
Hari ini, aku hanya kerja bersama Mas Kelana. Kebayang sepinya, biasa ada Kak Bertha dan Indra yang suka membawa informasi dari mana-mana. Harapanku hari ini tetap menyenangkan dengan formasi minimal.
Mas Kelana sudah mulai serius dengan kerjaannya menggarap web Wuka Essential di kubikelnya. Sedangkan aku baru datang, dan hari ini masih harus menyelesaikan kriyacantik.
"Chel, hari ini kamu ikut saya meeting dengan klien. Siap-siap sekarang saja ya. Saya ambil tas saya dulu." Mas Malik yang baru dari dapur, memberitahuku saat aku belum sempat menyalakan komputer. Aku melihat dia tergesa-gesa.
"Hayok Mas, kalau mau langsung jalan," ujarku.
Enggak pakai lama, Mas Malik pun langsung ngajak aku pergi.
"Lan, gue jalan dulu ya ke klien yang di Bandung sama Rachel. Jaga ruangan ya, elo sendirian hari ini." Mas Malik pamit ke Mas Kelana.
"Oke Mas. Hati-hati ya. Jangan berantem di jalan, yang akur." Nasehat Mas Kelana sambil senyum. Aku menjawabnya dengan senyuman.
Kami pun langsung ke bawah. Dibawah, Astrid memberikan sebuah tas kamera ke Mas Malik.
"Titipan dari Mas Ricky? Oke, saya bawa ya Trid," kata si bos ke Astrid.
"Iya Mas." Astrid menjawab dengan singkat. "Hati-hati ya kalian," lanjut Astrid.
Setelah mobil keluar dari parkiran kantor, aku pun bertanya ke Mas Malik, "Mas, kita ke Bandung?"
"Iya Chel. Kliennya temannya Mas Ricky."
"Kok mendadak Mas?" tanyaku.
"Iya. Jadi klien ini, tadinya usahanya hanya menggunakan jasa IT Mas Ricky, tapi sepertinya akan ada perluasan usaha yang mau mereka seriusin. Mas Ricky juga ngabarinnya baru, pas saya di dapur tadi."
"Kok ngajak saya, bukan Mas Kelana? Biasanya kalau yang begini-begini sama Mas Kel." Mas Malik tidak menjawab hanya tersenyum sambil melirik.
"Rachel, kamu mau dengerin lagu apa? Atau kamu setel sendiri saja ya."
"Okey Mas." Aku pun langsung mengeluarkan ipadku dan kabel USB. Sambil memilih lagu, aku bertanya ke Mas Malik, " Mas, lagunya apa aja ya? Sesuka saya boleh?"
"Silahkan, asal jangan lagu sedih ya Chel. Kita butuh semangat pagi ini."
"Siaaap." Aku langsung menyetel lagu-lagu dari Ed Sheeran.
"Chel, mau beli cemilan enggak? Kita mampir beli makanan yuk! Burger kek atau apa gitu yang bisa saya makan sambil nyetir."
"Saya tadinya mau beli kopi Mas. Gimana kalau kita ke Starbucks beli kopi sama beli sandwich atau croissant atau kue apa gitu? Yak yak yak mau yak?" Aku memaksa Mas Malik biar mau.
"Boleh, enggak masalah. Yang penting bisa nendang di perut saya."
__ADS_1
"Mas hamil aja. Nanti baby-nya nendang perut Mas Malik deh," ucapku.
"Hahahaha ide kamu ngaco Juleha," jawab si bos.
Kami pun mampir ke Starbucks yang ada di rest area jalan tol. Melihat yang kami beli, sepertinya kami akan pesta di jalan. Untuk minumannya, JavaChip Frappuccino, Green Tea Cream Frappuccino, lalu ditambah Americano ukuran 1 liter. Sedangkan untuk cemilan yang mengenyangkannya, kami memilih
Smoked Beef Mushroom & Cheese, Classic Tuna Tostie, Beef Filone, Peanut Butter Panini, dan Srikaya Swirl Danish.
Mas Malik bilang, kita enggak tahu nanti situasinya seperti apa, jadi makanan kalau bisa berlimpah. Aku sih setuju ya.
Dalam perjalanan kami menikmati makanan dan minuman yang kami beli tadi sambil menikmati musik. Dan sepertinya nasehat Mas Kelana tadi tercapai, kami akur saudara-saudara.
Tapi kehebohan terjadi ketika kami memasuki kota Bandung. Kami berdua buta kota ini! Jadi untuk mencapai tempat tujuan, mau enggak mau, kami menggunakan jasa Google Maps. Kami berhenti di parkiran sebuah supermarket, untuk ngatur strategi. Hahahaha lebay ala bos, kayak mau perang. Musik pun sudah aku matikan, biar lebih enak nyari lokasinya.
"Chel, kamu bantu ya ngarahin petanya."
"Lah Mas, kan sudah pakai Google Maps," kataku sedikit bingung.
"Saya takut enggak konsentrasi Chel." Mas Malik berkata sambil menulis alamat tujuan di maps. Akhirnya, terdengar suara Mbak Google memberi arahan.
"Nih, kamu yang baca petanya ya. Kamu cukup lihat dan kasih tahu saya kapan beloknya," kata si bos.
Aku mulai mengecek arahan rute untuk mencapai lokasi yang akan kita datangi.
"Mas jaraknya lumayan ini, 18 kilometer. Saya harus terus terusan melihat petanya ya?" Boleh enggak ikhlas gak sih? Jauh kan.
"Chel, kamu waktu di London kalau jalan-jalan, ramai-ramai atau sendiri?" Mas Malik mulai nanya masa-maaa indah aku di negara orang.
"Tergantung. Tapi kalau mau berpetualang nyoba sesuatu yang baru, misalnya mau ke Belanda atau Perancis sering sendiri. Beberapa kali ada temannya juga sih."
"Enggak takut nyasar?" tanyanya.
"Kalau bingung, ya buka Google Maps," jawabku.
"In two hundred meters turn left," Mbak Google memecah obrolan kami dengan suaranya yang nyaring.
"Dua ratus meter nanti belok kiri," kataku menterjemahkan.
Setelah belok kiri tidak lama kemudian Mbak Google kasih petunjuk lagi, 'Keep straight."
"Lurus," ujarku.
"Saya nggak minta kamu jadi translator, Chel," tukas Mas Malik.
__ADS_1
Aku mengembuskan napas kesal. Apa tugasnya navigator dengan Google Maps yang bersuara? Penerjemah, kan? Kalau begitu buat apa aku jadi navigator.
"Kok diam?" tanya Mas Malik yang berubah menjadi supercerewet.
"Karena Mbak Google diam, Mas."
Mas Malik langsung tertawa. Kayaknya dia puas banget mentertawakan aku. Aku memutuskan untuk tidak menterjemahkan lagi. Ya kali, Mas Malik enggak ngerti bahasa Inggris. Aku cukup menjawab saat Mas Malik bingung.
Hingga akhirnya kita sampai di kantor temannya Mas Ricky. Lokasinya tidak terlalu sulit ditemukan, apalagi dibantu dengan bentuk arsitektur kantornya yang keren dan unik.
Temannya Mas Ricky namanya Mutiara, panggilannya Muti. Dia memegang usaha ayahnya berupa tempat wisata dan edukasi.
Wisata Petualang, itu nama tempatnya. Antara tempat usaha dan kantor pusatnya terpisah. Jaraknya sekitar dua kilometer. Nah, dilokasi Wisata Petualang itu ada pertaniannya, perkebunan, dan peternakan sapi yang hasilnya diolah menjadi susu dan keju. Di lokasi ini pun ada restauran yang bahan-bahannya berasal dari hasil panen pertanian, perkebunan, dan peternakannya.
Teh Muti mengatakan, "kami akan membuat web untuk usahanya dan juga hasil pertanian, perkebunan, serta peternakannya."
Dalam meeting ini kami lebih banyak mendengarkan apa yang diinginkan Teh Muti. Paling hanya beberapa pertanyaan yang Mas Malik dan aku lontarkan.
Sebenarnya untuk hasil pertanian, perkebunan, dan peternakannya sudah dijual juga melalui sayurituenak dengan mitra usaha di Bandung dan sekitarnya. Tapi karena ingin membuat web untuk keseluruhan usahanya tersebut, maka mereka juga membuat link sendiri. Mereka berharap cakupannya bisa lebih luas lagi.
Kami berkeliling keseluruh area tempat bisnisnya. Teh Muti juga ingin mempromosikan restorannya. Tadi kami makan siang disana, tempatnya luas, nyaman, dan makanannya pun enak, kalau menurutku rasa bintang lima.
"Kami menghadirkan aneka menu nusantara, tidak hanya makanan sunda, tetapi juga makanan Manado, Padang, dan beberapa kota lainnya," kata Teh Muti menjelaskan saat kami sedang makan siang.
Karena memang mereka sudah pasti menggunakan jasa perusahaan kita, Mas Malik minta ijin untuk memotret beberapa obyek yang sekiranya nanti dibutuhkan.
Mas Malik, memotret dengan detail. Yang tidak terfikirkan pun ia potret. Pengambilan angle-nya pun bagus.
Kami di lokasi sampai sore. Ketika pencahayaan sudah tidak bagus untuk pengambilan gambar, Mas Malik memutuskan selesai.
"Kami akan menyiapkan konsepnya untuk Teteh pelajari lebih dulu ya. Setelah itu, kami baru membuat alternatif desain sebagai pilihan. Yang dipilih, baru akan kami kembangkan lagi." Mas Malik menerangkan saat kami pamit.
"Boleh. Saya percaya sama timnya Ricky kok. Dia selalu serius dalam mengerjakan sesuatu. Oke, saya tunggu kabarnya ya," kata Teh Muti. Kami pun bersalaman dan pamit.
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung