
Sesampainya dirumah, aku langsung mengurung diri di kamar. Aku kesal dan marah. Membayangkan Mas Malik bersama wanita lain membuatku kesal setengah mati.
Bayangan wanita berambut panjang berwarna cokelat membayangiku terus. Aku ngebayangin Mas Malik senam mulut dengan wanita itu, berpelukan, atau bahkan melakukan yang lebih.
Kirain benar tinggal di rumah mau beres - beres perabotan, nggak tahunya ada udang diatas bakwan. Enakkan, bakwan yang ada udangnya? Ya gitu juga kan alasan Mas Malik, tinggal di rumah.
Okelah, doi mikir aku lugu, mungkin aku nggak semahir cewek - ceweknya? Tapi apa dia nggak tahu kalau aku pintar? Sorry nih guys, lagi kesel, jadi sombong. Jangan di contoh ya. Sombong itu nggak bagus.
Dengan kesal aku melempar sisir sikat ke foto ulang tahunku yang dipajang di dinding. Di foto itu aku dan Mas Malik lagi senyum bahagia. Cakep deh. Eh tapi sekarang aku lagi marah.
Foto itu jatuh dan menimbulkan suara yang keras. Ya gimana nggak keras, itu foto kanvas dengan bingkai kayu. Eh, aku jago juga ya, bisa jatuhin foto dengan sekali lemparan sisir sikat.
"Mbak Achel?" Reyka masuk kamarku dengan wajah panik dan dibelakangnya ada Jaka. "Mbak jatuh?"
"Nggak." Aku menunjuk foto kanvas di lantai. "Tadi iseng ngelempar sisir, eh kena, terus jatuh." Mereka berdua masuk kamarku dan wajahku masih terlihat habis nangis.
"Kamu lagi berantem Chel?" Tanya Jaka sambil mengambil foto tersebut.
"Eeh nggak usah Jak. Nanti gue beresin sendiri aja."
"Untung dari kanvas, jadi nggak rusak. Coba dibingkai kaca, pasti sudah berhamburan deh kacanya. Kayak di pilem - pilem tanah air tuh Mbak." Reyka langsung menimpali.
"Elo berantem Chel?" Jaka mengulangi pertanyaannya.
"Mas Malik..." Apa perlu aku menceritakan apa yang baru aku lihat ke mereka? Nanti mereka langsung marah juga ke Mas Malik. Aduh cerita nggak ya? Tapi mungkin aku butuh masukan juga dari Jaka. Diakan sudah kayak psikolog aku selama ini.
"Gue ke rumah Mas Malik dan ... dia tidur dengan orang lain."
"Elo yakin, Chel? Apa elo sudah mendengarkan penjelasan Mas Malik?" Jaka bertanya dengan pertanyaan yang masuk akal. Aku bahkan belum menanyakannya ke Mas Malik.
"Emangnya ada, orang selingkuh yang mengaku?" Aku berkata sambil mendengus. Reyka duduk disampingku sambil tangannya mengelus punggungku.
"Kalau elo langsung tanya saat elo menangkap basah mereka, dia tidak akan punya pilihan selain mengaku, Chel," kata Jaka yang berdiri sambil bersandar di tembok dekat tempat foto yang jatuh tadi dipajang.
"Mas Malik tadi nggak ada di rumah. Cuma ada cewek itu. Gue nggak mau percaya dengan laki-laki yang membawa pulang wanita ke tempat tidurnya. Katanya, dia nggak macam - macam, tapi apa?" Jaka tidak menjawabbkomentarku, tapi kulihat raut wajahnya seperti berfikir.
"Sorry ya. Gue mau sendiri dulu. Ponsel gue matiin. Kalau Mas Malik datang, gue belum mau ketemu dulu." Aku mengungkapkan isi hatiku ke Rey dan Jaka.
***
(Author)
Di rumahnya, Mas Malik yang baru pulang dari rumah Pak RT untuk lapor tinggal di rumahnya tersebut, kaget saat ke ruang makan karena meja makan sudah terisi aneka cemilan dan menu sarapan. Padahal tadi sebelum keluar Mbak Wilsa mengatakan mau tidur.
"Mbaaak... Mbak Wilsa.." Mas Malik teriak sambil ke atas menuju kamarnya yang digunakan sang kakak.
"Apaan sih Lik, ribut aja."
" Mbak beli makanan buat sarapan?" tanya Mas Malik penasaran. Dia pun mengajak Mbak Wilsa ke bawah, ke ruang makan.
"Hah ngaco kamu. Disini Mbak jadi tamu ya, kamu dong yang traktir. Ngapain Mbak bela - belain beli makanan. Lagian mana tahu tempat yang enak di sekitar sini?"
__ADS_1
Disaat bersamaan Mas Malik merasakan ponselnya yang masih dikantong celananya bergetar.
"Halo. Iya Jak, ada apa?" Mas Malik menerima telepon dari Jaka.
"Mas, apa kabar?"
"Baik. Kenapa Jak? Kok kayaknya basa basi deh telepon elo ini?"
"Iya, memang. Cuma mau kroscek saja, sekarang Mas Malik ada dimana?"
"Ada di rumah Cinere. Kenapa Jak? Jangan bikin Mas penasaran. Kenapa sih?"
"Nggak apa apa kok Mas. Jaka cuma mau tanya baik - baik. Maaf, saat ini Mas Malik sedang sendiri atau sama orang lain?"
"Kenapa?" Mas Malik nggak menjawabnya, tapi langsung menanyakan tujuan Jaka telepon.
"Ya nggak papa sih, itu semua terserah Mas Malik. Cuma mau kasih tahu, saat ini Rachel lagi menangis. Tadi Rachel ke rumah Mas Malik, dan dia melihat wanita di atas tempat tidur Mas Malik."
"Ooh... Itu Mbak Wilsa, kakak Mas yang dari Australia, dia diminta nyokap datang secepatnya untuk bantu persiapan pernikahan." Mas Malik menjawab dengan santai.
Lalu Mas Malik menambahkan keterangannya ke Jaka, "Mas nggak tahu Rachel ke rumah. Mas ingin mengenalkan mereka secara langsung tapi belum sempat, tapi mereka sudah video call-an sebenarnya."
"Mas, Rachel salah paham nih. Dia dikamar nggak mau diganggu sambil menangis."
Mas Malik paling tidak ingin melihat Rachel menangis. Gadis bawel, ceria, dan selalu membuatnya gemas ini tidak pantas untuk sedih.
"Jak, Mas akan kerumah Rachel segera. Mas siap - siap dulu ya. Titip Rachel dulu ya?" Mas Malik berpesan sebelum mengakhiri percakapan di ponselnya.
"Tadi Rachel datang kesini. Jadi makanan ini yang nyiapin Rachel. Dia masuk kamar dan melihat Mbak Wilsa. Rachel menyangka Mbak adalah wanita lain dihati Malik."
"OMG, how cute. Dia pasti cinta banget sama kamu, Lik. Kita ketemuan yuk, kasihan dia pasti cemburu banget."
"Yuk Mbak, kita kerumahnya. Kita siap - siap dulu."
***
Aku mencoba untuk tidur, tapi tidak bisa. Dua jam hanya sibuk cari posisi untuk terlelap tapi selalu gagal.
Selama aku dekat dengan Mas Malik, hatiku benar - benar didominasi dengan dia. Mungkin kalau ada huruf dihatiku hanya ditemukan lima jenis huruf M-A-L-I-K dengan jumlah yang banyak hingga full. Sekarang aku benar - benar tidak siap kalau harus kehilangan Mas Malik. Nggak pernah terbersit akan ada pengganggu seperti ini.
Aku duduk di tempat tidur, berusaha melakukan meditasi sebisa dan seingat aku, karena sudah lama banget nggak di praktekin. Aku berusaha membuat diriku tenang dan tidak terbakar amarah lagi.
Saat mataku sedang terpejam dengan konsentrasi belum penuh, Reyka mengetuk pintu kamar.
"Mbak, Rey masuk ya," pintanya yang tanpa babibu lagi langsung nyelonong masuk dan duduk disampingku.
Aku gagal melakukan meditasi. Yaa.. belum apa - apa sudah di gangguin Rey begini.
"Mbak, ada Mas Malik dibawah." Reyka bicara dengan nada pelan.
"Biar sajalah Rey. Mbak lagi males ketemu Mas Malik. Mama sama Papa sudah pulang belum dari hajatan temannya Papa?" Aku nggak mau kemarahanku diketahui oleh orang tuaku.
__ADS_1
"Belum. Katanya pulangnya sore, Mama mau mampir kemana gitu, tadi sempat bilang sama Rey."
"Ooh syukur deh. Rey, kamu temani Mas Malik saja deh. Mbak mau dikamar saja."
"Mbak, mungkin Mas Malik mau menjelaskan permasalahannya. Turun dulu deh Mbak."
"Mbak nggak mau turun Rey. Udah ah, kamu keluar deh."
Akhirnya Rey tidak memaksa aku untuk keluar dan dia pun keluar kamarku. "Oke Mbak. Tapi jangan lupa makan ya."
Aku akhirnya mencoba meditasi lagi. Bodo amat sama Mas Malik yang lagi diluar.
Tapiiii... Belum juga sepuluh menit, kejadian lagi. Reyka emang bener - bener deh. Tadi saat belum konsentrasi penuh dia ngetok pintu, terus sekarang begitu lagi. Bikin kesal, tapi dia adek semata wayang aku. Aku nggak mau nyakitin perasaannya, aku sayang dia.
Tapi sekarang nggak pakai suara, main masuk aja lagi. Aku yang duduk membelakangi pintu males noleh, cukup kupingku yang ku pertajam. Mataku tetap kupejamkan, biar Rey tahu, Mpoknya lagi meditasi jangan digangguin terus.
Eh, aku dikagetkan dengan cengkraman dua tangan di wajahku. Refleks aku membuka mata. Ternyata, yang masuk bukan Reyka, tapi Mas Malik!
Aku segera menampik tangannya dengan muka judesku.
"Jie jie jie, cemburu ni yeee. Calon istri Mas cemburu. Senang deh dicemburuin."
"Apaan sih? Keluar sana!" Aku mengusirnya.
Eh tapi kok dia tanpa beban ya tahu aku cemburu?
"Tadi kerumah ya? Kenapa nggak telepon sih? Mas tadi lagi buat laporan buat tinggal di rumah ke Pak RT. Terus Mbak Wilsa tadi subuh dianter Bang Ravel ke rumah. Dia milih tidur di kamar kita Dek. Katanya kasurnya enak, besar. Di paksa tidur dikamar tamu nggak mau dia. Jangan marah sama Mas ya, marahnya sama Mbak Wilsa aja yang tidur dikasur kita nanti."
Hah? Aku cemburu buta dong?!
"Kok nggak ngasih tahu, kalau Mbak Wilsa ke rumah?"
"Ngasih tahunya rencananya agak siangan. Habis Mas mikir, kamu mau bangun siang. Takut bunyi ponsel ganggu bobok kamu." Mas Malik bicara dengan posisi berdiri diatas lutut sambil merentangkan tangannya, meminta aku untuk memeluknya. Tanpa waswiswus aku langsung memeluknya erat. Erat banget malah.
"Jangan nangis lagi ya. Mas kan sayangnya sama Adek." Aku tidak menjawabnya, tapi menganggukkan kepalaku yang masih menempel didadanya. Harum deh tubuhnya Mas Malik, aku suka.
"Yuk keluar. Mbak Wilsa mau kenalan sama kamu tuh." Mas Malik bicara sambil ngelus rambutku. Biasaaa.. ngecek paku di kepala aku.
***
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung