
Saat di lobi hotel aku pun berhenti menunggu Mas Malik. Ada satu permasalahan yang aku bingung.
"Mas Malik, saya ganti baju dimana ya enaknya? Sedangkan baju masih di mobil." Aku minta pendapatnya.
"Kamu nanti disebelah mau valet lagi?" tanyanya.
"Iya ah. Sosialita kan agak manja Mas," kataku.
"Aduh Chel, kok kamu sekarang malah mau jadi sosialita sih?"
"Memang kenapa Mas kalau saya jadi sosialita? Toh saya tetap jadi anak buah Mas Malik," ujarku.
"Bukannya kamu sudah jadi selegram-selegraman ya?"
"Oh, itu tergantung kebutuhan saja sih Mas. Eh selegram sih tetap, apalagi selegram kantor. Nah sosialita kayaknya harus di rintis pelan-pelan sambil ngumpulin modal."
"Hhmmm. Biasanya sosialita modal dari suaminya Chel, bukan dia kerja sendiri. Kalau kerja dia enggak punya waktu buat kumpul-kumpul sama genk-nya." Waah Mas Malik ternyata ngerti juga.
"By the way gini deh, untuk kamu ganti baju. Sebenarnya enakan di sini ganti bajunya, toiletnya kan kering. Kamu bilang sama penjaga valet-nya, numpang parkir sebentar di depan, dan kamu ganti baju. Jadi kamu hanya ambil barang yang dibutuhkan saja dulu. Biar mereka yang atur mau parkir mobil kamu dimana."
"Oh oke Mas. Idenya bagus, anaknya siapa sih nih, yang baru kasih saran?"
"Rachel, mobil saya tetap parkir disini saja ya. Kita ke sebelah pakai mobil kamu, nanti pulang kesini lagi ambil mobil saya. Jaga-jaga parkiran disebelah penuh. Hari Minggu dan sudah siang, tahu lah susahnya cari parkir di mol," kata Mas Malik serius, makanya komentar aku dicuekin.
"Waah bener lagi idenya. Boleh Mas, saya setuju. Yuk ke valet dulu deh." Aku mengajak Mas Malik keluar lobi hotel.
***
Setelah menyerahkan mobil ke valet Plaza Senayan, aku dan Mas Malik berjalan masuk ke mol. Tujuan awal? Harus ditanya dulu ke pria berbatik ini.
"Mas, mau kemana nih? Jadi mau nyari baju ganti?" tanyaku.
"Kamu risih enggak, jalan sama pria berbaju batik?" tanyanya.
"Seperti lagi jalan sama om-om," kataku menatap wajahnya sambil nyengir.
"Ya sudah, kita cari kaos dulu untuk saya deh." Kami pun berjalan menuju departemen store yang ada di Plaza Senayan.
"Emangnya ini yang dipakai batik berdahak apa batik kering Mas?"
"Haduuh, Juleha mulai lagi. Batik tulis nak. Batik ya nak, bukan batuk. Kamu tuh di Inggris beneran kuliah apa enggak sih, Chel?"
"Kalau saya bilang, nanti jangan kasih tahu mama saya ya." Aku bicara sambil menatap muka Mas Malik.
"Iya, saya janji," jawabnya yang membalas tatapanku sambil senyum. Ssttt... bos aku ganteng deh kalau lagi gini. Cinta mana cinta? Bisa jatuh cinta nih.
"Saya di Inggris, lebih banyak mainnya. Tapi juga kerja Mas. Kuliah sudah kayak sampingan, walau tugasnya seabrek. Pokoknya selesai tepat waktu."
__ADS_1
"Waah kamu memang enggak bisa diam ya?" tanya si bos. Kami ngobrol sambil memilih kaos.
"Rugi Mas diam di rumah. Mending keliling-keliling. Makanya saya sekarang disini lebih senang naik kendaraan umum kalau enggak penting-penting amat."
"Tapi ke kantor sama pulang kamu naik taksi atau ojek. Kenapa?"
"Yaah, emang kantor kita di jalan protokol Jakarta Mas? Kantor di dalam kompleks, rumah saya di Pancoran itu juga di kompleks. Kalau naik kendaraan umum berapa kali naik turunnya, belum lagi ada banyak waktu yang terbuang untuk nunggu kendaraan umum."
"Eh Chel, sebentar deh. Kayaknya saya beli sepatu juga saja deh. Enggak matching kalau pakai sepatu ini." Mas Malik bicara sambil menenteng kaos pilihannya.
"Boleh Mas. Yuk, selesai ini kita cari sepatu di toko yang diatas."
"Kamu jadi beli lipstik sama eyeliner?"
"Jadi dong." ujarku tegas.
"Beli disini atau di gerai?"
"Di The Body Shop Mas. Habis beli sepatu baru kita kesana. Terus kita makan yuk!"
"Boleh. Sudah lapar lagi?" Mas Malik bertanya sambil membayar belanjaannya di kasir.
"Hahahaha tadi terakhirkan makan dimsum tiga biji yang dari Mas Malik."
"Kamu lebih memilih ngobrol dibandingin makan sih."
"Enggak papa Mas. Sudah lama juga enggak ngobrol sama Mba Wiwit. Lagi pula pas akad saya makannya banyak tadi," ujarku. Saat ini kami sedang berjalan menuju toko sepatu.
"Antara iya dan enggak Mas. Iya karena kalau lagi buru-buru bisa langsung tancap gas, begitupun saat hujan. Enggak mau karena saya suka kesal kalau macet dan kalau pulang malamkan suka kecapekan Mas," ujarku.
"Oh ya Mas, mau sepatu seperti apa? Jadi, mau beli sepatu sport yang ringan?"
"Jadi Chel. Yuk kita masuk toko itu saja. Semoga langsung ada yang cocok."
Haiyah! Tahunya bukan semoga ada yang cocok saudara-saudara. Tapi emang itu toko langganannya dia. SPG nya saja kenal dan proses belanjanya pun enggak sampai lima belas menit. Tahunya anak mol juga si bos ini.
"Yuk, sekarang ke tempat yang kamu mau."
"Ke tujuan niat awal saya mau kesini tepatnya Mas."
"Hahahaha, kamu digangguin saya terus ya." Aku menjawabnya dengan anggukan. Kami pun berjalan menuju The Body Shop.
Di The Body Shop ternyata aku tidak hanya belanja dua benda yang aku maui itu saja. Banyak nambahnya. Eeeh ternyata Mas Malik juga ikut-ikutan belanja disini.
Belanja bareng berdua cowok gini kayak bareng pacar. Iya, sebentar-sebentar nanya, 'cocok enggak untuk saya?', 'cocok enggak untuk saya?'. Kalau beginikan jadi mau punya pacar. Eh enggak deng, nanti-nanti aja.
"Kamu sudah selesai milih produknya Chel?" tanya si bos.
__ADS_1
"Belum Mas. Masih ada yang ragu." Aku lagi mempertimbangkan dua wewangian body mist.
"Yang membuat kamu ragu apa?"
"Dua-duanya enak Mas. Tapi saya harus memilih satu."
"Kenapa begitu?"
"Saya enggak boleh boros."
"Ya sudah, mana body mist-nya? Saya pegang keduanya, saya taruh dikedua tangan saya secara acak. Kamu pilih mau yang ditangan kanan atau kiri. Jadi sekarang tidak perlu ragu." Betul juga idenya. Keren nih cowok!
Aku pun memberikan kedua body mist tersebut. Mas Malik kemudian menyembunyikannya dibalik tubuhnya. Aku memilih produk di tangan kirinya. Taraaaa.. sekarang aku sudah menentukan pilihan tanpa ragu.
Kami pun membayar belanjaan masing-masing. Body mist yang tidak aku pilih akhirnya di beli Mas Malik.
Untuk tempat makan, pilihan jatuh pada Bakerzin. Sambil menunggu pesanan kami diolah, Mas Malik melanjutkan pertanyaan yang tadi.
"Tapi saya lihat kamu sama sekali belum pernah bawa mobil ke kantor Chel."
"Memang. Kan saya enggak punya mobil, jadi ya enggak bawa mobil."
"Maksudnya gimana Chel?" tanya Mas Malik bingung dengan jawabanku.
"Yang sekarang saya pakai ini kan mobil papa. Papa enggak akan kasih kalau di pakai untuk saya kerja. Kalau mau pakai mobil untuk kerja, saya di suruh nabung dari hasil kerja. Gitu Mas." Hahahaha memang seribet itu papaku. But I love him.
"Tapi kalau untuk kamu pakai jalan atau pergi ke mana-mana boleh, selain kerja, gitu Chel?" Aku menjawab dengan anggukan.
Mas Malik terlihat berfikir. Disaat bersamaan menu pesanan kami datang.
Mas Malik memesan pasta, sedangkan aku memesan Beef Salad yang dimata Mas Malik menunya sedikit.
"Chel, kamu enggak lagi jaga makanan kamu kan?" tanyanya penasaran.
"Aih, jaga makanan. Emangnya saya ibu kantin yang jagain makanan Mas? Rachel kok disuruh jaga makanan."
"Haduh, memang ya, harus hati-hati menggunakan kata-kata sama kamu," ucap Mas Malik sambil geleng-geleng kepala.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung