Bos Ajaib

Bos Ajaib
35. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Tadi malam selesai makan bubur sekitar pukul 11, aku langsung minum obat. Sepertinya ada obat tidurnya, karena tidak lama kemudian aku pulas.


Pagi, sekitar pukul 6 aku terbangun karena perawat membangunkan aku untuk tensi, cek suhu tubuh, dan ambil darah. Tapi setelah perawat pergi, aku tertidur lagi.


Aku terbangun ketika jarum jam menunjukkan pukul 7.35. Jujur, ini rekor baru aku bangun siang. Tapi ya sudahlah, namanya juga dirumah sakit, pasien harus banyak beristirahat kan?


Saat ini aku sedang di cek oleh dokter spesialis penyakit dalam. Dia juga nanya-nanya soal kondisiku. Lalu dicatat oleh perawat. Sejauh ini dokter hanya bilang kalau pusing dan badanku yang panas itu kemungkinan karena virus. Tapi sekarang masih di cek lebih detail lagi dari darah yang diambil tadi pagi. Dokter juga bilang ada obat yang sedang kosong di rumah sakit, jadi aku dikasih resep.


Aku baru sadar, kalau Mas Malik tidak ada di kamarku ketika rombongan dokter dan perawat keluar dari kamarku. Resep yang diberikan dokter pun masih ada di meja nakas.


Aku baru sadar kalau kamar perawatanku tuh agak mewah. Gimana enggak mewah, aku dikamar sendirian, tidak ada pasien lain. Fasilitasnya pun lumayan, seperti televisi, kulkas, sofa tamu dilengkapi dengan meja, dan sofa bed. Lalu aku lihat di nakas ada buku menu untuk yang jaga menemani pasien. Yang jadi pertanyaan, siapa yang bayar biaya perawatanku ini?


Gara-gara mikirin biaya perawatan ini aku jadi pusing lagi. Bukannya apa-apa, aku lagi nabung buat beli rumah. Asuransi aku, sudah aku matiin. Apa asuransi kantor ya? Fuiih.. Ruwet.. ruwet... ruwet..


"Selamat pagi Leha... Sudah bangun? Kamu sarapan dulu ya?" Siapa lagi yang manggil aku dengan nama itu, kalau bukan si Tuan Muda Malik.


Aku tidak menjawab, tapi aku melihat Mas Malik membawa tas travel dan plastik yang aku yakini itu isinya makanan.


Setelah meletakkan barang bawaannya, Mas Malik ke kamar mandi. Lalu dia pun menyiapkan makanan untukku. Seperti tadi malam, dia menyuapi aku. Ini bubur kantor yang kemarin dibeliin sama Mak Rohana. Enaaak. Untungnya, meskipun sakit, aku masih dapat merasakan makanan enak.


"Dokternya tadi sudah datang untuk ngecek kamu?" tanya Mas Malik.


Saat mulutku kosong, aku langsung menjawab, "Sudah Mas. Katanya saya sakitnya kemungkinan karena virus, tapi masih di cek lagi. Tadi pagi diambil darahnya."


"Ya sudah, kamu tenang saja dulu, jangan banyak fikiran." Mas Malik menasehati ku sambil memakan kerupuk orens dari buburku. Lalu dia menyuapiku.


"Tapi tadi saya kefikiran soal biaya rumah sakit Mas. Ini kemarin depositnya berapa? Saya ganti kemana?" tanyaku ke Mas Malik.


"Enggak usah difikirkan Leha, ini sudah jadi tanggung jawab saya." Si bos emang baik, tapi aku kan enggak suka nama aku diganti-ganti. Padahal namaku lebih keren dari nama yang dia pakai sekarang.


"Yeee, enggak bisa gitu. Saya kefikiran lah. Mas Malik kan bukan siapa-siapa saya, terus nanggung biaya perawatan saya. Nanti saya dimarahi orang tua saya. Saya juga punya adab dan sopan santun Mas." Pernah kebayang enggak, lagi laper, pusing, terus emosi rasanya seperti apa? Inikan masalah uang, harus jelas, sensetif euy.

__ADS_1


"Ssttt.. Rachel bin Juleha, kamu tuh kenapa harus emosi sih? Saya kan nyantai. Tanyanya baik-baik coba," kata Mas Malik. Iya sih, dia ngomongnya santai dari tadi. Tenang lebih tepatnya. Tapi aku kan kefikiran. Iiiih sebel!


"Ini rumah sakit papa saya, jadi kamu enggak usah mikirin biayanya ya. Biar dipotong dari warisan saya saja nanti kalau papa nagih." Mas Malik jawab dengan senyuman.


"Hah? Punya papanya Mas Malik?" tanyaku enggak percaya. Yang dijawab anggukan Mas Malik sambil nyuapin bubur, suapan terakhir dari satu porsi. Yeaay, selera makanku tetap tinggi. Semoga cepat sembuh deh.


"Mas, jadi nganggep saya adik kan? Kalau jadi dipotong dari warisan saya saja Mas, gimana?" Ide brilliant aku langsung muncul. Pinter kan aku?


"Hahahahahahaha... Iya iya, boleh. Nanti saya lapor orang tua saya ya. Sekarang minum obat dulu." Mas Malik tertawa sambil geleng-geleng kepala. Jangan lupa, hobi si bos geleng geleng kepala. Dia pun memberikan obat dan air mineral.


"Oh iya Mas. Tadi waktu dokter periksa saya, masa saya dikasih resep," laporku sambil masang muka kesal.


"Loh ya sudah enggak papa kan? Mana resepnya?"


"Bukannya gitu Mas, saya kan enggak bisa masak, masa dikasih resep?"


"Tuh, gimana saya enggak manggil kamu Juleha, senengnya bikin belok." Mas Malik ngomong sambil tertawa. Ya Tuhan, cowok di depanku ini kalau ketawa gantengnya maksimal. Lama-lama aku bisa meleleh nih.


Hari ini aku merasa lebih banyak tidur. Mas Malik menemaniku sambil kerja. Ternyata tadi dia pulang dan mampir ke kantor untuk ngambil laptop, bubur, dan pakaian Astrid untuk aku pakai selama di rumah sakit. Kalau begini kelihatan dia baik banget deh.


Tapi aku sebenarnya masih agak gimana gitu sama Bang Ben. Hubungan Bang Ben ke anak buah tuh kaku, jadi kalau ngomong pun banyak basa basi garingnya gitu.


"Mas Ricky, saya mau bicara serius." Aku berkata di depan semuanya.


"Iya Chel, boleh."


"Saya boleh enggak jadi anak buahnya Mas Ricky aja?" Aku memberanikan diri membuka komunikasi.


" Kenapa emangnya Chel?" Dia bertanya dengan dahi berkerut.


"Habisnya Mas Malik sekarang manggil saya Juleha terus." Aku buat laporan di depan Mas Malik.

__ADS_1


"Hahahaha, memangnya kamu mau dipanggil apa?"


"Ya, panggil nama saya dong! Kalau enggak mau manggil nama saya, lebih baik panggil saya Robert, Mas. Dari nama Julia Robert. Saya ngefans Mas sama dia."


"Hahahahaha.. Ya kamu juga suka ngaco. Sebenarnya kalian ini sama. Sama-sama ngaco. Si Malik kebantu karena jaim saja itu ke anak buahnya. Kamu yang sabar ya jadi anak buah Malik. Tapi kayaknya bos kamu cocok nih sama kamu."


"Hah? Maksudnya Mas?" Aku malah bingung sama jawaban Mas Ricky.


"Ya sudah, kamu kerja saja dulu yang benar di divisi kamu. Kalau kenapa-napa, nanti lapor saya lagi ya."


"Mas Ricky, kan dulu Mas atasan saya. Sebenarnya dosa saya apa sih Mas sampai dilempar jadi anak buahnya Mas Malik?" tanyaku.


"Hahahahaha, Rachel sudah ah. Nanti malah Malik yang nangis kalau kamu enggak jadi anak buahnya lagi.


"Ngadu aja terus.. ngadu aja. Yang diaduin lagi di Singapura kok Neng, lagi belanja." Mas Malik komentar sambil menyilangkan tangannya di dada. Tatapannya menatap tajam ke arahku. Waduh! Dia marah.


"Hahahaha gue kok baru sadar ya, punya teman kayak gini," kata Astrid.


"Ya sudah deh, pada pulang saja. Saya mau tidur lagi, sekalian merenungi nasib punya bos nyebelin." Aku berkata sambil bersungut-sungut.


Jangan tanya kondisi aku ya. Yang aku tahu kepala aku masih pusing, dan aku masih berusaha ngalihin biar lupa kalau pusing.


Eh, meskipun aku ngusir, mereka tetap di kamar perawatanku. Para pria ngobrol serius. Tapi aku malas menyimak omongan mereka.


Sedangkan Astrid duduk di kasurku, kami berdua ngobrol sambil makan buah potong yang tadi di bawa Astrid.


***


.


.

__ADS_1


.


Jempol dibawah jangan lupa di pencet yaaa😘😘😘


__ADS_2