Bos Ajaib

Bos Ajaib
67. Wanita Lain


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang melelahkan. Pagi begitu sampai kantor kami semua fokus untuk menyelesaikan desain kami masing - masing yang diharapkan pada rapat hari ini selesai.


Lupakan itu bercanda saling melontarkan hinaan yang nista ataupun komentar tidak penting lainnya, bahkan kami mengabaikan gosip yang sedang hips di kantor mengenai Bang Ben. Seperti yang pernah aku bilang dulu, kalau gosipin para atasan itu menggiurkan.


Setelah makan siang tadi kami rapat seperti biasa dan memberikan laporan perkembangan desain kami ke Mas Malik.


Desain Mas Kelana sudah selesai sempurna, Indra ada yang diminta dirubah sedikit, Kak Bertha desainnya kurang sedikit lagi, tapi setelah itu selesai, karena semua sudah sesuai dengan target yang diinginkan. Aku? Sebenarnya sudah selesai, tapi menurut Mas Malik ada yang harus dirubah sedikit karena menurut dia ada yang aneh. Dia minta setelah rapat aku ke ruangannya, dia akan bantu menyempurnakan.


Setelah meminum es teh Dilmah yang kubuat di pantry dan kumasukkan ke tumbler, aku pun ke ruangan Mas Malik.


Eh, tidak lupa aku bawa tumbler-nya ke ruang Mas Malik sama kacang sukro, ipad, dan ponselku yang semuanya kumasukkan ke kantong kain yang biasa ada di tas aku, buat jaga - jaga untuk belanja.


"Mas, beresin desain sekarang aja ya?" tanyaku saat masih berdiri di depan pintunya.


"Oke, masuk dulu Dek." Mas Malik menjawab pertanyaanku sambil menelepon seseorang yang sepertinya sedang dia marahi.


Aku tidak bisa menebak siapa yang ada dibalik telepon itu, karena kalau Becky tidak mungkin Mas Malik semarah itu. Keluarga Mas Malik terlihat akur, Selain itu, tak mungkin kalimat itu dilontarkan ke keluarganya.


Sekitar lima menit kemudian Mas Malik menutup teleponnya. Kemudian dia minum air dari tumbler-nya dan mengatakan, "itu tadi dari salah satu mantan Mas yang minta balikan."


"Hah? Emang putusnya kapan Mas?"


"Empat tahun yang lalu, saat masih di Jerman. Kan Mas sudah pernah cerita ke kamu, kalau Mas belum pernah nembak cewek selain ke kamu. Nah, dia dulu salah satu yang nembak Mas dan dia dengan percaya diri mengatakan cinta ke Mas lagi, dia yakin Mas masih suka sama dia."


"Hihihihihi.. kacian pacarku ini. Ya udah di block aja Mas teleponnya, kalau Mas terganggu."


"Dia ngancam mau datang ke sini tadi. Sudah dibilangin kalau Mas sudah punya calon istri nggak percaya. Pede banget."


"Lah! Ya udah, nanti aja mikirin mantan minta balik. Sekarang jadi mau ngerjain desainnya nggak? Apa mau nostalgia soal mantan dulu?"


Kalau soal seperti ini aku tuh nggak cemburu, karena aku tahu si doi jujur dan kelihatan kok siapa yang ngejar. Tapi kalau sudah urusan bibir, monmaap aku bisa marah.


"Hahahahaha... mantan itu nggak penting. Yang penting masa depan Mas sama cewek yang ada di depan mata."


"Gombal lagi, gombal terus." Ucapku sambil mencibirnya.


"Ya udah yuk! Bangku kamu di taruh di samping bangku Mas aja. Mas masih ke ganggu sama tulisan yang di tengah bawah di desain kamu." Mas Malik menjelaskan perihal desain aku yang belum sempurna dimatanya.


"Oke Mas. Tunggu ya. Adek meluncur dengan kursi ajaib," kataku sambil duduk dan menjalankan bangku kerja beroda.


"Astaga, bukannya di dorong, malah dinaikin itu bangku. Masa kecil kamu bahagia kan Dek?"

__ADS_1


"Bahagia dong. Apalagi Adek seneng bongkar sepeda, terus Papa marahin deh, karena rantainya sering Adek lepas." Hahaha aku mengenang masa kecilku yang serba penasaran.


"Ya ampun, dulu kamu itu masuk TK apa masuk bengkel sih Dek?"


"Yeeeey... Ya udah yuk yang mana nih yang kurang oke desainnya menurut Mas?" Lalu kami pun serius mengerjakan desain itu. Terkadang ada perdebatan yang you know lah, dimenangkan oleh siapa. Yes! Si bos yang tidak mau dibantah lah.


Satu jam kemudian saat aku masih mengerjakan desain dengan Mas Malik yang memantau sambil buka ipad aku, karena dia malah sibuk meneruskan game yang sedang aku mainkan, Indra masuk dan memberi laporan kalau desainnya minta di cek.


Akhirnya aku mengalah. Aku save dulu desain aku, dan bangku aku di pakai sama Indra.


"Chel, ini kursi kenapa panas habis di pake elo?" Indra nanya sambil berbisik.


"Tandanya gue hot," aku berkata dengan nada sombong dan dengan nada suara yang pelan.


"Halah, sok hot. Kayak yang udah pernah ngapa - ngapain aja sama si bos," Indra bicara dengan nada meledek.


"Sok tahu loh!" Nggak mungkin kan kalau aku membocorkan kalau aku suka masih risih bersentuhan dengan Mas Malik apalagi di depan umum.


Aku pun mengambil ipad dari tangan Mas Malik, dan duduk di sofa sambil nunggu mereka kerja. Tidak lama kemudian terdengar diskusi serius antara dua pria ini.


Untungnya aku bawa es teh dan kacang sukro andalanku yang menemani aku bermain game, jadi waktu setengah jam pun tak terasa. Sampai akhirnya aku mendengar sapaan, "Woy, cewek. Sana belajar lagi, biar cepat pinter." Siapa lagi kalau bukan Indra yang komentar seperti itu.


Setelah Indra keluar, aku kembali diskusi dengan Mas Malik. Kalau lagi serius gini, dia memang benar - benar seperti atasan. Nggak ada atasan rasa pacar gitu. Jadinya cepat selesai dan aku mengerti apa yang ada di kepala Mas Malik mengenai desain yang dia maksud. Keren sih.


"Yuk berdiri dulu Dek, pantat Mas panas nih." Aku pun mengikuti yang dia mauin.


"Sini." Mas Malik menarikku dan langsung memelukku.


"Mas, jangan iseng ah. Nanti ada yang masuk loh." Aku berkata dengan sedikit tidak nyaman. Lah di kantor pelukan. Haduuuh, that's not me!


"Biarin. Kan sudah pada tahu kalau kamu calon istri Mas. Misalnya ada yang nggak setuju paling laporan ke orang tua kita dan kita dinikahin deh. Kan asyiiik, Dek."


"Mas, lepas deh. Risih." Aku berkata sambil berusaha melepaskannya. Tapi kalian tahu lah, nggak akan bisa aku melepaskan rangkulannya dengan mudah. Jadi setelah gagal melepaskan diri... aku memutuskan pasrah dengan muka cemberut.


Saat kepalaku bersandar di bahu Mas Malik dan menikmati harum tubuh si doi dalam keheningan, pintu ruangan ada yang mengetuk dan dicuekin dong sama Mas Malik.


Aku langsung mencubit Mas Malik. "Mas itu ada yang ngetuk pintu. Lepasin ah," kataku seraya mengangkat tegak kepalaku.


"Nggak usah. Mereka pasti ngerti kok, kalau nggak dibukain, karena disini ada kamu, tandanya nggak boleh di ganggu," ucap si bos yang lagi mencong otaknya.


"Maliiik! Pintu di ketuk kok..." kalimat tidak selesai itu meluncur dari mulut seorang wanita yang tidak aku kenal dari depan pintu ruangan Mas Malik.

__ADS_1


"Eli! Ada urusan apa kamu kesini?" Mas Malik bertanya dengan intonasi muka datar tapi pelukan nggak di lepas. Sableng!


"Siapa dia? Kenapa tidak kamu lepas pelukannya?" tanyanya sambil menutup pintu.


"Dia calon istri gue." Mas Malik berkata sambil salah satu tangannya mengarahkan daguku ke wajahnya, dan dia langsung mencium bibirku!


Aku? Yang pasti kaku. Lagi berduaan aja aku nggak mau di sentuh, nah ini ada orang lain. Emang ngaco nih si doi.


"Percaya sekarang? Jalani hidup kita masing - masing tanpa harus mengganggu. Sorry, gue masih mau meluk cewek gue." Mas Malik bicara dengan nada santai walaupun maksudnya mengusir.


Mas Malik malah sekarang mainin dagunya di kepala aku. Kalau lagi kondisi seperti ini, aku nggak ngerti mesti gimana. Jadi aku diam saja. Ini juga masih shock dan masih terbayang lembutnya bibir pacarku. Aaaah! Ini bakalan nggak bisa tidur. Mas Malik resek!


Lama - lama aku bisa kram deh sepuluh menit dipeluk begini. Aku tidak mendengar ada pergerakan dan aku tahu wanita yang di panggil dengan sebutan Eli tadi masih ada. Wajahku memang membelakangi dia setelah Mas Malik menciumku. Tapi adegan pelukan ini aku jamin tidak akan selesai kalau si Eli itu tidak keluar dari ruangan Mas Malik. Mas Malik gitu loh, keras kepala.


Aku harus mencari akal. "Mas," aku memanggil Mas Malik dan menatap wajahnya. Saat Mas Malik menatap wajahku, aku pun langsung bergerak cepat mengecup bibir Mas Malik dan setelahnya tersenyum menatapnya.


Aku nekat? Iya! Daripada ada wanita lain yang mengecup bibir pacar aku lagi dan membuat aku cemburu. Lebih baik, aku membuat wanita lain yang masih suka sama Mas Malik cemburu. Harapannya, semoga si Eli itu cepat meninggalkan ruangan Mas Malik.


Keinginanku tercapai! "Malik, saya tidak suka melihat akting kalian. Saya percaya cepat atau lambat permainanmu akan selesai. Saya permisi!" Ku dengar suara sepatu menjauh hingga akhirnya terdengar bantingan pintu ruangan Mas Malik.


"Dia itu namanya Elizabeth, Mas biasa memanggilnya Eli. Dia yang tadi menelepon Mas, saat kamu masuk ruangan ini." Mas Malik memberikan penjelasan tanpa aku minta.


"Dek, kalaupun hubungan ini harus berakhir di dunia, Mas berharap itu karena maut yang memisahkan kita ya."


So sweet banget sih pacarku ini. Akhirnya, aku menyingkirkan rasa malu dan risih selama ini. Aku membalas memeluk Mas Malik. "Makasih ya Mas, Adek senang dengar niat baik Mas Malik."


Kok aku jadi kepikiran gedung pernikahan ya? Kira - kira, nanti enaknya, punya anak berapa ya?


***


.


.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2