Bos Ajaib

Bos Ajaib
58. Si Bos Ngambek


__ADS_3

"Udah ah, suka - suka gue deh! Kan calon bini gue." Mas Malik menjawab tanpa mau membahas.


"Cuit cuit.. Calon bini. Tuh Chel, diakui sebagai calon istri. Sudah jangan sedih lagi. Cowok ganteng yang tadi ngajak elo kenalan cuekin aja kalau gitu." Mas Kelana mulai beraksi sebagai kompor meleduk.


"Kenalan sama siapa?" Mas Malik yang lagi ngambil makanan langsung berhenti, kepancing dengan bualan Mas Kelana.


"Udah, enggak usah cemburu. Dia enggak sampai dicium sama tuh cowok kok." Mas Kelana kayaknya ngajakin perang nih.


"Mas Kel. Pleaseee..." ucapku dengan nada memelas sambil menatapnya dengan tatapan minta pengertiannya.


"Please apa maksudnya Dek?" Sekarang malah Mas Malik penasaran.


"Tahu nih Kelana. Bukannya jadi rahasia kita berempat aja. Dah Lik enggak usah dipikirin, santai aja." Kak Bertha menambahkan.


"Lagian Rachel masih utuh kan?" Indra sepertinya tidak mau kalah gangguin atasannya.


Oke, sip! Teman - teman aku bukan cuma gesrek ternyata, sekarang malah jadi kompor semua.


"Nanti kamu pulang bareng Mas ya, Dek." Mas Malik memulai sikap protektifnya.


"Tapi pulang dari sini tetap bareng kita loh, Mas," ucap Mas Kelana yang lagi hobi gangguin si bos.


"Enggak! Pulang dari sini juga sama gue." Mas Malik bicara dengan nada tegas, layaknya di ruang rapat.


"Serem amat sih Chel elo pacaran sama atasan di kantor. Pikirin lagi deh selagi belum ada janur kuning," komentar Kak Bertha.


"Iya ya," ucapku. "Mas, kalau Mas Malik galak sama protektif kayak gitu teman - teman nanti nggak merestui loh," kataku lagi.


"Deeek..." kata Mas Malik merajuk. Dan kami semua pun tertawa ngakak. Ini adalah pertama kali teman - temanku mendengar dan melihat Mas Malik merajuk dengan intonasi manja. Lah biasanya kan suaranya tegas bin ngeselin yang enggak bisa dibantah. Mentok - mentok suaranya datar tanpa bisa ditebak emosinya.


"Iya Mas, iya. Ada yang mau Rachel bahas juga kok sama Mas Malik. Makanannya habisin dulu. Kalau enggak habis, besok harus beliin kita steak buat makan siang loh." Aku sedikit mengancam.


"Kalau denger Rachel ngomong gini, dewasa banget ya," ledek Indra.


Lagi - lagi, dijawab dengan tertawa ngakak nan renyah dari semua temanku dan juga pacarku.


"Udah deh, jangan ketawa lebar-lebar, nanti jakunnya ketelen! Jangan suruh gue bantuin kalian kalau ada apa - apa dengan jakun kalian ya!" Aku mengancam ketiga cowok yang ketawanya sampai mangap - mangap.


Pernah bayangin nggak, jakun yang ada dileher ketelen karena para pria terlalu lebar membuka mulutnya? Itulah yang selalu aku bayangin kalau mereka tertawa lebar, takut nggak sengaja merosot.


Kalian pernah nggak, merasakan diposisi aku? Lagi cemburu terus dibully kan bikin kesel ya? Terus, aku udah ancam gitu bukannya diam, malah tambah ngakak. Sebel aku tuh!

__ADS_1


Setelah es krim ku habis, kami memutuskan untuk langsung balik ke kantor. Ya kali, ngajak jalan buat belanja disiang bolong, yang ada bisa di nyinyirin terus sama bos di kantor. Itu tuh, bos yang abis bikin aku cemburu itu.


Seperti pembahasan tadi di Pancious, aku balik ke kantor bersama Mas Malik. Dan ternyata dia pakai valet juga. Hahahaha virus valet parking Rachel ternyata menular ke lainnya.


Saat mau berpisah di mol lagi lagi si kompor meleduk cari gara - gara dengan mengatakan, "Chel, jangan mau kalah sama si bulbul. Kecup tuh bibir pacar elo." Mas Kelana ngomong seperti itu dengan suara keras, kan bikin malu. Kesannya aku tipe cewek yang suka maen nyosor. Omongan Mas Kelana nggak aku gubris, aku pelototin aja tampang cowok iseng itu.


Di mobil, Mas Malik sibuk dong nanya - nanya aku. Dia sibuk nanyain, cowok yang kata Mas Kelana ngajak kenalan di mol. Aku yang sibuk menyangkal pun nggak di percaya.


"Mas, Rachel nggak bohong. Enggak ada tuh yang namanya cowok agak bule dengan bola mata cokelat yang mau kenalan. Dibohongin tahu sama Mas Kelana." Aku bicara sambil menyalakan ponsel.


"Tapi tadi Kelana enggak nyebut cowok agak bule dengan bola mata cokelat loh Chel."


"Oh iya, enggak nyebut ya Mas." Aku berkata dengan memasang wajah sok polos. Padahal lagi niat ngerjain Mas Malik. Kapan lagi gangguin si bos.


"Jadi siapa dia?" cecar Mas Malik.


"Mas kenapa hanya nanya ke Rachel? Masih ada tiga orang yang bisa ditanyain loh Mas. Rachel nggak suka kalau kesalahan jadi ditimpa ke Rachel." Aku pura - pura protes.


"Oke, nanti Mas tanyain ke teman - teman."


"Mas, Rachel mau dong dijelasin siapa cewek bule tadi. Kok Mas Malik main di kecup aja bibirnya? Emang dia nggak tahu, kalau Mas Malik sudah punya pasangan?"


"Iya lah. Masa enggak lah."


"Maaf ya, tadi dia maen megang pipi Mas, jadi enggak bisa menghindar."


"Ya kan bisa mingkem Mas. Itu bibir diumpetin!" Aku bicara dengan nada kesal apalagi disaat bersamaan Mas Malik menatap dengan tertawa kecil. Sebel deh, ketawanya manis banget guys.


Setelah pembicaraan itu, kami tidak bicara lagi sampai akhirnya kita sampai kantor.


Sesampainya di ruangan, karena teman - temanku sudah duduk cantik di kubikelnya, aku langsung bicara, "guys, Mas Malik nggak percaya masa, kalau cowok bertampang agak bule dengan mata cokelat yang tadi adalah bohong. Gue dah males berantem, tolong dong bantuin gue jelasin sama bos kalian." Aku bicara dengan suara agak keras agar Mas Malik yang berjalan di belakangku bisa mendengar juga.


"Astaga, nih bocah! Seneng bener sih gangguin pacarnya." Mas Kelana lah yang mengucapkan kalimat itu. Padahal dia pencetus tema ini.


"Maaas, tapikan soal cowok agak bule itu kita beneran bohong." Aku melihat wajah Mas Malik terpasang serius. Jangan nanya sama aku, siapa yang pasang muka itu.


"Ada yang bisa jelasin?" tanya Mas Malik dengan nada datar.


"Ya ampun Malik! Kalau Rachel bilang itu bohong, ya emang benar bohong. Enggak ada cowok yang ngajak kenalan. Kalau elo belum siap pacaran sama cewek error nan gesrek ini, udah deh lepasin aja. Biar gue jodohin Rachel sama ipar gue!" Kali ini Kak Bertha komentar dengan nada geregetan.


"Berantem dulu loh Kak sama Mama gue. Dia masih terbayang - bayang Jaka yang nikah sama gue," ucapku sambil jalan ke kubikelku.

__ADS_1


"Jadi, cowok ganteng, agak bule, bola mata cokelat, itu bagaimana?" tanya Mas Malik lagi.


"Hahahahaha Chel, elo nambahin agak bule bermata cokelat? Gue suka sama ide brilliant elo itu. Sukses buat laki cemburu ke pasangannya. Karena gue kalau denger juga pasti cemburu," kata Indra.


"Sapa dulu dong. Rachel gitu loh. Kan gue kesel Ndra pacar gue main di sosor aja. Yaa gue bales lah." Akhirnya aku ungkapin deh isi kepala aku kesemua. Aku bicara sambil menyalakan komputer.


"Mas, sorry. Tadi asli itu refleks gue bohong sama elo. Eeh malah calon bini elo nambahin. Malah semakin meyakinkan ya? Tapi beneran deh, itu semua fiktif." Mas Kelana akhirnya membuat pengakuan dosa ke Mas Malik.


"Dasar ya! Anak buah durhaka! Pada mau gue kutuk jadi batu apa ya? Besok beliin gue makan siang. Enggak ada penolakan!" Mas Malik ngomong dengan nada kesal dan langsung berjalan ke ruangannya.


"Waduh dia ngambek", "Yaa, kena deh", "dia tadi niat gak sih traktir kita?" Itu kalimat yang keluar dari mulut kami semua secara bersamaan ketika pintu ruangan Mas Malik tertutup.


"Tenang - tenang. ATM si bos ada di gue. Besok beliin doi makan siang pakai duit dia aja," ucap aku menenangkan tim gesrek disertai senyuman licik tentunya. Rachel gitu loh.


"Wuuiih.. Baru jadian sudah dipercaya megang ATM nya. Gila loh Chel. Yaya aja setelah nikah baru gue kasih duit." kata Indra dengan muka takjubnya.


"Sudah deh Ndra, jangan suka nyamain hubungan tiap orang. Enggak ada yang sama. Ini aja gue pakai berantem buat nolak megang ATM nya. Tapi ya nasib, gue jatuh cinta sama cowok keras kepala ya gini deh." Curhatku ke teman - teman.


"Tapi itu salah satu bentuk kepercayaan cowok ke pasangannya Chel. Mungkin selama ini dia mengamati elo, eh bukan mungkin lagi deng, udah pasti itu dia mengamati elo. Buktinya, akhirnya dia nembak elo. Dia melihat kalau elo itu bisa di percaya, jadi dia nggak ragu ngasih ATM nya," kata Mas Kelana.


"Elo juga harus sabar Chel ngadepin Mas Malik. Apalagi ternyata banyak cewek kece yang suka sama dia." Indra pun ikut menasehatiku.


Aku hanya dapat menjawab, "makasih banyak ya, kalian semua selalu ada disamping gue apapun keadaan gue."


"Serius amat sih Bu. Santai aja, kita kan sudah seperti keluarga. Yang gue suka dari kita kalau marah ke sesama kita nggak lama atau cepat cairnya. Jauh dari rasa gampang tersinggung," kata Kak Bertha.


Kami pun kembali bertatapan mesra dengan layar monitor masing - masing. Alias kembali bekerja.


***


.


.


...Author-nya lagi kuat iman untuk tidak double up ya guys. Tapi dibanyakin kok kata - katanya. Lumayan kan nambah lima kata🤪🤪🤪...


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2