
Hari Minggu pagi saat sarapan, aku menjelaskan keinginan keluarga Mas Malik yang ingin merayakan ulang tahunku ke Mama, Papa, dan Reyka.
Tanggapan keluargaku tentu saja kaget. Seperti yang aku bilang, kami tidak pernah merayakan secara khusus hari kelahiran kami. Biasanya kami hanya syukuran dengan membuat menu makanan khusus sesuai keinginan yang ulang tahun.
Tiup lilin dengan kue tart pun itu terakhir kami lakukan saat aku dan Reyka masih sekolah dasar. Kalau ingin tart aku tinggal beli, tidak harus menunggu hari spesial.
"Nanti biar Mama bicara sama Malik deh." Kata Mama dengan wajah tanpa ekspresi. Aku jadi tidak bisa menebak apa yang ada dikepala Mama.
Kami meminta para cowok untuk datang jam 9 pagi. Biar jam 10 kita sudah jalan.
"Oh ya Rey, hubungan kamu bagaimana dengan Jaka?"
"Ya nggak gimana - gimana Mah." Sahut Reyka sambil makan lontong sayur yang tadi beli di warung sarapan depan kompleks.
"Kamu nggak pacaran sama Jaka Rey?" tanya Mama to the point.
"Mas Jaka nggak pernah ngebahas soal itu Mah. Kan waktu itu Mas Jaka bilang anggap saja Mas Jaka sebagai kakak Reyka juga. Mungkin dia menganggap Rey sebagai adiknya Mah."
"Ngomong nyerempet pernah gak Rey?" tanyaku penasaran.
"Ya diskusi - diskusi soal masa depan sih pernah Mbak, tapi nggak ngerti deh. Biarin aja, yang penting Mas Jaka baik sama Rey."
"Ya udah, mungkin belum kali Mah. Santai aja lah Mah," kataku ke Mama.
"Nanti Mama bahas sama Gita deh," kata Mama.
"Kok gitu Mah?" tanya Reyka.
"Iya, biar Tante Gita tenang, anaknya dekat sama kamu Rey," ujar Mama.
"Aah Rey nggak ngerti. Bodo ah," sahut Reyka.
Aku ngerti kenapa Mama mau bahas dengan Tante Gita, pasti soal perjodohan yang mereka rencanakan. Sedangkan Reyka hanya aku ceritakan sedikit tentang perjodohan aku dengan Jaka. Tapiiii nggak tahu juga ya kalau Jaka cerita lengkap.
"Ya sudah yuk kita siap - siap Rey. Mbak ke kamar dulu ya." Pamitku ke Mama, Papa, dan Reyka.
***
Saat aku keluar kamar dan mendapati semua sudah kumpul di ruang keluarga. Termasuk Jaka dan Mas Malik.
"Rachel, kamu pergi sama Reyka dan Jaka saja ya. Mama sama Papa mau ngobrol sama Malik. Malik dan Jaka sudah setuju." Kali ini Papa yang bicara dan aku tidak bisa membantah.
"Tadi Mas sudah diskusi dengan Jaka kok. Mas tunggu kamu di rumah ya." Kata Mas Malik saat aku menatapnya, dan aku menjawab dengan anggukan kepala. Iya! Aku seperti boneka yang suka ngangguk - ngangguk di dashboard mobil itu.
"Oke saja sih, Rachel nggak masalah kok." Jawabku kemudian.
Tapi aneh nggak sih, Mas Malik nggak ngintilin aku dan sekarang dia melepas aku pergi dengan dua mahluk ramai ini? Atau karena sekarang dia sudah percaya denganku ya? Ah sudahlah, yang penting aku bisa punya motor sendiri dan nggak pinjam kantor lagi.
Dulu sebenarnya kami sudah pernah punya motor sport tapi saat aku kuliah di Inggris, motor tersebut dijual sama nyonya Keya. Gara - gara Reyka sering bawa ke sekolah dan pulangnya suka melebihi jam malam. Pada saat itu jam malam untuk Reyka jam 7 malam.
Saat ini kami sudah di showroom motor Yamaha. Kenapa showroom ini? Jawabnya adalah pilihan ini merupakan kesepakatan antara Mas Malik dan Jaka. Pasrah itu yang aku dan Reyka rasakan. Apakah kami kesal? Oh tentu saja! Tapi aku dan Reyka sepakat berfikir dari sisi positifnya saja. Lah wong dibeliin kok, nawar. Ye kan?
Lagi pula senakal - nakalnya kami dalam bermotor, aku yakin mereka juga pasti pernah nakal, siapa tahu mereka jago trek - trekan sama teman - temannya di masa lampau. Kami juga yakin, mereka sudah memikirkan keamanan motor yang akan kami kendarai.
__ADS_1
Ketika Reyka memisahkan diri dari Jaka, dan kami sedang menunggu pegawainya mengurus administrasi pembelian motor kami, aku pun mendekat ke Jaka. "Jak, elo kalau suka sama adek gue, kenapa belum ngungkapin?" Monmaap aku kepo dan nggak sabar melihat kebahagiaan mereka.
Jangan kayak Mas Malik, suka tapi kasih kodenya selalu bikin emosi. Udah gitu lama lagi! Lah, aku kok jadi curhat ya? Eeh, tapi sekarang dia sudah berubah kok, kan aku sudah mau jadi istrinya. Aiih jadi kangen.
"Planning-nya habis dari sini tadi. Tapi kayaknya berubah nih, ada elo," kata Jaka sambil garuk - garuk kepala.
"Ya ampun Jak, bukannya bilang. Kalau gue nggak nanya, jadinya batal ngungkapin?"
"Nggak tahu juga. Lihat kondisi yang berjalan deh."
"Ah elo mah gitu. Adek gue jangan digantung dong, emangnya dia jemuran. Hari ini harus nembak ya!" Pintaku dengan tampang dibuat galak.
"Hahahaha, nggak sabar ya mau punya adek ipar kayak gue?" tanya Jaka. Kenapa dia jadi ikutan jail ya?
"Lah, kok elo jadi ge-er Jak? Ya sudah, gue whatsapp Mas Malik deh, minta dia jemput. Biar urusan elo beres." Jaka hanya menjawab dengan anggukan sambil senyum. Astagaaa.. calon adek iparku senyumnya. #Eh
Rachel :
Haaai pacarku! Kamu lagi apa?
Mas Malik :
Masih dirumah kamu. Kenapa Dek? Kangen ya? Baru selesai diwawancara sama calon mertua nih😝
Rachel :
Iyaaa🥰.. Jemput dong. Kita jalan yuk! Berduaan aja. Biar kayak orang yang lagi pacaran Mas. Kita misah sama Jaka dan Rey. Eh, di wawancara apaan Mas?
Mas Malik :
Mas Malik :
Boleh. Mau di jemput dimana? Apa kamu ikut mereka dulu kemana terus kita janjian di suatu tempat?
Rachel :
Sok rahasia iih. Biar dibilang kompak tuh antara calon mertua dan calon mantu.
Rachel :
Nggaaaak. Mas jemput kesini aja.
Mas Malik :
Oke, tunggu ya. Mas pamit dulu, langsung meluncur ke sana.
Rachel :
Makasih Mas😘
Mas Malik :
Beraninya pakai emotion aja. Coba dong, Mas di sun secara nyata. Beneran deh Dek, Mas mau yang nyata🕺🕺
__ADS_1
Rachel :
Dih, dia joget!
Ogah!
Cepetan pamit deh.
Byee
***
Akhirnya aku dijemput Mas Malik. Dia mengajak aku Plaza Indonesia tanpa minta persetujuan aku.
"Mas harus ke Plaza Indonesia dulu. Mas butuh jari kamu buat beliin Becky cincin." Mas Malik bicara saat mobil sedang dalam perjalanan menuju Plaza Indonesia.
"Emang ada apa, kok Becky minta beliin cincin?" Radar kepo selalu waspada di kepala aku.
"Karena Mas pernah janji, kalau Mas sudah punya calon istri, nanti Becky dibeliin perhiasan sama Mas."
"Kamu kakak yang baik ya Mas," pujiku.
"Ke kamu Mas juga baik kan?" tanyanya sambil senyum. Oke, laki laki yang lagi jatuh cinta memang suka foya foya senyuman ya? Tadi Jaka, ini sekarang Mas Malik.
Aku cukup menjawab dengan anggukan. "Kenapa nggak di pasar Cikini Mas? Kan disana sudah terkenal dengan banyaknya toko emas."
"Mas belum pernah kesana Dek. Kamu tahu tempat yang bagus disana?"
"Nanti sambil lihat - lihat saja Mas. Banyak pilihan juga."
"Mas juga mau beliin kamu juga. Kamu mau kan?"
"Hah? Jangan ah. Nanti Rachel beli sendiri aja. Kan ini sudah dibeliin motor, masa dibelanjain lagi?"
"Nggak masalah. Yang penting kamu mau jadi istri Mas. Bos kamu yang nyebelin itu tuh," katanya dengan nada ngeledek.
"Iih nggak ah. Jangan sekarang."
"Ya sudah, Mas pinjam jari kamu untuk cek ukuran jari Becky ya?"
"Oke Mas! Eh jadinya kita ke pasar Cikini nih?" tanyaku.
"Iya deh, kata kamu banyak pilihan."
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung