Bos Ajaib

Bos Ajaib
34. Si Bos Khawatir


__ADS_3

Tumben tumbenan badanku terasa lelah. Belum jauh mobil bergerak dan masih di kota Bandung, bawaan aku ingin memejamkan mata.


"Mas, saya tidur ya. Enggak tahu nih, perasaan capek banget." Aku meminta ijin ke Mas Malik.


"Oh ya, kamu istirahat saja. Saya setel musik selow ya, untuk menemani saya nyetir," jawab Mas Malik.


Tidak pakai lama, aku tertidur pulas. Terkadang aku merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhku. Apalagi aku mulai merasa pusing. Kadang aku merasa semua berputar. Oh God, ini enggak nyaman banget!


"Rachel.. Rachel.. Bangun Chel. Kamu kenapa? Kok tidurnya gelisah? Kamu sakit? Chel? Juleha.. Juleha..."


Aku merasa Mas Malik membangunkan aku dari tidurku. Tapi kenapa dia memanggil aku Juleha? Akukan bukan orang Betawi. Aduuh aku makin pusing.


"Rachel... Juleha... Bangun sebentar yuk!" Mas Malik kembali memanggil namaku. Hhmmm, dia membangunkanku.


"Iya Mas. Rachel pusing Mas, enggak berani buka mata." Aku memberitahukan kondisiku.


"Oh oke. Kamu merem saja. Senyamannya kamu. Kita sekarang lagi di rest area, saya akan turun beli air mineral dan mencari parasetamol dulu buat kamu ya. Saya kunciin kamu di dalam mobil ya."


Aku tidak berani bergerak. Setiap pergerakan bisa membuatku jadi semakin pusing. Aku hanya bergumam, "he eh."


Lagi-lagi aku tertidur. Ya, aku tahu-tahu mendengar suara Mas Malik. "Rachel.. Juleha.. Rachel.. Juleha.. minum obat dulu yuk! Kopinya yang tadi pagi kita beli jangan kamu minum lagi ya. Biar saya yang habisin, karena saya doyan. Enggak marah kan?"


Kalau dalam keadaan sehat, aku akan membalas monolog si bos, tapi karena aku merasa badanku pun mulai enggak asyik, aku memilih untuk bergumam, "he eh."


Aku merasa Mas Malik mengatur tempat duduk aku menjadi sedikit tegak. Aku pun merasakan dia menyentuh jidat jenongku.


"Yuk minum obat dulu, nanti sampai Jakarta kita langsung ke rumah sakit. Badan kamu sudah mulai hangat."


Mas Malik bicara sambil menyodorkan botol air mineral ke bibir seksiku. Lalu memasukkan obat ke mulutku. Aku tidak bisa memilih selain menerima obat yang dia sodorkan. Tapi kepalaku memiliki beberapa pertanyaan, yang enggak tahan aku lontarkan.


"Mas, itu beneran paracetamol kan? Bukan obat perangsang. Saya beneran sakit loh Mas. Mas Malik jangan nakal."


"Rachel bin Juleha! Bener bener ya! Lagi sakit masih juga pikirannya kemana-mana." Mas Malik terdengar emosi.


"Namanya juga laki Mas. Kan kalau ada kesempatan, sayang buat dilewatkan begitu saja."


"Leha, kamu tuh sudah saya anggap seperti adik saya sendiri, jadi jangan mikir macem-macem." Mas Malik bicara sambil mulai menjalankan mobil.


"Kalau Mas nganggep Rachel adek Mas, kenapa nama Rachel di ganti? Ini nama keren loh Mas, kebule-bulean, makanya pas kuliah rasa percaya diri Rachel tinggi karena namanya keren. Lah, sekarang di rubah jadi Juleha. Bilangin mama loh! Rachel pusing Mas, jangan cari gara - gara dulu." Aku bicara tapi mataku tetap terpejam.

__ADS_1


"Kamu ini, pusing, badan mulai anget, tapi kenapa sekarang jadi nyerocos terus? Yang saya tahu, orang yang bernama Rachel tuh enggak bawel. Yang bawel namanya Juleha, makanya saya ganti."


"Saya bawel biar enggak usah dibawa ke rumah sakit. Nanti disuntik," kataku.


"Sudah, kamu tidur lagi, biar saya nyetir dalam keheningan. Nanti kalau bangun tidur sudah enakan baru dipikir ulang perlu ke rumah sakit apa enggak."


"Eh Mas, satu lagi! Kan tadi katanya saya sudah dianggap sebagai adik sendiri. Itu orang tua Mas dikasih tahu ya! Biar nanti pas pembagian warisan nama saya juga tercantum. Ya sudah, saya istirahat dulu."


"Iya, nanti saya bilangin ke mama papa saya, tenang saja. Tidur lagi ya. Biar cepat sembuh. Maaf ya kalau tadi kamu kecapekan."


Setelahnya, aku tidak mendengar suara apapun lagi, dan aku pun terlelap.


Saat terbangun, aku mendapati sudah berada di ruang perawatan rumah sakit. Tidak hanya ada Mas Malik, tapi juga Mas Ricky dan Astrid yang ada di sekelilingku.


"Hai semua." Aku enggak tahu mau ngomong apa, yang penting kasih tahu kalau aku sudah bangun.


"Alhamdulillah, Juleha sudah sadar." Terlihat wajah gembira Mas Malik. Kan.. kan... kan... aku lagi sakit dia masih gangguin aku dengan ganti nama aku. Ada gitu bos yang jahil ke anak buah?


"Aduh, Chel. Tadi ada yang ketakutan kamu kenapa-napa. Khawatir banget," kata Astrid yang duduk dipinggir tempat tidur.


"Ini yang ganti baju gue siapa? Ada yang macem-macem sama gue enggak tadi waktu gue tidur?"


"Trid, tolong kasih tahu nyokap gue dong, kalau gue disini." Aku meminta tolong pada Astrid agar mama papa enggak perlu khawatir.


"Sudah aman. Tadi gue sudah telepon kok. Kan tadi ada yang khawatir banget. Mereka ada di Surabaya ya? Sekarang gue kabarin mereka dulu ya kalau elo sudah sadar, biar mereka lebih tenang," kata Astrid.


"Iya, mereka ke Surabaya. Gue lagi sendirian di rumah," ucapku.


"Kamu mau makan Chel? Kamu makan terakhir pas makan siang. Kamu laper enggak?" tanya Mas Malik lembut. Hiiks, kalau gini jadi mau punya cowok deh!


"Ada bubur enggak? Mau makan bubur," pintaku.


"Ada, ini tadi Astrid sama Mas Ricky bawain bubur. Saya suapin ya?" Aku pun mengangguk.


Mas Malik pun menyuapi sambil nanya, "Besok mau sarapan bubur yang di kantor enggak? Nanti kita nitip saja sama Astrid."


"Lah, Mas Malik pulang saja. Besok masuk kantor. Kasihan Mas Kel sendirian," ujarku. Karena diajak ngomong, jadinya sekarang aku makan sambil ngomong. Padahal kan, enggak boleh ya?


"Juleha, anak preman Kemayoran! Kamu minta saya menemani Kelana yang sehat dan diurus sama istrinya, tapi kamu di sini sendirian lagi sakit. Awal sakitnya pun lagi sama saya. Yang benar saja, saya laki-laki Leha. Saya harus bertanggung jawab." Mas Malik bicara dengan sedikit emosi, mungkin karena merasa aku usir. Tapi tangannya tetap nyuapin bubur ke mulut aku.

__ADS_1


"Lagi sakit, di marahin. Nama kece-kece di ganti. Ya Tuhan, Rachel salah apa sih?" Aku bicara dengan diriku sendiri.


"Mau nambah enggak buburnya?" tanya Mas Malik, yang mengabaikan komentarku.


"Kalau masih ada, mau Mas. Laper."


"Si boneng mandiin penguin, siap Neng, ditambahin," jawab Mas Malik lantang.


Hah? Dijawab pakai pantun sama Mas Malik. Dia sehat gak sih?


Kudengar Mas Ricky dan Astrid tertawa mendengar obrolan absurd aku sama Mas Malik.


"Ya sudah kami balik dulu ya. Lik, kamera gue bawa ya." kata Mas Ricky ijin ke aku dan Mas Malik.


"Iya Mas. Oh iya, itu kalau memorinya mau di pakai, minta tolong dipindahin dulu ya fotonya. Nanti saya mau pilih dulu sebelum minta dibagusin sama Sisi," jawab Mas Malik.


"Sip. Besok gue minta supir anter bubur deh," kata Mas Ricky.


"Makasih ya Mas Ricky, Astrid," ucapku.


"Istirahat saja dulu ya Chel," kata Astrid yang kemudian cipika cipiki sama aku.


***


.


.


.


...Jangan lupa ninggalin jejak yaaa.....


...lope lope nya tuh, yang dibawah di pencet, eh sama jempolnya sekalian๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡๐Ÿ˜‡...


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2