Bos Ajaib

Bos Ajaib
71. Perayaan Ulang Tahun Rachel


__ADS_3

Saat ini kami sedang berjalan menuju Ceria Room yang berada di samping kolam renang hotel. Aku sudah melihat Jaka menyambut kami di depan pintu yang tertutup.


"Hai, Chel. Selamat ulang tahun ya. Cepat - cepat nikah, biar gue nggak perlu ngelangkahin elo," ucap Jaka.


"Thanks Jak. Lihat nanti ya kalau soal nikah." Jawabku.


Reyka pun langsung menggandeng Jaka dan memberi kesempatan aku dan Mas Malik masuk ke ruangan terlebih dahulu.


Daaan... Woow! Ini kejutan. Semua meja sudah terisi dan Mama Papa sudah duduk manis satu meja dengan orang tua Mas Malik.


Tidak hanya itu, teman - teman sedivisi aku pun datang semua bersama pasangannya. Bahkan, Mas Ricky, Astrid, Bang Ben, Sisi, dan ada Bang Gi sama Mbak Rara, salah satu pemegang saham di perusahaan Mas Ricky.


Selain itu ada keluarga aku dan beberapa sepupu. Bahkan Mas Malik ngundang juga dong keluarganya dia yang aku belum kenal. Okey, aku keliling dulu ya. Terharu aku tuh!


Selesai keliling, aku yang selalu didampingi Mas Malik berkeliling dari satu meja ke meja lainnya pun akhirnya duduk bersama dengan Mama Papa dan kedua orang tua Mas Malik.


Eh guys, mereka kayak sudah akrab gitu loh. Kayak anak kecil yang baru kenalan terus main bareng. Mama sama Mama dokter juga ngobrolnya kadang pakai bisik - bisik gitu. Apa mereka teman arisan? Atau teman satu grub sosialita? Halah!


Becky yang saat ini sibuk, menghampiri kami dan mengatakan kalau acara tiup lilin sudah bisa dimulai. Kesibukan Becky terkadang dibantu sama Rey dan Jaka. Eh! What?! Rey dan Jaka sibuk juga? Kok mereka nggak bilang kalau mereka terlibat dalam acara ulang tahunku?


Tidak lama kemudian Jaka membawa kue ulang tahun di dampingi Becky dan Reyka yang jalan dibelakangnya, mereka bernyanyi Happy Birthday yang diikuti para tamu. Mas Malik pun mengajak aku ke depan. Mas Malik selalu ada di sampingku atau belakangku. Tangannya pun selalu ada di tubuhku, entah memegang tanganku, memeluk pinggangku, dan terkadang ada dibahuku.


Kali ini aku tidak protes, mungkin dia mau menandakan kalau aku miliknya. Kalau kasarnya mungkin, 'jangan coba - coba ya elo pada gangguin Rachel, berhadapan loh sama gue'. Mungkin gitu, mungkin loh. Ge-er boleh lah.


Selama di acara aku tuh benar - benar surprise loh. Secinta inikah Mas Malik sampai ulang tahunku dibuat meriah seperti ini? Ini di hotel loh, ruangannya pun khusus, bukan yang di dalam hotel. Dia kepikiran ngundang keluarga segala.


Mama Papa mendampingi aku di depan, tapi Mama Papa Mas Malik tetap di tempatnya, begitu pun tamu lainnya. Mereka hanya berdiri di samping meja mereka.


Setelah lagu selesai, aku make a wish dalam hati. Hhmmm aku berdoa, isinya: 'kalau memang Mas Malik pria yang memang Allah kirim buatku untuk jadi suamiku, aku memohon agar semuanya di permudah. Aamiin'.


Aku pun meniup lilin diatas kue yang cantik. Selanjutnya, aku mendapatkan ucapan selamat dari Mama, Papa, Reyka, dan Becky yang semuanya ada di dekatku.

__ADS_1


Saat aku membalikkan badan, berharap untuk mendapatkan ucapan selamat dari Mas Malik, aku malah mendapatinya sedang berlutut sambil membawa cincin. Aaaaahhh... so sweet!


Aku terharu dan nggak bisa ngomong apa - apa!


"Rachel, Julehanya Mas Malik yang sekarang ikhlas di panggil Adek. Di depan Mama Papa kita, keluarga, dan teman terdekat kita, Mas melamar kamu untuk jadi istri Mas. Will you marry me and be my wife forever?" ucap Mas Malik yang mengucapkannya sambil menatap wajahku.


Aku yang masih kaget, hanya bisa nangis. Tapi Mas Malik bukannya berdiri terus meluk aku, dia tetap berlutut dengan cincin lamarannya. Okay, dia sepertinya nggak akan bergerak kalau aku belum jawab.


"Yes I do." Aku menjawab dan langsung ikut berlutut, lalu memeluknya. "Thanks Mas for everything. I love you," bisikku di kupingnya.


Kami pun berdiri, dan Mas Malik menyematkan cincin ke jari manis tangan kiriku. Lalu dia sun kedua pipiku, jidat jenongku, Eeeh bibir seksiku pun dikecupnya! Wong edan, berani ngecup bibir di depan banyak orang. Aku kan malu, ada banyak orang tua lagi. Nanti bakalan aku omelin deh calon suamiku ini. Ahay! Calon suami.


Cincin yang di sematkan Mas Malik cantik sekali, aku suka. Ukurannya pas lagi. Batunya berwarna biru dan agak besar. Iih pokoknya keren deh. Jangan - jangan ukurannya nyontek sama cincin yang buat Becky itu, makanya bisa pas.


Terus semuanya tepuk tangan.. Iiiih jadi seperti di film - film gitu sih.


Aku kembali di peluk Papa. Aku merasakan air mata Papa yang jatuh ke bahuku. Ya, kami menangis bersama.


Sambil dipeluk, Papa memberikan nasehatnya lagi. "Chel, terima kasih kamu selalu jadi anak baik. Papa bangga sama kamu dan selalu sayang sama kamu. Papa harus mulai belajar melepas kamu untuk pria yang sudah kamu terima lamarannya ini. Papa akan selalu siap dipeluk kamu, kapan pun kamu membutuhkannya. Dari kamu Papa banyak belajar menjadi orang tua." Papa kembali mengeratkan pelukannya. Lagi - lagi kami menangis.


"Heeeiii.. Sudah jangan lama - lama peluk suami orang. Mau buat Mama cemburu ya? Papa nggak pernah meluk Mama selama ini, Chel." Mama berusaha melepas pelukan kami yang di balas dengan senyuman Papa ke Mama. Laaah, Papa malah sun pipi Mama, bukan sun pipi aku. Ya Tuhan, yang maha pengasih lagi maha penyayang, nyonya Keya beneran cemburu? Akukan anaknya. Anak kandung loh! Nggak habis thingking aku tuh!


Tapi tak lama kemudian, Mama memelukku. "Chel, Mama sudah lega sekarang, kamu akhirnya ada yang melamar. Tadinya Mama fikir kamu nggak laku, makanya Mama mau jodohin sama Jaka. Lah Jakanya malah sekarang sukanya sama adek kamu."


Jangan berharap aku nangis mendengar omongan Mama. Bukannya ngasih nasehat atau selamat, si madam malah curhat. Suka bikin gemes deh si nyonya satu ini.


Kemudian Mama dan Papa Mas Malik pun maju memberi kami selamat, begitu pun dengan Bang Ravel, Kak Raisa, dan si kecil Rania. Hingga akhirnya aku dan Mas Malik diminta tetap berdiri di depan, biar semua tamu bisa memberi selamat kepada kami.


Rangkulan tangan kiri Mas Malik di pinggangku tidak bisa aku lepas. Dia salaman dengan para tamu hanya dengan satu tangan meskipun sambil ngobrol ngalor ngidul.


Oke deh, posesifnya kembali datang. Lagi pula siapa sih yang berani ngambil aku dari sisi dia?

__ADS_1


Setelah selesai para tamu memberi kami selamat, kami pun bergabung dengan meja teman - teman kantorku.


Kehebohan terjadi saat tim gesrek dan para petinggi di kantor memberikan selamat kepadaku.


"Jie jie Rachel. Bentar lagi bisa kita ajak diskusi seputar rumah tangga juga nih," kata Mas Kelana. Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Belum ada keinginan untuk nyerocos. Masih kaget dengan acara ini.


"Sudah dapat jawabannya kan Chel? Kalau Malik masih buat kamu kesal, kamu masih bisa curhat ke saya kok. Saya akan bantu kamu negur dia," kata Mas Ricky.


"Makasih ya Mas. Semoga setelah ini dia nggak ganggu saya, nggak bikin sebel saya lagi," ucapku.


"What? Rachel curhat sama Mas Ricky? Waah emang paling bener sih strateginya," komentar Mas Kelana. Aku hanya menjawab dengan senyuman dan permainan alis.


Akhirnya.. acara yang membuat hatiku berbunga - bunga selesai, para tamu saat ini sudah pulang, tinggal keluarga inti aku dan Mas Malik.


Aji gileee... aku sudah dilamar. Aku lagi ngemil sambil mikir, baru make a wish tadi, eh sudah di jawab satu sama sang pencipta. Bahagianya aku. Alhamdulillah...


Saat ini, kami sedang menunggu Becky, Reyka, dan Kak Raisa yang sibuk mengurus sisa makanan untuk kami bawa pulang.


Lumayankan, besok nggak perlu masak. Semua bisa santai di hari Minggu.


***


.


.


Ada yang nangis atau terharu gitu nggak sih?


Oh ya, ini undangan terbatas, jadi author nggak berani minta meja tambahan buat pembaca. Kita yang datang juga nggak boleh video-in, apalagi masukin ke Tik -tok, jangan harap deh. Jadi semoga cukup mewakili ya lewat cerita di bab ini..


(Ini apaan sih? Author-nya jadi halu gini?)

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2