Bos Ajaib

Bos Ajaib
49. Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

"Tapi Mas...," ucapanku tidak bisa selesai karena tubuhku seakan tidak bertulang.


"Kok muka kamu merah gitu? Kamu belum pernah di tembak cowok ya?" tanyanya dengan muka jail. Sebel deh!


"Yeeey. Udah pernah. Cuma tadi Mas Malik ngajak saya nikah kan?"


"Iya. Mau kan, nikah sama saya?"


"Mas, saya sih suka sama Mas Malik, tapi..." Belum selesai omonganku langsung dipotong.


"Nah, ya sudah, kita tetapkan saja hari ini sebagai hari jadian kita. Kita tentukan kapan kita lamaran dan waktu menikah ya."


"Maaaaas," teriakku pelan dan kutahan.


"Apa lagi?" jawabnya santai dengan senyum gantengnya.


"Saya enggak suka sama Mas Malik."


"Loh, tadi katanya suka? Ya kalimat yang awal yang saya pegang ah."


"Iiih... Saya belum selesai ngomong Mas," ucapku dengan gemas sambil mencoba menarik tanganku dari genggamannya. Tapi... seperti biasa, enggak bisa aku lepas.


"Ya sudah selesaikan deh omongannya. Tapi jemari kamu tetap saya genggam ya," pintanya dengan nada lembut. Oh my god! Cinta mana cinta? Sepertinya aku sudah menemukanmu, cintaku. Senyumannya dan nada lembutnya menambah bumbu cinta dihatiku. Aaaahhhh tidaaaaaak.


"Saya enggak suka sama Mas Malik, habisnya kalau ngomong suka nyakitin hati saya. Suka bikin saya kesal, bikin saya emosi, pokoknya nyebelin deh," kataku mengungkapkan unek-unek yang selama ini aku pendam. Oh my god, tapi kali ini aku merasakan getaran didadaku. Guys, rasa yang aku rasain sekarang ini sudah lama banget enggak singgah di dadaku loh.


"Sampai kamu ngambek ya? Saya sampai ditegur sama Mas Ricky loh."


"Hah? Saya enggak ngambek kok." Memang aku enggak ngambek, aku cuma kesal dan capek aja berhadapan sama si bos ini.


"Terus apa dong?" tanya Mas Malik dengan muka senyam senyum yang seperti ngejek.


"Ya memang enggak ngambek kok. Rugi tau Mas, kalau saya ngambek sama Mas Malik." Aku berkata dengan nada kesal.


"Mau ya, kamu nikah sama saya?" Balik lagi kepermintaan awal. Aku enggak bisa menjawab permintaannya saat ini, aku hanya menunduk. Aku bingung.


"Juleha, saya suka sama kamu. Saya sering kangen sama kamu. Saya cemburu kalau kamu dekat dengan Jaka." Mas Malik berkata seperti itu sambil pindah tempat duduk ke sampingku.


"Mas! Ngapain sih duduk mepet - mepet kayak gini!" Dia bukannya duduk di tempat duduknya Reyka tadi, malah duduk mepet ke aku. Kan sempit, jadinya aku geser ketempat duduk Reyka tadi.


Omelanku tidak dijawabnya. Dia masih genggam tangan aku, cuma dia ganti tangan. Iiiih... Dah kayak apaan aja, duduk tapi pegangan tangan, bukan Rachel banget.


"Jawab dong. Mau ya?"

__ADS_1


"Kenapa maksa sih? Saya mau pulang sekarang, Mas."


"Jawab dulu dong, habis itu kita pulang. Atau kalau mau beli cincin dulu juga boleh. Eh tapi disini ada toko perhiasan gak sih? Perasaan saya kok belum pernah lihat ya? Yang saya tahu di mol sebelah."


"Enggak tahu, enggak perhatiin juga. Yuk pulang. Besok pagi saya mau pergi ke Bogor sama dua mahluk tadi."


"Kamu kenapa jadi banyak nunduk gini sih Ha? Saya kan enggak bisa lihat muka kamu."


"Nama saya Rachel, bukan Juleha!"


"Itukan panggilan sayang dari saya."


"Saya enggak suka sama Mas Malik! Titik."


"Untuk jadi istri enggak perlu suka seratus persen ke suaminya. Karena hubungan suami istri itu saling melengkapi."


"Apaan sih, enggak nyambung gitu sih?"


"Besok saya ikut ke Bogor ya?"


"Tanya sama Reyka, dia yang punya acara."


"Diwakili ke Mbaknya aja gak papa deh. Ya? Besok pagi saya kerumah kamu. Jam 6 ya saya ke rumah kamu?"


"Kan saya sudah bilang, jawab dulu."


Saudara-saudara dan handaitaulan sekalian. Aku bingung. Aku emang suka sama Mas Malik, tapi masa di jawabnya langsung. Dulu-dulu, aku kalau ditembak cowok tuh jawabnya beberapa hari kemudian. Emang sih, jadi enggak bisa tidur. Kan sebagai cewek kita harus jual mahal ya? Haduuuh, mana ini telapak tangan sekarang keringetan. Fuuiiih. Somebody, please help me...


"Mas, saya enggak bisa jawab sekarang."


"Kenapa? Kita diskusikan deh. Mau diskusi di rumah kamu? Nanti papa kamu malah nyuruh kita cepat-cepat nikah loh. Kamu mau?"


"Enggak mau! Pokoknya saya enggak bisa jawab sekarang! Titik." Aku bicara sambil berusaha untuk berdiri, habis kalau diam terus enggak akan pulang ini sih.


Aku berhasil berdiri dan jalan menuju pintu keluar yang sekaligus merangkap kasir. Tapi tangan Mas Malik selalu ada di pundak aku.


Bapak Ibu sekalian, kalian tahu gak? Eh enggak tahu ya, kan aku belum bilang. Aku tuh masih lemes loh. Cowok disamping aku ini emang jago ngaduk-ngaduk perasaanku.


"Mana kartu kamu? Biar saya yang bayar," ucap Mas Malik sambil meminta kartu yang dipakai di resto ini. Jadi saat kita masuk akan dikasih kartu, dan setiap kita membeli makanan atau minuman berfungsi sebagai alat bayar yang akan ditagih saat kita keluar.


Setelah keluar dari Marche, Mas Malik ngajak aku ke supermarket di bawah.


"Beli cemilan dulu ya, buat besok di jalan sama buat stok Mas di apartemen."

__ADS_1


What? Dia sudah membahasakan dirinya dengan 'Mas' bukan dengan 'saya' lagi. Aku tidak menjawabnya, aku cuma diam dan mengikuti langkahnya sesuai tangannya yang masih setia di pundak aku.


"Hey, kamu kenapa diam aja? Sudah mau jadi Rachel ya? Sudah bosan jadi Juleha ya?" Doi nanya tapi jarinya sambil iseng cubit - cubit di pipi aku.


"Mas jangan iseng kenapa sih? Nanti ada orang kantor yang lihat! Sudah tangannya jangan disini!" Aku bicara sambil berusaha menjauhkan tangannya dari pundak aku.


"Kan Mas enggak mau jauh dari kamu."


"Bodo amat!" Ucapku dengan nada kesal. Apa ini yang dibilang Mas Ricky waktu itu. Kalau Mas Malik jaga image karena dia bos? Sekarang sifat isengnya mulai dia perlihatkan ke aku.


"Jangan marah-marah dong. Yuk kita belanja dulu." Mas Malik bicara sambil melepas rangkulannya dan kemudian mengambil troli.


Kami pun belanja dengan normal, tanpa ada keisengan dari si bos. Tidak pakai lama, setengah jam kemudian kami sudah berada dikasir dan Mas Malik membayar semuanya.


Tangannya tidak lagi merangkulku karena kedua tangannya membawa belanjaan. Aku berjalan disampingnya.


"Mas, kalau jalan seperti ini kayak nyonya sama supirnya ya? Saya jalan lenggang, supirnya sibuk bawa belanjaan nyonyanya." Aku bicara sambil menatap muka Mas Malik dengan senyum puas.


"Kamu mau pakai kacamata hitam enggak? Biar sekalian seperti sosialita. Kalau enggak bawa, Mas pinjamin nih."


"Yeey. Itu malah kayak cewek stres. Malam-malam pakai kacamata hitam. Di dalam ruangan pula." Kami pun tertawa bersama.


Saat ini kami sudah dalam perjalanan pulang.


Saat kami sudah masuk mobil, Mas Malik bicara, "Ayo kita coba dulu jalanin Chel. Mas tahu kamu juga ngerasain hal yang sama."


"Sejak kapan Mas Malik sepede ini?" sahutku agak sinis. Sebenarnya aku gugup setengah mati. Ya ampun, dia ini kan bos aku. Mas Malik hanya menyunggingkan senyum.


"Semua akan lebih mudah kalau kamu share apa yang sekarang sedang berputar-putar di kepala kamu," ungkap Mas Malik dengan lebih lembut sambil nyetir.


Dengar ucapannya, ingin rasanya aku snorkeling di kali Ciliwung... Bodo amat deh tuh kali butek en dekil.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2