Bos Ajaib

Bos Ajaib
81. Menikah!


__ADS_3

Capek, itu yang aku rasakan setelah seharian aku berdiri menyambut para tamu undangan yang banyaaak banget.


Tadi pagi acara akad berlangsung lancar. Maksudnya, aku lancar mengeluarkan air mata gitu. Yaaa gimana nggak nangis, saat sungkeman, Papa sampai nangis sesunggukan. Menangisnya Papa itu menular sodara - sodara.


Ternyata meskipun nyantai, Papa sesensitif itu. Tadi malam aja Papa minta kami tidur berempat, seperti waktu kami kecil. Papa tidur sambil meluk aku. Catet, meluk aku! Bukan Mama. Tapi tumben, Mama nggak cemburu. Biasanya nyonya Keya kan suka resek.


Lagi lagi aku melihat air mata Papa, aku tuh antara terharu dan bingung. Sebenarnya kalau papa nggak ikhlas waktu lamaran tempo hari yang tanpa ada aku itu, dia kan bisa nolak ya? Daripada nangis mulu kayak tadi. Sedih aku tuh.


Akhirnya saat sungkeman itu aku ngomong ke Papa, "Pah, Rachel kan masih di Jakarta, kapan pun kita bisa ketemuan kalau kangen. Nanti Rachel juga akan sering nginap di rumah kok, Papa kan senang main catur sama Mas Malik."


Ajaib! Begitu mendengar ocehanku Papa langsung berhenti menangis dan langsung tersenyum bahagia. Papa langsung berbisik, "Papa nggak sabar mau main catur sama mantu Papa, Chel." Tuh! Samakan sifat Mama dan Papa aku.


Resepsi berlangsung pada siang harinya ditempat yang sama, di Dballroom Kebayoran.


Acara berlangsung lancar. Paling kehebohan terjadi saat teman - teman SMA aku yang super duper cerewet saat foto bersama. Apalagi mereka nggak bisa melihat barang bagus. Begitu melihat Mas Malik, mereka pun terkesima.


Kalau teman kuliah aku yang datang nggak banyak. Yaa gimana mau banyak, mereka kebanyakan tidak satu negara. Paling jauh yang datang teman - temanku yang asal Malaysia dan Philipina. Nasib kuliah jauh gini nih.


Beda sama Mas Malik. Teman kuliahnya banyak yang datang. Ternyata teman - teman satu gank-nya Mas Malik kebanyakan dari Eropa.


Oh ya, tadi saat kami berdiri di pelaminan, Mas Malik menawarkan aku untuk honeymoon di Eropa, tapi langsung aku tolak.


"Mas, ke Eropa nanti - nanti aja kalau kita emang mau jalan - jalan. Kamu baru di operasi Mas. Di apartemen aja ya, kita nonton aja," jawabku disela - sela menerima ucapan selamat yang langsung mendapat tatapan aneh dari Mas Malik.


Memang sudah sejak di rumah sakit Mas Malik mengajukan tempat untuk kami honeymoon, tapi aku selalu tidak menyambutnya. Lah, dapat cuti cuma seminggu, mau ke Eropa, yang ada capek di jalan.


"Nanti kalau di apartemen tahu - tahu kita bosan, terus mau jalan - jalan keluar kota, kita langsung jalan saja. Nggak usah direncanain Mas. Spontan lebih seru," ujarku.


"Oke. Boleh juga ide nyonya Malik ini." Mas Malik bicara sambil memamerkan deretan gigi putihnya.


Saat ini, aku sedang membersihkan make up di salah satu kamar yang menjadi salah satu fasilitas Dballroom. Perias yang bertanggung jawab baru saja keluar, karena urusan baju pengantin dan aksesoris rambut sudah beres. Mas Malik sedang mandi.


"Mas! Kok cuma pakai celana training aja sih. Pakai baju dong, nanti masuk angin," protesku saat melihat Mas Malik keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada.


"Mas sudah pakai baju kok. Bajunya dimasukin ke celana. Kata Mama biar rapi baju harus dimasukin ke celana," jawab suami gantengku.


"Diih! Maksudnya Mama kan bajunya dipakai dulu, baru ujungnya di masukin ke celana Mas."


"Mama nggak bilang seperti itu Dek! Dia bilangnya, bajunya dimasukin ke celana. Ya Mas masukin aja ke celana, nggak usah di pakai." Mas Malik tetap mendebat iseng denganku.


"Auk ah! Terserah Mas Malik aja deh! Nanti masuk angin loh!" Lagi capek diajak debat, kan kesel aku tuh.


"Yeee.. ngambek nyonya Malik. Kita makan malem dulu ya nanti baru pulang. Kamu mandi dulu gih." Aku hanya menjawab dengan anggukan, tapi masih sibuk membersihkan wajahku.


"Deeeek! Mandi dulu sana. Apa mau Mas mandiin aja?" Tanyanya dengan nada iseng.


"Weeey, emangnya Adek anak kecil." Aku langsung lari ke kamar mandi, takut Mas Malik semakin iseng.


***


Saat ini kami sedang di mobil menuju ke apartemen. Setelah makan malam, kami langsung cabut dari Hotel Dballroom.


"Dek, mulai sekarang kamu harus nurut ya sama Mas."


"Iya Mas."


"Mas sudah siapin baju tidur buat kamu, dan Mas minta kamu pakai ya. Mas sudah siapin banyak."

__ADS_1


"Hah? Baju tidur? Mas minta Adek pakai lingerie ya?"


"Iya." Mas Malik menjawab sambil mengangguk tersenyum tapi matanya tetap fokus ke jalan raya.


"Iiiih, nanti masuk angin Mas."


"Nanti kan bisa Mas peluk, jadi tetap hangat kan?"


"Terserah deh. Istri mah nurut." Mas Malik langsung mengambil tangan kananku dan menciumnya.


Sesampai di apartemen kami langsung menuju kamar Mas Malik. Ini adalah pertama kali aku menginjakkan kamar ini. Ya, selama ini aku selalu berusaha menghindar masuk ke kamar Mas Malik. Takut tergoda.


Pakaianku baru aku bawa sebagian kesini, karena toh masih tinggal satu kota, jadi aku fikir gampanglah ya ngambilnya di rumah orang tuaku.


"Dek, ini baju rumah kamu kalau kita lagi berduaan ya," Mas Malik membukakan salah satu pintu lemari gantung.


Isinya? Beneran loh, aneka macam model lingerie bo! Tapi modelnya ada yang two pieces dan three pieces. Modelnya cakep, ada yang pakai celana pendek, celana panjang, tank top, kimono, dan tentu saja yang lingerie seksi.


"Maaas.." Antara malu dan risih melihat kalau itu disiapin sama suamiku. Hachim! suamiii... Mas Malik hanya tersenyum mendengar teriakanku.


Ketika akhirnya Mas Malik keluar kamar, aku pun memutuskan mengenakan salah satunya. Tapi yang aku fikirkan adalah aku mengenakannya di depan depan Mas Malik, diakan cowok, aku masih malu. Aku masih memandang diriku di depan cermin.


Aku akhirnya memutuskan mematikan lampu kamar, sehingga meskipun aku mengenakannya Mas Malik nggak bisa melihatnya, jadi aku nggak malu. Hihihi pinter kan aku? Aku pun memutuskan menunggunya diatas kasur sambil menutupi tubuhku dengan selimut tebal.


Sesuai dugaanku, Mas Malik tidak lama diluar, karena dia pasti memasukkan makanan yang tadi dibawa dari Dballroom yang disiapkan oleh Becky. Saat dia masuk, dia berkata, "Dek kok gelap banget sih?"


"Iya, kan mau tidur, jadi enakan gelap Mas. Mas nggak kesandung kan jalannya?" Tanpa ada jawaban dan aku merasakan pergerakan di kasur.


Aku merasakan tangan kanan Mas Malik yang berusaha merangkulku, sehingga kepalaku berada di lengannya. "Mas, nanti tangannya kesemutan loh, kalau begini."


"Nggak deh kayaknya, tadi Mas sudah nyemprotin tangan Mas dengan anti serangga. Jadi kita aman Dek dari semut."


Aku yang merasakan sentuhan tangan kiri Mas Malik yang memeluk pinggangku membuat aku jadi lemes lucu dan nggak bisa bicara apa - apa.


"Makasih ya sayang, kamu sudah pakai baju yang Mas beliin."


Astaga! Yayang bebeb tinggal ngomong lingerie aja susah bener sih. Dan tanpa komando Mas Malik pun langsung memeluk dan bicara, "Oke, saatnya bulan madu dalam kegelapan ya Dek."


"Siapa takut?" ujarku nantangin, padahal deg - degan. Intinya, aku harus jaga image kalau aku memang sudah siap.


***


Ketika keluarga tahu kalau kami hanya di apartemen setelah pernikahan kami, Papa mertuaku dan Bang Ravel langsung menyuruh Mas Malik ke kantor hari ini.


Coba bayangin aja, Sabtu nikah, Minggu senang - senang dan kecapekan di kamar, Senin harus ke kantor. Tadinya aku mau protes, tapi nggak enak sama mertua.


Jujur aja, aku bete ditinggal sendirian di apartemen. Yang ada aku jadi rajin lihat gofood dan beli macam - macam makanan. Mulai dari menu utama sampai cemilan. Seperti yang kalian tahu, aku hanya bisa memasak yang simple dan saat ini kami belum belanja sayuran dan teman - temannya. Lagian kan lagi bulan madu, ngapain repot, ya kan?


Sampai jam dua Mas Malik masih sibuk meeting. Sebel aku tuh. Soo.. aku cari akal untuk merayunya pulang.


Akhirnya aku memutuskan melakukan tindakan berani malu. Jadi, setelah aku amati di ruang tamu apartemen tuh ada cctv, aku pun menanyakan untuk ngecek koneksinya.


Rachel :


Mas, di ruang tamu ada cctv, itu masih berfungsi?


Mas Malik :

__ADS_1


Masih sayang. Kenapa?


Rachel :


Koneksinya kemana Mas?


Mas Malik :


Ke ponsel Mas, Dek. Kenapa?


Rachel :


Coba deh di cek Mas, masih berfungsi nggak?


Hahahaha.. kalian tahu nggak? (Nggak dong), aku saat ini memakai lingerie yang paling seksi. Seperti yang aku bilang, aku berani malu saat ini.


Mas Malik :


Dek, kamu lagi ngapain? Kok pakai lingerie?


Rachel :


Aku keren nggak Mas?


Mas nggak mau buru - buru pulang?


Aku berkata sambil gaya dengan aneka pose. Lupakan rasa malu deh, dia kan suami aku.


Mas Malik :


Deeeek.. jangan sekarang dong. Mas juga kangen banget nih


Rachel :


Ya udah, pulang dong! Janji deh, Adek nurut apa mau Mas nanti, tapi pulang sekarang.


Mas Malik :


Istri iseng! Tunggu ya, Mas sampai apartemen setengah jam lagi!


Taraaa... Sesuai janjinya, Mas Malik malah sampai 25 menit kemudian.


"Deeek, kamu tuh ya nakal. Papa sampai bingung Mas minta pamit. Bang Ravel tadi mau marah, tapi Mas bilang aja kamu minta dikelonin bobok siang."


"Iiih Mas ngaco. Kan kita mau kerjasama buat cucu sama ponakan yang lucu."


"Oke." Mas Malik langsung memeluk dan mencium leherku hingga akhirnya kami menjatuhkan diri di sofa dengan televisi yang masih menyala dan saat ini sedang menyetel Upin Ipin.


Aku hanya berdoa, semoga Kak Ros tidak melihatnya, karena aku nggak mau dengar dia teriak dengan suara melengkingnya ke aku seperti ke Upin Ipin. #Eh...


***


...TAMAT...


Pembacaku tersayang, terima kasih ya atas kesetiaannya menunggu Rachel dan Mas Malik. Karena takut nantinya novel ini nggak kepegang karena kesibukan di dunia nyata, jadi author buat TAMAT.


Terima kasih yaa..

__ADS_1


Jangan lupa tetap jaga protkes ya😊


__ADS_2