siang.
"Thanks ya buat semuanya. Langsung saja ya. Sekarang gue mau bahas soal Made Qi yang di Bali. Bertha, elo jalan hari Kamis ya. Besok elo beresin semuanya yang dikantor, Rabu elo urus urusan anak-anak sama suami elo, jadi Rabu elo enggak usah masuk, Kamis pagi jalan, siang sudah bisa langsung kerja. Tiket urusannya sama Astrid ya. Sudah beres sih."
Yang kusuka dari Mas Malik adalah dia tuh care banget, sampai urusan rumah tangga sebelum ditinggal tugas keluar kota juga diperhitungkan.
"Fotografer yang jalan Sherin. Biar dia enggak gangguin kerja tim desain lagi, jadi akan banyak tugas keluar," kata Mas Malik melanjutkan keterangan soal tugas Bali. Oh ya, sekarang Sherin pun lagi rapat dengan tim foto di ruang divisinya.
"Konsep gue aman kan Lik, yang Made Qi?" tanya Kak Bertha ke si bos.
"Aman."
"Untuk Kelana, yang desain Wuka Esensial coba ditambah alternatif konsep desainnya deh. Kok gue merasa kurang pas ya? Koleksi busananya lebih ke warna kalem, garis desainnya juga simple. Kita buat yang senada dan yang eye catching sama koleksinya." Mas Malik ngomong sambil perhatikan kerjaan Mas Kelana dari laptop.
"Oh oke. Tinggal tambah aja ya Mas." Mas Malik menjawab dengan anggukan.
"Rachel. Yang kriyacantik sudah kamu masukin ke server? Tadi saya cek belum ada." kata Mas Malik.
"Sudah Mas. Sebelum rapat sudah saya masukkan."
__ADS_1
"Oke, wait. Saya buka dulu," katanya. "Loh, baru jadi segini? Kamu ngapain aja Chel? Katanya tadi kamu mau ngerjain dulu." Nada bicaranya Mas Malik terdengar agak sinis.
"Mas, itu dua konsep desain yang saya kerjakan. Ya, memang belum keenamnya saya jabarkan. Enggak sempat juga." Aku menjawab sambil menahan kesabaranku. Kirain sekarang aku sudah bisa akur sama Tuan Muda, enggak tahunya zonk!
"Nah, kamu mengakui kalau enggak sempat. Saya tanya lagi, kamu ngapain sampai belum sempat?" Mas Malik nanya dengan nada menyalahkan. Nadanya bikin aku emosi deh.
"Oh my God, Fernando!" Aku mulai kesal dan intonasi suara jadi naik.
"Begini ya, kita jabarin asal mula tugas ini di tangan saya. Itu kerjaan dikasih hari Jumat. Dengan kelihaian dan aneka keajaiban, Jumat sore konsep selesai. Mas Malik enggak bilang loh, kalau Sabtu dan Minggu saya harus ngerjain, dan hari ini harus sudah kelar. Kalau bilang, saya kemarin enggak perlu dandan ke nikahannya Indra, enggak perlu repot ke Fairmont, Mas!" Kalian kebayang kan marahnya aku? Antara kesal, emosi, sama mau nangis, gaes.
"Cheel, tahan." Kak Bertha berkata dengan suara pelan sambil mengusap punggungku.
Mas Malik diam dengan muka datar andalannya. Sambil ngecek kerjaan aku. Memang baru dua konsep yang aku kerjakan, tapi satu konsep ada yang tujuh halaman, terus yang satunya lagi baru empat halaman. Dikerjakan baru tadi pagi loh. Hilang semua semangat kerja aku hari ini.
Kak Bertha tetap setia dengan tangan yang dipunggung aku. Sedangkan Mas Kelana diam saja, ku tahu mereka berdua juga serba salah.
"Kamu emosi sama saya, Chel?" Nyebelin kan, punya bos kayak gini?Pakai nanya lagi.
"Mas Malik, sepertinya saya mau minta pindah divisi saja deh ke Mas Ricky. Sebenarnya niatnya sudah lama, tapi saya tahan." Sorry gaes, aku give up ngadepin si bos ini.
"Hah? Kenapa? Karya kamu bagus kok." Mas Malik bicara dengan tatapan tajamnya.
"Saya tahu kok karya saya bagus. Tapi sayangnya bos saya enggak bagus. Senangnya bikin saya kesal terus," kataku sombong.
"Saya jadi baby sitter-nya Terry juga enggak masalah kok. Yang penting saya sudah enggak berurusan sama bos saya yang sekarang." Aku menyebut anaknya Mas Ricky yang sekarang sudah bersekolah di Sekolah Dasar.
"Maaf Chel, kamu tetap jadi anak buah saya. Ya sudah, kamu lanjutin kerjaan kamu ya. Jangan suka marah gitu ah. Nanti kamu saya belikan es krim deh." Mas Malik bicara dengan tatapan yang enggak bisa dilukiskan dengan kata-kata.
"Gue juga mau dong, es krim," sahut Mas Kelana.
"Hhmmm. Ya sudah, rapat kita sudahi saja ya. Terima kasih semuanya." Mas Malik pun membereskan laptopnya dan melangkah keluar ruang rapat.
Kami pun keluar ruangan rapat. Sherin sudah ada di kubikelnya.
Setelah duduk di kubikel, aku sudah enggak semangat kerja. Untuk memulihkan semangat aku memilih ngemut permen karet yang stoknya aku simpan di laci bawah meja.
"Heii, sudah. Cool Chel. Gue tahu kok Mas Malik tahu kesalahannya. Santai aja ya. Eh elo lagi makan permen ya? Bagi dong!" kata Mas Kelana yang kemudian mendatangi kubikelku.
"Gue juga lagi dinginin diri gue kok Mas. Eeh, gue lagi ngemut permen karet. Tapi pedes Mas," kataku.
Saat bersamaan Mas Malik keluar dari ruangannya. Dia ke kubikel Kak Bertha.
"Kok permen karet pedes Chel, emang ada?" tanya Mas Kelana heran.
"Ada. Ini buktinya gue ngemut permen karet pedes. Waktu beli, gue minta karetnya dua," jawabku.
__ADS_1
"Astaga, Marimar. Itu permen karet apa gado-gado?" kata Mas Kelana sambil tertawa.
"Hei, hei hei! Ini gue lagi whatsapp sama Astrid untuk beli bubur. Dia lagi koordinasi. Dia nanya, pada mau pakai kacang kedelai enggak?" tanya Kak Bertha sambil teriak. Sherin pun menghampiri kubikel Kak Berta.
"Pake", " Gue Pakai kedelai", "pake", " Enggak", gue juga pake", oke sip. Jadi satu yang enggak pakai ya."
"Astrid nanya lagi, dikasih ayam enggak?"
"Iya dong kan bubur ayam", "Iyalah", "iya". Itu semua jawaban Mas Malik, Mas Kelana, dan Sherin.
"Elo Chel, dikasih ayam enggak?" tanya Kak Bertha karena aku diam saja.
"Sebentar deh. Dikasih ayam? Kalau bubur gue dikasih ke ayam, gue makan apa?" tanya aku ke Kak Bertha.
"Racheeeeel!" Teriak Kak Bertha.
"Lah, iyakan?" tanyaku bingung. "Ternyata Astrid suka ngaco juga ya? Gue beli bubur buat sarapan, malah mau dikasih ke ayam. Kacau!" Sambungku.
"Kamu pulangnya saya antar ya Chel? Saya mau ketemu mama kamu," kata Mas Malik sambil tertawa.
"Wedeh, kalau ngantar pulang boleh Mas. Hemat ongkos saya, tapi kalau ketemu mama mau ngapain? Mau laporan, Mas Malik habis nyinyir ke anaknya? Terus marah-marah enggak jelas ke anaknya yang manis ini?"
"Oh enggak. Mau apa aja sih ke mama kamu. Main monopoli atau gaplek juga boleh."
"Wong gendeng!" Aku ngedumel sendiri.
"Elo lah Chel yang gendeng," sahut Mas Kelana.
"Cie cie.. Mas Kelana belain Mas Malik. Cie cie.." Aku meledek Mas Kelana. Yang diledek malah tertawa.
"Mbak Rachel, bisa aja nih," kata Sherin yang lagi ngelap air matanya. Heran, padahal enggak ada yang nyakitin dia, tapi nangis.
***
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1