Bos Ajaib

Bos Ajaib
68. Rasanya Masih Membekas


__ADS_3

Setelah terdengar bantingan pintu, aku pun minta Mas Malik melepaskan pelukannya. "Mas, Adek pegel."


"Sorry ya and thanks honey." Mas Malik berkata sambil mencium jidat jenong aku dan melepaskan pelukan.


"Heeemm," jawabku yang lantas membereskan barang bawaanku. Bahaya kalau lama - lama aku ada diruangan ini.


"Mas, Adek ke meja kerja dulu ya. Sudah beres semua kan?" tanyaku. Eeh yang ditanya cuma bengong doang mandang wajahku.


"Wooy! Nggak segitunya kali ngelihatnya, Mas!" Teriakku gemas ke Mas Malik.


"Mas senang deh, kamu mau cium Mas tadi. Boleh nggak tiap hari?" Et dah dia nanya dengan muka serius.


"Dih! Siang - siang mimpi. Wake up man! Itu tadi buat ngusir cewek itu biar cepat keluar ruangan. Karena Adek tahu kalau dia nggak keluar, Mas pasti akan terus meluk."


"Hah? Jadi tadi cuma buat ngusir Eli doang? Haduh! Mas ge-er tandanya. Padahal tadi Mas sudah senang loh. Kamu nggak lihat ya, ada bunga - bunga beterbangan disekitar kita setelah kamu cium Mas?"


"Ya ampun Petruk! Tadi Adek lihat kok ada bunga beterbangan, tapi bunga kamboja bukan bunga mawar atau bunga lily, jadi Adek cuekin. Itu bunga dari Mas?" Aku mengekspresikan dengan wajah sedih.


"Kok kamu bayanginnya bunga kamboja Dek? Nggak sekalian bunga melati sama daun pandan?" Hahahaha Mas Malik ngomong sambil cemberut.


"Ya udah deh, Mas tetap ngucapin terima kasih, atas inisiatif kamu. Ide kamu bagus dan berhasil. Bibir indah kamu mendarat sempurna tadi. Oke, kamu ke meja kamu deh, Mas ngerjain kerjaan dari Mas Ricky dulu ya. Dadah sayang."


"Haish! Dadah, cuma beda berapa meter juga. Kalau kangen juga Mas bisa keluar dan memandang pacar kecenya." Mas Malik hanya senyum dan memberi sun jauh. Ganjen deh.


Saat keluar, teman - teman tim gesrek langsung memandang aku dengan wajah penasaran mereka yang seakan butuh asupan gizi berupa gosip. Apalagi kalau bukan seputar cewek kece yang main nyelonong masuk dan keluar dengan banting pintu.


"Apaan sih, ngeliatnya gitu?" tanyaku dengan nada menggoda.


"Ceritain dong apa yang terjadi di dalam, Chel. Sampai tuh cewek ngamuk." Mas Kelana yang akhirnya membuka suara.


"Itu cewek tadi nggak mau keluar, ngeliatin gue sama Mas Malik aja. Biar dia pergi, tadi gue kecup aja bibir Mas Malik. Taraaaaa... dia kesel dong. Pergi deh."


Ssst.. aku nggak ceritain kalau tadi aku di cium Mas Malik. Biar itu jadi rahasia aku, Mas Malik, dan Tuhan saja. Kalau Eli mau bocorin sih, lain ceritanya.


"Astaga! Elo bisa nekat juga Chel?" tanya Indra.


"Daripada dia yang kecup bibir Mas Malik? Gue nggak mau ya kecolongan dua kali!" Aku menjawab dengan nada gemas.


"Terus elo kepikiran bulan madu nggak Chel?" tanya Mas Kelana.


"Gue kepikiran gedung pernikahan Mas. Bulan madu mah gampang, nggak sesusah nyocokin jadwal gedung kosong." Aku menjawab sesuai dengan pengalaman sepupu dan teman - temanku yang ribet sama gedung pernikahan.


"Emang elo udah mikirin soal pernikahan Chel?" kali ini Kak Bertha yang penasaran.

__ADS_1


"Belum Kak. Gue masih bingung. Gue maunya tahun depan, tapi banyak yang minta segera."


"Eh Chel, rasanya gimana ngecup Mas Malik. Terharu gue, elo berani nyosor duluan," kata Indra.


"Ikan hiu makan tomat, uuh nikmat," ucapku. Padahal mah aku masih deg - degan kepikiran ciumannya Mas Malik.


"Wahahahaha gue bayangin ikan hiu makan tomat. Mana nendang Chel! Susah deh nih bocah, otaknya lama - lama gue cubit juga deh," sahut Indra.


"Ya ampuun, bocah. Gue rasa selama ini pacaran, cowoknya pada nggak berani sama dia nih. Begitu aja nikmat. Gue no comment deh, bocah sudah jadi pacarnya bos, takut salah ngomong gue," kata Mas Kelana yang disambut dengan tertawa Kak Bertha dan Indra.


"Iya iya.. bentar lagi gue nikah kok, bakalan ngerasain yang lebih woow lagi. Udah ah, jangan ngetawain gue, sebel tau.


Aku nggak berani menjelaskan siapa wanita yang membanting pintu itu ke teman - teman karena menurutku itu salah satu privasi Mas Malik.


Kalau soal aku ngecup bibir Mas Malik, biar teman - teman tahu, aku juga bisa berani seperti si bulbul. Rachel gitu loh!


***


Hari ini semua desain kami sudah beres. Kami semua sudah bisa pulang sore hari. Kata Mas Malik, besok pun kami masih santai belum dapat tugas lagi, karena masih didiskusikan. Tapi kami tetap wajib masuk, meskipun terserah datang jam berapa.


"Bebaaas! Pokoknya yang penting makan siang sudah di kantor ya besok," kata Mas Malik saat memberikan pengumuman.


Dua cowok temanku langsung sibuk menyusun apa yang akan dilakukannya disisa hari ini sampai besok pagi bersama para istrinya. Wajahnya pun terlihat ceria. Mereka tuh seperti anak SD yang dikasih tahu kalau besok gurunya rapat.


Dari sini aku juga semakin mengerti kenapa dia ngambil kuliah S2 di beda jurusan, dan dua - duanya saat ini terpakai bo! Keren ya? Eh tapi jangan sampai Mas Malik tahu kalau aku memujinya, nanti dia terbang lagi.


Saat masih terjebak macet, Mas Malik mengatakan, "Dek, untuk ulang tahun kamu hari Sabtu besok kita rayain di Hotel Shangri-La ya. Mas sudah booking Ceria Room."


"Hah? Kirain nggak jadi. Terus yang harus Adek siapin apa? Aduuh Mas, keluarga Adek sudah nggak pernah ngerayain acara ulang tahun. Paling kami hanya syukuran makan nasi kuning atau nasi uduk." Jujur aku bingung kalau disuruh merayakan ulang tahun aku.


"Kamu siapin diri aja ya. Mas dibantu Becky kok."


"Oh oke. Kalau butuh bantuan Adek, bilang ya. Eh Mas, pulang malem aja yuk! Kita ke Senayan City atau Plaza Senayan. Adek mau beli baju buat ulang tahun."


"Yuk! Mas juga deh beli baju buat ulang tahun kamu. Kita buat temanya samaan ya?"


"Okay darling!" Aku semangat, karena membayangkan akan membeli baju ulang tahun. Dah lama banget bo, nggak beli baju khusus seperti ini. Kasian ya aku?


"Mas, totalannya berapa biaya ulang tahunnya? Mas jangan diam - diam aja dong. Itukan ulang tahun Adek." Lagi - lagi aku kepikiran nominal yang harus dikeluarkan. Apalagi acaranya dibuat di hotel, kan mahal.


"Tenang Dek. Itu diambil dari jatah warisan kamu kok. Jadi nggak usah dipikirin ya?"


"Hah? Terus konsepnya seperti apa Mas? Beneran nih, tinggal bawa badan aja?" Aku ngerasa kok kayaknya aku nggak bertanggung jawab ya? Itu ulang tahun aku, tapi aku nggak tahu apa - apa.

__ADS_1


"Iyaaa. Sudah deh, biar Mas dan Becky saja yang ngatur. Kan kamu nggak pernah ngerayain ulang tahun."


"Kalau butuh sesuatu bilang ya. Adek nggak enak jadinya kalau nggak tahu apa - apa."


"Iya sayang." Mas Malik berkata sambil ngacak - ngacak rambutku.


"Mas, ke Plaza Senayan aja deh."


"Kenapa? Kamu mau beli bajunya siapa?"


"Kalau Biyan aja gimana? Biar kelihatan girly gitu?"


"Boleh. Terserah kamu deh. Pokoknya yang nyaman sama kamu deh. Oh iya, jangan terbuka juga ya sama jangan memperlihatkan paha kamu ya."


"Hihihihi... Iya iya. Protektifnya kumat iih."


"Iya. Mas nggak suka kalau perempuan itu pamer anggota tubuhnya. Dan makasih kamu mau nurut perihal ini ya," kata Mas Malik sambil menatap aku dengan senyum gantengnya. Es krim... adem banget senyumannya seperti es krim.


"Udah deh. Nyetir yang bener ah. Jangan suka pamer senyuman gitu."


"Nggak tahu deh, Mas hari ini lagi senang banget sama kamu."


"Kenapa?"


"Mas merasa dibutuhin sama kamu. Sekali lagi makasih ya, sudah mau inisiatif tadi."


Lah, padahal sebelumnya dia yang cium aku, sampai terus kebayang sama aku. Eh apa ini rasanya ya, kalau dapat kecup dari pasangan yang kita cintai?


***


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2