Bos Ajaib

Bos Ajaib
65. Pasar Cikini


__ADS_3

Akhirnya... Aku ke pasar Cikini lagi setelah sudah lama nggak kesini. Sudah banyak berubah pasar ini, yang sama cuma masih banyak yang jual emas. Hahahaha.


Tampang Mas Malik terlihat kagum melihat suasana pasar. "Kenapa Mas tampangnya gitu? Jangan niat mau nyolong ya. Targetnya banyak banget nih, nanti bingung."


"Kamu bantu Mas ya. Takut bingung milihnya ini. Eh, jangan bilang - bilang Becky kita belanja disini, nanti dia penasaran, minta dianter lagi."


"Hahahaha dasar kakak pemalas. Eh tapi Mas sebagai atasan, terlalu rajin sih. Rajin nyinyir maksudnya."


"Terus aja Dek. Kamu gangguin Mas, nanti di kecup nih!"


"Hahahaha emang berani? Berani kena tendangan? Awas aja kalau berani." Ancamku. Tapi kalau Mas Malik beneran niat bisa kacau. Badan dia sama aku bedanya jauh, kedua tangan aku dipegang dia juga, aku sudah susah berkutik. Aah semoga hanya bercanda.


"Masa Mas ditendang sih Dek? Disayang dong. Eh kita ke toko yang itu yuk," Mas Malik menunjuk dengan dagu dan matanya. Jangan nanya bagaimana nunjuknya ya, susah jelasinnya. Pokoknya gitu deh nunjuknya.


Ternyata, mata pacarku sangat sensitif dengan desain yang keren. Toko emas yang ditunjuk ternyata desainnya bagus - bagus.


"Uda, saya mau lihat cincin yang ini, yang ini, yang ini," Mas Malik bicara dengan pedagangnya sambil menunjuk etalase.


"Ukurannya, jarinya Uni?" Si Uda bertanya ke Mas Malik sambil menunjuk ke aku. Dia menyebut aku dengan panggilan Uni.


"Iya Da. Terus ada yang satu set nggak Da?"


"Buat siapa Mas?" Biasaaaa aku kepo dong. Kok jadi belanja emas ya?


"Tadi Mama dokter nyuruh beli," jawab Mas Malik menyebut Mamanya.


"Terus kalau itu bukan selera Mama bagaimana?"


"Biarin aja lah. Kamu yang pilih aja ya? Mas nggak ngerti Dek."


"Tapi Rachel takut bukan selera Mama, Mas."


"Jangan dipikirin soal selera Mama, Dek. Yang penting dia minta Mas beli, dan Mas beliin deh. Beres."


"Mama suka yang simple apa yang banyak ornamennya Mas?"


"Kalau kamu, sukanya yang mana? Dek, kamu pilih juga ya? Terserah kamu mau yang mana." Pinta Mas Malik.


Tuh kan, dia kayak belanja di supermarket, padahal yang dibelanjai emas.


"Mas, nanti kita lihat tempat lain juga ya." Aku berkata sambil berbisik, biar Mas Malik nggak kalap disatu tempat. Takut nantinya menyesal.


"Oh iya ya. Ya sudah, disini pilih yang buat Becky dulu. Yang permintaannya Mama menurut kamu disini ada yang oke nggak Dek? Kalau nggak ada kita cari tempat lain."


"Kita lihat tempat lain dulu. Disini beli yang untuk Becky saja ya?"

__ADS_1


"Oke. Kamu mau beli gelang kaki? Biar bisa ganti - ganti sama yang kamu pakai."


"Nggak ah Mas. Biar Rachel pakai ini saja."


"Kalau Mas beliin mau dipakai ya?" tanya Mas Malik dengan hati - hati.


"Maaaas. Hari ini sudah beliin motor, masa beliin perhiasan juga sih? Nanti saja, kalau sudah nikah." Asli, aku nggak enak masa dibelanjain terus. Lagi pula itu bukan kebutuhan pokok.


"Hhmmm... Terserah kamu deh. Nanti kalau Mama dokter marah, kamu yang tanggung jawab ya. Pokoknya Mas sudah nawarin." Mas Malik bicara seperti ngambek gitu, tapi nggak pantes guys.


"Iyaaa. Rachel tanggung jawab."


Akhirnya setelah mencoba tiga cincin, Mas Malik membeli dua buah cincin yang tadi aku coba.


Kemudian kita pindah ke toko lainnya sampai aku merasa cocok dengan pilihan set perhiasan yang Mas Malik inginkan yang katanya pesanan Mamanya.


Saat kita sudah jalan mau pulang, tahu - tahu Mas Malik bicara, "Dek, kita pesan sekalian yuk cincin untuk kita nikah nanti. Mau ya, biar sekalian."


"Hah? Nggak kecepetan Mas? Emang boleh?"


"Pesan aja dulu, nggak usah ada ukiran di dalamnya. Yuk kita ke toko yang disana." Dia bicara sambil menarik tanganku. Kalian tahu kan, Mas Malik tipe yang tidak bisa ditolak kalau punya kemauan. Aku mah pasrah saja.


Cukup setengah jam, akhirnya kami sudah menemukan cincin nikah yang kami inginkan. Jangan nanya ya, kapan nikahnya. Masih bingung aku tuh.


"Dek, kamu senangnya ngajak orang ke pasar ya? Dulu teman Malaysia kamu, kamu ajak ke Tanah Abang, sekarang, Mas kamu ajak ke Pasar Cikini. Padahal semuanya ada di mol kan?"


"Heemm gitu ya? Eh kamu lapar nggak? Kita makan yuk! Kamu mau makan mie ayam Gondangdia gak? Mas sudah lama banget nggak makan kesana. Mau ya?" tanya Mas Malik saat kami berjalan menuju ke mobil.


"Boleh Mas. Rachel juga lagi mau makan mie ayam, tapi yang ayamnya banyak."


"Yaaah, kamu sih gitu. Makan mie kuah deh, tapi dapat bonus sedikit ayam. Gimana?"


"Yeee apa enaknya mie kuah Mas?" tanyaku saat sudah duduk di mobil.


"Ya udah, kita beli mie ayam di bungkus. Terus kita ke pasar, ke bagian penjual ayam. Kita makan disana, kan ayamnya banyak, malah ada penjualnya lagi." Mas Malik bicara sambil memainkan alis.


"Iiih iseng. Ya sudah yuk! Mie ayam Gondangdia."


"Yang mulai iseng siapa?"


"Entahlah. Sebaiknya tanyakan saja sama Mamah Dedeh," jawabku. Monmaap, jangan salahkan aku ya. Aku anak baik.


"Hadduuuh gimana nggak kangen sama kamu, kalau kamu suka begini sih Dek!"


"Iih, Masnya aja yang lebay. Biasa aja harusnya."

__ADS_1


"Tapi kamu suka kangen kan sama Mas?" tanyanya dengan nada meledek.


"Udah ah Mas. Cepat cari parkirnya. Laper nih."


"Iih.. ada yang malu bilang kangen sama Mas nya."


"Bisa nggak, gak usah gangguin gitu?" Malu aku tuh.


Saat sedang parkir, ponselku berbunyi. Ternyata telepon dari Jaka.


"Halo Jak. Gimana, sudah?"


("Sudah Chel. Alhamdulillah, lancar. Makasih ya Chel.")


"Waaah, gue ikut bahagia Jak. Selamat ya. Seneng gue dengernya. Kita sudah aman ya sekarang? Eeh tapi gimana nyokap elo?"


("Ooh gue belum cerita ya sama elo. Nanti deh malem gue telepon lagi. Ini Reyka lagi ke toilet. Gue cuma mau makasih ke elo, selalu support ke gue.")


"Iya Jak. Gue ikut senang untuk kalian berdua. Nanti elo cerita ya. Biar gue denger dari dua sisi. Dari elo sama Reyka. Ya udah, nanti malam kita disambung lagi ya. Penasaran gue denger cerita elo."


("Oke. Siiip. Sekali lagi thanks ya Chel.")


"Sip deh. Byee."


Setelah aku menutup komunikasi dengan Jaka, kudapati wajah Mas Malik yang penuh tanda tanya. Mobil pun sudah terparkir dengan manis.


"Jaka laporan, baru nembak Reyka. Tadi di showroom habis Rachel tanya soal hubungan mereka. Makanya tadi minta Mas jemput."


"Terus nanti malam mau ngapain?"


"Jie jie jie.. Cemburu jie jie jie.. Santai Pak, kayak di pantai. Dia mau cerita unek uneknya, sama soal Tante Gita. Besok Rachel laporan deh, tenang saja. Nanti malam dia mau telepon, ceritain semuanya. Jangan cemburu ya sayang." Aku merayunya sambil jemariku memegang wajahnya. Jarang - jarang aku megang wajahnya. Ini biar Mas Malik nggak cemburu aja. Hehehehehe.


"Bener ya. Tapi Mas percaya kok sama kalian. Ya sudah yuk, kita makan mie ayam." Kami pun jalan menuju pintu restoran mie ayam.


***


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2