
Saat ini kami masih ngantri untuk memberi selamat ke Indra dan Yaya. Kali ini barengan dengan semua anak kantor, biar bisa langsung foto.
"Pegel enggak? Dari tadi kamukan berdiri. Pakai sepatu hak seperti itu, nanti betisnya sakit," komentar Tuan Muda.
"Enggak kok Mas. Ya kalau betisnya sakit tinggal di pijat. Gitu saja kok repot."
"Mas, nanti jangan lupa ambil melati yang ada di pengantin. Saya lihat di senjatanya Indra ada melatinya," kataku lagi.
"Senjata? Maksud kamu keris Chel?" Mas Malik berusaha memperbaiki nama benda yang aku maksud.
"Iya Mas, keris. Keris termasuk senjata kan? Bisa melukai orang jugakan?" tanyaku enggak mau kalah. Aku bertanya sambil menatap wajah Mas Malik. Dia mah cuma senyum sambil geleng-geleng doang, seperti pajangan yang di dashboard mobil yang kepalanya bisa goyang-gayang itu.
"Dor!" Kami dikagetkan oleh suara cewek. You know lah siapa tuh cewek.
"Halo Mas Malik, Mbak Rachel.. Sherin barisnya bareng ya," ucapnya.
"Oh ya silahkan. Kita kan semua lagi antri buat salaman," jawabku. Kemudian aku pelan-pelan berjalan menuju Mbak Wiwit yang ada di barisan depan.
"Kenapa loh kesini Chel? Bukannya lagi dijagain sama Tuan Muda?" tanya Mas Kelana.
"Gue lagi berusaha membebaskan diri Mas. Kebetulan si Tuan Muda lagi di pepet Sherin." Mendengar jawabanku, Mas Kelana tertawa terbahak-bahak tapi suaranya pelan. Lalu dia menerangkan apa yang terjadi ke Mbak Wiwit yang tadi sempat bingung sama kelakuan suaminya.
Kami pun sampai di atas pelaminan. Aku tetap setia diantara Mbak Wiwit dan Mas Kelana. Saat foto bersama dengan pengantin, aku memilih berdiri di dekat Indra.
"Cie cie yang mau bulan madu," godaku ke Indra.
"Iya dong. Tinggal elo yang belum bisa bulan madu," balas Indra.
Saat bercanda seperti itu ada yang memegang lenganku. Aku tidak menampik, karena diatas pelaminan semua teman kantor yang sudah pasti saling kenal, jadi aku nengok mau tahu siapa pelakunya.
Aye aye! Pelakunya si bos dong. Susah deh, kenapa dia posesif banget sih ke aku, seperti Mas Kelana ke Mbak Wiwit aja.
"Kamu jangan ninggalin saya lagi ya Chel!" Mas Malik bicara dengan nada sedikit mengancam. Jujur, aku kayak lagi diikuti cowok enggak bener gitu. Jadi enggal berani ngajak bercanda atau gangguin. Pokoknya nadanya bikin aku jadi takut.
"Mas, ambil bunga dulu di senjatanya Indra. Selagi dekat nih," ujarku untuk mencairkan suasana.
"Kamu yang ambilkan dong." Mas Malik bicara tapi tangannya tidak mau lepas dari lenganku. Aku hanya bisa pas-rah karena banyak yang melihat apa yang dilakukan si bos.
"Yee, enggak bisa, harus yang bersangkutan," kataku sedikit berbisik. Kami sedang bersiap untuk foto.
"Ah ya sudah, enggak jadi."
__ADS_1
"Terserah." Aku menjawab singkat.
Kami pun foto bersama, posisi aku masih berdiri disamping Indra. Saat selesai Mas Kelana berjalan mendekatiku, lalu kasih kode dengan alisnya sambil senyum. Aku tahu, pasti berhubungan dengan si cowok posesif yang sekarang tangannya masih nempel di lenganku.
Kami pun berjalan untuk menikmati makanan yang terhidang. Kini kami sudah diantara gubuk-gubuk makanan. "Mas, kita tentuin tempat berdiri dulu deh, jadi kalau habis ambil makan kita balik lagi ketempat itu." Aku memberi saran ke Mas Malik. Sekalian biar dia enggak pegang lenganku lagi. Risih!
"Kita ngambilnya barengan saja Chel," jawabnya.
"Enggak ah. Kayak kembar siam kemana-mana berdua."
"Oke, tapi kalau kamu kabur, besok kamu saya hukum." Lagi-lagi aku diancamnya.
"Iya iya. Lagian siapa yang kabur sih. Kan tadi cuma ngobrol sama Mbak Wiwit. Lagian tadi juga kan, Mas Malik ditemanin sama Sherin. Mas Malik cari cewek deh, biar enggak resek sama anak buah!"
"Oh kamu cemburu ya kalau saya dekat sama Sherin?" tanyanya dengan sorot matanya yang tajam menatapku.
"Terserah ah. Saya kesana dulu ya, nanti kita ketemunya disini lagi aja ya." Aku pun melepas tangannya dari lenganku, lalu melangkah ketempat yang kumau. Nyebelin kan bos aku?
"Cie cie, yang habis di kekep sama si bos." Kak Bertha meledekku saat aku melewatinya. Tidak jauh ada Mas Kelana dan Mbak Wiwit yang juga mentertawakanku, mereka kemudian mendekat.
"Kayaknya gue harus di ruqyah nih. Posesif amat yak sama gue. Sherin yang sudah nawarin diri dicuekin gitu. Sakit yang tidak berdarah ini," ucapku yang akhirnya memilih untuk bercengkrama sama mereka dibandingkan ngambil makanan.
Saat masih ngobrol gitu, Mas Malik datang menghampiri kami. "Katanya mau ambil makan, kok malah ngobrol dulu. Nih, untuk kamu," Mas Malik memberikan dimsum ke aku.
"Saya suruh kumpul bareng divisinya. Anak jaman sekarang, nekat-nekat ya?" kata Mas Malik.
Selesai makan dimsum tiga biji, cukup membuat seret. "Saya ambil minum dulu ya." Aku bicara sambil jalan. Tapi aku hampir terjatuh karena kesandung sesuatu di karpet.
"Rachel! Watch your step!" Mas Malik reflek memegang tubuhku yang oleng siap terjatuh.
"Thanks Mas," ucapku, sedikit kaget.
"Sudah kamu diam disini saja, sama Bertha dan Kelana. Biar saya yang ambilkan minum." Mas Malik bicara tanpa bisa dibantah dan langsung jalan.
"Kan, apa gue bilang. Dia suka sama elo. Laki enggak bakalan segitu care-nya sama cewek kalau dia enggak naksir Chel," kata Mas Kelana.
"Udah ah Mas, jangan ngomongin soal itu. Males gue. Emosi tingkat tinggi nih, ngeselin dia," kataku dengan mata yang melihat sekeliling. Meskipun para tamu undangan terlihat banyak, tetapi makanan tetap terjaga, tidak ada yang dibiarkan kosong.
"Ssttt jangan gitu ah Chel," timpal Kak Bertha.
"Nih Chel, minumnya." Mas Malik datang dengan dua gelas ditangannya.
__ADS_1
"Makasih lagi Mas." Aku tersenyum sambil mengambil gelas yang disodorinya. Aku harus senyum, karena dia bela-belain ngambilin air. Apapun itu motivasinya.
Kami berdiri dalam diam. Mataku menatap ke satu sudut. Lalu aku bicara, "Hei, cewek itu pelakor!"
"Rachel, jangan asal ngomong!" Mas Malik bicara dengan penekanan intonasi suaranya.
"Tahu dari mana loh, kalau dia perebut laki orang?" tanya Kak Bertha penasaran.
"Bukan, bukan perebut laki orang. Dia perebut lauk orang. Itu lauk yang di piringnya dia itu, tadi ngambil punya bapak itu," kataku sambil nunjuk ke orang yang sedang aku bicarain.
"Yeey Zubaidah! Iseng aja bikin singkatan baru," kata Mas Kelana keki. Tapi Mbak Wiwit, Kak Bertha, dan Mas Malik ketawa cekikikan.
"Ya udah ah, gue pulang duluan ya. Males antri valet-nya gue, kalau nanti-nanti baliknya. Pasti bakalan ramai," kataku beralasan.
"Lagian, biasa kemana-mana naik taksi, belagu nyetir sendiri," ucap Mas Kelana.
"Biar kayak tante-tante sosialita gue. Pake kebaya terus berkacamata hitam. Jangan lupa, saat keluar mobil bergaya dan pas jalan juga ada aturannya. Kayak gini nih." Aku pun langsung mengeluarkan kacamata hitamku dari tas dan memakainya, kemudian memperagakan jalan dengan gaya sombong dan mulut agak berkerut.
"Ancur loh Chel." Mas Kelana ngomong sambil terpingkal-pingkal. Begitupun dengan istrinya.
Mas Malik ikutan tertawa juga. Tapi dia sepertinya lagi senang geleng-geleng kepala. Sekarang pun tertawa sambil geleng-geleng kepala.
"Pantat sosialita emang geal geol kayak gitu?" Kak Bertha bertanya sambil tertawa tapi mulutnya ditutup dengan tangannya.
"Iya Kak. Gue waktu itu lihat pas sosialita ngumpul di Hotel Mulia. Haduuh enggak tahan gue mau nyontoh gayanya. Sekarang baru terwujud."
"Ya udah ah, gue cabut sekarang. Eh Mas Malik, jadi mau nyari daun muda di mol sebelah enggak? Kalau mau bareng, hayuk!"
"Jadi dong." jawabnya.
"Semuanya, sampai besok ya. Gue nganter Om-om berbaju batik nyari daun muda dulu ya. Byee." Aku pun berjalan menuju pintu keluar. Selintas aku mendengar Mas Malik pamit dan kemudian mengikutiku.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung