
"Rachel, nanti kamu ke ruangan saya sambil bawa perkembangan dari desain Mutiara Intan Lombok ya," kata Mas Malik yang tahu - tahu sudah ada di depanku.
"Oh, oke Mas. Saya siapin dulu sebentar." Aku sedikit kaget. Tuan Muda nih sukanya ngagetin saja.
"Sip, saya tunggu ya." Mas Malik pun langsung pergi ke ruangannya.
Setelah ku ketok ruangannya dan masuk, aku menyerahkan beberapa lembar konsep yang di print. Dia pun membuka folder komputer untuk mengecek kerjaanku yang sudah kusimpan di folder desain.
Selama masih acc, Mas Malik lebih senang di print, sehingga dia bisa langsung kasih tanda di bagian yang harus di revisi. Jadi mempermudah juga saat aku atau teman - teman lain saat memperbaikinya.
"Chel, kok jelek sih?" komentar si bos dengan nada yang enggak enak dan menusuk.
"Apanya Mas?" Jujur aku mau nangis tapi juga mau marah. Nyelekit banget sih, padahal waktu baru pulang dari Lombok, hari Senin kemarin, kita sudah diskusi soal desain dan warnanya. Jadi maksud si bos apa coba?
"Ya pekerjaan kamu lah."
"Mas, kita kan sudah sepakat dengan penggunaan warnanya, lalu bayangan soal beberapa konsep desain ini pun hasil diskusi kita juga. Jadi yang mananya ya? Tolong jelasin dong," kataku sambil menahan emosi sebisa mungkin.
"Yaa lihat saja. Keliatan kurang keren." Mas Malik memutar layar monitornya miring, sehingga kami bisa melihat dari posisi kami masing-masing yang berhadapan. Menurut aku, desain yang aku buat keren dan sudah sesuai konsep kasar dari hasil diskusi kami.
"Jadi menurut Mas Malik, sebaiknya apa yang harus diperbaiki?" tanyaku, ya mungkin dia punya ide yang menurut dia bagus.
"Itu tugas kamu dong untuk memperbaikinya. Kalau dari saya, nanti kamu cuma jadi operator doang dong. Sana benerin dulu!" Mas Malik lagi- lagi bicara dengan nada nyelekit sambil menutup aplikasi dan memberikan beberapa kertas konsep yang di print ke aku.
"Oke." Aku langsung bangun, balik badan, meninggalkan ruangannya. Tanpa basa-basi lagi.
Aku langsung kembali ke kubikelku dan langsung fokus di depan layar monitorku. Aku lagi enggak mood bercanda, gangguan dari teman-teman yang menggoda pun akhirnya lenyap dengan sendirinya setelah aku cuekin.
"Chel, elo nangis?" tanya Kak Bertha pelan.
"Hah enggak kok." Tapi tangan Kak Bertha mengusap air mata di pipiku.
"Ya ampun Kak, gue kok enggak nyadar ya?" Aku langsung mengelap lagi pipiku setelah mengambil tisu di laci.
"Elo kenapa? Si bos nyinyir lagi sama elo?" tanya Kak Bertha masih dengan suara pelan dan aku jawab dengan anggukan.
"Lama-lama gue enggak kuat Kak." Aku malah sudah enggak bisa ngontrol air mata lagi. Kak Bertha langsung meluk aku.
"Jangan mendadak ya, Senin besok gue cuti nih." Aku langsung nyubit lengannya. Seseorang emang ya akan selalu berusaha menghibur sahabatnya yang sedang sedih. Mana mungkin bisa secepat itu resign.
"Jadi kenapa?" Kak Bertha penasaran minta bocoran.
"Bos elo tuh, ngaco!" jawabku dengan nada kesal.
"Yee, bos elo juga keles!" kata Kak Bertha. "Padahal kemarin dia masih asyik-asyik saja kan?" Kak Bertha minta persetujuan aku tentang pendapatnya. Aku hanya menjawab dengan gerakan bahu.
"Apa karena elo mau cuti ya Kak, dia jadi singit gitu?" Aku sudah mulai melepas pelukannya. Tangisku pun sudah berhenti, tinggal mampet di hidung saja yang masih mengganggu.
__ADS_1
"Ya enggaklah." Kak Bertha menjawab sambil memindahkan bangkunya ke kubikelnya lagi.
Aku pun kembali fokus ke layar komputerku dan memasang headset mendengarkan musik di kupingku, biar hatiku tenang, bisa konsentrasi, dan mendapatkan inspirasi.
Ternyata cukup lama juga aku konsentrasi tanpa terganggu teman-temanku, hingga sekitar pukul 11.30 terhidang paket bebek goreng yang dibawa oleh OB untuk semua tim divisi desain dan Sherin.
Oke, ini menandakan sudah waktunya melepas headset. Sampai saat ini niat bercandaku masih layu, efek dari Tuan Muda.
"Kak, ini dari siapa? Dalam rangka apa?" Kak Bertha hanya menunjuk pintu ruangan si bos.
"Dari Mas Malik?" tanyaku. Yang dijawab anggukan olehnya.
"Ooh." Aku langsung buka aplikasi online untuk beli makanan lain. Males aku nyentuh makanan dari si bos. Aku sih gitu orangnya, kalau kesel, total mengekspresikan dirinya. Walaupun kadang-kadang melanggar sih.
"Selamat makan semuanya," kata Mas Malik begitu keluar dari ruangannya.
Keriuhan langsung terasa, apalagi Sherin yang seperti sedang mencari perhatian Mas Malik. Susah deh bocah, gerak geriknya kalau naksir masih kelihatan. Aku memilih serius dengan games di ipad tanpa menyentuh makanan pemberiannya.
Dari suaranya, Mas Malik masih ngobrol sama Mas Kelana. Aku lebih memilih ke bawah deh daripada jadi emosi ngeliat si Tuan Muda itu.
" Kak, gue ke bawah dulu ya. Cari angin." Aku pamit sama Kak Bertha.
"Iya. Kalau ada apa-apa berkabar saja sama gue. Kayaknya dia merasa bersalah deh sama elo, dari tadi sering ngeliatin elo."
"Paling dia jatuh cinta sama gue, Kak." Ceplosku asal ucap. Kak Bertha langsung tertawa terbahak-bahak. Aku pun langsung meninggalkan kubikelku dengan membawa tas kecil yang kuis dompet, ponsel, dan ipad.
Saat aku turun, pas makananku tiba. Aku lalu masuk dapur lantai satu, ternyata disana sudah ada Sisi dan Astrid. Astrid ini istrinya Mas Ricky, si pemilik perusahaan. Tadinya, dia yang mau disuruh megang perusahaan sama Mas Ricky, tapi enggak jadi. Karena Mas Ricky enggak mau Astrid cuma diam di rumah, dia meminta Astrid menjadi direktur keuangan. Meskipun jabatannya direktur, dia tetap enggak tengil yang ngebos gitu, sama deh sama Mas Ricky. Membumi banget, friendly.
"Boleh, pakai aja. Kunci nanti ambil di gue. Eh sebelum naik aja nanti langsung ambil, takut gue tahu-tahu balik kerumah, gak ke kantor lagi," jawab Astrid.
"Chel, elo pakai jaket sama helm gue aja, nanti masuk angin lagi loh kalau enggak pakai jaket. Semua ada diruangan gue, ambil aja ya nanti di meja gue. Habis makan gue siapin deh." Sisi ikut nimbrung.
"Waah, terima kasih semuanya, jadi seneng deh. Pulang sore ah hari ini." Aku jadi semakin lahap memakan menu soto betawi yang tadi aku pesan.
Setelah selesai makan, aku mengekori Astrid keruangannya untuk mengambil kunci motor, sebelum naik keatas.
"Chel, elo ditanyain Tuan Muda tadi, " kata Kak Bertha saat aku baru duduk di bangku kerjaku.
"Apa katanya? Kangen sama gue? Mau nyinyirin gue lagi?" tanyaku yang langsung emosi lagi inget punya bos aneh.
"Enggak, yaa tadi kitakan makan disini semua, tapi elo enggak ada dan bebek elo masih ada di meja. Mungkin dia takut elo pingsan," kata Kak Bertha.
"Ooh, gue tadi makan soto betawi Kak di dapur bawah sama Sisi dan Astrid."
"Ooh pantes, enggak balik-balik tadi. Habis ini kita meeting sebentar, kata Mas Malik, agak mendadak." Sambung Kak Bertha yang enggak kasih tahu pembahasan rapatnya.
"Oke." Aku pun melanjutkan membuat desain Mutiara Intan lagi.
__ADS_1
Ternyata rapat kali ini membahas foto yang akan digunakan untuk web sayurituenak. Jadi karena sudah pengembangan usaha ke beberapa daerah, Mas Ricky dan Bang Gi sebagai pemilik mau ada sedikit perbedaan foto yang disesuaikan dengan daerah masing-masing.
Karena ada beberapa daerah yang akan launching, jadi biar cepat selesai, kami bagi dalam pengerjaannya, kecuali Kak Bertha yang enggak kebagian, karena dia mau cuti. Point-point pembahasan dalam desain benar-benar dikupas tuntas oleh kami, biar tidak ada kendala.
"Kalau fotonya kurang oke menurut kalian, langsung minta ke Sherin ya. Sherin kamu sudah pegang semua kebutuhan foto untuk sayurituenak kan?" tanya Mas Malik ke Sherin.
"Sudah Mas, tadi sudah dikirim sama Mbak Sisi."
"Mas, fotonya Mas yang milih kan ya? Biar enggak salah foto perdaerahnya." Aku membutuhkan ketegasan dalam pemilihan foto agar aku enggak disalahin lagi dan banyak saksi.
"Iya, nanti saya masukin ke folder." Mas Malik menjawab tegas sambil menatap aku tajam.
"Oke, kalau enggak ada pertanyaan lain, kita sudahi rapat ini, dan kalian atur pembagian pengerjaan tugasnya ya. Good luck and thanks!" Kata Mas Malik menutup rapat. Dia kemudian membereskan perlengkapan lenongnya.
Sherin dan Indra keluar ruang rapat bersamaan. Lalu disusul dengan Kak Bertha dan Mas Kelana.
Aku masih di ruang rapat, karena tadi aku benar-benar mencatat semua penjelasan Mas Malik. Males aja kalau disalahin lagi, meskipun yang disalahin tadi pagi, aku punya buktinya juga, kalau beberapa point adalah ide desain si bos juga.
Saat aku sudah jalan menuju pintu, ternyata Mas Malik berada di depan pintu ruang rapat, sehingga menghalangi untuk aku keluar.
"Kamu nangis?" tanya Mas Malik, saat aku menatapnya berharap dia tidak menghalangi jalanku.
"Hah? Enggak kok." Aku menjawab sambil meraba pipi dan mata untuk memastikan apakah ada air mata.
"Tadi saat saya keluar ruangan, saya lihat kamu di depan komputer dengan menggunakan headset dan kamu nangis."
"Ooh itu. Saya lagi dengerin lagu sedih Mas. Jadi kebawa suasana gitu. Namanya juga cewek."
"Saya ya, penyebabnya?" tanyanya sambil menatap aku serius.
"Aah suka ge-er deh. Maaf Mas, permisi."
"Enggak ge-er, karena sekarang sikap kamu ke saya pun berubah." Mas Malik masih berusaha menghalangi jalanku.
"Ya, Mas kan atasan saya, saya enggak berani dong menganggap Mas sebagai teman. Saya rasa saya harus formal." Aku berjalan menuju pintu berusaha menyelinap dan mendahuluinya keluar ruangan.
***
.
.
...Jangan lupa jejaknya ya cyiiinnn...
...😘😘😘...
.
__ADS_1
.
Bersambung