Bos Ajaib

Bos Ajaib
25. Granat


__ADS_3

"Hallooo selamat pagi semuanya," sapa Mas Kelana ketika baru datang. Dia yang terakhir datang diantara kita berempat. Kalau Sherin dia seperti kutu loncat, mejanya di ruangan kita, tapi sosoknya suka di ruangan bawah bareng Sisi. Nah, sekarang dia lagi di bawah.


"Gimana kabarnya yang baru cuti sekaligus bulan madu?" Cerocosnya tanpa memberikan kesempatan teman-temannya menjawab sapaannya.


"Baik, aman terkendali. Tapi bulan madu belum diatur, " jawabku. "Eh yang mau nikah apa kabarnya nih?" Aku jadi inget Indra yang akhir pekan ini akan nikah.


"Baik dong, gue sudah enggak sabar nih," jawab Indra.


"Asyiik nanti kita kalau ngomong dah nyambung, nih. Tinggal si Rachel aja yang bengong," ledek Mas Kelana.


"Gue latihan dari kalian bertiga dulu aja deh," sahutku.


"Kemaren perkembangan sama si bos gimana disana?" tanya Kak Bertha.


"Ya begitu deh. Masih dibuntuti, tapi gue snorkeling pas paginya. Cuma pas balik, si bos dah ada diteras penginapan gue dong. Yah... minimal gue bisa main air deh," ucapku.


"Jadi elo enggak total dong liburannya?" tanya Indra.


"Ya kagak lah. Kepala gue jadi sering tegang, bawaannya mau ngajakin si bos berdebat. Elo tahu kan dia suka maksa. Tapi kadang dia juga baik sih, minimal soal makanan enggak itung-itungan."


"Terus oleh-olehnya mana?" tanya Mas Kelana.


"Tuh, dimeja Indra. Kalau yang buat dibawa pulang ada di dapur. Plastiknya dah gue kasih nama."


Ya, aku memang menyiapkan oleh-olehnya yang berlimpah, karena ada campur tangan Mas Malik.


Jadi saat beli oleh-oleh saat pulang, sebelum ke bandara, Mas Malik ikut belanja. Aku pikir buat oleh-oleh keluarganya, enggak tahunya buat teman-teman di kantor dan teman-teman di divisi. Dia malah bawa pulang oleh-oleh cuma sedikit.


Saat lagi ngobrol, Mas Malik keluar dari ruangannya. "Rachel, oleh-olehnya untuk Mas Ricky dan Bang Ben sudah kamu siapkan? Saya mau meeting dengan mereka," ujarnya. Nanyanya seperti suami nanya ke istrinya gitu deh. Ngajakin bikin gosip aja kan?


"Sudah Mas. Ada di dapur. Sebentar saya ambilin," kataku sambil berjalan ke dapur.


Setelah aku memberikan oleh-olehnya ke Mas Malik, yang langsung dibawanya ke kebawah, aku kembali lagi ke kubikelku.


"Teman-teman, hari Rabu besok gue mau bolos. Enaknya gimana ya?" Aku meminta saran teman-temanku.


"Mau ngapain loh? Baru cuti dah bolos. Kurang?" tanya Indra.


"Ya iyalah kurang, gue digangguin gitu sama bos elo." Aku menjawab dengan intonasi ngeledek. "Temen kuliah gue dari Malaysia mau datang, terus Rabu minta dianter ke Pasar Tanah Abang." kataku melanjutkan.


"Eh eh eh, sebentar-sebentar. Kakaknya si bos cakep enggak?" tanya Kak Bertha yang sepertinya teringat dengan Bang Ravel.


"Cakep, lebih ramah, dan menyenangkan dibandingin adiknya," ujarku.


"Tapi denger-denger dulunya playboy dia," kata Mas Kelana.


"Kok elo tahu?" tanya Kak Bertha penasaran.


"Kakaknya tuh Ravelino Putra Kusuma. Masa elo enggak tahu sih? Pengusaha itu loh," kata Mas Kelana.

__ADS_1


"Hah? Baru tahu gue. Jadi si bos adeknya Ravelino?" sahut Kak Bertha.


"Aduh pengusaha apa? Gue enggak tahu deh. Emang ngetop ya?" tanyaku.


"Eh si bocah, malah enggak tahu padahal sudah makan malem bareng." Kali ini Indra ikut menimpali.


"Dia jadi pengusaha sudah lama? Terus pengusaha apa? Kemaren di mobil mereka berdua sibuk ngomongin soal kebun kopi di Padang gitu. Gue enggak ngerti." Aku membocorkan pembicaraan kakak beradik itu saat di mobil menuju tempat makan malam.


"Nah, keluarga mereka memang pengusaha perkebunan kopi, teh, dan penginapan. Tapi gue denger juga rumah sakit," kata Mas Kelana.


"Temenan juga sama keluarga Bang Gi dong, kalau penginapan juga," ucap Kak Bertha.


"Enggak ngerti gue kalau soal itu," jawab Mas Kelana yang matanya tetap fokus ke layar komputer.


"Pantes penampilan emang enggak bisa bohong kalau kaya dari lahir," ujar Kak Bertha.


"Udah kaya raya, masih kerja disini ya? Padahal punya perusahaan sendiri." Indra bertanya pada diri sendiri.


"Kakak sama adiknya yang megang usaha keluarganya itu. Mas Malik emang sedikit beda, dia agak membangkang gitu deh," Mas Kelana menjelaskan kebingungan Indra. Yang dijawab "Ooh", oleh kami semua.


"Eh ngomong-ngomong Rabu besok gue bolos ya. Gue paginya pamit ke bos kalau ada urusan keluarga aja gimana?" tanyaku meminta saran dari teman-teman.


"Iya Chel, mending gitu, daripada bilang sakit, eeh ketahuan ada di mol," jawab Indra.


"Elo mau jalan bareng teman bukannya suruh weekend aja." Kak Bertha kasih saran.


Terdengarlah ketawa teman-temanku. Ya, bayangin aja penampilan cewek yang habis dari pasar, belanja baju banyak pakai plastik kresek, terus datang ke nikahan di hotel berbintang. Ya kali, ada selegram yang begitu. Meskipun aku selegram kacang sukro.


"Iya benar juga," ucap Kak Bertha.


Saat lagi ngobrol, ponselku berbunyi. Ternyata dari Mas Malik. "Sssttt... Si bos telepon gue," aku memberitahukan teman-teman. Maksudnya biar jangan ribut gitu.


"Halo Mas."


("Chel, tanyain anak-anak, mau mie ayam enggak?")


"Bentar Mas. Eh beliin aja Mas, enggak usah ditawarin. Dimakan kok. Enggak yakin saya kalau teman-teman nolak. Malah kalau bisa lebih Mas."


("Kan saya juga mau dengar pendapat mereka Chel.")


"Sudah, saya wakilkan saja Mas. Mereka pasti mau"


("Oke saya bawakan ya")


"Sip Mas. Makasih ya"


Setelah menutup telepon, langsung pada ribut karena penasaran.


"Ada apa Chel si bos?" tanya Indra.

__ADS_1


"Mas Malik mau bawain kita mie ayam."


"Asyiiik.. Hari ini banyak makanan gratis ya. Menghemat gue," kata Mas Kelana.


Enggak pakai lama, ternyata OB datang dengan banyak bungkusan. Ternyata tadi sebenarnya Mas Malik sudah pesan duluan.


"Tumben nih ngasih makanan bilang-bilang," kata Kak Bertha.


"Takut kayak waktu Rachel ngambek kemarinnya kali. Yang kita semua dibeliin bebek terus jatahnya Rachel enggak dia makan. Dia malah makan siang di bawah," kata Indra mengingatkan.


"Oh iya, bener tuh. Sadis loh Chel! Mas Malik sampai kepikiran tuh!" Mas Kelana menambahkan.


"Yee, dia yang bikin gue kesel. Dibilang kerjaan gue jelek, padahal itu idenya dia juga. Kalau kita enggak ada diskusi enggak masalah deh dia ngomel, nah ini.. Tau ah, udah jangan diingetin lagi, nanti gue bete." Aku jadi ingat kekesalanku waktu itu.


Kak Bertha langsung mengelus punggungku saat aku bicara soal itu. Aku tahu, dia pasti ingat waktu aku curhat sama dia soal kerjaan itu.


"Heeii ayo dimakan mie ayamnya. Kita makan bareng di ruang santai saja ya." Mas Malik langsung melangkah ke ruangannya dan kemudian keluar lagi bawa tumbler airnya.


Mang Ibnu, OB kantor pun ikut membantu membawa plastik yang berisi mie ayam dan juga minuman kotak yang juga dibelikan Mas Malik ke ruang santai.


"Mas, katanya mie ayam. Mana ayamnya?" tanyaku protes setelah kita semua sudah berhadapan dengan mie ayam. Aku tuh berharap ada banyak potongan ayam yang melimpah gitu.


"Itu ada potongannya kecil-kecil," jawab Mas Malik.


"Kurang nendang Mas," protesku.


"Chel, kemaren waktu gue traktir elo makan rawon setan, emang ada setannya?" tanya Mas Kelana dengan nada kesal.


"Ada! Itu setannya." Aku menjawab sambil menatap Indra dengan memonyongkan mulut sebagai kode nunjuk bahwa Indra lah setannya.


"Dih, gue lagi yang kena." Protes Indra.


"Ya sudah, besok saya belikan kamu bakso granat ya Chel. Siapa tahu langsung meledak." Mas Malik balas komentarku dengan muka datarnya.


Kok dia gitu sih? Kenapa jadi kesel? Salah aku apa?


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2