
"Jadi nanti elo mau jemput gue? Jangan malam-malam ya. Sip deh. Gue tunggu ya Jak." Aku menutup telepon dari Jaka. Jaka meneleponku ketika aku dan Kak Bertha sedang ngobrol di ruang santai.
Awalnya kami sedang berbicara tentang keindahan Raja Ampat. Ketika di tengah-tengah pembicaraan, Jaka menelepon kalau dia ingin ketemu. Katanya sih dia ingin minta bantuan.
"Intermezo dulu deh, Chel. Jadi elo sama Jaka gimana?" tanya Kak Bertha. Tapi disaat Kak Bertha menyebut nama Jaka, Mas Malik pas masuk ruang santai.
"Jaka? Kamu jadian sama dia?" Mas Malik langsung menanyakannya padaku tanpa kalimat pembuka dengan muka penasarannya.
Aku hanya tersenyum saja, tidak mengiyakan ataupun membantah. Mister kepo datang, repot dech!
"Kok cuma mesam mesem doang sih Chel?" tanyanya lagi, karena aku tidak menjawab pertanyaannya.
"Itu rahasia anak muda Mas. Orang tua dilarang kepo," jawabku.
"Hhmmm saya tua ya menurut kamu?" Nyebelinnya mulai deh si Tuan Muda ini.
"Eh enggak tahu deh. Pokoknya saya punya pacar atau enggak, Mas Malik enggak boleh tahu. Titik." Aku bicara dengan nada tegas. Siapa dia? Iseng aja nanya-nanya.
"Btw, ada apa Lik? Main duduk di sofa lagi," Kak Bertha yang merasa terganggu karena percakapan kami otomatis terhenti.
"Ada yang mau gue tanyain ke Rachel," jawabnya sambil menunjuk aku dengan dagunya.
"Apaan Mas?" tanyaku santai. Haiyah, pokoknya dah kayak di pantai deh kalau dah di ruang santai.
"Kamu belum laporan hasil browsing. Mau makan gaji buta?" tanyanya dengan tenang tapi tatapan matanya menusuk.
"Yaaa Mas, saya juga belum tahu. Ini juga bingung. Kemarin kayaknya ngiri banget ngeliat Kak Bertha liburan di Raja Ampat. Nah sekarang saja masih mikir, antara pantai, gunung, atau hutan." Aku menjelaskan kebingunganku, yang sampai hari-hari terakhir menjelang waktu cuti belum dapat tempat yang aku inginkan.
"Lah, tapi cuti kamu sudah disetujui sama pihak HRD," katanya mengingatkan.
"Iya Mas. Nanti paling saya mentok-mentok terdampar di pulau kapuk. Eh sekarang sudah ganti, di pulau latex," ujarku sambil ketawa.
"Kalau akhirnya elo terdampar gitu, berkabar ya. Gue kasih tugas, ngurus anak gue aja deh loh," kata Kak Bertha yang langsung menimpali.
"Ya kamu carilah tempat menepi yang enak. Enggak perlu jauh, tapi membuat kamu tenang." Mas Malik memberikan nasehatnya kepadaku.
Xixixixixi si bos enggak tahu aja, kalau ketenanganku diantaranya adalah tidak kena nyinyiran dia atau dekat-dekat dengan dia yang terkadang ada bom molotov keluar dari mulutnya, sampai hatiku sedih dan sakit.
"Iya Mas. Nanti saya ceki-ceki lagi," kataku sambil memberikannya dua jempol.
__ADS_1
Tidak lama setelah berbasa-basi dengan Kak Bertha, si bos pamit dari ruang santai. Kami pun kembali saling cerita. Biasalah, woman talk.
Sorenya, seperti yang dijanjikan Jaka, dia pun menjemputku di kantor. Entah ada angin apa, dia mengajakku makan di luar. Dia hanya bilang, ingin ngobrol-ngobrol.
Sstt, demi dewa dewi dari khayangan, interaksiku di parkiran kantor ternyata sedang diamati oleh Mas Malik. Hihihihi dia pastinya menyangka kalau kami sekarang jadian atau sedang PDKT.
Kami memutuskan untuk makan di kawasan Menteng. Aku lagi mau menikmati jajanan kaki lima, dan Jaka memilihkan tempat di sini karena untuk parkir mobil lebih nyaman dibandingkan di jalan Sabang. Karena dia yang nyetir, eh yang punya mobil malah, aku menyetujuinya. Toh, dia sudah setuju dengan makan di pinggir jalan.
"Jak, elo kemana aja, baru berkabar sekarang? Langsung ngajak makan lagi. Kesannya gue enggak mau ketemu elo kalau enggak di traktir." kataku yang langsung nyerocos ketika mobil sudah meluncur ketempat yang sudah kita sepakati.
"Ooh enggak kok. Gue baru pulang dari Eropa, ada penugasan dari kantor. Baru balik kemarin."
"Waah, masih jetlag dong loh?" kataku.
"Hehehe dikit sih. Tapi pas disana sih yang benar-benar jetlag. Gue enggak lama, belum kelar adaptasi dah harus pulang," ujarnya sambil tertawa.
"Eh, ngomong-ngomong, gue kan belum tahu bidang pekerjaan elo apa Jak. Elo enggak merahasiakannya ke gue kan?" tanyaku penasaran.
"Hahahaha ya enggak sih. Cuma memang kita belum sempat cerita macam-macam sih ya. Kemarin kamu lebih fokus untuk menolak perjodohan kita." Jaka mengatakannya dengan ringan tanpa beban.
"Sorry ya. Nyokap emang ngagetin dengan rencana itu. Sampai saat ini gue juga belum kepikiran untuk menjalin hubungan dengan siapa pun."
"Oh ya? Kok bisa?" Jaka bertanya dengan ekspresi wajah yang sedikit terkejut.
"Ooh.. I see." Dia pun melanjutkan percakapannya, "Gue scientist.
Selanjutnya perjalanan kami tanpa komunikasi, hanya mendengarkan suara lagu Anneth, yang berjudul Mungkin Hari Ini, Esok atau Nanti, yang diputar di radio.
Namun saat lagu belum selesai, Jaka sudah memarkirkan mobilnya. Saat sudah di tempat jajanan kaki lima yang sudah diatur dengan rapi ini, kami memutuskan menu makanan yang sama, somay dan teh botol. Aah makanan nikmat yang merakyat.
"Kamu apa kabarnya Chel?" tanya Jaka saat kami sedang menunggu menunya diantar.
"Baik. Minggu depan gue mau cuti." Aku memberikan informasi, biar kalau minggu depan Jaka enggak iseng ngajak ketemuan.
"Ooh. Rencananya mau ngapain?" tanyanya.
"Hahahaha belum tahu. Sampai sekarang belum nemuin tempat yang pas untuk refreshing."
"Lah, kok bisa. Lucu juga ya loh. Biasanya cewek sudah nentuin mau ngapain, sama siapa saja perginya, baru ngajuin cuti." Jaka terlihat sedikit kaget.
__ADS_1
Saat aku ingin menjawab, pelayan datang membawakan pesanan kami. Kami pun sibuk dengan somay yang lezat ini.
Sambil makan, aku pun melanjutkan ceritaku. "Niat cuti, karena minggu lalu teman gue cuti, dan kok kayaknya asyik. Dia liburan sama keluarganya ke Raja Ampat. Gue sih maunya juga sekitar sini aja, ngoboy."
"Hhmmm.. Elo itu iseng banget sih. Terus perginya sendiri?" tanya Jaka yang kujawab dengan anggukan, karena aku sedang mengunyah pare.
"Ada ide?" tanyaku ketika aku sudah menelan pare dan meminum teh botol.
"Elo ikutan travel saja. Enggak pakai mikir. Tinggal pilih kotanya saja deh."
"Kalau gitu, monoton enggak sih?" tanyaku.
"Enggak lah. Mendingan dicoba dulu deh Chel sekali, sekalian menjawab pertanyaan elo. Kalau pakai travel elo juga dapat teman jalan. Jadi enggak cengok sendirian." Sepertinya pendapat Jaka merupakan ide yang brilliant.
"Gue besok browsing travel agent deh. Thanks a lot ya Jak, atas idenya." Aku pun tersenyum menatap wajah manisnya. Yuuhuuu!
"Sama-sama Chel. Eh Chel, elo mau enggak sekali-sekali main ke rumah? Ibu gue enggak percaya kita sudah ketemu. Dibilang bohong lah, terus katanya nyokap elo belum pernah ketemu gue lah, aduuh macem-macem deh. Ngerti kan loh pikiran emak-emak kita?"
"Hahahahaha... Tahu kok gue, tahu banget Jak. Gini deh Jak, kita foto berdua satu frame beberapa gaya. Biar buat mereka relaks dulu." Ini merupakan pilihan daripada aku basa basi ke ibunya Jaka, yang kemudian orang tua kita sibuk lagi minta yang lebih, alias mikir kalau kita cocok, terus neror kita buat nikah. Bisa berabe judulnya.
"Elo enggak masalah kita foto berdua?" tanya Jaka.
"Daripada kita ribet sama dua nyokap yang nantinya malah mikir macem-macem Jak," kataku.
"Ya sudah, yuk sekarang kita foto. Gue gaya norak ya, biar ibu elo illfeel sama gue," kataku lagi asal nyeplos. Eh tapi emang maksudnya gitu sih. Biar perjodohan tidak berlanjut.
"Apapun gaya elo gue enggak masalah. Yang penting terbebas dari kehebohan nyokap," ucap Jaka dengan harapannya. Kami pun langsung bergaya di depan ponsel Jaka.
Melihat foto yang sudah diabadikan di ponsel Jaka, memperlihatkan keakraban kami. Enggak seperti baru dua kali ketemu. Kami seperti sahabat yang konyol. Eeh, ternyata Jaka bisa konyol loh. Ada ya, ilmuwan seperti itu?
Jadi salah satu contohnya, ketika aku menampilkan ekspresi mulut monyong sambil melirik ke Jaka, eh si Jaka malah berekspresi senyum manis, mata melirik ke aku, terus tangannya membentuk pistol ke kepala aku. Pokoknya macem-macem deh. Sampai akhirnya kita ketawa terbahak bahak melihat kelakuan kita.
Tapi di foto ini, enggak ada foto romantis sama sekali.
Laah romantis. Mau loh apa sih Chel?
***
...jejak mana jejak? ...
__ADS_1
...mau dooong ditinggalin jejak✌...
...clingak - clinguk...