Bos Ajaib

Bos Ajaib
50. Komitmen


__ADS_3

"Mbaaaaak.. Mas Jaka sama Mas Malik sudah datang nih." Rachel datang ke kamarku dengan teriakannya.


"Iya, tunggu."


"Lagian kenapa Mbak bangunnya bisa kesiangan sih? Tadi malem perasaan aku sama Mas Jaka deh yang pulang belakangan?" Protes Reyka. Setelah memberitahu aku, Reyka kembali menemui mereka.


Aku tidak menjawabnya. Tadi malam sepulang Mas Malik dari mengantarku dan berbincang sebentar dengan papa, aku langsung masuk kamar. Tapi, aku enggak bisa tidur. Jadi mikir dan berbunga - bunga hatiku. Biar deh, aku tanam dulu ini bibit cintaku.


Saat aku kebawah, mereka semua sudah berada di meja makan.


"Ini dia nih orangnya. Kita sudah siap dia masih bersenandung di kamar mandi."


"Yeeey, Mbak nggak pernah nyanyi dikamar mandi deh. Fitonah aja kamu Rey."


"Kamu tumben bangun siang Chel?" tanya Mama.


"Mah, sepertinya tubuh aku sudah terjadwal, kalau Sabtu bangun tidur jam 6 itu tidak masalah," ujarku ngeles seperti bajaj di ibukota negara ber-flower ini.


"Ya sudah, yuk jalan. Katanya mau sarapan di Bogor?" Jaka seakan mengingatkan rute yang akan kita jalani hari ini. Meskipun aku enggak tahu mau kemana saja di Bogor.


"Hayuk saja gue jalan sekarang," Aku berkomentar sambil membuat teh hangat yang aku masukan ke termos untuk di jalan.


Kami semua pun langsung berpamitan ke Mama dan Papa. Kami pergi dengan menggunakan mobil Mas Malik. Daan akhirnya terjadi perdebatan. Karena ternyata Reyka dan Jaka sudah sepakat kalau Jaka yang nyetir dan Reyka duduk di depan samping Jaka.


Hingga akhirnya Reyka komentar, "Mas Malik duduk dibelakang saja sama Mbak. Aku mau lihat pemandangan, aku duduk di depan." Reyka mengatur formasi tempat duduk kami.


"Ya sudah Mas, namanya juga tuan dan nyonya, ya emang duduknya kan dibelakang. Biarin deh supir dan asisten rumah tangga yang di depan," ujarku menggoda Reyka.


"Mbaaaaak, iih ngaco deh. Eh, emangnya Mbak sama Mas Malik pacaran ya? Kok tuan dan nyonya?" tanya Reyka.


"Yiiiha! Serius bener sih Rey," sahutku.


"Anggap saja kami pacaran Rey. Sudah sana duduk di depan. Saya pacaran dulu dibelakang sama Mbakmu ya." Mas Malik malah manas - manasin.


"Yeey, Mas Jaka juga lagi pendekatan kok sama aku. Iyakan Mas?" tanya Reyka saat kita sudah duduk dimobil.


Yang diajak ngomong malah langsung berantakin rambut Reyka. Hhmmm setipe kayaknya nih sama Mas Malik, suka berantakin rambut.


Saat mobil sudah jalan, kami semua ngobrol ngalor ngidul. Saat ngobrol Mas Malik menggenggam jemariku. Again? Ya sudahlah, pasrah, daripada ribut nanti malah dua makhluk yang didepan makin resek meledek aku.


Ada rasa nyaman saat tanganku di genggam sama Mas Malik. Anehnya dia bisa cuek saja sambil ngobrol. Aah, aku merasakan sesuatu di dadaku semakin bergelora.


***


Kami memilih sarapan dua tempat di jalan Surya Kencana. Dua tempat? Iya, ini semua karena Reyka benar-benar ingin makan di kedua tempat ini.


Jadi aku sama Mas Malik tadi sepakat untuk jadi follower saja. Karena perdebatan antara Reyka dengan Jaka menurut kami terbilang sudah cukup ramai tanpa kami ikut campur.

__ADS_1


Jaka yang memang jago dalam mengarahkan lawan bicaranya untuk mengikuti apa yang disampaikan, akhirnya dapat meng-handle keras kepalanya Reyka.


Aku cukup salut sama Jaka dengan kesabarannya dalam memberikan penjelasan ke Reyka. Dalam kejadian ini, semakin aku yakin kalau Jaka cocok dengan Reyka.


Jadi, awalnya Reyka ingin mencoba banyak kuliner di jalan Surya Kencana. Tapi, Jaka memintanya memilih, dasar Reyka si anak bontot yang jago ngambek, dia ngambek dong sama Jaka. Sampai akhirnya, diputuskan memilih dua tempat makan untuk sarapan.


Karena sarapan di dua tempat, aku selalu memesan menu setengah porsi karena takut tidak habis. Tidak seperti lainnya yang ternyata cukup kuat untuk menghabiskan satu porsi di kedua tempat.


Setelah selesai sarapan dan kulihat Reyka pun sudah mulai ceria, kami melanjutkan perjalanan kami. Sebelum berburu kuliner untuk makan siang, kami memutuskan keliling kota Bogor.


"Jalan-jalan saja keliling Bogor atau mau ke kebun raya sampai menjelang jam makan siang? Terus nanti pas makan siang baru ke Bukit Air Resto. Gimana Mas, setuju enggak?" tanya Reyka ke Jaka.


"Saya enggak ditanyain nih Rey?" tanya Mas Malik.


"Enggak, tuan sama nyonya diem aja. Ikut aja apa kata kita. Tapi kalau mau bayarin enggak masalah," kata Reyka.


"Ya sudah, yuk nyonya, kita sayang sayangan saja di sini, biar asisten sama supir kita ngiri," ujar Mas Malik gangguin Reyka sambil mencoba merangkul aku. Aku langsung reflek mencubit paha Mas Malik.


"Hahahahaha emangnya Mbak Acel mau sayang sayangan gitu? Enggak yakin aku Mas. Yang ada Mas Malik ditendang sama kakak aku yang manis ini."


"Iya nih Rey, Mas Malik gangguin Mbak terus. Kamu pindah kesini deh, biar Mas Malik di depan." Aku meminta perpindahan posisi duduk ke Reyka.


"Enggak ah Mbak. Biar kita kayak lagi double date gitu Mbak. Jadi enggak papa gini aja," jawab Reyka.


"Ya sudah, terserah kalian deh mau kemana. Saya ikut saja, bukan begitu nyonya?" tanya Mas Malik menggoda aku yang aku bales dengan pukulan dilengannya.


Kulihat dari kaca spion, Jaka sedang mentertawakan aku sambil melihat ke arah aku dan Mas Malik.


Saat di resto aku dan Mas Malik yang menerima semua keputusan Reyka dan Jaka akhirnya memilih untuk keliling resto ini. Bagaimana enggak cuma sebagai followers saja kalau dua mahluk itu sudah memutuskan aneka menu yang akan disantap.


Sebenarnya ini idenya Mas Malik, untuk berkeliling yang juga ingin bicara denganku. Aku setujui karena aku juga capek dari tadi duduk terus didalam mobil.


"Mas, kita mau kemana?" tanyaku saat Mas Malik mulai menggandeng aku.


"Mas juga belum tahu, Mas mau ngobrol sama kamu berdua. Tanpa ada dua manusia ramai itu."


"Hahahaha, mereka kayaknya cocok deh Mas."


"Kalau menurut kamu, kita cocok nggak?" tanya Mas Malik sambil mempererat genggamannya.


"Mas, saya risih."


"Kenapa? Apa yang ada dikepala kamu saat ini tentang kita?" tanyanya sambil kita berjalan berdekatan.


"Saya bingung. Mas tuh bos yang nyebelin, yang suka bikin saya emosi, yang kalau ngomong suka nyelekit. Saya sebenarnya enggak suka dengan cowok seperti itu."


"Kamu menyebut kata 'sebenarnya'. Jadi tandanya kamu suka sama Mas?" tanya Mas Malik sambil menatap wajahku.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk kemudian menunduk. Aku sebel, tapi aku juga jatuh cinta sama dia, gimana dong?


"Heei, kamu kenapa nunduk?" Kedua tangan Mas Malik memegang pipiku dan wajahku sekarang menatap wajahnya.


"I love you, Rachel. Kalau ada perkataan atau sikap Mas yang membuat kamu sebal, kamu langsung kasih tahu Mas. Mau ya?"


"Saya enggak tahu Mas. Tapi ya itu, saya sebel sama sikap Mas Malik yang suka nyebelin itu. Tadi malamkan saya juga sudah kasih tahu."


"Kamu tahu enggak, selama hidup Mas, Mas belum pernah mengungkapkan perasaan Mas, unek-unek Mas ke wanita yang Mas sukai. Ini baru sama kamu loh Mas ngomong. Mas sudah enggak kuat, apalagi Mas cemburu melihat kamu jalan dengan cowok lain."


"Hah? Mas Malik belum pernah pacaran? Bohong banget." Aku enggak percaya.


"Mas sudah beberapa kali pacaran, tapi itu pihak wanitanya yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu. Mas belum pernah nembak dan dapat dikatakan Mas sangat pasif selama hubungan terjalin."


"Ooh."


"Mulai sekarang, kamu cerita ya apa yang akan kamu lakukan, apa yang membuat kamu tidak nyaman, yang membuat kamu kesal, marah, pokoknya semuanya deh. Mau ya?"


"Kalau inget ya Mas. Tapi Mas, saya kan enggak mau pacaran." Aku menginginkan Mas Malik.


"Mas nggak ngajak kamu pacaran. Mas ngajak kamu menikah."


"Hhmmm, kalau Mas masih suka ngeselin, nyebelin, atau bikin aku emosi, aku cuekin aja ya? Aku enggak nyapa Mas Malik. Biar Mas Malik kebingungan."


"Hehehehe, iya. Tapi Mas suka loh lihat mulut kamu monyong-monyong gitu kalau lagi kesal. Senang aja Mas lihatnya. Makanya sering Mas gangguin." Mas Malik bicara sambil mengusap-ngusap rambutku.


"Iiih Mas jahat! Eh Mas, tapi boleh enggak kalau backstreet dari anak - anak kantor? Aku masih belum nyaman kalau kita ketahuan punya hubungan."


"Boleh sayang. Yang penting, kita saling terbuka ya?"


"Oke Mas," kataku sambil menatap wajah yayang bebeb aku. Mas Malik pun menatapku dengan senyum gantengnya.


"Yuk, kita balik lagi. Semoga pesanan makanannya sudah tersaji semua," ajak Mas Malik yang sekarang hobinya menggandeng tanganku. Aku hanya dapat menelan ludah dengan perlakuannya ini.


"Mas, gara - gara kemarin, saya jadi enggak bisa tidur."


"Sama. Mas juga kurang tidur. Makanya hari ini Mas mau semua jelas. Makasih ya sayang, Mas happy sekarang."


***


.


.


Akhirnya... 🥰🥰😘🥰🥰


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2