
Hari ini aku menikmati paket tour hari terakhir. Kami akan mengunjungi pulau, dan kami sudah diingatkan untuk membawa baju ganti, serta diingatkan apabila ingin snorkeling.
Aku yang memang sudah niat untuk nyebur, sudah mengenakan pakaian menyelam dari hotel. Biar enggak repot ceritanya nanti. Kami pun menuju Teluk Bungus.
Kali ini, Mas Malik semakin mepet ke aku terus. Iya dipepet, kayak cowok yang takut kehilangan ceweknya gitu. Protektif deh pokoknya. Jelas aku risih, aku jadi enggak bebas. Benar-benar pengganggu deh pokoknya.
"Mas, jangan dekat-dekat saya kenapa sih? Kalau takut kehilangan saya, kan bisa lihat dari kejauhan."
"Enggak masalah kok saya dekat dengan kamu, kan kalau kamu butuh bantuan bisa langsung minta tolong ke saya dengan segera," ujarnya ngeles. Situ enggak masalah, sini yang masalah Petruk!
Di mobil, dia milih duduk disamping aku. Terus iseng. Protes sama kacamata hitam yang aku pakai. "Aduh, kalau pakai kacamata seperti ini, keindahan mata kamu akan tidak terlihat dong."
"Silau Mas. Nanti mata saya sakit kalau kena sinar matahari terus."
"Enggak deh. Saya aja enggak masalah kok. Lepas saja, jadi kita samaan, Sama-sama enggak pakai kacamata hitam." Nah, jadi jelaskan alasan minta lepas kacamata. Dia iri, karena enggak pakai.
"Tapi Mas Malik pakai topi, saya enggak," balasku.
"Kamu mau pakai topi saya? Boleh kok!" Si bos langsung memakaikan topinya ke aku. Aku enggak protes, karena kalau protes bisa panjang lagi. Ini aja, selama diperjalanan kami hanya meributkan sesuatu yang enggak penting untuk di bahas. Dan herannya selalu ada bahan yang diomongin.
Setelah sampai di Teluk Bungus kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Pamutusan dengan menggunakan fery. Aku lebih memilih diam, meskipun si bos bolak balik merhatiin aku. Kayaknya dia takut aku muntah karena mabuk laut. Daan tidak terasa kita sudah sampai ditempat tujuan.
Kini, kami mengeksplorasi keindahan pulau kecil nan eksotis khas Sumatra Barat, tapi yang kami kunjungi adalah Pulau Pamutusan.
Nah di Pulau Pamutusan jadwalnya adalah bermain bebas seperti snorkeling atau berenang, dan foto underwater.
Tapi setelah aku fikir-fikir, aku tidak jadi main air, karena ada Mas Malik. Malu!
"Rachel, ini untuk kamu," katanya sambil memberikan sebotol minuman teh rasa leci kepadaku.
"Hah? Buat saya?" tanyaku dengan keheranan.
"Iya, buat kamu. Ini ambil, atau mau yang ini? Tapi sudah saya minum." Dia menawari sambil memamerkan minuman teh dengan rasa buah yang berbeda dan sudah dia minum.
"Ini enggak disuntikkan obat kan Mas?" Maaf, curiga boleh dong.
"Enggak lah," kata Mas Malik tegas.
"Beneran? Habis diludahin gak?" tanyaku lagi.
"Ampuun deh, punya anak buah kayak kamu. Coba kamu lihat, ini masih ke segel, Rachel."
Aku lalu mengambil minuman botol itu, dan menelitinya. Iya benar, masih kesegel dan enggak ada tanda-tanda bocor. Lalu aku mencoba membukanya, haus euy, di pulau, panasnya terik.
"Biar saya bantu buka," Mas Malik langsung mengambil botol minumanku yang susah kebuka dan dalam sekejap langsung terbuka. Dia pun memberikannya padaku.
Tanpa pikir panjang, aku langsung meminumnya. "Mas, bawa banyak enggak? Enak."
"Saya bawa empat, jadi dua untuk saya, dua untuk kamu," katanya.
"Yaa, kok dikit. Kalau bawa tuh harus niat Mas, bawa yang banyak sekalian." Aku bicara sambil tersenyum dan memainkan alis.
"Emang saya mau jualan. Kan hanya untuk kita berdua saja, ngapain bawa banyak."
"Ya kalau lebih, kita bisa jualan Mas," jawabku sambil senyum jail. Sementara si bos tersenyum manis. Semanis madu.
"Kamu enggak main air? Snorkeling, atau apa gitu?" tanya Mas Malik.
"Enggak," ucapku singkat. Dalam hati aku berucap, 'Kalau kamu enggak ada mah saya sudah nyebur kali. Apa kabar baju nyelam yang sudah menempel di badan'.
__ADS_1
"Malas gantinya ya?" tanyanya.
"Enggak kok. Saya lagi mau gaya seperti selegram aja. Makanya pakai kacamata hitam," jawabku asal.
"Ah susah deh, anak mol."
"Yee, Mas Malik tuh anak hotel. Makan malem aja gaya, ngajaknya di hotel," balasku enggak mau kalah.
Kulihat Mas Malik tersenyum. Ya Allah, kalau dia mulutnya enggak suka nyakitin aku, aku bisa jatuh cinta nih sama dia.
"Kamu selalu bisa menjawab semua omongan saya ya? Sejak saya jadi atasan kamu, kamu selalu siap menjawab dengan tangkisan loh."
"Mas sebagai atasan, kalau nanya anak buah, terus anak buahnya enggak jawab gimana? Kalau lebih suka enggak dijawab, fine. Nanti akan saya lakukan Mas," kataku nantangin.
"Iya, iya. Seenaknya kamu saja deh." Tumben si bos nyerah.
Kami pun melihat teman-teman yang heboh bermain air. Airnya jernih, pasirnya pun putih.
"Chel, nanti saya mau snorkeling, saya titip barang-barang saya ya," pinta Mas Malik.
"Wani piro?" tanyaku sambil memainkan jari memberi kode nominal.
"Gampang itu." Dia pun bersiap-siap di depan mataku. Benar-benar ya bos satu ini. Karena risih, aku pun membuang muka, melihat ketempat lain.
Lalu si bos pergi begitu saja, sepertinya dia mau menyewa scuba diving mask yang satu set dengan makanan ikan.
Aku pun memotret tas ransel Mas Malik. Lalu ku kirim ke grup whatsapp.
Rachel :
Gue enggak jadi nyelem, tapi cukup menjaga tas Mas Malik aja. *send picture*
Indra :
Kelana :
Sedih amat disamain sama Ancol. Emang kenapa enggak nyebur?
Rachel :
Malu sama Mas Malik๐
Kak Bertha :
Hahahaha, bukannya tunjukin aja bodi indehoy elo itu. Gue jamin dia jadi klepek-klepek sama elo. Terus dia enggak nyinyir lagi deh
Kelana :
Betul. Terus elo aman deh
Indra :
Terus elo dinikahin deh๐ฅณ๐ฅณ
Rachel :
Lah, kenapa pada ngaco semua gini ya? Udah ah, laporan cukup sekian. Gue mandangin bos dulu deh๐๐๐
Aku lalu mengambil foto pemandangan di sekitar pulau. Lumayan lah, untuk masukin ke instagram.
__ADS_1
Indra :
Chel, fotoin si bos lagi aksi di air dong
Rachel :
Ogaaah. Sama aja elo minta gue gelut sama doi. Gue lagi akur nih. Tumben kan?
Kelana :
Good. Sebuah kemajuan
Rachel :
Yee, tadi tetap ada berbalas argumen lah. Tapi enggak pakai emosi
Kak Bertha :
Ya, itu kemajuan bagus lah
Rachel :
Hhmmm.. Mungkin ya. Minimal dia dah nyiapin minuman buat gue๐๐๐
Indra :
Waah sepertinya bendera putih akan segera berkibar nih
Rachel :
Jangan menghayal dulu ah. Apapun masih bisa kejadian di depan nanti
Sekitar satu jam lebih Mas Malik bermain air. Setelah bilas, dia terlihat segar dengan rambut basahnya dan penampilannya pun berbeda bila dibandingkan kalau di kantor. Mungkin karena pakai baju santai dan bercelana pendek ya?
Kami di Pulau Pamutusan sampai pukul tiga sore, karena setelah makan siang kami masih bersantai puas- puasin melihat pemandangan.
"Chel, kalau menurut kamu enak enggak di pulau?" Tahu-tahu Mas Malik menanyakan pertanyaan random saat pulang ke hotel.
"Enak Mas, kenapa?" tanyaku cool.
"Saya besok dong mau lanjut tour ke pulau," katanya dengan niat pamer. Padahal besok aku juga mau kepulau. Aku lantas berdoa dalam hati, 'semoga beda, semoga beda, semoga beda. Aamiin.'
"Emang mau ke pulau apa Mas?" Penasaran juga lama-lama.
"Ke pulau Sirandah. Dekat dengan Pulau Pamutusan juga." Mas Malik tersenyum lebar. Kelihatan banget bahagia.
Somebody, please shoot me! Itu Pulau yang sama yang aku jadikan destinasi penginapanku besok.
***
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1