Bos Ajaib

Bos Ajaib
9. Dinner Bareng Bos


__ADS_3

"Mas, kita mau ngapain kesini?" Aku bingung, tahu - tahu mobil main masuk ke Grand Hyatt.


"Makan. Ini tempat yang aman dari teman - teman yang mau kamu hindari. Selagi masih jam makan malam. Yuk turun, kita pakai valet parking saja." Mas Malik memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu lobi hotel.


"Ya ampun Mas, tapi saya kan tadi sudah nolak. Kirain tadi mau lewat jalan alternatif karena macet, makanya saya enggak komentar." Aku protes, karena merasa aneh aja tahu - tahu makan malam bareng bos. Padahal rencananya mau makan malam sama Jaka.


"Terus sekarang kamu mau pulang?" tanya Mas Malik datar tapi nadanya sedikit ngeselin. Dia bertanya saat kami berdiri di depan pintu lobi.


Aku mau nangis, sumpah. Bingung aku. Eh tapi, kok aku kayak berantem sama pacar gini ya?


"Ya sudah yuk, sebentar saja. Kalau enggak mau makan enggak masalah, kamu temani saya saja ya." Eh nada suaranya bijaksana banget! Sudah hilang nada nyinyir bin nyebelinnya.


Aku pun mengikuti langkahnya saat menaiki eskalator dan berjalan menuju Grand Cafe.


Saat sudah mendapatkan meja, si bos langsung jalan mengambil menu prasmanan. Aku duduk saja menunggu Mas Malik.


"Rachel, kamu ambil minum deh kalau enggak mau makan. Saya enggak mau kamu hanya jadi penonton saja." Dih, gimana sih? Tadi dia juga yang nawarin untuk menemani saja dia makan. Enggak konsisten iih. Aku enggak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan sinis.


Si bos enggak lama pergi meninggalkan meja. Ketika datang, dia membawa dua gelas jus.


"Yang ini jus sirsak dan ini jus jeruk. Terserah kamu mau yang mana." Dia berkata sambil menunjuk masing - masing gelasnya.


"Diminum jusnya, biar bisa mengurai kejudesan kamu," katanya dengan nada datar dan sambil melanjutkan makannya.


Gimana orang enggak kesel ya, dia minta kita minum, tapi kata - kata terakhirnya bikin ngajakin berantem. Kirain tadi sedikit adem, ngajak pulang baik - baik, di mobil juga sempat ketawa ketiwi. Aku yakin, kayaknya si bos korslet deh.


"Ini minum dulu." Ya ampun! Tanpa aku ketahui pergerakannya, gelas jus jeruk sudah ada di dekat bibirku.


Mau enggak mau aku langsung nyeruput, tapi pelan - pelan gelasnya aku ambil alih.


Weh enak juga jusnya. Segeeer. Aku langsung meminumnya tanpa sisa.


"Enak kan? Mau yang sirsak?" Mas Malik langsung mengambilkan jus sirsak yang dia letakkan di meja, tapi aku langsung mengambil dari tangannya. Enggak lucu aja, masa minum saja dibantuin.


"Kamu ambil makan dulu deh. Nanti kalau kelaparan, besok enggak bisa ngelawak lagi loh."


Bengong aku menatapnya. Kayak di film - film romantis gitu, kita saling bertatapan. Tapi sayangnya ini sama si bos, bukan sama pacar. Jadi enggak romantis, tapi tragis!


"Ngelawak? Saya enggak pernah ada niatan ngelawak kok Mas. Niat saya selalu bikin web yang keren, tapi yang buat saya heran, bos saya itu senangnya bolak balik minta revisi. Sebel deh."


"Yang kamu omongin itu siapa?"

__ADS_1


"Iiih susah bener sih ngomong sama Mas Malik. Saya lagi ngomongin bos saya. Jangan bilang - bilang ya!" Aku mengatakan dengan muka serius, dengan harapan dia sadar. Berharap boleh lah, dari pada aku sering kesel di kantor.


"Kamu ambil makan dulu sana. Saya tungguin disini!" Mas Malik langsung masang ekspresi bossy. Aku pun langsung berdiri, setelah minum jus dua gelas, perutku jadi lapar. Lagipula, aku butuh energi untuk memenangkan perdebatan dengan si bos.


Setelah mengambil nasi dan teman - temannya, aku kembali lagi ke meja. Eh aku ambil dua piring makanan, selain nasi and the gank aku juga ambil steak.


Aku menikmati steak dibawah tatapan si bos. Jujur aku salah tingkah. Kan enggak enak ya makan sambil dilihatin gerak geriknya. Mirip narapidana yang dijagain karena takut lepas deh pokoknya.


"Nasinya kok belum dimakan Chel?"


"Nasinya masih panas Mas, sepertinya masih demam. Jadi saya habiskan steak-nya dulu. Enggak papa ya?" jawabku sambil menyantap nikmatnya daging dengan bumbu barbeque. Si bos kali ini hanya membalas dengan gelengan kepala dan senyuman gantengnya. Eeh, tapi aku enggak naksir ya.


"Kamu tadi itu nunggu di jemput siapa Chel?"


"Ada deh. Want to know aja deh!"


"Ya sudah kalau enggak mau kasih tahu."


"Ya enggak lah. Kan enggak ada urusannya sama kerjaan Mas, jadi Mas Malik enggak perlu tahu."


"Tapikan di jemputnya di kantor, kalau di kantorkan saya atasan kamu!"


"Chel, emang kenapa sih mama kamu sampai enggak percaya sama kamu tempo hari? Sering mama kamu gitu?"


"Enggak kok Mas. Biasalah, mama lagi ada maunya," ujarku cuek.


"Lagi ada maunya? Memang mama kamu mau apa?"


"Kayaknya sih mau jodohin saya. Takut saya enggak mau, terus kemarin dipikir saya menghindar. Keren ya mama saya, hari gini, anak disekolahin jauh - jauh ujungnya di jodohin."


"Kamu mau di jodohin gitu? Kamu sudah kenal?"


Aku menjawab dengan gelengan. "Enggak lah, dan belum kenal juga." Aku bicara sambil ketawa geli, nekat juga ya kalau aku iyain kemauan mama.


"Kalau kamu punya pacar mungkin mama kamu enggak akan repot."


"Ya elah Mas, santai saja kali. Mama aja yang resek. Nanti saya mau ajak si Jaka bersekongkol aja."


"Jaka?"


"Itu loh Mas, cowok yang mama paksa saya harus ketemuan."

__ADS_1


"Ooh. Semoga sukses deh persekongkolan kalian." Lagi - lagi si bos ngomong sambil senyum. Aneh iih, kayak bahagia gitu.


"Kalau kamu belum punya pasangan, kenapa harus sembunyi - sembunyi kalau kita jalan berdua gini?"


"Sembunyi sih enggak Mas, cuma jangan sampai ketemu teman - teman kantor saja sih. Awkward."


Mas Malik menyipitkan matanya lalu mulai menginterogasi, "Kenapa awkward? Memangnya, ada yang spesial dengan jalan berdua?"


Jeng jeng jeng jeng... Kena loh Chel! Salah ngomong kan? Akhirnya aku hanya menjawab, "Enggak kok Mas."


"Maaf Mas, bukannya apa - apa, tapi kita kan enggak bisa ngatur pikiran orang. Lihat saja kejadian yang lalu. Mereka berfikirnya Mas jalan sama someone spesial. Padahal kita enggak ada hubungan spesial." Aku harus memberi penekanan tersebut, kan memang benar kita tidak memiliki hubungan apa - apa.


Mas Malik mengangguk mendengar pendapatku. "Tapi saya tidak memikirkan apapun yang orang lain fikirkan. Karena ini hidup saya, saya yang jalanin, bukan mereka."


Makjleb! Emang benar sih omongannya. "Tapi kan kita hidup bersosialisasi Mas, enggak bisa cuek gitu saja."


"Itu masalah kamu. Kenapa harus mikirin omongan orang, cuekin saja. Toh mereka tidak menjamin kebahagiaan kamu."


Ya terus? Aku disuruh ngikutin gaya hidup si bos gitu? Ogah deh! Tapi aku memilih diam.


"Kok diam?" Mungkin Mas Malik berharap aku selalu mendebat perkataannya.


"Enggak papa. Emang enggak boleh kalau saya diam?" tanyaku sinis.


"Ya sudah yuk, kita pulang."


***


.


.


Sebelum lanjut, jangan lupa


Like, comment, dan vote-nya 🤗🤗🤗


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2