Bos Ajaib

Bos Ajaib
45. Rencana Kepulangan Reyka


__ADS_3

"Ma, Reyka jadi pulang minggu ini ya." Aku memastikan ke mama kepulangan adikku dari Belanda. Reyka kuliah di salah satu universitas di Leiden, ia mendapat beasiswa.


"Iya, kemarin dia juga sudah memastikan ke Mama. Lusa ya dia pulangnya."


"Iya. Biar Rachel saja Ma yang jemput ke bandara. Mama siapin makanan kesukaan dia saja."


"Mama juga sudah minta tolong ke Jaka kok, Chel."


"Mama! Kenapa minta tolong ke orang lain? Mama masih punya Rachel buat minta tolong," ujarku dengan nada kesal. Aku tuh suka enggak ngerti sama jalan fikirannya mama.


"Ssttt, tenang Chel. Nanti kamu jemputnya bareng Jaka. Mama sudah bilang ke Jaka untuk jemput kamu ke kantor lusa. Pesawatnya kan jam 10 malam. Masa kamu sendirian sih. Mama juga sudah ijin kok sama Gita. Lagi pula Jaka juga bisa kok."


"Mamaaaa.... Oh Tuhan, enggak begini juga dong Ma, kalau mau jodohin anak. Kan Rachel juga sudah komunikasi sama Jaka, biar kita berdua dong yang ngatur. Mama iih!" Suka iseng deh si mama. Jaka juga kenapa enggak ngomong ke aku.


Suka aneh memang mamaku ini. Untung papa orangnya kalem, meskipun ke anak-anaknya tegas. Mama adalah orang yang ngotot aku harus kuliah di Eropa meskipun dimananya tetap aku yang nentuin, dia cuma acc.


Mau tahu enggak salah satu alasannya? Biar kalau mau jalan - jalan keluar negeri gampang cari alasannya ke papa. Konyol ya? Tapi aku juga senang sih, dapat fasilitas untuk pendidikan yang bagus.


Tapi yang paling repot ya sekarang, saat Reyka tinggal di negeri Belanda. Tiap tahun mama nengokin. Mama senang banget jalan - jalan disana. Apalagi akses transportasinya ke beberapa negara di Eropa mudah kalau dari Belanda, tambah senang dong doi bolak balik.


Tapi, yang bikin heran ya itu. Suka jodohin anak!


"Chel, mama sama Tante Gita mau meyakinkan kalian benar - benar jalan berdua."


"Loh, Rachel kan sudah beberapa kali ketemuan sama Jaka, dia juga kenal sama Mas Malik. Malah ngobrol. Biar deh Ma, urusan Rachel sama Jaka, kami urus sendiri, Mama sama Tante Gita enggak usah ikut campur lagi."


"Yaa, kami mau lihat kalian sering jalan bareng Chel."


"Katanya Mama, terserah Rachel. Mama yang bilang bingung antara Jaka sama Mas Malik. Jadi gimana dong Mah?" Sekalian sajalah nanya ngaco enggak jelas gini.


"Ya, meskipun kamu enggak sama Jaka, kan silaturahmi tetap harus berjalan baik Chel."


"Loh, selama ini baik kok kami berdua. Komunikasi juga bagus. Mama lihat kan, waktu di hotel tempo hari? Malah Jaka yang bawain belanjaan Rachel. Malah tadinya dia mau bayarin, tapi Rachel enggak mau."


"Iya iya. Balik lagi soal penjemputan Reyka, Mama tuh kepikiran kalau kamu nanti ke bandara malam hari, Mama enggak tega kalau kamu jalan sendirian . Jadi Mama langsung telepon Jaka."


"Ya sudah enggak masalah nanti Rachel telepon Jaka." Aku menjawab dengan hati yang agak dongkol atas inisiatif mama ini.


***


Hari ini sesuai rencana aku akan menjemput Reyka. Dua hari lalu, setelah bicara dengan mama, aku langsung telepon ke Jaka. Dia menyetujui permintaan mama karena waktu penjemputannya malam hari.


Dia enggak tega kalau aku harus jalan sendiri, takut ada apa - apa katanya. Ya, iya sih, aku juga ngeri - ngeri sedep gitu kalau nyetir sendirian malam - malam. Untungnya Jaka cowok yang pengertian. Semoga dia dapat cewek yang bener-bener sayang deh sama dia.

__ADS_1


Sesuai pembicaraan di telepon, Jaka akan mengusahakan jemput ke kantor jam 5 sore. Biar sekalian makan malam di bandara, minimal sudah tenang kalau sudah disana, enggak kepikiran macet.


"Rachel, si bos sekarang sudah enggak terlalu nyelekit ya kalau ngomong?" Indra iseng nanya sesuatu yang enggak boleh diingetin. Begini nih, kalau sudah sore memang mulai jenuh. Penyegarannya ngobrol enggak jelas.


"Ssstt, jangan diingetin. Kalau kumat nanti kita yang kena. Sok happy aja kita, biar dia ikutan happy, jadi lupa nyinyir." Aku bicara dengan intonasi suara yang terjaga.


"Beneran Chel, masa elo enggak nyadar sih? Perhatiin dong!"


"Yeee.. Gue enggak berani menghayal Ndra kalau soal Tuan Muda. Takut kalau dia ngomong nyelekit lagi gue makin sakit."


"Santai Chel. Gue dapat bocoran, kalau ide outing di pindah ke Medan itu dari bos kita. Dia yang bantu untuk nyari hotel. Kayaknya urusan sama perusahaan keluarganya deh. Tandanya dia sudah mulai baik kan?" Indra memberi bocoran yang mengejutkan.


"Woow! Enggak nyangka gue."


"Iya, ada kemungkinan dia sudah insaf."


"Enggak ngerti juga ya gue. Karena kalau pas jalan bareng tuan muda biasanya enak aja tuh. Paling sesekali ngangkat kita terus jatuhin kita."


"Sebentar deh. Itu beneran, Mas Malik yang merencanakan outing pindah ke Medan? Gila aja," kata Mas Kelana.


"Kenapa gila Mas?" tanya Indra.


"Pasti ada sesuatu. Jarang banget gue denger outing di Medan," Mas Kelana memberikan analisanya.


"Apaan ya? Kalau yang seputar outing di antara dua kota itu paling gue bilang intinya sih gue pasrah lah, gue sudah bosan hampir tiap tahun liburan pasti nyenggol salah satu kota itu. Terus jaman sekolah study tour juga kesana."


"Nah ini! Bisa jadi dari omongan elo ini, si bos jadi kepikiran, terus ngerubahnya." Mas Kelana mencoba menganalisa.


"Masa sih?" tanyaku penasaran dan enggak percaya.


"Kayaknya gitu Chel. Wah, seru nih bawa bini gue, bisa sekalian bulan madu," kata Mas Kelana lagi.


"Eh die ngaco. Kerja woy kerja. Di Medan kita kan meeting. Masa masuk kamar elo meeting lagi Mas?" tanyaku gemas.


"Tapi idenya bagus juga tuh. Kalau bosen kita bisa nyelinap ya Mas?" Indra menambahkan ide ngaconya.


"Mau menyelinap kemana?" tanya Mas Malik yang keluar dari ruangannya bareng Kak Bertha dan Sherin. Mereka habis meeting tentang desain Made Qi.


"Hahahahaha emang enak. Ngaco sih loh ngomongnya." Aku mentertawakan kesialan mereka karena kata - kata yang diucapkan. Tapi intonasi suara aku tetap terjaga.


"Enggak kok Mas." Indra menjawab sambil senyum malu. Mas Kelana malah pura - pura sibuk.


"Chel, enggak siap - siap pulang loh? Kita nonton yuk malam ini. Anak - anak gue lagi di rumah omanya nih." Kak Berta ngajak aku jalan.

__ADS_1


"Weits gaya loh! Anak - anaknya Kak Bertha lagi sama oma si raja dangdut." Aku reflek berkata seperti itu, ketika mendengar Kak Bertha menyebut kata oma.


"Heeh! Dasar ngaco! Itu oma, mertua gue. Bukan Rhoma Irama, Judiiii teeet." Kak Bertha malah menyebut penyanyi dangdut senior sambil nyanyi lagunya.


"Oh bukan. Ya kali, saudaraan gitu sama Kakak. By the way, gue enggak bisa Kak malam ini. Gue dijemput Jaka sore ini," jawabku.


"Jie jie jie, kencan terus," ledek Mas Kelana yang kujawab dengan senyuman.


"Kamu mau jalan sama Jaka?" Mas Malik yang berdiri di depan kubikel Mas Kelana ikut nimbrung.


"Iya Mas." Aku menjawab singkat sambil nge-save desain yang tadi aku buat.


Tidak lama setelah aku menjawab pertanyaan Mas Malik, Jaka meneleponku.


"Iya Jak. Dah dimana?"


("Sebentar lagi gue sampai kantor elo ya. Kita langsung jalan saja. Kalau boleh, elo nunggu di luar ya")


"Oke. Gue kebawah sekarang. Bye"


("Oke")


Saat kututup telepon dan kebetulan komputer pun sudah mati, enggak sengaja aku melihat tatapan Mas Malik yang menusuk ke arahku.


Tuh kan, suka aneh si bos ini. Tadi perasaan baik - baik saja.


Aku memutuskan langsung pamit kesemuanya. Daripada nanti Jaka nungguin, toh sudah jam pulang kantor. "Semuanya, gue cabut duluan ya. Mas Malik, saya pulang duluan ya."


"Iya Chel, titi dj. Elo mau jalan ya?" tanya Kak Bertha yang kujawab dengan anggukan dan permainan alis.


Indra dan Mas Kelana cuma melambaikan tangan sambil ngoceh enggak jelas disertai senyum.


Mas Malik enggak membalas ucapanku sama sekali. Kok kayak cemburu ya?


***


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2