Bos Ajaib

Bos Ajaib
62. Ke Rumah Orang Tua Mas Malik


__ADS_3

Sabtu pagi sekitar jam 7, Mas Malik sudah duduk di ruang keluarga sama papa. Yang nyebelin adalah mereka asyik main catur.


Bukan apa - apa, aku nggak bakalan bisa menebak mereka akan selesai jam berapa.


"Kira - kira mau selesai jam berapa nih main caturnya, Pah - Mas?"


"Chel, baru dipinjem sebentar Maliknya sudah ditanyain. Papa kamu sering kamu pinjem, Mama nggak marah. Biarin deh, Papa bahagia main catur." Mama menjawab pertanyaanku.


"Iya Chel. Papa capek ngajarin Mama kamu main catur, nggak ngerti - ngerti. Yang ada sampai ngigo - ngigo gitu. Sudah didalam mimpi juga mainnya masih salah. Pinjam sebentar ya Maliknya," kata Papa.


"Nggak masalah kok. Kalau lama, Rachel mau lari dulu."


"Lari kemana kamu? Mau lari dari kenyataan?" tanya Mama.


"Lari mengejar mimpi Mah." Jawabku asal sambil ke belakang mengambil sepatu kets.


Setelah selesai dengan baju kebangsaan kalau mau lari pagi, aku pun pamit ke mereka.


"Mas Malik, jangan kangen ya. Kalau sudah bosen sama Papa, kabarin Rachel aja. Daah," pamitku ke doi yang hari ini pakai kaos putih dan celana jeans 3/4. Dia sih senyum doang. Jadi pendiam dia di depan papa.


Aku berlari tidak sampai satu jam, lalu langsung mandi. Saat aku sudah rapi, kulihat Mas Malik sudah di meja makan.


"Wedeh, ceritanya bantuin Mama buat sarapan Mas? Biar nggak ditolak ya? Bisa aja ngambil hatinya," komentarku begitu ke ruang makan.


"Ah, nggak ngaruh sama Mama sih. Hati Mama sudah ada sama Papa sepenuhnya, jadi Malik sudah nggak bisa ambil hati Chel. Maaf ya." Mama berkata sambil menyiapkan sarapan yang berupa bubur manado.


"Niat bantuin, biar besok dibawain sarapan sama Mama weee," kata Mas Malik. Eh ya ampuun. Kelakuan Mas Malik bisa beda 180 derajat gini sih sama dia jaman nyebelin selama ini. Masa pakai julurin lidah gitu. Ampun deh Petruk!


"Dih, nggak modal. Katanya bos, tapi sarapan minta. Modal dong Pak!" Aku meledeknya.


"Tapikan Mas juga seorang anak yang mau dimanja sama Mama mertuanya."


"Yeey! Belum tentu direstuin. Ge-er banget sih!" Ucapku.


"Pasti direstui dong."


"Iyain aja deh. Nanti nangis lagi." Akhirnya aku menyerah dengan perdebatan nggak penting ini.


"Oh iya Mah, habis sarapan, kita mau ke rumah orang tuanya Mas Malik ya." Aku ijin ke Mama, karena belum laporan rencana hari ini.


"Iya, Malik tadi sudah bilang." jawab Mama dan semua hidangan sudah siap untuk disantap.


"Ya udah, Rachel sama Mas Malik langsung sarapan sekarang ya? Mama sama Papa sekalian nggak?"


"Kamu duluan saja. Papa lagi mandi. Mama bareng Papa."

__ADS_1


"Okeh Mah. Yuk Mas kita makan."


***


Saat sampai rumah keluarga Mas Malik, ternyata Mama Papanya masih pergi. Yang ada hanya Bang Ravel yang kebetulan lagi menginap di sana.


Memang, Mama Mas Malik minta aku makan siang di rumahnya, karena Mas Malik mau berenang dulu, jadi kami sepakat pagi sudah ada di rumah orang tuanya Mas Malik.


Bang Ravel sedang ngemil di gazebo yang berada ditepi kolam renang sambil membaca novel.


"Lagi baca apa Bang?" tanyaku sok akrab.


"Eh Hai Chel! Ini lagi baca Harry Potter. Novelnya Becky sih.


"Ooh yang di jidatnya ada petirnya ya?" tanyaku.


" Iya," jawab Bang Ravel yang kini sudah menutup novelnya.


"Tapi kenapa petirnya warna hitam ya Bang?" tanyaku.


"Kalau warna merah khusus hari libur, Dek." Kali ini yang menjawab Mas Malik yang tahu - tahu sudah ada disampingku.


"Oh bener juga ya."


"Kalian ini satu komunitas ya? Kok bisa error-nya sama sih?" tanya Bang Ravel.


"Bang nggak turun? Gue turun dulu ya Bang." Mas Malik ngajak Bang Ravel berenang.


"Udah bosen kali airnya sama gue. Dari tadi gue pelototin, tapi gue yang capek sendiri, makanya jadi baca novel disini, sekalian jagain siapa tahu nih air kolam bandel." Sahut Bang Ravel.


"Titip calon bini gue yang belum mau nikah ini ya," ucap Mas Malik lagi.


"Hiiih.. Mau nikah, tapi tahun depan Mas. Susah bener sih dikasih tahunya. Emang kenapa sih mau buru - buru aja?" Protesku.


"Biar bisa bulan madu terus," kata Mas Malik tersenyum dan berjalan meninggalkan kami menuju kolam.


"Kamu yakin nggak sama Malik? Malik sebenarnya maunya segera menikahi kamu loh Chel." Bang Ravel membocorkan rahasia Mas Malik.


"Hah? Saya minta tahun depan Bang. Habis adik saya masih kuliah di Belanda, saya nggak mau dia jadi nggak konsentrasi kuliahnya karena semangat saya mau nikah."


"Adik kamu kapan balik atau liburan kesini?"


"Sekarang sih masih disini, Bang."


"Ya sudah sekarang - sekarang aja nikahnya, pas adik kamu belum balik."

__ADS_1


"Ya ampun, Bang Ravel, kan nggak bisa secepat itu juga lah."


"Kenapa nggak bisa? Saya sama istri saya juga nggak pakai lama. Rachel, Malik itu masih banyak penggemarnya, kalau menurut saya semakin cepat kalian nikah semakin baik."


"Nggak seperti kecelakaan Bang?" tanyaku sambil memberi kode kedua jari telunjukku tanda kutip di udara.


"Hahahaha biarin aja orang ngomong apa, yang tahu kan kalian dan orang terdekat. Lagian saya juga tahu kalau Malik masih belum berani nyosor kamu."


"Hah? Emang Abang sama Mas Malik sedekat apa, kok sampai tahu detail gitu?" tanyaku.


"Yang pasti, saya dekat sama dia. Kami semua kakak beradik sangat dekat. Saya juga tahu, betapa seriusnya Malik sama kamu. Bagaimana dia cemburu sama laki - laki yang dekat dengan kamu. Kalau nggak salah, yang ketemu kita di The Ritz-Carlton itu."


"Hahahahaha iya. Tapi Jaka lagi dekat sama adik saya kok Bang." Lalu aku menceritakan sedikit tentang sosok Jaka ke Bang Ravel. Biar dia mendengar dari dua sisi. Dari aku dan Mas Malik.


"Hhmmm menarik juga ya. Tapi Rachel, saya berharap kamu tidak menunggu sampai tahun depan untuk menikah, terlalu lama, Chel. Coba deh difikirkan lagi, alasan lain kenapa harus tahun depan."


"Nanti saya fikirkan dan diskusikan dulu deh Bang sama Reyka."


Iya sih. Alasan aku nunda menikah tahun depan hanya karena Reyka yang masih kuliah. Mas Malik yang pengertian pun tidak pernah memaksakan kehendak. Dia nurut aja diajak nikah tahun depan.


"Rachel! Duduknya geser dulu deh. Itu ada cicak," teriak Bang Ravel.


"Waaah mana cicak Bang? Saya suka sama cicak."


"Loh kok? Kenapa bisa gitu?"


"Iya Bang, cicak itu, diam - diam merakyat. Bagus kan, nggak sombong."


"Hahahahaha ini toh yang dimaksud sama Malik, suka belokin omongan. Merayap ya Chel, bukan merakyat." Bang Ravel tertawa sambil berkomentar.


Aku hanya tersenyum. Aku merasa Bang Ravel sudah diceritain tentang sosok aku nih sama Mas Malik. Kan kacau, aku sudah nggak bisa jaga image lagi.


Jadi enaknya gimana guys? Nikahnya dalam waktu dekat atau tahun depan? Bingung aku tuh!


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2