
Sesuai rencanaku, hari ini aku mau pulang sore. Mau menikmati udara Jakarta di sore hari, walaupun berpolusi.
Aku pun ke parkiran motor. Tadi kata Astrid setiap pagi, motor kantor selalu di panasin.
Lalu aku bilang saja, "kalau mau dipanasin, suruh aja bos gue. Dia kalau ngomong suka nyelekit bikin panas yang dengar." Eeh Astrid malah ketawa sambil nyubit. Kayaknya tadi waktu aku cubit Kak Bertha, dia enggak rela, makanya di balas sama Astrid.
Oh ya, yang aku pinjam kan motor sport, terus Astrid melotot dong. Dia kaget. "Gue pikir cuma Sisi disini yang preman, tahunya elo juga ya? Ga nyangka gue."
"Seorang wanita akan semakin terlihat cantik ketika ia terlihat perkasa, Trid."
"Maksudnya, gue enggak cantik ya? Oke, nanti gue kroscek ke Mas Ricky, dia mau jawab jujur apa enggak."
"Hahahaha sudah ah, elo serius amat, kayak lagi ujian sekolah saja."
Setelah menggunakan jaket milik Sisi aku kendarai motor sampai pos satpam. Helmnya Sisi aku taruh di lenganku, Sisi meminjamkan helm full face kepadaku. Ceritanya di pos satpam aku mau laporan, kalau motor kantor aku bawa pulang.
Eh tapi, saat lagi ngobrol sama Pak Rudi, kepala satpam kantor, Mas Malik menghampiri kami. Kenapa sial terus sih? Sebel deeeh!
"Rachel? Mau ngapain kamu naik motor begini?" tanyanya dengan tatapan mata yang sulit untuk dibaca.
"Mau pulang Mas. Hari ini saya lagi enggak mau lembur dulu, lagi mumet. Percuma juga kalau dipaksain kan?" Aku berkata apa adanya.
"Ya enggak masalah kalau kamu enggak mau lembur. Tapi kamu naik motor sport, kamu yakin?"
"Mas, kalau saya enggak yakin, ya saya naik motor bebek sajalah," kataku dengan datar. Lalu akupun pakai helm, sambil bicara, "tenang Mas, motor sport makanan saya. Sudah ah, saya pulang dulu ya Mas. Pak Rudi, saya cabut sekarang ya. Sampai besok pagi Pak." Aku pamit ke mereka berdua, kemudian menjalankan motor meninggalkan mereka.
Aku hanya dengar Pak Rudi teriak, "Hati-hati Neng Rachel!"
Perjalanan dengan motor dari kantor ke rumah bisa ditempuh dalam waktu 40 menit. Tetapi karena aku mau keliling-keliling Jakarta, patokan aku maksimal sampai rumah setengah sembilan malam. Biasanya, aku akan tidur dengan pulas setelah riding.
Paginya, aku sampai kantor langsung mengembalikan jaket dan helm ke Sisi. Kalau kunci motor masih aku pegang, karena Astrid belum ada diruangannya, jadi aku mengabarinya via whatsapp.
Saat ke lantai dua aku sudah mendapati Indra dan Sherin yang sudah duduk disinggasananya masing-masing.
"Good morning, selamat pagi," sapaku ke mereka.
"Hai Mbak. Kelihatan tambah segar deh pagi ini," kata Sherin berusaha terlihat ramah.
__ADS_1
"Ya iyalah, segar. Baru mandi pagi terus dandan. Make up juga belum luntur," sahut Indra.
Ngomong-ngomong, terkadang ruang tim desain ini seperti di hutan, kalau ngomong teriak-teriak.
"Ape lu kate lah Ndra. Ane mah diem aje," kataku berbahasa betawi.
"Weits ada anaknya Bang Jampang nih," balas Indra.
"Iye Bang, kenal babe aye di mane Bang?"
"Di Kemayoran Neng." balas Indra lagi. Terdengar suara tawa Sherin yang cuma keluar satu kalimat bisa memancing percakapan absurd seniornya.
"Apa yang di Kemayoran?" Wadaw! si bos datang. Aku memilih diam, sambil menunggu komputer yang baru menyala.
"Enggak Mas, ini enggak tahunya bapaknya Rachel preman Kemayoran." Ampuuuun! Indra ngomong gitu dengan muka serius. Tapi lagi-lagi Sherin yang mendengar dari awal semakin terbahak-bahak.
"Benar Chel, bapak kamu preman Kemayoran?" Sengklek semua nih kayaknya. Tapi aku jawab juga dengan anggukan sambil tahan ketawa dengan menggigit bibir.
Punya bos aneh, suka ngomong dengan kata-kata pedas, tapi gampang di bohongin sama anak buah. Apa yang terjadi dengan tim aku ini? Perlu di rukyah deh kayaknya.
Tidak lama kemudian, Kak Bertha dan Mas Kelana datang bersamaan. "Hai Mas, selamat pagi," sama Mas Kelana ke si bos.
"Ketemu di teras depan tadi Mas," jawab Kak Bertha.
"Mas, ini anaknya. Sudah ditanyain?" Kak Bertha ngomong ke Mas Malik.
"Belum," jawabnya singkat. "Rachel, kamu sampai rumah jam berapa tadi malam?" tanya Mas Malik yang ditujukan ke aku.
"Hah? Sampai rumah? Kemarin saya main dulu dong. Anak preman Kemayoran mah gitu, Mas." Sahutku asal. Sape loh? Nanya-nanya! Suami?
Indra dan Sherin tertawa terbahak-bahak. Emang ya, aneh. Ini anak buah sudah enggak ada takutnya sama atasan. Main ketawa keras saja dong. Apalagi itu, anak baru. Waduh! Belum tahu saja, kalau Mas Malik bisa singit. Sedangkan Mas Kelana dan Kak Bertha masih belum nyambung.
"Kita ngobrol diruangan saya saja Chel." Ajak Mas Malik, yang kemudian berjalan ke ruangannya.
"Hhmm. Kok kayak lagi mau dimarahin sama Engkong ya?" kataku sambil berdiri dan mulai melangkah keruangan si bos.
Begitu tahu saya sudah masuk ruangannya, meskipun dia belum duduk disinggasananya, dia langsung membuka percakapannya. "Chel, saya melihat kamu naik motor seperti kemarin sore, jadi khawatir. Makanya saya nanya kamu, tadi malam sampai rumah jam berapa. Kamu mau menjawabnya kan? Tanpa harus judes." Si bos bicara sambil duduk di singgasananya.
__ADS_1
Tuh kan. Kalimat awal kesannya perhatian, kalimat berikutnya kepo, kalimat terakhir ngajakin perang.
"Saya itu sudah biasa pakai motor sport. Memang terkadang kecantikan seseorang menipu kelakuannya yang pemberani, jadi santai saja Mas. Saya kemarin berpatokan jam sembilan saya harus sudah di kasur, karena biasanya kalau habis naik motor keliling-keliling saya jadi nyenyak. Asal Mas tahu, judes adalah salah satu keajaiban dunia yang harus dilestarikan dan saya akan melestarikannya." Aku menjawab semua pertanyaannya dengan tenang, sambil mengatur posisi duduk di depan meja kerja Mas Malik.
"Kamu enggak pegel Chel?"
"Hhmm, kenapa emangnya? Emangnya Mas Malik mau mijetin? Atau mau ngajak ke spa?"jawabku dengan nada suara dibuat penasaran.
"Ya enggak, tapikan kalau naik motor sport badan kamu agak kedepan, jadi takut saja kalau kamu pegel."
"Ooh.."
"Kamu mau enggak, kalau naik motor sport-nya hari ini yang terakhir?" tanyanya dengan wajah tanpa ekspresi.
"Lah? Kenapa emangnya Mas? Saya mau dapat motor bebek? Atau malah mau dapat mobil?"
"Enggak, biar saya enggak khawatir saja sama kamu. Sebagai atasan, wajar dong saya mengkhawatirkan kamu." Iya, atasan yang aneh, sih.
"Yaaa, kirain mau dapat fasilitas transportasi. Ya sudahlah Mas, saya kerja dulu saja ya?" Aku berusaha memutus pembicaraan, karena menurut aku ini bukan pembicaraan yang penting.
"Oke. Tapi saya berharap kamu mau nurut Chel. Ya sudah, kerjain dulu desain web sayurituenak sana." katanya menutup pembicaraan.
Aku pun langsung keluar ruangannya dan menuju kubikelku. Saat cek whatsapp, ternyata Astrid sudah mengabarkan kalau dia sudah ada di kantor. Jadi, aku langsung lanjut turun ke bawah, ke ruangannya Astrid untuk mengembalikan kunci motor.
***
.
.
...Temans.. Jangan lupa jejaknya ya 🥰...
...(Monmaap, authornya bawel✌)...
.
.
__ADS_1
Bersambung