
Sudah seminggu ini Mas Malik keluar dari rumah sakit. Ia dirawat di rumah sakit selama enam hari, itu pun sudah rewel minta pulang.
Sebenarnya Mama masih ingin menahannya untuk tetap di rawat, karena Mama yakin, begitu diijinkan keluar Mas Malik akan langsung aktif lagi. Jadi, Mama mengijinkan dengan berbagai syarat.
Syarat yang Mama ajukan pun bikin Mas Malik kesal. Kalau mau pergi harus pakai supir, intinya Mas Malik belum boleh nyetir.
Tidak hanya itu, dia pun harus membawa bekal dari rumah untuk makan siang. Dikantor pun tidak boleh sampai malam, kalau mau zoom bisa pakai ponsel, jadi tidak harus menunggu di kantor. Semua sikap perfeksionis Mas Malik didobrak sama Mama.
"Untuk saat ini, selama kamu belum sembuh total, kamu harus belajar santai. Bilangin juga itu sama Ricky dan Ben," kata Mama saat menyampaikan syaratnya kalau Mas Malik mau keluar dari rumah sakit.
Saat mendengar keputusan Mama kulihat wajah Mas Malik terlihat tegang. Aku tahu ia tidak setuju, tapi tidak berdaya untuk protes.
Kebayang sih, karena Mas Malik memang apa - apa harus sesuai dengan target. Bahkan terkadang dia suka memajukan jadwal deadline kami kalau dilihat kliennya agak resek.
Selama seminggu setelah kepulangannya dari rumah sakit, dia tinggal di rumah Cipete, begitupun dengan bang ravel, dan becky. Mereka tidak diijinkan tinggal di apartemen sampai hari pernikahan kami, apalagi ada Mbak Wilsa di rumah. Jadi mereka semua kumpul.
Selama seminggu ini pun aku selalu di jemput dan diantar pulang. Biar sekalian katanya.
Tapi weekend ini anak - anak Mama pada kabur balik ke apartemennya masing - masing, kecuali Mbak Wilsa tentunya. Dia menginap di apartemen Becky, katanya biar dia gampang ke mol.
Mas Malik pulang ke apartemennya di Jumat sore sepulang dari kantor. Itupun sebelumnya kami belanja dulu di supermarket. Katanya kangen, mau masak.
Dan di hari Sabtu pagi yang cerah ini pun aku sudah berada di apartemen Mas Malik. Diluar rencana, ternyata Mas Malik malah mau makan mie instan. Ngaco emang nih.
Aku duduk di samping Mas Malik di dapur. Dia sibuk memotong sawi hijau dan sosis.
Beberapa menit kemudian, Mas Malik berdiri dan membawa sayuran dan sosis ke dekat kompor.
Tidak lama, Mas Malik datang mendekat dengan panci ukuran besar ditangan.
"Banyak banget Mas?" Aku takjub melihat isinya.
"Bikin tiga bungkus." Mas Malik bergerak mengambil mangkuk dan sendok.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kamu balas dendam Mas?" ucapku.
"Aku harus makan dua." Kata Mas Malik sambil meletakkan mangkok di depanku.
Aku tergoda menghirup uap panas yang mengepul. Sawi, telur, dan sosis yang mekar menyembul di antara mie di dalam panci.
"Kok kayaknya enak banget nih?" Karena tergoda dengan harumnya uap yang masih mengepul di udara, aku menyendok langsung dari panci dan memasukkan ke mulut. "Hhmmm enak." Eh tapi yang mau makan mie instan kan Mas Malik, kenapa aku yang tergoda ya?
"Enakkan Dek? Sekali - kali kita bandel nggak papa lah." Mas Malik meminta dukungan kepadaku atas kenakalannya makan mie instan, yang sebenarnya masuk dalam larangan Mama dokter.
Aku menjawab dengan anggukan dan dua jempol, karena mulutku masih mengunyah mie yang sudah sangat lama aku tinggalkan. Sepertinya sudah berbulan - bulan aku tidak mengkonsumsinya.
"Mas, nanti setelah menikah kita nggak usah menginap di hotel ya, langsung pulang aja," ujarku disela - sela menikmati makan mie instan di di depan televisi ruang tengah.
"Kenapa? Kamu nggak capek langsung pulang?" Mas Malik menanyakan dengan jidat berkerut.
"Adek malu Mas."
"Hah? Malu kenapa?"
"Hahahahaha... Kamu ternyata sesensitif itu ya? Cuekin saja Dek," kata Mas Malik menenangkanku.
"Mas, pleaseee... Adek mau langsung pulang malamnya. Pokoknya kalau kita menginap, Mas nggak boleh minta macam - macam. Titik!" Aku berkata dengan nada judes.
"Yaaa kan kamu sudah jadi istri Mas. Masa Mas cuma bisa colek - colek kamu seperti ini," katanya sambil mencontohkan mencolek - colek aku dengan telunjuknya.
Aku pun tertawa terbahak - bahak karena Mas Malik mencontohkannya dengan ekspresi wajah yang dibuat jail. Wajahnya tuh lucu banget.
"Ayolah Dek, langsung kita coba. Mau ya? Masa nggak penasaran? Kalau Mas sih penasaran." Dia merajuk.
"Mas, yang jadi pembahasan Adek itu adalah lokasinya. Pokoknya Adek nggak mau disana."
"Dek, lagian meskipun baru pertama kali, kamu nggak jalan seperti suster ngesot kok." Mas Malik jawab dengan wajah datar.
__ADS_1
"Maaaaas!" Aku kesal dengan jawabannya. Saat aku lagi serius kenapa dia jawab seperti itu?
"Oke - oke. Kita langsung ke sini saja dulu ya. Kita tinggal di apartemen dulu ya. Rumah Cinere pelan - pelan saja ya Dek. Barangnya juga belum banyak."
"Iya di sini saja dulu Mas. Pelan - pelan saja deh Mas pindah ke Cinerenya. Masalahnya kita malah semakin menjauh juga dari kantor," ujarku.
"Kalau nanti langsung kesini, kita bisa langsung nyoba kan Dek?" tanya Mas Malik serius dengan dahi berkerut.
Ternyata membicarakan soal hubungan badan antar suami istri bisa jadi serius ya? Bagiku pertanyaan Mas Malik terlalu vulgar dan aku risih sebenarnya.
"Terserah Mas Malik lah." Aku berusaha menghindar pembicaraan ini lebih detail.
"Loh, Mas kan nggak bisa melakukannya sendiri. Kamu harus terlibat juga." Guys, tahu nggak, Mas Malik ngomong sambil memainkan alisnya dan senyum ditahan.
"Udah ah! Mesum aja ih!" Aku berusaha menyudahi diskusi ini. Aku langsung membereskan mangkok bekas makan mie instan kami dan membawanya ke dapur.
Aku langsung mencuci semua perangkat dapur yang tadi habis digunakan untuk membuat mie instan.
Saat meletakkan semua perlengkapan di tempatnya, aku merasakan Mas Malik memelukku dari belakang. Dia pun berkata, "Dek, mulai sekarang di biasakan cerita apapun dan semua yang kamu fikirkan termasuk soal hubungan intim antara suami istri ya. Mas malah nggak mau kalau kamu membahasnya dengan orang lain, meskipun itu dengan sesama wanita." Aku pun mengangguk dengan punggungku yang masih menempel si tubuhnya. Aku lemas dipeluk gini sama Mas Malik.
"Sekarang, Mas mau pinjam bibir kamu dulu," kata Mas Malik sambil memutar tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Aku menatapnya dengan bingung.
"Hah? Pinjam bibir?" Baru selesai bicara, bibir lembutnya sudah berada diantara bibirku. Kini.. aku menyambutnya dan ikut bermain, aku menikmatinya. Tanganku pun langsung merangkul lehernya, aku belum mau ini berakhir. Aku suka dan Mas Malik hanya milikku seorang.
***
.
.
Guys, karena kehidupan di dunia nyata sudah mulai normal, author jadi nggak bisa update sesuai keinginan. Maaf ya😔
.
__ADS_1
Bersambung