
"Mas, Rachel enggak suka kalau Mas Malik selalu jadi penyelamat buat Rachel disaat belum dimintai tolong." Aku langsung ngomong to the point saat Mas Malik menghampiriku dengan teapot yang juga diisi es batu olehnya dan potongan tiramisu yang menggoda.
"Sayang, kita bahas satu - satu ya. Tapi Mas manggil kamu enaknya apa ya? Mas merasa aneh dengan panggilan kamu. Kamu selalu menyebut diri kamu dengan nama kamu. Kita buat sesuatu yang romantis dong." Mas Malik mengatakan sambil meletakkan baki dan langsung duduk disebelahku.
"Apa ya? Terserah deh. Bingung juga."
"Gimana kalau adek aja? Biar gampang dan tidak mencolok juga."
"Terserah deh. Dipanggil Juleha juga aku sekarang pasrah kok. Paling ketahuan papa nanti enggak direstui."
"Yaaah jangan dong. Iya deh, Mas enggak manggil Juleha lagi. Adek aja ya?"
"Terserah Mas."
"Tapi nanti kamu juga bahasainnya juga adek ya? Enggak saya, aku, atau Rachel lagi."
"Iya, terserah."
"Kamu kenapa sih? Dari tadi terserah aja ngomongnya. Sekali lagi Mas kasih piring cantik nih."
"Enggak papa kok. Cuma lagi mikir aja, soal beli kendaraan bareng Reyka tanpa campur tangan laki - laki yang bukan siapa siapa dimata hukum."
"Wah, lihatnya jangan secara hukum dong. Kan kalian disayang sama laki - laki tersebut."
"Ya tapi bisa mengganggu pilihan kami. Aku sama Reyka sudah menentukan pilihan."
"Emang mau beli mobil apa sih?"
"Yang bilang mau beli mobil siapa? Kan dari tadi ngomongnya kendaraan terus."
"Jadi? Kalian mau beli motor?" Suara Mas Malik meninggi karena refleks dan kaget dengan tebakannya sendiri.
"Iya Mas," Aku menjawab sambil senyum.
"Enggak boleh naik motor mulai sekarang ya, bahaya sayang."
"Kan hati-hati Mas. Kalau sore aku enggak suka pulang kena macet, tapi Mas ngelarang pulang malam. Please Mas." Aku meminta dengan nada memelas sambil menatap wajah ganteng pacarku. Aiiih pacar, masih suka enggak percaya deh.
"Gini deh, Mas sadar kalau Mas enggak boleh egois. Gimana kalau besok, kita pulang bareng dan pinjam motor kantor. Lalu dari kantor sampai rumah kamu, kamu yang bawa? Paginya Mas jemput kamu dengan motor itu, dan kamu boncengin Mas lagi, gimana? Biar Mas tahu bagaimana kamu mengendarainya. Kalau kamu lulus uji coba, oke, Mas ijinin."
"Yeaaay! Terima kasih Mas! I love you so much!" Aku memeluk lengan kanan Mas Malik karena teramat sangat gembira dengan ijin yang diberikan Mas Malik. Meskipun belum tentu di acc sih. Tapi dengan dia membuka peluang kan, tandanya aku bisa mewujudkannya.
"Your welcome honey. Love you too." Mas Malik yang langsung menarik tubuhku dan mencium kepalaku. "Oke, kita bahas lagi yang lain yang masih mengganjal."
"Apa lagi ya?" tanyaku bingung. Karena aku tidak menganggap ada yang mengganjal dari hubungan ini selain sifat protektif si bos ini.
__ADS_1
"Gini Dek, Mas Ricky dan Bang Ben sudah tahu hubungan kita. Mas enggak bisa menutupi dari mereka. Kemungkinan Astrid pun sudah tahu. Tapi, mereka juga sudah Mas kasih tahu kalau hubungan kita back street dari teman - teman dikantor karena keinginanmu."
"Hah? Kok Mas baru ngomong sih? Pantas saja, beberapa hari lalu, tumben - tumbenan Bang Ben senyum sama Rachel."
"Sama Adek, bukan Rachel. Latihan kita ganti nama yaaa. Katanya enggak mau di panggil Juleha."
"Maaas, Mas aja deh yang ganti. Rachel pelan - pelan deh. Masih susah Mas."
"Iya iya sayang. Maaf ya, kalau Mas terlalu terburu - buru. Seenaknya Adek aja deh. Pokoknya, Mas mau kamu bahagia sama Mas." Lagi - lagi dia mencium rambutku. Kayaknya, aku tiap hari harus keramas nih, jaga - jaga kalau dicium kepalanya terus. Jangan sampai Mas Malik illfeel karena rambut aku baunya enggak enak.
"Mas, badan Rachel kayaknya lengket deh, boleh numpang mandi enggak?"
"Oh boleh dong. Kamu sama kan ukuran bajunya sama Becky? Kamu mandi dikamarnya Becky saja ya, perlengkapannya serba feminin yang ada dikamar dan kamar mandi Becky."
"Kok, Becky punya kamar juga disini Mas? Beneran Becky?"
"Ahay! Ada yang cemburu. Iya sayang, Becky itu meminta kamar disemua apartemen kakak - kakaknya. Di apartemen Bang Ravel juga ada. Semuanya dia yang isi. Makanya, apartemen Becky juga sudah seperti apartemen Mas sendiri. Kalau berantakan, Mas pasti ngomel."
"Ooh gitu. Terus kalian enggak pulang ke rumah mama papa?" Aku mana tega ninggalin orang tua dirumah padahal tinggal satu kota.
"Mama kalau sudah dirumah sakit tuh suka dari pagi sampai malam, kalau lagi nggak praktek dan nggak ada meeting, dia selalu dampingin papa kemanapun papa pergi. Nah papa lagi senang mengembangkan bisnisnya di daerah, jadi rumah sering tidak ditempati oleh mereka. Jadi kita milih tinggal di apartemen dengan Becky yang rajin keliling menginap antar apartemen. Tapi lebih sering kita berdua sih. Karena Bang Ravel kan sudah berkeluarga, kalau lagi enggak di apartemen mereka tinggal dirumah papa."
"Kalian bertiga dekat dari kecil ya? Sama seperti aku dan Reyka?"
"Eh kami empat bersaudara. Satu lagi pas diatas Mas, namanya Mbak Wilsa. Dia sudah menikah dan sekarang tinggal di Australia. Suaminya lagi tugas disana."
Saat aku keluar dari kamar Becky, aku mencari Mas Malik yang ternyata juga sudah Mandi sedang berada di dapur. "Mas," panggilku.
"Iya sayang. Kita makan dulu ya, sebelum kamu pulang." Dia menjawab tetapi wajahnya tetap sibuk dengan makanan olahannya.
"Mas bikin apa?"
"Potato cheese brokoli. Maaf ya, yang gampang dan cepat saja ini."
"Enggak papa kok Mas." Ya enggak papa lah, kan aku tinggal mangap doang, enggak bantu sama sekali.
"Selesaaai." Teriak Mas Malik sambil senyum kearahku dan tangannya membawa makanan yang ia buat ke meja makan yang terbuat dari marmer.
"Mas, Rachel kan enggak jago masak. Masalah enggak buat Mas Malik?" Yap, aku hanya bisa memasak menu masakan standar sama beberapa masakan Eropa yang simple.
"Nggak papa kok. Mas sudah biasa masak, kalau lagi malas ya nanti kita tinggal beli aja. Jangan dibuat ribet ya sayang. Yuk kita makan dulu."
Kami pun makan bersama dalam keheningan sampai akhirnya Mas Malik bertanya, "kamu kenapa mau beli motor patungan? Reyka bukannya akan balik ke Leiden?"
"Tahun depan dia selesai kok Mas."
__ADS_1
"Tabungan kamu memang tidak cukup?"
"Rachel mau beli rumah Mas. Jadi enggak boleh boros." Aku mengutarakan kondisi tabunganku.
"Dek, kamu sebenarnya niat enggak nikah sama Mas?"
"Hah, kok nanya gitu?"
"Mas kan sudah pernah ngajak kamu kerumah yang sedang Mas bangun, lalu kamu tahu Mas juga punya apartemen ini. Kalau kita nikah, ya kamu ikut sama Mas kan? Terus ngapain mau beli rumah lagi? Sudah ada dua properti loh."
"Tapi kan kita masih baru berhubungannya Mas. Mas juga belum melamar Rachel ke mama papa."
"Adek! Mas berhubungan dengan kamu ini serius. Dari awal kenal kamu di kantor, Mas sebenarnya sudah tertarik sama kamu. Kebayang kan, berapa lama Mas mempertimbangkan sosok kamu untuk jadi istri Mas Malik?"
"Hah?"
"Kamu mau kapan Mas harus melamar kamu? Kita diskusikan sekarang, biar Mas bisa ngatur dengan keluarga Mas." Mas Malik terdengar emosi dari nada suaranya.
Ngomongin soal uang sama harta emang sensitif ya. Hanya gara - gara patungan buat beli motor sama mau beli rumah aja, aku sampai dengar nada intonasi tinggi begini.
"Nanti ya Mas. Kalau mau nikah jangan buru - buru. Nunggu Reyka selesai kuliah dulu. Kasihan dia nanti kepikiran, kuliahnya malah enggak tenang karena pasti dia mau ngurus pernikahan Mbaknya."
"Enggak masalah Dek kapannya, yang penting kita punya target. Jadi kita enggak sama - sama ngambang. Pokoknya, Mas sudah siap untuk melamar kamu. Dan untuk kendaraan yang mau kamu beli, biar Mas yang bayarin, jangan pakai uang Reyka. Tabungan kamu untuk beli kendaraan kamu selanjutnya aja."
"Hah? Jadi Mas Malik yang mau beliin motor?" Mas Malik jawab dengan anggukan.
"Enggak usah Mas, biar Rachel beli sendiri. Mas beliin Rachel terus iih."
"Loh, nanti kamu beli mobil sendiri. Bukan dari uang Mas."
"Rachel enggak mau beli mobil. Males nyetir."
"Aduuh, ada aja si Eneng nih alasannya. Ya sudah, nanti kalau mau beli motor, gesek pakai ATM Mas yang di kamu ya."
"Lihat nanti deh Mas. Besok jadi kan, uji cobanya?" Aku menanyakannya dengan senyuman.
"Jadi dong. Kapan lagi naik motor gede diboncengin pacar?" Mas Malik berkata sambil ngacak - ngacak rambut indahku. Padahal rambut aku baru di blow dikamar Becky tadi. Emang enggak boleh dandan nih.
***
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung