Bos Ajaib

Bos Ajaib
52. Si Bos Bikin Emosi


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu sejak Mas Malik memintaku menjadi istrinya. Sejauh ini, dia masih bisa diajak kerjasama untuk merahasiakan hubungan kami.


Bagaimana sikapnya di kantor? Hhmmm sudah lebih baik, nada nyinyir bin nyebelinnya sudah mulai hilang, tapi berganti dengan iseng. Tapi karena yang iseng bos di kantor, kami jadi suka sungkan untuk membalasnya.


Perubahan sikapnya pun disadari oleh teman - temanku. Dia semakin royal kepada kami. Yaaa kami senang dong menyambut kebaikan hatinya tersebut.


Bisa dibayangkan, dengan anak buahnya saja semakin baik, apalagi dengan aku, tambah dimanja pastinya. Perubahan sikapnya ini kadang menyenangkan tapi tak jarang menyebalkan.


Aku sekarang harus hati - hati kalau memiliki keinginan. Karena sesuai keinginannya kalau ada apa - apa ngomong, hal itu pun aku lakukan, tapi ternyata tidak jarang ketika aku cerita mau sesuatu, besok atau lusanya apa yang aku mau sudah ada di depan mata.


Senang? Iya dong. Tapi aku juga mikir, dia kan belum melamar aku secara resmi, aku jadi suka enggak enak sendiri.


Kalau kebetulan yang aku mau itu murah seperti roti isi daging yang harganya enggak sampai lima puluh ribu, aku enggak masalah menerimanya. Nah minggu lalu aku ingin beli sepatu, eh hari Sabtu nya aku diajak jalan dan dia langsung mengarahkan ke toko sepatu yang menjual sepatu yang aku inginkan.


Saat aku bilang, aku rencananya membelinya akhir bulan saat gajian, Mas Malik malah ngasih kartu ATM nya dan ngasih tahu pinnya.


Saat aku tolak, dia malah yang marah. Dia mengatakan, kalau dia lagi latihan bertanggung jawab dengan memberikan apa yang aku mau. Gilakan? Andaikata aku seorang yang matrealistis, aku pasti akan memanfaatkannya. Apalagi ternyata ATM nya selanjutnya harus dipegang oleh aku. Catet ya, 'harus aku yang pegang.'


Saat ke kantor, Mas Malik pun sering menjemputku. Tadinya dia maunya setiap hari kita berangkat bareng, tapi aku menolaknya. Untuk hal ini, kami sempat berdebat. Ya, dia memang maunya aku nyaman, tapi aku merasa aku jadi semakin ketergantungan dengan dia. Itu aku enggak mau.


Begitupun saat pulang kantor, kalau Mas Malik tidak bisa pulang bareng aku, dia akan menyuruhku pulang sore hari, dan melarang lembur.


Jujur, sebenarnya aku enggak suka pulang sore hari. Jakarta gitu loh! Sore tuh macet, ongkos taksi jadi lebih mahal kalau sore, belum lagi aku akan lama dijalan karena macet. Tapi, lagi - lagi alasan itu tidak diterima oleh Mas Malik.


Dia melarang, tapi bertanggung jawab dengan selalu mengecek nominal uang di ovo dan di aplikasi gojek aku. Kalau menurutnya sudah tinggal sedikit, dia akan menambahkannya.


Punya pacar ganteng, tapi posesif itu, kalau kata Syahrini tuh 'sesuatu' ya.


Karena merasa tidak nyaman, dan aku merasa kok aku jadi tidak mandiri, akhirnya aku pun melancarkan protes. Ini terjadi saat aku selesai acc desain Wisata Petualang untuk bagian penjualan kuliner di restorannya.


"Mas, kalau terus - terusan Rachel disuruh pulang sore hari sesuai kemauan Mas Malik, Rachel memutuskan beli kendaraan saja deh."


"Oke, Mas setuju dengan permintaanmu. Weekend besok kita ke dealer mobil."


"Hah? Rachel sudah janjian sama Reyka, Mas. Kita sekalian mau jalan - jalan." Lagi pula, aku sama Reyka mau beli motor bukan mobil. Kalau beli mobil, aku harus beli dua dong, biar platnya punya ganjil genap biar aman.


"Ya sudah, kita jalan bareng - bareng saja. Gak masalah sama Reyka juga."


"Mas, sebenarnya Rachel sama Reyka sudah sepakat untuk membeli kendaraannya patungan berdua, dan kami mau itu pure pilihan kami, tanpa campur tangan orang lain, termasuk Mas Malik dan Jaka."


"Kalau gitu, Mas yang beliin kamu, kalau kamu enggak mau ada campur tangan Mas. Kan kalau hadiah, mau tidak mau kamu akan terima."

__ADS_1


"Siapa bilang Rachel akan terima? Kalau Rachel lebih milih kita pisah karena sudah tidak bisa menentukan keputusan untuk hidup Rachel sendiri, bagaimana? Mas setuju kan kalau kita pisah?" Aku mengatakan dengan nada kesal tingkat dewa.


Aku melihat muka Mas Malik yang berubah. Rahangnya terlihat jelas. Inilah pertengkaran kami yang pertama. Dia menatapku dengan tajam.


Aku yang ditatap seperti itu jadi takut. Dia jadi kayak bukan cowok kesayangan aku kalau menatap seperti itu. Dia kembali seperti si bos yang menyebalkan. Aku pun hanya menunduk dan deg degan.


"Mas, saya keluar ya. Saya ke meja saya sekarang." Aku berusaha memutus rasa tidak nyaman yang tercipta.


"Saya? Kamu kenapa pakai bahasa saya, bukan nyebut dengan nama kamu atau aku seperti yang selama ini kamu bahasakan ke Mas?"


Salah lagi! Fuuuih kalau begini aku bisa stres deh! Aduh, enaknya gimana dong?


"Mas, ini dikantor, kalau keceplosan atau reflek terucap, teman - teman nanti curiga."


"Jam setengah empat, setelah Ashar deh, kita keluar kantor, sekalian pulang. Kamu siap - siap saja. Kita selesaikan semua pembicaraan ini. Ya sudah, kamu balik ke meja kamu."


Dan seperti yang dia janjikan, setengah empat kurang, Mas Malik keluar ruangannya. Dia langsung bicara, "Rachel, kamu siap - siap ya. Kita ketemu klien sore ini."


"Oke, Mas." Aku pun langsung nge-save desain yang sedang aku kerjakan, dan mematikan komputer. Hehehehe seperti inilah akting kami di depan teman - teman.


"Ha, kita ke apartemen Mas saja ya. Biar enak ngobrolnya, stok cemilan buat kamu juga kayaknya lengkap deh." Mas Malik membuka percakapan saat kami sudah di mobil.


"Maaf ya, kalau Mas egois." Mas Malik bicara sambil mengelus kepalaku.


Aku diam. Lama - lama aku pun merasa ngantuk.


***


Aku terbangun saat mobil sudah parkir di area parkir apartemen Mas Malik. Saat aku membuka mata, Mas Malik sedang menatap wajahku.


"Kok enggak dibangunin?"


"Enggak tega, nanti malah ada yang ngajak pisah lagi. Mas enggak mau pisah sama kamu. Kita ke unit yuk, lanjutin disana."


Kami pun turun dan berjalan menuju lobi apartemen. Ini pertama kalinya aku ke apartemennya.


Unit Mas Malik berada di lantai 8. Satu lantai hanya ada empat unit. Saat pintu apartemen dibuka, aku merasa akan betah tinggal di apartemen ini. Nyaman sekali.


"Duduk dulu sayang. Terserah mau duduk dimana. Mas ambilin minum dulu."


Meskipun Mas Malik minta aku duduk aku tetap mengikuti kemana pun Mas Malik melangkah. Dan akhirnya kami stop di dapur.

__ADS_1


"Mas punya makanan apa aja?" Saat Mas Malik menyiapkan teh di teapot, aku melihat lihat isi kulkasnya.


"Ada cake Ha. Di freezer ada pastel, dan teman - temannya. Kalau mau harus dikeluarin dulu, baru nanti di goreng."


"Woow, cemilannya banyak juga ya?" Aku cukup kaget, ada ya laki - laki tinggal sendiri, tapi cemilannya banyak.


"Itu, temannya Becky ada yang jualan. Kebetulan dia orang tua tunggal, jadi Mas sama Becky membantunya dari membeli menu makanannya tiap bulan. Jadi kita rutin beli. Enak kok. Keluarin aja, nanti kita goreng."


"Teman waktu Becky sekolah Mas?"


"Bukan, salah satu suster di rumah sakit."


"Sayang kamu tahu enggak, beras seliter sekarang berapa ya?"


"Mana Rachel tau, males juga kali Mas ngitunginnya, banyak kan Mas butirannya?"


"Astaga, Juleha! Harganya Neng, harga beras seliter maksud pertanyaan Mas."


"Lah, tadi enggak ngomong begitu deh. Tumben peduli sama harga."


"Iya, iya. Mas salah." Dia mengakui kesalahan tapi sambil senyum. Kan, gitu tuh cowok aku. Suka pamer kegantengannya.


"Astaga Mas! Itu senyuman apa ubin masjid sih? Adem bener." Enggak kuat, akhirnya aku pun komentar.


"Hahahahaha." Mas Malik malah tertawa terbahak - bahak.


"Jangan ketawa lebar-lebar, nanti jakunnya ketelen loh." Setelah berkata itu, aku pun pergi meninggalkan dapur. Aku memilih sidak isi apartemen saja.


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2