Bos Ajaib

Bos Ajaib
39. Ke Rumah Mas Kelana


__ADS_3

Kanaya, putri Mas Kelana benar-benar lagi lucu -lucunya, dia sudah bisa berjalan meskipun masih tertatih-tatih lalu terkadang jatuh, iih pokoknya Kanaya tuh minta dibawa pulang banget. Kedua pipinya tembam, bola matanya hitam pekat dan terlihat berkilau, selain itu yang sangat aku sukai, dia murah senyum dan tidak cengeng.


Mas Kelana bergabung dengan kami, sementara mbak Wiwit sedang bercengkerama dengan beberapa kerabat dekat mereka. Indra yang notabenenya pencinta anak kecil sibuk mengajak Kanaya berbicara walaupun tentu saja tanggapan dari Kanaya tidak dimengerti.


"Mas, sumpah, ya. Anak lo lucu banget. Lama enggak ketemu, tambah cantik," ucap Indra sambil mengusap-usap pelan pipi si kecil.


"Siapa dulu dong orangtuanya," balas Mas Kelana bangga. "Gue juga kalau punya anak gemesin gini pasti bawaannya pengin pulang ke rumah terus," sambung Indra, lalu memasukkan sesuap asinan ke mulut.


Mas Kelana menepuk bahu Indra. "Ya sudah, rajin bikin dulu aja." Indra hanya senyam senyum. Anyway, Indra sejak nikah seneng senyum senyum gitu. Emang gitu ya, cowok yang baru nikah?


"Nah, Rachel juga sudah pantas nih. Gimana perkembangan perjodohan antara ibu kalian itu? Belum up date lagi loh ya?" Mas Kelana malah ngorek Info soal Jaka di depan umum.


"Enggak ada perkembangan. Biasa aja." Aku malas menjawab, karena tidak semua orang tahu kisah lengkapnya. Apalagi ada si bos.


"Kalau elo gimana, Mas?" Pertanyaan Mas Kelana ditujukan pada Tuan Muda. "Nggak tertarik sama sekali dengan Rachel?"


Ya Tuhan, yang aku takutkan terjadi. Ketika kalimat itu meluncur dari mulut Mas Kelana. Mas Kelana minta ditendang ke langit ketujuh kayaknya nih? Untuk apa dia menanyakan hal setidak penting itu pada si bos?! Bisa tambah parah dia gangguin aku. Begini amat nasib Juleha. Eh!


Mas Malik langsung menatapku sejenak. Aku balas menatapnya dengan pandangan bertanya. Apa coba maksudnya, tatap - tatapan kayak gini di depan umum? Kan malu.


Kalau di sinetron televisi tanah air tumpah darahku bakal ada zoom in - zoom out ke muka aku dan Mas Malik nih.


Si bos hanya menggeleng-gelengkan kepala, lalu permisi ke toilet.


Begitu Mas Malik menghilang dari jangkauan, Indra komentar. "Gue yakin seyakin yakinnya si bos pengin jawab enggak. Tapi dia kasihan sama anak buahnya yang sering dinyinyirin apalagi masih bingung soal perjodohan."


"Bibir loh tu ya Ndra." Aku membiarkan Kanaya mulai berjalan ke arah ayahnya. Selanjutnya akupun mencubit dan memukul Indra dengan serangan bertubi -tubi. Selagi enggak ada Yaya.


Tuhan, alam, kosmik, tolong bersatulah di pihakku.


Sherin tertawa terpingkal-pingkal hingga matanya berair. Setelah aku merasa puas karena lengan kiri Indra yang sudah berubah warna menjadi merah aku tersenyum senang.


"Kenapa sih selalu ngomongin pasangan ke gue. Kan gue masih belum tertarik," ucapku.


Mas Kelana memberikan segelas minuman soda ke aku dengan senyum manis penuh arti. "Minum dulu, Chel. Elo pasti capek abis nyiksa Indra."


Aku langsung meneguk soda dingin pemberiannya. Segaaar, benar-benar nikmat. Tapi ketika aku melihat wajah Kak Bertha terlihat pucat saat mengangkat telepon yang sepertinya dari Bang Erik, suaminya. Dia menatapku dengan raut wajah bingung.

__ADS_1


"Kenapa?" tanyaku ingin tahu sekaligus khawatir.


"Chel, gue harus ke Cirebon sekarang. Neneknya Erik masuk rumah sakit. Sorry ya, gue nggak bisa ngantar lo pulang," jelasnya.


"Enggak papa, Kak. Gue gampanglah entar bisa naik taksi. Berangkat sekarang aja Kak, selagi belum terlalu macet," ucapku kemudian. Walaupun tentu saja aku belum tentu naik taksi untuk pulang ke rumah.


Kak Bertha bangkit dari tempat duduknya. "Mas, gue balik duluan, ya?"


Mas Kelana mengangguk. "Hati-hati di jalan. Semoga neneknya Erik baik-baik aja. Salam dari kita semua."


"Mas Malik, saya balik duluan ya." Dia pamit pada Mas Malik yang baru saja kembali dari toilet.


"Ndra, gue balik bareng elo ya," ucapku ketika Kak Bertha sudah pergi tadi diantar Mas Kelana ke depan. Aku membujuk Indra dengan lembut.


"Naik motor nggak papa? Mampir ke Mie Tarik dulu ya. Yaya mau makan mie dia, tapi minta gue yang beliin. Bareng Sherin aja kalau enggak. Gimana?"


Aku tidak mungkin meminta Sherin mengantarku hingga ke rumah karena jarak rumah Sherin dan rumah baru Mas Kelana dekat banget, paling sekitar tujuh kilometer.


"Rachel bareng Mas Malik saja," Mas Kelana lalu menoleh pada si bos. "Mas, elo habis ini ada acara enggak? Kalau kosong Rachel pulang sama elo aja. Keberatan enggak?"


"Gue booking taksi.. " Kalimat aku belum selesai.


"Ya sudah. Mau balik kapan? Kita balik sekarang aja gimana?" Mas Malik menatapku datar.


Aku hanya menatapnya dan enggak menjawab. Bingung aku tuh. Dia kan lagi enggak asyik. Ekspresinya juga enggak jelas.


"Gue cabut sekarang aja ya Lan."


"Nggak papa Mas. Elo dateng sudah dari pagi. Makasih banyak ya Mas sudah datang."


Si unyil Sherin malah berbisik ke kupingku. "Mbak, sekalian cari-cari info soal pacarnya Mas Malik, ya. Dari sini ke rumah Mbak kan jauh tuh. Saya masih penasaran Mbak, habis setiap hari di korek, enggak pernah kasih tahu statusnya. Kemarin juga kan enggak jawab Mbak.


Sherin, sempat-sempatnya meminta sesuatu yang enggak bakal aku lakukan. Ye kali, kan selama ini cewek yang digosipin si GI sebenarnya aku.


Kamipun berpamitan.


"Kalau mau tidur, tidur saja. Gak masalah kok." Mas Malik memecah keheningan di mobil ketika mobil sudah berjalan sekitar dua kilometer.

__ADS_1


"Saya enggak ngantuk kok Mas."


"Lah terus tumben diam. Ada apa?"


"Enggak ada apa - apa. Kan dari tadi juga Mas Malik diam."


"Ooh. Ya kamu nyalain radionya saja, kayak dimobil siapa aja."


Diih, kemarenkan abis nyinyir pake banget, ya aku enggak berani lah. Enggak tahu aja nih cowok, kalau aku kadang suka segan sama dia. Nah sekarang aku lagi sedikit segan, pokoknya lagi enggak nyaman deh.


"Oh ya, untuk outing kamu jadi bagian apa?" Padahal pertanyaan sebelumnya belum aku jawab, sudah kasih pertanyaan lain. Eh apa emang enggak perlu dijawab ya?


"Enggak dilibatin yang sekarang. Astrid enggak ngasih, katanya baru sembuh, jangan capek."


"Hhmm saya setuju dengan Astrid. Biar kamu disana bisa santai."


"Mau santai, kalau bosen sama lokasinya juga sama juga bohong, Mas."


"Kamu bosen dengan kedua kota itu?"


"Iya. Dari kecil pergi kesana terus, sekarang outing kesana lagi. Paling yang baru apaan sih? Cuma beberapa lokasi aja."


"Oke, nanti saya tanya Mas Ricky kepastian lokasinya." Mas Malik menjawab sambil mengangguk - nganggukan kepalanya. Tumben, biasanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2