Bos Ajaib

Bos Ajaib
8. Anak Baru


__ADS_3

"Et dah yang baru pulang dari Lombok, kenapa kulitnya jadi hitam legam gitu ya? Habis kerja apa berjemur Bu?" sapa Indra dari kubikelnya ketika melihat aku saat baru tiba di kantor.


"Dua - duanya dong. Eksotik kan kulit gue?" jawabku sambil berjalan menuju kubikelku.


"Waah beneran loh ya! Kayaknya elo habis bulan madu nih," tuduh Mas Kelana.


"Gue pikir elo tugas luar kota kali ini merasa tersiksa dan teraniaya, ternyata happy ya? Sampai rambut elo berubah juga," kata Indra yang masih memperhatikan perubahan dalam penampilan aku.


"Keren kok Chel, beneran deh, keren. Pantes buat kepribadian elo," kata Kak Bertha.


Rambutku yang panjang dan biasanya dikuncir kuda atau di jepit pakai jepitan bebek, hari ini memang berubah. Nah, jadi rambutku di potong sedikit, dan agak di curly lalu aku cat dengan nuansa warna hitam kecokelatan. Biar kayak sosialita gitu.


"Cocok buat tampang elo yang suka misuh - misuh kalau habis keluar dari ruangan Mas Malik," samber Mas Kelana.


"Yee kali, habis ini gue dapet jackpot, enggak kena nyinyir dengan kalimat nyelekit lagi dari si bos."


"Aamiin, semoga terkabul ya Chel doa elo." Indra mengamini sambil mengusap mukanya dengan kedua telapak tangannya.


"Tapi elo jangan ge-er dulu Chel. Penampilan elo masih kalah cetar dari penampilan anak baru yang wow," ujar Indra langsung menambahkan.


"Wah iya Chel. Indra saja kemungkinan mau beralih nih. Dia mau menyerahkan lagi Yaya ke Hamish Daud setelah beberapa hari seruangan dengan nih anak." Mas Kelana lagi - lagi menyerang Indra.


"Waah gimana orangnya, seru nih pagi - pagi gue dapat sarapan yang menyegarkan. Terus ada gosip apa lagi?" tanyaku semakin penasaran.


"Yaya kan katanya cakep. Nah, ini lebih cakep Chel." Seperti biasa, Mas Kelana siap menjadi kompor meleduk untuk urusan percintaan Indra.


"Kalau dari body sih, dia gitar spanyol lah. Ditambah anaknya berani." Kali ini Kak Bertha yang berkomentar.


"Hah? Gue pikir akan ketemu cewek kayak Sisi lagi, yang tomboy, to the point kalau ngomong. Jadi makin penasaran. Belum dateng anaknya?" tanyaku semakin penasaran.


"Haaaii semua... Selamat pagi!" sapa seorang perempuan dengan gaya cerianya, yang langsung menuju kubikel yang letaknya sedikit mojok.


"Pagi juga," jawab Indra bersemangat. Aku pun baru menyadari ada perubahan interior kantor. Tadinya tempat kubikel yang ditempati si anak baru itu ada sofa single dengan meja kecil.


Mungkin merasa diperhatikan, perempuan itu menoleh dan tersenyum.


Disaat yang sama, Mas Malik datang dengan membawa gelas kertas Starbucks. Dia berhenti dan bersandar di depan kubikel Indra, yang otomatis di depan mataku juga.


"Selamat datang Rachel. Semakin segar kamu hari ini," katanya sambil memperhatikan penampilan baruku.


"Namanya juga habis bulan madu Mas, segar dan semakin bersemangat dong." Lagi - lagi Mas Kelana menjadi kompor percakapan kami.


"Waah Mbaknya pengantin baru ya? Habis bulan madu dimana? Kenalan dong," sapa si perempuan yang dari penampilannya memang tergolong berani sambil berjalan ke arah kubikel kami.


"Halo Mbak, saya Sherin," katanya sambil mengajak salaman.


"Sherin? Nama lengkap kamu Sherina Munaf, anaknya Pak Triawan Munaf?" tanyaku dengan mencoba muka datar si bos.


Suara tawa langsung meledak di ruangan kami, termasuk Mas Malik, yang langsung getok kepalaku dengan pulpen.


"Ih, si Mbak. Suara saya enggak sebagus Sherina itu kali." Sherin bicara dengan nada sedikit centil sambil mengambil tempat berdiri disamping Mas Malik.


"Ooh. Saya Julia Robert, tapi teman - teman di sini manggil saya dengan sebutan Robert." Aku bicara mantap dengan wajah serius. Aku mendengar suara tawa dari teman - temanku dan si bos, tapi aku harus bisa menahannya, biar kelihatan serius. Kan kesannya aku berwibawa kalau gitu.


Indra langsung berdiri dan menimpuk aku dengan kacang kulit yang biasanya dia sembunyikan di lemari bawah mejanya.


"Ngaco loh Chel. Ngomong yang benar kenapa sih? Ada apa sih di Lombok, sampai elo error kayak gitu?" Kak Bertha akhirnya ikut bersuara setelah berhenti tertawa.


Aku pun tertawa. "Sorry, nama gue Rachel."

__ADS_1


"Mbak habis bulan madu dimana?" Balik lagi, Sherin nanya soal bulan madu. Gimana enggak mau aku kerjain coba?


"Saya habis bulan madu diatas awan Sher. Biar enggak ada yang ganggu." Kali ini semua tertawa terbahak - bahak, kecuali Sherin yang sepertinya bingung.


"Sudah - sudah ah. Kamu ini ngelawak saja. Kamu laporan dulu ya keruangan gue, sebelum kita rapat." Mas Malik langsung mengubah suasana santai menjadi suasana bekerja lagi. Dia langsung berjalan menuju ruangannya.


Oh ya, Sherin ini tidak terlihat seperti seorang fotografer, karena meskipun dia pakai celana jeans, pakaiannya serba ketat. Belum lagi kaosnya yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Aku ngerti, kenapa Kak Bertha bilang dia berani. Nah untuk rambutnya dia, di highlight warna keunguan, gaya anak muda yang rajin ke salon gitu.


"Waaah Mas Malik cakep banget ya. Dia sudah ada yang punya belum sih?" Sherin sepertinya belum pernah kena kata - kata nyelekit Mas Malik nih. Kami semua saling tatap satu dengan yang lainnya tanpa berkata apa - apa.


"Ya sudah, kita kerja lagi. Sherin sudah balik lagi ke kubikel kamu," kata Indra bijaksana.


Aku lalu mempersiapkan apa yang diminta Mas Malik. Kebetulan konsep dan gambarannya sudah aku bikin di rumah, biar nanti habis rapat bisa langsung ngedesain.


***


Akhirnya aku janjian dengan anaknya tante Gita hari ini sepulang kerja. Itupun janjiannya tanpa campur tangan orang tua. Resek kalau mama ikut campur. Jadi sebelum jalan ke Lombok, aku bilang ke mama, untuk kasih nomer ponselku ke anaknya tante Gita, biar kita ngurus sendiri.


Mama senang dong waktu aku minta seperti itu. Dia melihat aku bisa diajak kerjasama. Padahal dianya saja yang negative thinking terus ke aku.


Jaka, nama anak tante Gita menghubungi aku saat masih di Lombok. Kayaknya dia juga di paksa sama tante Gita untuk cepat - cepat ketemu aku. Karena weekend kemarin aku mau me time, jadi aku minta ketemu hari ini. Senin yang selalu macet, lumayan lah pulang di jemput dan dianter sampai rumah. Nyebelin ya aku?


Sudah satu jam aku menunggu, tapi Jaka masih terjebak macet. Jakarta gitu loh! Senin, macet, dan hujan. Lengkap sudah.


Saat ini pukul delapan malam, teman - temanku sudah pulang semua saat ini.


"Loh, kok belum pulang?" Tiba - tiba Mas Malik keluar dari ruangannya dengan memakai tas selempang Christian Dior.


"Belum Mas," jawabku.


"Kamu enggak lagi pura - pura kerja kan? Kerjaan kamu minggu ini baru yang Lombok saja, jadi sekarang kamu lagi enggak ada kerjaan mendesak."


"Naik taksi lagi? Bareng saya saja kalau susah, ini hujan loh, nanti malah kemalaman."


"Enggak usah Mas. Nanti merepotkan. Saya di jemput kok." Aku menolak secara halus.


"Enggak merepotkan kok. Yuk! Kalau enggak kamu tanya sama yang menjemput kamu posisinya dimana." ujarnya sedikit memaksa.


"Hhhmmmm baiklah Mas. Saya nanya yang mau jemput saya dulu ya? Kasihan kalau sudah dekat," kataku.


"Ya sudah, saya tunggu kamu di ruangan saya saja ya. Nanti kabarin bisa enggaknya." Mas Malik langsung masuk keruangannya.


Aku langsung whatsapp Jaka.


Rachel :


"Jak, posisi elo dimana? Kalau masih jauh apa kita reschedule aja?"


Jaka :


"Lumayan Chel, stuck nih."


Jaka :


"Gpp deh klo mau di reschedule. Kalo gini enggak ketahuan gue sampai kantor elo jam berapa."


Rachel :


"Iya. Elo nanti kecapean dijalan. Siapa yang nyangka kalau malam ini hujan. Udah langsung pulang aja deh lo.

__ADS_1


Jaka :


" Okay. Elo nanti hati hati di jalan ya."


Rachel :


"Take care"


Selesai berbalas whatsapp dengan Jaka, aku langsung menuju ruangan Mas Malik.


"Mas, yuk pulang."


"Sudah beres?" tanyanya, yang tumben - tumbenan nadanya ada intonasinya.


"Sudah. Yang mau jemput masih terjebak macet dan masih jauh." Aku pun menjawab dengan lengkap.


Kamipun jalan bersisian sampai tangga. Di lantai satu masih ada beberapa teman yang masih kerja.


"Mau langsung pulang atau mau makan diluar dulu Chel?" Mas Malik menanyakan saat mobil sudah meluncur di jalan raya.


"Ah enggak berani Mas. Takut ke gap seperti yang di supermarket tempo hari."


"Ya sudah, saya cari lokasi yang aman, tanpa ada yang mergokin kita lagi." Jiaaah mulai deh otoriternya.


"Mas, langsung pulang sajalah," tawarku.


"Gapapa lah Chel, sekalian ucapan terima kasih saya ke kamu karena sudah berjuang mau ke Lombok."


"Hahahahahaha berjuang banget ya saya Mas. Sampai Mas Malik harus berhadapan dengan Mama. Norak sih sebenarnya, tapi.. maafin mama saya ya Mas," kataku setelah tertawa lepas.


"Saya jadi tahu kenapa kamu suka ngelawan dan membantah."


"Capek ya Mas, punya anak buah badung kayak saya?"


Kami pun tertawa bersama.


"Gimana di Lombok? Kamu suka suasana disana?"


"Suka Mas. Enggak lihat kulit saya jadi hitam keling gini?"


"Nanti juga balik lagi. Capek enggak?"


"Ya gitu deh."


"Tapi masih sempat ke salon kok ya?"


"Ya ampuun Mas. Ini saya ke salon pas sudah sampai Jakarta. Cuma begini aja, kenapa pada ribet sih," kataku dengan kesal.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2