
"Rachel, saya mau kamu ngerjain desain ini." Mas Malik langsung nyerocos begitu aku masuk ke ruangannya di Jumat pagi yang cerah. Belum duduk loh, tapi sudah semangat ngasih tugas.
Ketika aku mendekat, dan melihat desain yang dimaksud, aku langsung bengong. Kali ini Mas Malik ngasih tugas setengah jadi, tapi aneh desainnya.
"Mas, ini desainnya sudah begini dikasihnya?" Aku merasa aneh, aku kenal dengan klien ini, beberapa kali Mas Malik mengajak aku meeting dengan Bu Mona.
"Enggak. Kamu lanjutkan desain ini." Mas Malik bicara dengan tegas.
"Mas, kalau ini sebelumnya sudah ada yang mengerjakan, saya harus tahu konsepnya mau seperti apa. Bisa jadi desainer sebelumnya mau konsepnya elegan, kalau saya ganti dengan gaya gothic kan enggak nyambung." Aku berusaha mengorek agar Mas Malik mau kasih bocoran.
"Terserah kamu mau gaya bagaimana, saya juga jadi bingung."
"Saya minta mentahnya saja deh Mas, sama foto-foto yang akan digunakan. Saya kerjakan dari awal saja bagaimana. Konsepnya mau seperti apa?"
Saat sedang berdiskusi, pintu ruangan Mas Malik di ketok, tapi sebelum Mas Malik nyuruh masuk, manusianya sudah nongol dari balik pintu.
Kalian tahu siapa? Sherin!
"Eh ada Mbak Rachel. Maaf ganggu, Mas ini dari Mbak Sisi." Sherin menyerahkan eksternal harddisk warna kuning ke Mas Malik.
Lalu saat berdiri dekat Mas Malik, Sherin pun berkata, "Mas, itukan belum selesai desainnya."
Aku kaget dong. Langsung memandang dua manusia didepanku secara bergantian tanpa komentar.
"Enggak usah dilanjutin Rin. Ini saya sedang membahas dengan Rachel. Kamu kerjakan tugas dari Sisi saja."
"Tapi Mas saya yakin bisa kok. Nanti saya lanjutin lagi. Kalau enggak dicoba, saya enggak akan bisa Mas." Nada bicara Sherin sedikit memaksa tapi intonasinya manja. Aduuh, aku bingung jelasinnya.
"Sisi hanya nitipin ini saja ke kamu? Bilangin kalau saya akan mengeceknya ya. Saya rasa kamu sudah bisa keluar." Mas Malik bicara dengan nada yang agak nyelekit yang dulu kerap aku dengar.
"Iya Mas. Nanti saya bantu ngerjain ya Mas," jawab Shiren lalu dia melangkah keluar ruangan Mas Malik.
Aku enggak berani membahas kejadian barusan, takut Mas Malik jadi emosi ke aku.
"Chel, kalau kamu mau ngerjain dari awal enggak masalah sih. Nanti saya kirim konsepnya seperti apa lewat email ya."
"Fotonya Mas? Ada di server enggak?" Kali ini aku benar-benar hati-hati menanyakannya. Beneran deh, aku takut mood-nya si bos lagi jelek karena Sherin.
"Nanti saya cek. Lupain deh desain yang saya tunjukin ini. Kamu sudah tahu karakter Ibu Mona mau seperti apa. Bikin konsepnya, nanti kita diskusi. Oke, Chel?"
"Oke Mas. Saya tunggu emailnya. Saya langsung kerjakan sekarang." Aku pun meninggalkan ruangan Mas Malik. Aku sudah tahu karakter desain dari web Bu Mona.
Bu Mona ini seorang pengusaha yang tergolong sukses. Dia banyak membantu pengrajin tanah air. Dia memiliki web yang menjual aneka kerajinan tanah air, seperti kain, busana, aksesoris, dan perlengkapan edukasi anak yang ramah lingkungan. Sasarannya bukan hanya di Indonesia saja, tapi di mancanegara.
Setiap pergantian musim, dia suka mengganti konsep desain web-nya dan disesuaikan dengan desain produk kerajinan terbarunya. Semuanya ada kesatuan tema dan memiliki benang merah.
Kami semua di tim desain sudah pernah membuat desainnya dan kalau rapat kami selalu membahasnya bila sedang mengerjakan proyeknya. Jadi aku hafal dengan desain gaya web-nya. Walaupun itu dikerjakan oleh teman-temanku. Jadi kalian ngertikan kenapa aku tadi bingung melihat desain yang disodorkan Mas Malik. Apalagi di rapat kemarin tidak dibahas.
***
__ADS_1
Rencanaku, hari ini semua alternatif konsep selesai dan bisa langsung didiskusikan bersama Mas Malik sebelum pulang kerja.
Aku sih yakin ini bisa selesai cepat, karena kami berempat sudah klik dan tahu maunya Bu Mona. Bagaimana enggak klik, kita secara bergantian sering meeting dengan Bu Mona.
Makan siang hari ini aku membeli melalui aplikasi gofood. Biar konsep selesai tepat waktu, karena harus jaga-jaga minggu depan kerjaan numpuk, karena Indra cuti menikah. Dia mulai cuti dari hari ini.
Saat aku sedang makan siang di kubikelku, Mas Kelana dan Kak Bertha datang setelah memilih makan siang di luar.
"Hei, sudah sekarang santai dulu, masih jam makan siang. Emang tadi gimana ceritanya di dalam?" tanya Mas Kelana.
Memang setelah keluar dari ruangan Mas Malik aku langsung fokus pada layar komputer. Aku hanya bicara sedikit ke Kak Bertha memberi tahu kalau aku mau serius ngerjain tugas. Biasanya kami memang begitu, saling memberi tahu, jadi tidak ada keributan atau bercanda kalau diantara kita butuh konsentrasi.
"Gue awalnya dikasih desain setengah jadi, tapi caur banget desainnya. Aneh deh, pas rapat kemaren juga enggak di bahas. Ini webnya Bu Mona, kan aneh kita-kita enggak dilibatin. Akhirnya gue tahu yang ngerjain bukan anak desain, tapi anak baru itu." Aku melirikkan mata ke arah Sherin sebagai kode.
"Tadi di depan si bos dia juga masih ngotot mau ngerjain, tapi di ditolak lah. Ya udah hari ini gue ngerjain konsepnya dulu." Aku menjelaskan ke kedua senior itu dengan suara pelan, toh Mas Kelana berdiri di depan kubikelku dan Kak Bertha bangkunya mendekat ke aku jadi mereka dengar.
Saat ngerumpi sambil melahap makan siang yang belum kelar, si bos datang. Sherin langsung menyapa, "Mas Malik habis makan dimana?"
"Hah? Oh, dirumah Mas Ricky." Mas Malik menjawab dengan ekspresi datar, kemudian langsung masuk ke ruang kerjanya.
Aku melihat Sherin memberikan senyum yang terukir manis.
Aku jamin bisa membuat gula darah dalam tubuh yang melihatnya akan meningkat drastis.
Tim gesrek hanya saling pandang tanpa membuka mulut.
Tidak butuh waktu lama, Sherin pun masuk ke ruang Mas Malik.
"Kecurigaan elo sama Kak, kayak gue. Kemaren-kemaren gue masih belum yakin bener, tapi sejak tadi pagi yang dia ngotot ngerjain desain buat Bu Mona, terus kejadian ini, kayaknya prediksi gue gak terbantahkan deh," sahutku.
"Kira-kira Malik suka juga enggak ya? Apalagi penampilan dia cetar gitu. Siluet tubuhnya kita semua dah bisa baca," ujar Kak Bertha.
"Gue rasa Mas Malik enggak tertarik deh. Omongannya tadi dijawab tanpa ekspresi gitu," timpal Mas Kelana.
"Eh tapi emang si bos kalau ngomong suka gitu kan?" Aku mengingatkan.
"Menurut gue, Mas Malik tuh sukanya sama elo, Chel. Ini gue ngeliatnya dari kacamata laki-laki ya." Mas Kelana memprediksi.
"Ah asal loh Mas. Enggak lah." ucapku menampik prediksi Mas Kelana.
Saat sedang ngerumpi, Sherin keluar dari ruang Mas Malik.
"Udah ah, gue ngerjain konsep lagi. Biar sebelum gue pulang dah kelar." Aku memutuskan berhenti ngerumpi apalagi makan siang aku pun sudah habis.
Kemudian pasukan bubar, ternyata Sherin menghampiri kubikelku. "Mbak, kerjaan yang tadi jadinya dikerjain sama Mbak ya?" tanya Rachel ke aku.
"Iya Rin. Kenapa emangnya?" tanyaku.
"Tapi Mbak, itukan aku lagi ngerjain."
__ADS_1
"Sherin, kalau kamu mau kerjain, kerjain aja. Nanti kasih ke Mas Malik. Urusan kerjaan dan klien, itu wewenang atasan, bukan kita. Anak buah tugasnya nurut apa kata atasan," ujarku sedikit gemas.
"Tapi kalau Mbak Rachel sama saya yang ngasih, nanti yang kepilih desain Mbak dong," katanya.
"Ya sudah, sekarang mau kamu bagaimana?" Capek gak sih, ngadepin anak baru kayak gini? Kirain asyik anaknya, enggak taunya bikin riweh kerjaan, untung masih masa percobaan.
"Maunya sih saya saja yang ngerjain," pintanya. Aku melihat Mas Kelana berdiri menatapku sambil geleng-geleng kepala dan tangannya mengelus dada.
"Ya sudah kamu kerjain dong. Lalu lapor ke Mas Malik. Memangnya kamu enggak ada kerjaan dari divisimu? Sisi tahu enggak kamu ngerjain ini?" Penasaran aku tuh lama-lama.
"Iya sih. Ya sudah, saya kerjain dulu deh." Eeeh, jawabannya enggak nyambung. Auk ah!
***
Yabadabaduuu... Akhirnya konsep selesai sesuai rencana. Sore menjelang malam, maksudnya pukul 5 sore, aku menghadap Tuan Muda Malik diruangannya.
"Mas konsep sudah selesai. Ini hasil cetaknya." Aku menyerahkan print-print-nan konsep kerjaanku.
"Sebentar saya buka desainnya dulu di server. Sudah kamu masukin kan?"
"Ya sudahlah, masa ya belumlah." jawabku.
"Kamu stres ya Chel?" tanyanya sambil utak atik komputer.
"Katanya anak baru urusannya sama foto, lah ini kenapa ikut gerecokin desain juga ya? Ketakutan desainnya enggak dipakai kalau saya juga buat. Pan yang anak desain saya." Aku numpang curhat kepada yang berwenang.
"Oh itu. Pas Bu Mona datang ke sini, dia sempat ketemu dan kenalan. Terus langsung bilang kalau dia mau nyoba ngedesain. Saya hanya jawab coba saja, eh ditelen mentah-mentah." Mas Malik menjawab pertanyaanku.
"Dengan dia ngomong gitu, saya fikir Sherin bisa. Enggak taunya hancur, makanya langsung saya minta kamu yg ngerjain," katanya melengkapi ucapannya tadi.
"Mas Malik saja ya yang ngomong ke tuh anak. Tadi dia protes ke saya. Kalau semakin resek, saya kerjainnya enggak di sini ya Mas, biar enggak di ganggu." Aku minta persetujuan.
"Hhmmm.. Mau ngerjain di Pondok Indah apa di Sency Chel?"
"Hiyaa.. Di ruangan lain maksudnya. Yang dia enggak berani masuk kesana."
"Nanti biar saya yang menanganinya. Kamu tenang saja, ada jagoan disini."
"Hah?" Aku bengong dengar ucapannya yang penuh percaya diri itu.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung