Bos Ajaib

Bos Ajaib
61. Beranak


__ADS_3

Sekarang aku baru tahu, kenapa Mas Malik pagi - pagi sudah ada di kantor. Jawabannya adalah karena dia suka zoom meeting sama Bang Ravel dan tim.


Dia baru memegang pekerjaan kantor setelah jam sembilan. Malam pun terkadang ia kembali zoom meeting dengan timnya tersebut. Eh tapi, kalau dia lagi senggang dan perusahaan keluarga lagi butuh ya dia siap dihubungi sih.


Setelah Mas Malik membuka rahasianya tersebut (eh sebenarnya ini rahasia atau bukan, aku juga nggak tau sih), Mas Malik ngasih tahu jadwalnya selama seminggu yang dia catat di tabletnya.


Isinya, jadwal meeting dia sama kerjaan kami anak buahnya. Ternyata dia mencatat hingga detailnya.


Hari ini, aku berangkat seperti biasanya tanpa di jemput Mas Malik, karena jadwalnya pagi ini dia ada zoom meeting.


Dari pagi hingga jam sebelas dia tidak keluar, aku pun menanyakan ke teman - teman, perlu disinggung nggak permintaan Mas Malik kemarin mengenai traktiran makan siang.


"Tanyain aja Chel, nanti kesalahan lagi." Jawab Mas Kelana.


"Yakin elo mau pakai ATM nya dia? Enggak kita patungan aja?" tanya Indra.


"Santai. Pokoknya duitnya keluar dari saluran gue. Pakai duit yang mana nanti gue atur."


"Weits.. Megang berapa ATM loh? Kesannya sudah ngurus keuangan si bos," sahut Indra.


"Kagaak. Mana mau gue! Serem tahu. Sensitif soal uang bro," jawabku.


"Ya udah, tanyain gih Chel," kata Kak Bertha.


"Ya udah, gue ke ruangannya aja deh." kataku sambil berdiri.


Saat aku masuk keruangan Mas Malik, dia lagi zoom meeting. Tapi dia menyuruhku mendekat ke arahnya. Saat sudah disamping Mas Malik, baru aku tahu, kalau dia sedang bicara dengan Bang Ravel dan papanya.


"Pah, kenalin. Ini wanita yang bersedia jadi istri Malik tahun depan." Mas Malik memperkenalkan aku ke papanya.


"Halo Pah. Saya Rachel. Halo Bang Ravel, apa kabar?" Aku menyapa mereka sambil tersenyum.


"Halo Rachel. Saya sudah dengar tentang kamu dari Ravel dan Malik. Semoga kamu kuat dengan Malik dan bisa segera jadi mantu Papa ya." Kata papa Mas Malik.


"Kamu mau jemput Malik makan siang ya Chel?" tanya Bang Ravel.


"Iya," jawabku sambil senyum. Padahal selama ini belum pernah jemput seperti ini.


"Ya sudah, sekian dulu saja deh. Kalian istirahat dulu." Papa Mas Malik mengakhiri zoom meeting mereka.


"Oke, sampai besok dirumah ya. Daah Papah, daaah Abang," kata Mas Malik. Aku hanya melambaikan tangan sambil senyum.


Begitu selesai dan mematikan komputernya, aku mengatakan tujuan aku ke ruangan Mas Malik.


"Tapi Mas, Rachel juga mau makan bakso beranak deh. Apa sekarang makan siang masing - masing, baru sorean kita makan traktir Mas Malik di bakso beranak?" Aku memberikan saran ke Mas Malik.


"Teman - teman lainnya kekenyangan nggak?" tanya Mas Malik.

__ADS_1


"Enggak tahu. Rachel tanya dulu ya?"


"Nggak usah. Kita keluar langsung diskusi saja. Nanti kamu jadi seperti setrikaan bolak balik," saran si bos.


"Okeh. Yuk cyiiin," ajakku.


"Bahasa apalagi sih Dek?" tanya Mas Malik yang kemudian berjalan mendekat dan merangkul bahuku.


Diluar ruangannya, Mas Malik masih merangkulku, karena teman - teman sudah tahu hubungan kita jadi aku bisa sedikit cuek. Aku langsung tanya ke tim gesrek, "guys, kalau begini kelihatan mesra nggak?" Aku bertanya sambil mainin alis.


"Auk," jawab Mas Kelana. "Begitu mesra... Kurang tau," kata Indra. "Udah sih, iyain aja. Cuma tinggal mereka loh diantara kita yang belum nikah," sahut Kak Bertha.


"Friends.. Gue mau ditraktir bakso beranak, enakan makannya sekarang apa nanti kita jalan jam 3-an ya?" tanya Mas Malik masih dengan tangan yang berada di bahuku.


"Sekarang aja deh Mas, nanti kalau masih lapar, kita beli makanan lagi. Kalau nanti, takutnya kita masih kenyang," saran Indra yang disetujui Mas Kelana dan Kak Bertha.


"Oke kalau gitu. Kita satu mobil saja ya. Pakai mobil saya saja," kata Mas Malik yang hari ini membawa mobil Fortunernya karena berplat ganjil. Nasib anak Jakarta, mobil kalau bisa punya dua dengan plat ganjil genap, biar aktivitas tetap lancar.


***


Saat ini kami sudah sampai di Bakso Bom Mas Erwin yang terletak di kawasan Rawamangun.


"Bang, saya mau pesan," Aku pun memanggil pelayan begitu kami semua duduk disalah satu meja warung bakso.


"Iya kak, mau pesan apa?"


"Rachel kumaaat," ujar Mas Kelana sambil ketawa.


"Wah, kakak cenayang ya? Kok bisa tahu masa lalu saya? Tapi insya Allah sekarang mah saya sudah bener kak.


Saya dari kecil tinggal di sini, kak. Noh di daerah Pulo Gadung, bandel juga disono." Abang pelayan menjawab dengan tampang takjub berlogat betawi. Hahahaha bisa pas gitu ya pesan aku? Rachel gitu loh!


"Wah saya bukan cenayang kok, Bang. Ya udah deh, kita milih dulu ya Bang."


"Kayaknya sejak punya pacar, dia tambah error ya? Untung kalimatnya pas buat si abang yang nanggepin serius.Diapain sih sama elo Lik?" tanya Kak Bertha dengan mata berair sisa tertawa.


"Tanya aja sama anaknya, sudah diapain sama gue? Pasti jawabnya dinasehatin."


"Ya ampun Mas, Mas Malik tuh niatnya mau jadi suami apa jadi orang tuanya Rachel? Kok anak kayak gini dinasehatin?" timpal Indra yang nggak mau kalah.


"Kemarin dia bilang kalau dia mau bolos nggak boleh protes. Kalau protes hubungan ini mau di cancel. Coba kalian bayangin, ada gitu relationship sudah jalan satu setengah bulan di cancel?" Curhat si bos yang merangkap jadi pacarku itu. Teman - teman aku malah tertawa. Sebel deh!


"Kalau kalian pada ngetawain gue, tenggelamkan aja gue ke sungai Ciliwung! Tenggelamkan!" Aku berkata dengan muka jelek penuh emosi. Aku tuh nggak suka kalau diomongin terus di ketawain. Kayak suatu penghinaan bagi aku. Hiiiiiih!


"Yaaah calon bini ngambek. Maaf ya, diceritain ke teman - teman. Habis, Mas kan juga harus jaga image sebagai atasan."


"Gini aja deh Mas. Mas pilih, mau jadi atasan Rachel apa pacar Rachel? Simple kok." Aku tantang Mas Malik.

__ADS_1


"Yaah, itu nasib kamu keduanya nggak bisa dipisahkan."


"Aah udah ah, capek! Mau pesan makan aja."


"Elo mau pesan apa Chel?" tanya Indra.


"Sesuai tujuan, bakso beranak lah gue. Satu porsi."


"Hah? Cukup perut elo Chel?" tanya Indra lagi dengan jidat berkerut kayak rok emak - emak.


"Semoga cukup, kalau kekenyangan kan gue punya pacar yang harus ngabisin makanan gue. Apalagi yang beranaknya saesar."


"Ooh. Nasib pacar elo sebenarnya tragis ya Chel. Eh, kalau beranaknya saesar gitu, elo milih yang anaknya cowok apa cewek Chel?"


"Lah? Emang ada bedanya? Bedanya apaan Ndra?"


"Ada dong. Yang cowok ada telornya." Jawab Indra.


"Ah gue pilih sepasang aja, tapi yang penting akur." Mari kita lanjutkan percakapan aneh ini.


"Kenapa gitu Chel?" Indra malah penasaran.


"Kalau enggak akur nanti jadi bakso urat."


"Hahahaha bisa aja sedotan teh botol!" jawab Indra sambil tertawa.


"Mas, kayaknya tambah nih anak buah yang gesrek." Kata Mas Kelana ke Mas Malik.


Mas Malik sama Kak Bertha? Masih ketawa ketiwi mereka sih. Enggak ngerti apa yang diketawain.


"Dek, sekarang kamu jadi Rachel yang manis dulu ya, jangan jadi Juleha dulu. Capek loh Dek kalau kita harus ketawa terus." Mas Malik bicara layaknya seorang ayah ke anaknya. Iya, bukan seperti bicara ke pacar idaman gitu.


Kadang aku mikir, Mas Malik tuh romantis nggak sih? Kok kayaknya nggak ya?


***


.


.


... Happy weekend 🥳🥳🥳...


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2