Bos Ajaib

Bos Ajaib
13. Saya Boleh Cuti Nggak?


__ADS_3

"Widih, yang cuti sudah update story di instagram bo!" teriak Mas Kelana sambil menatap ponselnya.


"Emang Kak Bertha cuti kemana sih? Sok rahasia, enggak mau cerita." Tanya Indra penasaran.


"Kalau dari gambarnya sih kayaknya ke Raja Ampat," jawab Mas Kelana.


"Gue jadi mau cuti deh. Mas Kelana sudah ketahuan belum kapan cutinya?" tanyaku. Maksudnya biar ngatur cuti supaya enggak ada yang bentrok.


"Belum Chel. Permaisuri gue masih repot. Bulan madu masih dimaksimalin di rumah sekarang," jawabnya ngaco. Padahal doi sudah punyak seorang anak loh.


"Oke, gue ngajuin setelah Kak Bertha saja ya. Sebelum Indra cuti nikah," kataku sambil minta persetujuan dua cowok didepanku.


"Hahaha gantian banget nih, minta cutinya." Komentar Indra melihat keantusiasan aku untuk ikut cuti.


"Iya, gue ngiri lihat Kak Bertha. Lagian gue juga capek kali di nyinyirin terus sama si bos." Aku sedikit curhat mengenai kelelahan hati menghadapi si bos.


"Hahahaha.. Eh by the way, Sherin kemana? Biasanya sudah ada kalau gue dateng," tanya Mas Kelana.


"Lagi meeting dia sama tim foto di bawah," jawab Indra.


"Ndra, elo naksir ya sama Sherin? Sampai tahu gitu," komentarku penasaran.


"Yeee.. Dia tadi pamit ke gue pas kebawah. Jangan bikin gue mikir buat jatuh cinta selain sama Yaya deh," Indra jawab dengan muka mikir.


"Hahahaha bisa ya, Yaya tergantikan?" tanya aku.


"Enggak tahu juga sih," jawab Indra ngasal.


"Wooy dah mau nikah masih ngaco loh. Sana rajin-rajin datengin Yaya, biar perasaan elo enggak tergerus wanita lain." Mas Kelana komentar dengan sedikit emosi. Layaknya suami yang sayang banget sama istrinya.


"Apaan yang tergerus wanita lain?" Tahu-tahu Mas Malik muncul dari arah tangga.


"Eh, habis dari mana Mas?" tanya Mas Kelana ke Mas Malik.


"Meeting sama Bang Ben, Mas Ricky, dan Bang Gi."


"Soal sayurituenak?" tanya Mas Kelana lagi.


"Iya." Jawab Mas Malik singkat, sambil jalan menuju kubikel Indra dan bersandar disana.


"Jadi tadi apaan yang tergerus wanita lain?" tanya Mas Malik ke Indra.


"Tumben kepo." Aku bicara pada diriku sendiri dengan suara pelan, tapi mataku tetap ke desain yang sedang aku kerjakan, karena aku sudah mulai sibuk mendesain. Rencananya habis ini mau membuat surat permohonan cuti. Draftnya baru aku minta ke HRD.


"Apa Chel? Kepo?" tanya Mas Malik. Aku yang sedang menatap layar monitor langsung menatap si bos yang juga sedang menatap aku. Hahahaha tatap-tatapan lagi deh seperti waktu di Hyatt. Tragis Chel, tragis! Ditatap sama si bos yang bikin emosi jiwa. I-tu eng-gak ba-nget!


"Iya, Mas kepo aja iih." Jawabku.


"Kamu sudah enggak marah sama saya?" tanyanya.


"Hah? Marah? Marah kenapa?" tambah enggak jelas nih si bos.

__ADS_1


"What? Jangan-jangan kalian pacaran ya?" tanya Mas Kelana.


"Hah? Apaan? Pacaran? Gue pacaran sama Mas Malik, gitu maksudnya? Elo pikir gue mau bunuh diri Mas?" Aku ngomong sambil pelototin Mas Kelana. Aku protes dong. Enak saja, sakit hati terus yang ada denger celotehannya yang nyinyir setajam silet itu, seandainya aku pacaran sama Mas Malik.


"Kenapa bunuh diri Chel? Memang ada apa dengan saya sampai kamu harus bunuh diri?" tanya si bos minta penjelasan.


"Mas please, Mas masuk ruangan Mas aja deh. Biar saya bisa ngerjain tugas yang Mas kasih. Lelah saya Mas, lelah." Ya memang aku capek, lagi ada ide, malah ditanya-tanya. Kayaknya enggak semua komentar aku, harus ada penjelasannya. Mohon maaf, emang suka reflek main ceplos aja nih mulut.


"Perasaan semua pertanyaan saya belum ada yang dijawab dari tadi, malah sekarang saya diusir. Kamu mau jadi anak buah durhaka ya Chel?"


"Hahahaha kasihan amat.. Mas Malik sudah ah. Nanti lagi deh. Idenya lagi deras nih. Sederas cinta Indra ke Yaya." Jawabku asal.


"Lah, kenapa gue yang elo sebut-sebut Chel?" Tanya Indra.


"Indra, cepat deh elo jawab pertanyaan bos elo, biar gue bisa konsentrasi, mau cepet kelar nih," pintaku ke Indra. Ya Tuhan, aku tengil amat ya ke bos bisa begini. Ampuni hamba ya Tuhan.


"Mau ngapain kamu mau cepat kelar?" Si bos kepo nanya ke aku.


"Kalau ini sudah kelar, saya mau menghadap bos saya, mau minta sesuatu, " ujarku sok misterius.


"Ooh gitu. Yuk Ndra, keruangan saya." Ajak Mas Malik ke Indra. Indra mengangguk tapi mukanya bingung. Hahahaha.


***


Saat ini aku sudah duduk di depan meja kerja Mas Malik. Dia masih terima telepon saat aku masuk dan menyuruhku duduk dengan kode melalui tangannya.


Saat si bos selesai telepon, akupun langsung mulai menjelaskan tujuanku menghadapnya.


"Mas, saya baru kirim email, untuk persetujuan cuti. Mohon di cek dong."


"Kok dua minggu lagi Chel? Emang kamu mau ngapain?" tanyanya.


"Selagi masih aman Mas. Biar gantian maksud saya. Jadi sebelum Indra cuti nikah," jawabku.


"Ooh. Emang kamu mau kemana?"


"Belum tahu Mas. Rencananya kalau sudah di acc, baru nyari lokasi."


"Hmm.. Oke-oke saja sih sebenarnya, enggak masalah, cuma kalau ada tugas dadakan gimana Chel?" Yeee kayak karyawannya cuma aku saja deh.


"Makanya, saya nyari waktu saat yang lain enggak cuti. Saya juga ngerti Mas, kalau tim kita lagi kurang, lalu tahu-tahu ada kerjaan dadakan. Tapi kalau hilang satu karyawan selama lima hari masih bisa ditangani kok."


"Kamu semakin jago menganalisa pekerjaan ya Chel. Good! I like it."


"Jadi gimana Mas, disetujui kan?"


"Tapi seperti kata kamu tadi, saya kepo. Kamu mau kemana?"


"Belum tahu Mas. Belum kepikiran. Pokoknya mau jalan."


"Sama siapa?"

__ADS_1


"Ya sendiri Mas. Saya enggak lagi janjian sama teman-teman."


"Kok nekat sih?"


"Haiis, santai saja Mas. Paling nanti di jalan ketemu teman seperjalanan. Random sajalah."


"Mau dalam atau luar negeri?" Mas Malik masih menyelidik.


"Saya malah enggak kepikiran ke luar negeri Mas. Sayang uangnya."


"Gitu ya? Oke, nanti saya kabarin HRD kalau permohonan kamu sudah saya acc. Tapi kamu kasih tahu saya ya, mau kemananya."


"Enggak janji ah Mas. Saya mau menyepi dari orang yang saya kenal."


"Termasuk dengan Jaka juga?"


"Hahaha ya iyalah. Kan saya kenal dia."


"Yaa, siapa tahu Chel, jangan-jangan kamu mau bulan madu lagi, seperti kata Kelana."


Aku semakin terbahak-bahak dengar ocehannya. "Kacau ih imajinasinya. Mau mama saya salto ya Mas, tahu-tahu saya bulan madu?"


"Enggak lucu saja kalau semua anak buah sudah punya pasangan, saya masih jomblo. Apa kata dunia?" Lagi-lagi si bos bicara dengan muka datarnya yang tanpa ekspresi.


Ya ampuun. Benar-benar ya, si bos aneh. Sekarang dia pun ikut-ikutan meratapi nasibnya yang jomblo, kirain aku doang. "Enggak lah, saya juga enggak mau liat bos saya nangis bombay, Mas.


"Ya sudah kalau begitu. Ini Senin dua minggu lagi ya? Saya setujui."


"Iya Mas. Asyiiik, makasih ya Mas. Saya balik ke meja saya ya." Tanpa menunggu jawaban Mas Malik, aku langsung meninggalkan ruangannya.


Yang membuat aku bingung, tumben dia enggak ngeselin hari ini, terus gampang banget ngijinin aku cuti. Tanpa nyinyir dan kalimat nyelekit.


Saat aku keluar ruangan si bos, langsung dihadang oleh dua temanku yang tersisa diruangan.


"Gimana-gimana? Disetujui enggak cuti elo?" tanya Mas Kelana penasaran. Yaa, aku tau sih, melihat perang antara aku dan si bos pasti membuat Mas Kelana khawatir.


"Pasti disetujui deh. Enggak mungkin enggak!" kata Indra sok tahu.


"Elo kadang sok tahu ya Ndra. Tapi sok tahu elo kali ini bener sih!" ujarku sambil senyum.


"Kok elo tahu sih Ndra?" tanya Mas Kelana penasaran.


"Rahasia dong. Indra gitu loh."


***


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2