Bos Ajaib

Bos Ajaib
60. Ngerjain Mas Malik


__ADS_3

Saat ini aku sudah di apartemen Mas Malik. Sudah mandi, pakai baju baru yang habis dibeliin Becky atas permintaan Mas Malik. Ceritanya buat kalau aku pas main kesini seperti ini.


Mas Malik pun sudah mandi. Tapi nggak mirip kayak bos, habiiiis cuma pakai kaos oblong sama celana pendek doang. Dia sedang sibuk memilih channel televisi, di meja ruang keluarga sudah penuh dengan makanan yang kita beli tadi dilengkapi air mineral botolan. Hahahahaha sudah mirip di restoran.


"Kita makan disini saja ya, biar bisa sambil nonton," katanya saat melihat aku mendekat.


"Tapi Rachel belum lapar Mas. Kita bahas dulu aja yuk. Mulai ceritain siapa tuh cewek bulbul yang tadi?"


"Aiih sudah nggak sabar. Okay, Mas cerita. Namanya Anne, dia mantan pacar waktu di Jerman. Dia memang agresif, tapi kami sudah sepakat putus. So.. Kamu nggak usah khawatir."


"Sip! Tapi tolong kasih tahu, batasan dalam sentuhan sampai mana ke dia ya. Oh ya, juga ke teman - teman wanita Mas Malik lainnya. Mas harus jaga perasaan pacarmu yang imut dan manis ini. Bagaimana? Setuju?"


"Siaaap sayang. Tapi batasannya sampai mana?"


"Eh si bos pakai nanya lagi. Kalau mau pelukan, mau cipika cipiki, atau mau kecup - kecupan seperti tadi, coba bayangin kalau itu Rachel lalukan dengan orang lain, bayangin juga Rachel melakukannya dengan cowok guanteng Mas. Nah, sampai dibatas mana kemarahan Mas, disitu batasannya."


"Kamu enggak marah dengan kejadian yang tadi siang?"


"Jujur shock dan cemburu Mas. Tapi Rachel juga sadar kalau kita kan belum membicarakan hal ini. Lagi pula kita sama - sama belum tahu kehidupan masa lalu kita, yang mau enggak mau harus diterima sama pasangan kita. Iye kan Pak?"


"Widiiih.. Untung akhirnya Mas nekat nembak kamu. Tahunya kamu dewasa juga ya?"


"Lah, kemaren nembak alasannya apa Mas? Karena mulut yang suka ngoceh sendiri tanpa mikir ini ya?"


"Hahahaha... Banyak alasannya kok. Boleh ya, belum perlu diungkapin dulu."


"Terserah Mas aje deh. Kite mah asyik aje jek."


"Oke. Sekarang kita bahas kedepannya dari hubungan kita. Kamu kira - kira kalau ternyata Mama Mas nanti minta kita segera nikah gimana? Mama kamu juga sudah minta itu."


"Kan tahun depan Mas, setelah Reyka selesai kuliahnya. Habis ini dia thesis kok."


"Hhhmmm kalau Mas lamar kamu dulu gimana? Biar kayak Eva Celia gitu loh."


"Dih, update kehidupan seleb juga Mas? Kamu tuh diruang kerja sebenarnya ngapain sih?"


"Hahahahaha.. Main games di komputer. Tapi bohong deng. Suka sambil ngerjain kerjaan dari kantor keluarga juga Dek. Mas kan juga masih harus dampingin Bang Ravel."


"Nah ini yang Rachel nggak ngerti Mas. Ada hubungannya yang waktu di Padang sama di Hotel Ritz-Carlton itu ya?"


"Iya. Meskipun Bang Ravel sering kesal, kalau Mas lagi dibutuhin, Mas malah lagi sibuk sama kerjaan kantor kita."


"Kok bisa sih kerja di dua tempat gitu?" Penasaran aing mah. Jadi mulai kepo deh.


"Dua pihak sama - sama ngotot Mas harus terlibat. Bang Ben sama Mas Ricky maksa Mas balik ke Indonesia bareng Bang Ben untuk kerja disini. Terus sampai sini Papa minta Mas bantuin Bang Ravel yang lagi kewalahan. Tadinya nggak mau, karena memang selama ini Mas nolak. Akhirnya ada kesepakatan sama papa dan Bang Ravel, lalu mereka setuju. Ya udah deh, kerjain dua - duanya. Tapi Mas Ricky dan Bang Ben juga tahu, karena Mas curhat sama mereka."


"Ooh."


"Ada yang mau ditanya lagi nggak? Eh gimana kita lamaran dulu aja ya?"


"Rachel masih bingung Mas. Jawabnya nanti aja ya. Kita nonton film aja yuk!"


"Okeh. Kita nonton Avenger ya."

__ADS_1


"Hah? Nggak ada film komedi romantis gitu Mas?"


"Hehehehe nggak ada. Kapan - kapan kita beli deh atau nanti Mas nambah langganan channel televisi yang isinya film - film."


"Tapi aku nggak ngikutin film kayak gitu Mas."


"Ya sudah nggak papa, nanti tinggal nanya sama Mas kalau ada yang mau ditanyain."


"Oke." Aku pun mengikuti maunya Mas Malik. Dia pun menyetel film kesukaannya itu.


Setelah beberapa menit menonton, akhirnya aku pun bertanya, "Mas, itu siapa?"


"Oh itu Kapten Amerika."


"Rikanya mana?"


"Lagi lanjutin S2 Neng, di Bojong Kenyot. Gantinya Dewi."


"Ooh, jadi kalau nggak ame Rika, ame Dewi ya Mas."


"Iye, nggak pernah sendirian die. Selalu ame siapa gitu."


"Nah, itu mpok nya mirip Mas!"


"Mpok apaan Dek?"


"Mpok ame ame, belalang kupu - kupu.."


"Mas, itu yang hijau siapa?"


"Itu Hulk, Dek."


"Ooh, yang biasa buat sambel itu ya Mas?"


"Itu hulekan Julehaaaa."


"Ooh beda ya? Kalau yang cewek hijau itu, adeknya Hulk bukan Mas?"


"Bukaaan.. Emangnya kalau warnanya samaan harus saudaraan. Thanos sama Pasha, sama - sama ungu, nggak saudaraan."


"Iya juga ya."


"Dek, kamu kalau mau nanya lagi, nanyanya ke guru bimbel aja ya? Diakan pasti pinter, Mas capek jawabnya. Kalau nggak ke Mamah Dedeh ya? Beneran deh, capek, Dek."


"Yaaaah. Katanya tadi kalau ada yang mau ditanyain disuruh nanya Mas Malik. Nggak konsisten iiih pacar aku nih."


Aku agak sedih, karena kapan lagi gangguin Mas Malik. Ini sebuah kesempatan yang berharga karena selama ini dia suka nyinyir dan nyelekit kan kalau ngomong ke aku. Balas dendamnya kalau begini kan menyenangkan.


"Makan dulu aja ya. Nanti bebeknya malah kabur lagi kalau nggak dimakan."


"Oke." Begitu membuka bungkus bebeknya, semakin lapar, dan tanpa menawari Mas Malik, aku langsung menyantapnya.


Sambil makan, Mas Malik kembali buka percakapan. "Dek, tadi Mas fikir, kamu bakalan marah. Nggak tahunya bisa bersikap dewasa."

__ADS_1


"Sempet marah tadi, tapi kan teman - teman tadi menenangkan. Terus mikir deh, terus hilang deh marahnya. Jadinya ya begini deh. Selooow, kayak sandal selolow."


"Sandal Swallow Dek."


"Hahahahahaha.. Katanya capek, tapi tetap jawab aja." Aku tertawa terbahak - bahak, Mas Malik masih bisa dipancing.


"Habisnya risih, kalau ada yang salah bawaannya mau dibenerin aja."


"Kayaknya lolos nih jadi mantu Nyonya Keya. Dapat salam dari hulekan Mas."


"Mas belum berani ngejawab kalau mama Keya ngomong, takut salah. Nanti bisa di depak lagi."


"Iya, apalagi Mas Malik kalah sama cowok agak bule bermata cokelat." Aku mengatakannya sambil sibuk melahap bebek goreng. Untuk saat ini, aku melupakan peraturan kalau makan nggak boleh sambil ngobrol.


"Senang gangguin Mas ya kamu." Dia bicara sambil nunjuk - nunjuk dengan tulang bebek ke aku. Yang aku jawab dengan senyuman.


"Mas, kalau Rachel pacaran sama Mas Malik, tandanya Rachel susah bolos nih. Di pantau terus. Kalau sekali - sekali bandel boleh ya Mas?"


"Enggak boleh! Kamu harus mulai disiplin."


"Ah kamu nggak asyik! Ini nih, nggak enaknya pacaran sama atasan. Bisa kita cancel nggak Mas? Rachel jadi sebel kalau nanti Rachel mau bolos malah di ceramahin. Mau ya di cancel?"


"Emang ada ya pacaran terus di cancel? Emangnya jual beli?"


"Mas harus ijinin Rachel kalau mau bolos. Titik. Kan kadang kita butuh me time sama teman - teman Mas. Pleaseee." Asli! Aku lupa bahas ini di awal, pas dia nembak aku. Kacau kan kalau lagi mau ngelayap tahu - tahu si pacar resek. Aaah salah strategi ini sih!


"Kamu itu kalau bolos nggak berbobot Dek! Ke mol sama pasar, nggak ada tempat lain apa?"


"Terserah Mas mau ngomong atau bully Rachel kayak apa. Pokoknya, kalau Rachel mau bolos nggak boleh dilarang. Kalau dilarang, hubungan kita harus segera di cancel. Titik."


"Ampuuuun Julehaaaa. Kalau gitu ceritanya, Mas ikut bolos juga deh."


"Nggak boleh! Nanti disangkain kita bulan madu. Yang boleh bolos hanya Rachel, Mas enggak boleh."


"Dek, kamu kalau nakal nanti Mas kecup ya?!"


"Hah? Wong edan!"


***


.


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2