
Kemarin akhirnya aku sama sekali tidak melanjutkan desainku. Benar-benar semangatku hilang. Tadi malam aku curhat ke Jaka. Iya ke Jaka! Karena aku ingin punya strategi dalam menghadapi kekesalanku.
Jadi ceritanya kan Jaka itu senang mempelajari tentang filosofi dan psikologi, nah saat cerita tentang sikap dan sifat orang sama dia tuh seperti cerita sama psikolog profesional. Aku juga baru tahu!
Dia netral, kalau aku salah dia akan menjelaskan sikap yang seharusnya aku lakukan tanpa menyalahkan. Lalu kalau orang yang aku ceritakan itu salah dia pun tidak menyalahkan tapi mengajarkan aku bagaimana bersikap. Dewasa banget ya?
Aku diskusi sama dia tadi malam hampir dua jam. Kalau aku belum ngantuk, mungkin akan terus berlanjut ceritanya.
Pagi ini, semangat aku sudah kembali. Target aku adalah menyelesaikan desain yang kurang dari kriyacantik, sampai diminta revisi lagi oleh Mas Malik, meskipun berharap enggak perlu di revisi sih.
Saat aku memasuki ruanganku, Lagi-lagi sedang terjadi kehebohan. Ternyata bubur pesanan kami untuk sarapan pagi ini sudah diantar. Dan yang mengantar langsung sang primadonanya, yang dari kemarin menjadi pembicaraan kami. Sang office girl.
"Nah, ini yang namanya Rachel, Mak," kata Mas Kelana dengan suara nyaring. Aku pun tersenyum ke arah yang dipanggil Mak oleh Mas Kelana tadi.
"Hai, saya Rachel," ucapku sambil mengajak bersalaman ke wanita yang mungkin seumuran denganku.
"Saya Rohana," jawabnya.
"Kok tadi dipanggil Mak sih?" tanyaku penasaran.
"Oh itu anak-anak bawah yang namain. Saya mah ikut saja. Terserah deh, yang penting semua bahagia."
"Tapi nama Rohana kan bagus, sayang ah kalau enggak dipanggil namanya," komentarku.
"Emang ada nama yang jelek Chel?" tanya Kak Bertha.
"Ada Kak. Rojahat sama rohalus, itukan nama yang harus kita hindari untuk manusia," jawabku.
"Sigelo lagi kumat," kata Mas Kelana.
"Diih, tapi benerkan?" tanyaku.
"Sudah, iyain saja deh apa kata Rachel." Mas Malik ikutan komentar.
"Sudah.. sudah.. yuk kita sarapan saja dulu. Makasih ya Mak, sudah dibeliin bubur." Kak Bertha menetralkan suasana.
"Mak, sudah nikah?" Eeh si Unyil, si Mak sudah mau keluar ditanyain. Suka iseng juga nih Sherin.
"Sudah, Neng."
"Kerja apa suaminya Mak?" tanya Mas Malik.
"Narik ojek Pak."
__ADS_1
"Wah bagus dong. Sebelumnya kerja apa Mak, suaminya?" Tumben-tumbenan Mas Malik kepo banget.
"Yaa paling narik napas aja sih Pak." Si Mak jawab dengan tampang polosnya.
Kami semua tertawa mendengar jawaban si Mak.
"Ya sudah, kita sarapan dulu deh. Mak kebawah dulu, takut ada yang nyariin." Kak Bertha memang tipe ibu-ibu yang bijak.
Aku memilih makan di kubikelku. Yang lain memilih makan di dapur. Ya, aku memutuskan makan sambil mengerjakan tugas yang tertunda karena emosiku kemarin. Salah satu kesepakatan dengan Jaka yang harus aku lakukan adalah mengerjakan kekurangan tugas semaksimal mungkin. Dan aku harus memiliki target.
Jadi, Jaka tuh sekarang sudah kayak psikolog aku gitu. Dia berjanji nanti jam makan siang akan memantau perkembangan hasil kerjaanku. Psikolog apa calon pacar ya? Hahahahaha auk ah, jalanin dengan senyuman saja. Aiish manis bener.
Dengan keseriusan yang sudah kuniatkan, desain selesai pada sore harinya.
Oh ya, atas saran Jaka aku tidak nge-print desain yang mau di acc. Tadinya mau pakai aplikasi, tapi aku takutnya ribet, sebenarnya sih butuh adaptasi buat belajar. Jadi rencananya aku akan menerapkan cukup di foto pakai ponsel, lalu dikasih tanda dengan membuka aplikasi di ponsel, lalu keterangannya di catat.
"Kurangi penggunaan kertas Chel." Itu pesan Jaka. Tadi malam kami berdebat soal ini, karena aku sudah terlanjur nyaman dengan acc di kertas print-print-nan buat revisi. Yaa, banyak ilmu baru yang kudapat setelah diskusi dengan ilmuwan satu ini.
Aku pun keruangan Mas Malik hanya dengan membawa ponsel.
"Sore Mas. Mas, kriyacantik sudah siap acc, mohon di cek di server ya." Aku mengucapkannya setelah duduk di depan meja kerjanya.
"Kamu enggak bawa kertas acc Chel?" tanyanya sambil melihatku.
"Keren! Saya setuju. Kita coba ya Chel. Oke gini deh, saya cek dulu, kamu sambil nunggu bisa makan es krim. Saya sudah beliin kamu es krim, saya simpan di kulkas. Semua untuk kamu, nanti kamu bawa pulang saja sisanya ya. Nanti kalau sudah selesai saya panggil kamu ya." Mas Malik terlihat bersemangat.
"Siap Mas. Terima kasih es krimnya." Aku pun beranjak meninggalkan ruangannya Mas Malik.
Sekitar setengah jam, aku menunggu Mas Malik me-review desainku di kubikelku. Aku memutuskan untuk tidak makan es krim di kantor, karena enggak enak dengan teman-teman lainnya. Tapi aku menunggu sambil main game dan ngemut permen karet.
Yaaa... aku tahu, es krim ini semacam sogokan permintaan maaf Mas Malik kemarin, meskipun dia tidak mengatakannya.
Akhirnya, telepon di mejaku berdering dan sesuai prediksi, kalau itu dari Mas Malik yang meminta aku keruangannya.
"Rachel ini saya sudah acc beberapa, kamu tinggal revisi. Nah, sekarang yang harus di revisi saya buatkan foldernya. Kita coba cara baru ya. Jadi saya buat catatannya lalu saya masukkan ke folder itu juga. Jadi nanti kamu langsung cek di komputer."
"Oke Mas."
"Saya coba kembangin ide kamu soal revisiannya. Jadi enggak usah pakai difoto pakai ponsel segala. Semua masuk ke folder di server saja."
"Sip Mas. Moga-moga bisa kita kembangin ya cara ini."
"Iya. Kamu dapat ide ini dari siapa Chel? Saya masih suka cara lama, cuma tidak ada salahnya kita keluar dari zona nyaman dan mencoba yang lebih hemat."
__ADS_1
"Jaka, Mas. Dia ngajarin saya."
"Ooh. Bagaimana hubungan kalian sekarang?" Mas Malik bertanya dengan nada kepo.
"Baik-baik saja Mas."
"Sudah jadian?"
"Hah? Kan saya sudah bilang kalau saya enggak mau pacaran dulu."
"Kenapa enggak mau pacaran dulu Chel?" Lagi-lagi Mas Malik kepo.
"Males aja kalau diinterogasi pasangan, habis dari mana, sudah makan belum, jangan lupa A, jangan lupa B. Belum cemburunya. Ah enggak deh. Males!" Jawabku terus terang.
"Ooh gitu. Eh, kamu sudah makan es krimnya?"
"Belum Mas, nanti dirumah saja. Tadi saya ngemut permen karet."
"Permen karet yang pedes, karena minta cabenya dua?"
"Hahaha iya Mas." Aku menjawab sambil tersenyum. Si bos inget komentar yang aku sampaikan ke Mas Kelana kemarin.
"Jangan kebanyakan makan permen nanti giginya rusak." Mas Malik menasehatiku.
"Enggak masalah Mas, nanti ganti pakai matik." Aku menjawab dengan lugas.
"Heh! Ini gigi dimulut Chel, kenapa kamu samain dengan gigi kendaraan? Iseng saja. Ya sudah kamu mau kerjain revisian dulu?"
"Iya Mas. Sambil nunggu macet. Saya keluar dulu ya Mas. Sekali lagi, thanks untuk es krimnya."
Kan... kan... kan... sekarang berubah lagi sikapnya. Benar-benar enggak bisa ditebak nih sikap bos ke aku.
***
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung