
"Iya Ma, besok Sabtu Rachel usahain ketemu sama anaknya teman Mama. Mama santai saja deh."
Aku berada di taman kantor sambil menerima telepon dari Mama yang sudah dua minggu ini ribut soal perjodohan aku dengan anak temannya. Jujur, aku sebenarnya enggak mau bernasib sama dengan Indra, menikah karena perjodohan. Tetapi untuk meredakan keributan soal perjodohan, aku menyetujui untuk menemui pria itu. Soal penolakan bisa diatur belakangan.
Aku masuk ke kantor dan menuju lantai dua ruanganku. Saat aku berjalan menuju kubikelku, para senior pas sedang ngerumpi.
"Eh ada yang habis di telepon, pakai menjauh lagi dari kita - kita. Rahasia bener Neng kayaknya," kata Indra menggoda saat aku baru duduk di ainggasanaku. Pas saat itu Mas Malik keluar ruangannya.
"Rachel, kamu Jumat pergi ke Lombok ya. Sekitar tujuh sampai sepuluh hari. Pemilik Mutiara Intan ingin yang buat webnya tahu seluk beluk perusahaannya," kata Mas Malik saat berhenti kubikelku.
" Hah? Saya Mas? Weekend ini?" tanyaku shock.
"Kenapa? Ada masalah dengan weekend ini?" tanya Mas Malik dengan nada nyebelinnya.
"Tapi, Mas, ada beberapa kerjaan yang harus selesai akhir minggu ini kan?" tolakku secara halus.
" Ya sudah, kerjaan itu nanti dilanjutkan oleh Kelana saja."
"Tapi masih banyak perjalanannya Mas, paling baru 60 persen."
"Memang kenapa? Ada apa kamu menolak tugas ke Lombok?" Lagi - lagi Mas Malik bertanya dengan nada menyelidik.
"Ya sudah sih Chel, gue juga enggak masalah kok nerusin kerjaan elo." Mas Kelana ikut nimbrung perbincangan aku dan si bos.
"Lagian elo juga kan bisa bulan madu juga," kata Mas Kelana tanpa menyaring kalimatnya.
"Bulan madu dari Hongkong!" jawabku sewot.
"Memang kamu mau bulan madu Chel? Sama siapa?" tanya Tuan Muda Malik dengan nada datar.
Mas Kelana langsung membuang muka untuk menutupi kalau dia tertawa.
"Enggak kok Mas. Yang mau bulan madu Mas Kelana. Saya disuruh cari pacar, biar bisa nikah dan bulan madu juga seperti Mas Kelana." Aku capek punya tim yang bocor kayak gini, mau enggak mau, jadi jawab jujur rahasia tim gesrek ini.
"Jadi kamu belum punya pacar?" Laaaah kok Mas Malik jadi nanya soal pacar.
"Ya Tuhan! Sudah deh Mas, serius amat sih, sudah kayak mikirin negara. Iya, iya, saya Jumat pergi ke Lombok." Aku nyerah, sudah enggak tahu lagi bagaimana harus adu argumentasi. Terpaksa, pertemuan dengan laki - laki anak temannya Mama harus di reschedule.
"Loh kenapa kamu emosi gitu? Santai dong. Kamu lagi PMS?" Mas Malik ngomong sambil matanya terus memandangku, seakan dia membaca apa yang ada di kepalaku.
Demi baju dalam superman yang warna merah dan selalu dipakai diluar, entah apa alasannya! Si bos sudah mulai kumat nyinyirnya. Seandainya bisa aku mau pulang, mau tidur aja!
Mas Malik masih menatapku menunggu jawaban atas pertanyaan yang nyebelin itu.
"Enggak kok Mas. Ya sudah saya rapihin dulu ya kerjaan yang mau di transfer ke Mas Kelana."
__ADS_1
"Good! Tapi kamu memang belum punya pacar Chel?" Balik lagi dong nanyain pacar, sepenting itukah?
"Er - ha - es." Aku menjawab dengan cuek, sambil ngutak ngatik komputer untuk menyiapkan desain untuk Mas Kelana.
"Ya sudah, kalau begitu aman dong ya, kamu di kirim pas weekend dan lama - lama diluar kota. Saya juga tenang." Setelah Mas Malik ngomong, dia langsung masuk lagi keruangannya.
"Sudah.. Jangan kesal terus dong Chel. Nih, gue masih punya cabe rawit," kata Mas Kelana sambil ngasih pastel dan risol yang dia bawa dari rumah.
"Bukan apa - apa Mas. Nyokap di rumah lagi lucu - lucunya. Gue dah buat janji sama dia buat weekend besok. Males aja kalau dengar ceramah lagi." Akhirnya aku mengeluarkan sedikit unek - unekku sambil mengambil pastel dan cabe rawit andalan.
"Emang janji apa sama nyokap, sampai segelisah ini? Eh kita ngobrol diruang santai aja yuk, biar tenang." Kak Bertha yang penasaran langsung bersiap dengan cemilannya untuk kita ngobrol, sedangkan aku membawa risol dan pastel bekal Mas Kelana yang masih ada di meja kerjaku.
"Bentar, gue pesen bikinin minuman dulu ke OB," sahut Indra.
Saat sudah kumpul para manusia gesrek ini, aku mulai cerita. "Jadi gini, kayaknya apa yang terjadi dengan Indra akan gue alami juga. Di-jo-doh-in."
"What?? Kok bisa Chel? Elo enggak nolak?" Kak Bertha bertanya sambil melotot.
"Lah, gue juga enggak tahu Kak. Mama gue punya ide itu dari mana juga gue belum nanya, karena gue mikir ya sudah, kenalan dulu, nolak urusan belakang."
"Heh jangan gitu Chel. Kasihan cowoknya dong," sahut Indra.
"Lah, gue kan belum tahu siapa dia, namanya siapa. Tadi nyokap baru kasih kabar via telepon kalau gue harus segera ketemu. Tadi pagi belum ada pembicaraan itu bo. Yang gue pikirin, kalau gue bilang Jumat mau keluar kota nanti disangka menghindar lagi."
"Siapa yang menghindar?" tanya Mas Malik sambil duduk di sofa single disebelahku.
"Menghindar dari apa?" tanya Sisi ikut nimbrung yang langsung duduk di sofa panjang berdekatan dengan Kak Bertha.
Padahal niat ngobrol diruang santai ini menghindar dari Mas Malik, eeeh dia ikut nimbrung.
"Itu..., Rachel lagi bingung, sudah janji sama Mamanya weekend ini, tapi elo ngasih tugas Mas," kata Mas Kelana mulai provokasi.
"Minta tuker aja Chel. Bisa kan Mas?" tanya Sisi ke Mas Malik.
"Saya sudah urus semua akomodasinya dan yang punya perusahaan mintanya mulai weekend ini." Mas Malik ngomong tanpa bisa dibantah.
"Memangnya kamu ada janji apa sama Mamamu? Apa perlu saya menghadap orang tuamu untuk tugas nanti?" Kalimat Mas Malik sepertinya bukan penawaran, tapi penghinaan terhadapku.
Oh Tuhan.. Rencananya kan aku cuma mau berbagi cerita ke tim gesrek ini, bukan ke si bos nyinyir ini. "Enggak perlu Mas. Nanti biar saya atasi sendiri."
"Eh Mas, waktu Kamis gue liat elo di di supermarket GI. Sama siapa tuh? Calon istri ya?" tanya Sisi, yang membuat teman - teman divisiku langsung tertarik.
"Weits, siapa tuh yang belanja?" tanya Mas Kelana.
"Kasih tahu enggak ya?" tanya Mas Malik sok misterius dengan mata yang bolak balik ngelirik aku.
__ADS_1
"Woow, akhirnya ada cewek yang kecantol sama elo Lik. Gue pikir elo sudah putus asa sama cewek!" Kak Bertha berkomentar dengan semangat.
"Hahahaha tadinya gue juga mikir Mas Malik sudah putus asa. Gue dateng dia dah ada di kantor, gue pulang dia masih tenang diruangannya," Indra ikut terpancing untuk berkomentar.
Ruang santai ramai dengan suara tawa teman - temanku. Hanya aku dan Mas Malik yang tidak tertawa. Aku memilih pura - pura sibuk dengan ponselku.
"Dapet cewek mana, Mas?" tanya Indra.
"Tapi bukan dapet Raisa Andriana yang penyanyi kan? Bisa berantem nanti loh sama Indra," tanya Mas Kelana. Tim gesrek langsung ketawa semua kecuali Indra yang langsung ngedumel.
"Artis Mas?" tanya Sisi penasaran.
"Cewek Jakarta dan bukan artis. Sudah cukup, tidak ada sesi questions - answers."
"Sudah lama Lik? Kok enggak pernah dibawa ke kantor?" tanya Kak Bertha lagi, tidak peduli dengan perkataan Mas Malik yang menolak menjawab.
"Masih single kan?" tanya Mas Kelana penasaran.
"Apa janda atau masih milik resmi cowok lain?" Indra menambahkan.
"Aduuh, jadi pacarnya siapa Mas?" tanya Sisi ikut nimbrung.
"Sebentar - sebentar.. Dari tadi Mas Malik enggak banyak jawab nih. Kayaknya cewek yang dilihat Sisi bareng Mas Malik bukan pacarnya nih. Teman atau saudaranya gitu kali." Akhirnya aku ikutan bersuara untuk menetralkan suasana.
"Wah bener nih analisanya Rachel." Mas Kelana menyetujui pendapatku.
"Aah Rachel sok tahu. Yang pasti dia bukan teman ataupun saudara saya." Mas Malik berkata seperti itu sambil memandangku dengan tatapan sengit yang seakan mengajakku perang.
"Wah beneran, pacar Mas?" Tembak Mas Kelana.
"Belum saatnya saya mengungkapkannya." Mas Malik menjawab dengan penuh teka teki buat teman - temanku, tapi tidak untuk aku.
***
.
.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1