Bos Ajaib

Bos Ajaib
14. Sherin Naksir Cowok


__ADS_3

Sejak cutiku di acc, semangat kerjaku semakin membara. Ide-ide untuk konsep desain yang akan di acc pun semakin cemerlang. Dalam waktu empat hari, semua tugasku selesai.


Aku mengurangi lembur hingga tengah malam di kantor, tetapi aku melanjutkannya di rumah. Mas Kelana dan Indra curiga kalau perjodohan dengan Jaka berlanjut, karena kebiasaan baruku ini.


Aku memang belum cerita ke mereka kalau aku sudah ketemu Jaka dan mengatakan kalau aku tidak tertarik perihal perjodohan ini. Jadi ketika mereka menyinggungnya aku hanya tersenyum sambil memainkan alis. Biar mereka penasaran dan kesal.


"Rachel! Ini konsepnya bagus-bagus semua. Keren-keren." Mas Malik komentar tapi matanya masih menatap monitor.


"Semuanya?"


"Iya, semuanya bagus-bagus. Saya suka," jawab Mas Malik.


Nah kan! Kalian tahu enggak? Empat desain dari tujuh desain yang diajuin itu adalah desain yang dia bilang jelek tempo hari loh! Jadi tahu dong, gimana kesalnya aku.


"Yakin nih Mas, sudah sesuai semua?" Aku mencoba memancing.


"Kenapa Chel, kok nanya begitu? Kamu mau saya minta kamu merevisi ini? Enggak perlu, ini semuanya sudah sempurna dimata saya."


Aku jadi bingung. Kadang ingin ngasih tahu kalau dia tuh suka plin-plan, tapi nanti dia ngeles, terus besok-besok aku dinyinyirin lagi. Suka gemes aku tuh!


Sekarang dia lagi buka-buka semua file untuk Mutiara Intan yang total berisi sekitar 70 halaman, masing-masing konsep aku buatkan 10 halaman. Hahahaha, pusing-pusing deh milihnya.


"Mas, yang sayurituenak juga sudah siap sih," kataku memecah keheningan di ruangan saat menunggu si bos buka suara.


"Hhmmm nanti dulu deh yang itu. Kita bahas bareng-bareng saja nanti di hari Senin pas rapat." Saat menjawab mata Mas Malik tetap fokus ke layar komputer.


"Mas, saya ke kubikel saya dulu saja ya. Mas Malik ngecek dulu saja semuanya." Aku mencoba pamit, habis kalau nungguin cuma ngeliat wajahnya dia doang. Nanti dia salah sangka lagi. Mendingan aku nyari-nyari lokasi untuk liburanku nanti.


"Kamu mau ngerjain apa lagi emangnya? Kan sayurituenak juga sudah selesai." Tanyanya ingin tahu.


"Saya mau browsing-browsing untuk cuti saya nanti Mas. Boleh ya?" Haduh! Kenapa jujur banget sih aku. Semoga lagi asyik deh si bos.


"Hhmmm.. Boleh, tapi nanti kamu laporan ya, Tempat-tempat yang habis kamu browsing," ujarnya. Kok tetap kepo yee?


"Kok laporan sih Mas?" tanyaku dengan nada sedikit enggak suka.

__ADS_1


"Kan kamu nyarinya masih di jam kantor Chel. Jadi ya laporan sama bos kamu dong." Skakmat Chel!


"Ooh, oke Mas. Nanti saya kasih tahu. Saya ke kubikel ya. Nanti kabarin ya Mas kalau ada yang harus saya bagusin lagi." Aku pun langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.


"Saya juga enggak mau lah benerin kerjaan kamu, kan kamu juga lagi santai."


"Iya Mas," jawabku pasrah. Tahu dirilah, anak buah gitu loh.


Ketika aku keluar ruangan Mas Malik, ternyata tiga mahluk sedang ngerumpi. Sherin berdiri di kubikelnya Indra.


"Ada apaan nih? Kabar-kabarin dong kalau ada hot info." Kataku sambil jalan ke kubikelku.


"Ini, Sherin lagi naksir cowok. Tapi cowoknya cuek," jawab Mas Kelana.


"Siapa? Bukan cowok yang sudah mau nikah kan?" tanyaku penasaran. Ya kali, dia naksir sama Indra, bisa bahaya.


"Bukan Mbak. Aku suka cowok single kok," jawab Shiren dengan suara kemayu.


"Nah bener, elo nanya sama Rachel saja, sesama perempuan," kata Indra.


"Hahaha, tapi gue jomblo loh ya."


"Kenalnya sudah lama? Dia tahu enggak kamu naksir dia? Kamu sudah melakukan apa saja untuk dia?" tanyaku beruntun.


"Belum lama Mbak. Harusnya sih dia tahu Mbak kalau aku naksir dia. Tapi aku paling suka beliin dia kopi, aku belum tahu makanan kesukaannya." Pertanyaanku semua dijawab oleh Sherin.


"Kamu yakin dia tahu?" Sekarang Mas Kelana yang nanya.


"Emang sikapnya dia ke kamu gimana?" tanyaku.


Indra langsung yang menjawab, "Karena sikapnya enggak kebaca Chel, makanya Sherin nanya." Yang kujawab dengan, "ooh."


"Aku enggak tahu Mas, dia tahu apa enggak. Cara ngasih tahunya gimana ya enaknya? Apa aku perlu nembah ya?" tanya Sherin polos.


"Kamu sudah pernah pacaran belum Sher?" Penasaran juga, sampai mau nembak.

__ADS_1


"Sudah Mbak, dua kali."


"Jangan main nembak. Kalau baru kenal sih dipantau saja dulu. Apalagi kamu tahu dia belum punya pacar. Kasih perhatian saja dulu," saran Mas Kelana.


"Iya, main cantik saja. Kalau kamu sering kasih perhatian, nanti dia juga merasakannya, terus mulai mikir deh. Harus sabar kamunya." Aku akhirnya duduk di bangku kekuasaanku dibalik kubikel kesayangan, setelah tadi hanya berdiri di depan kubikelku.


"Kalau aku suka bawain atau beliin makanan enggak masalahkan ya?"


"Enggak apa-apa. Tapi jangan keseringan, cowok suka risih Sher kalau terlalu sering dibeliin sesuatu sama cewek." Aku kembali memberikan pendapat.


"Cakeeep. Pengalaman ya Chel?" Tanya Mas Kelana sambil cengengesan.


"Gue tempat curhat cowok-cowok kece Mas. Dulu malah sering bantu mereka buat pura-pura jadi pacar mereka biar enggak dikejar-kejar lagi sama cewek." Aku menceritakan masalah sahabat-sahabat SMA aku yang ketika mereka sudah kerja banyak disukai kaum hawa.


"Berapa lama elo pura-pura jadi pacar Chel?" tanya Indra penasaran.


"Ada tiga cowok yang gue bantu. Nah yang dua secara bersamaan, cuma jarak waktunya yang satu cepat, sekitar dua bulan, tapi yang satunya terseok-seok, sampai enam bulanan deh," jawabku.


"Sedangkan yang satunya, benar-benar sahabat gue yang super duper ganteng dan banyak banget yang suka. Gue jadi ban serep deh kalau dia butuh aktris. Soalnya sampai sekarang pun dia belum nikah, kalau kepepet dia pasti calling gue." Wuiih, kangen juga sama anak-anak bocor itu.


"Jangan-jangan nanti dia malah jadi jodoh elo Chel?" sahut Indra.


"Enggak lah, beda banget karakternya. Cukup jadi teman toyor-toyoran saja," jawabku.


Sherin mendengarkan penjelasanku dengan serius. Tapi, wajahnya langsung berpaling ketika Mas Malik keluar ruangan. Matanya tidak pernah lepas dari Mas Malik apalagi saat si bos ke kubikel aku menyerahkan harddisk desain Mutiara Intan Lombok.


"Chel, desainnya sudah saya copy, sejauh ini aman. Enggak tahu ya kalau nanti sore atau besok saya berubah fikiran," katanya.


"Hhhmmm terserah sih Mas. Tapi kalau itu sampai kejadian saya enggak akan kasih tahu hasil browsing-an saya."


"Waah, kok saya merasa terancam ya?" Mas Malik bertanya sambil menatap aku dingin.


"Peringatan dibalas dengan peringatan Mas. Ini Mas, makan permen dulu," Aku menawarinya permen yang aku taruh di toples.


Mas Malik pun mengambilnya, sambil mengucapkan, "Jangan kebanyakan makan permen, nanti sakit gigi." Setelah mengucapkan itu dia langsung pergi keluar ruangan menuju tangga.

__ADS_1


Sherin masih terus menatap si bos dengan tersenyum yang tidak pernah lepas. Jangan... jangan...


***


__ADS_2