
Sejak motor aku di cek sama Mas Malik dan dia sudah menyetujui aku buat mengendarainya, keesokan harinya Mas Malik minta aku untuk ke kantor mengendarainya didampingi dia. Mobil Mas Malik di taruh di rumah. Ya, dia custumer pertamaku yang mencoba diboncengin di motor baruku. Mas Malik juga tidak protes dengan cara bermotor aku. Tandanya aku lolos uji coba di motorku sendiri. Yippy!
Nah, hari Rabu sampai Jumat pun aku masih mengendarai motor, tapi sendiri tanpa Mas Malik.
Pertemuanku dengan Mas Malik hanya di kantor. Dia terlihat sibuk, menjelang sore dia sudah pergi keluar, sampai saat jam pulang kantor pun tidak terlihat lagi.
Pulang kerja pun aku selalu menemukan rumah dalam keadaan sepi, seperti Rey sudah balik ke Belanda dan Mama pun begitu. Mama selalu pulang setelah lewat jam 8 malam bersama Papa. Sedangkan Rey selalu pulang bersama Jaka. Oke lah aku mengerti, dia mau puas puasin pacaran sama yayang bebeb-nya.
Tapi aku jadi merasa sepi. Pulang kantor cepet, di rumah kosong. Mau pulang malam pasti diprotes sama si bos yang tidak mau menerima penolakkan. Serba salah deh. Memang sih, makan malam pasti sudah terhidang komplet, bahkan pernah yang terhidang bukan makanan rumahan, tapi beli dari restoran. Gaya bener deh nyonya Keya.
Hari ini sudah Jumat malam. Besok aku ulang tahun yang rencananya di rayain. Tapi Mas Malik sama sekali nggak mau bocorin apa - apa. Aku tanya siapa saja yang datang atau yang perlu aku undang, dia jawab, ' itu semua urusan Mas. Kamu tinggal datang saja'. Aku malas mencari gara - gara buat berantem, karena emang nggak perlu sih.
Tadi waktu aku makan siang bareng Mas Malik di ruangannya, dia bilang besok acara ulang tahunku diadakan pas jam makan siang. Dia akan jemput aku. Karena dari awal aku diminta ikutin apa yang dia rencanakan, ya aku sih setuju aja. Lah kan dijemput tinggal duduk aja di mobil, terus begitu sampai tinggal tiup lilin. Gitu kan ya? Harusnya sih. Tapi nggak ngerti juga deh konsepnya Mas Malik sama Becky.
Setelah mandi dan bersih - bersih, aku menunggu semua pulang di ruang keluarga sambil nonton Disney Channel.
Hampir satu jam, akhirnya yang ditunggu pun datang. Ternyata Reyka datang bareng Mama dan Papa.
"Kalian habis dari mana sih? Rachel kesepian, mau pulang malem dilarang sama Mas Malik. Pergi nggak bilang - bilang tujuannya kemana. Sebel." Aku bicara dengan ekspresi muka kesal.
"Yaa, kan Mama nggak tahu kalau kamu pulang cepat. Ini Mama bawain cemilan buat kamu." Kami pun berjalan ke ruang makan.
"Woow.. enak nih kelihatannya. Mah, Pah, kata Mas Malik besok acara ulang tahun aku jam makan siang. Tapi nanti di jemput Mas Malik." Aku memberitahukan rencana untuk besok yang tadi kami bicarakan saat makan siang.
"Yaah Chel, kayaknya Papa sama Mama perginya nggak bareng kamu deh. Besok Papa sama Mama ada acara pagi dan rencananya langsung ke Shangri-La, biar nggak perlu bolak balik," kata Papa.
"Oh gitu. Tapi beneran dateng ya Papa sama Mama. Rachel nggak enak sama keluarga Mas Malik kalau Mama Papa nggak dateng. Rey, kamu besok bareng Mbak kan?"
"Iya, Papa pasti datang kok Chel. Kan Mama sudah sibuk ngurusin pasangan kamu, masa menyia - nyiakan kesempatan ketemu keluarga Malik." Papa menjawab sambil mengelus punggung aku.
"Iya Mbak, besok Reyka ikut Mbak sama Mas Malik. Mas Jaka nanti langsung ke Shangri-La kok."
"Oke. Pokoknya Rachel mau keluarga kita semua dateng, kalau nggak dateng nanti Rachel nangis." Aku mengancam keluargaku.
__ADS_1
"Anak Papa sudah besar, ulang tahunnya dirayain sama pasangannya sekarang ya," Papa bicara sambil merangkul aku dan mencium pipiku. Kesannya kok Papa terharu gitu ya?
***
Heemm hari ini ulang tahunku yang ke-28. Udah tua, tapi masih di rayain. Nggak kebayang deh acaranya seperti apa.
Tepat jam 12 tadi malam, Mas Malik video call ngucapin selamat ke aku. Nggak lama juga, karena aku juga sudah ngantuk. Wajah Mas Malik juga terlihat capek, jadi aku suruh tidur.
Tapi lucunya dia nyiapin cup cake yang dikasih lilin menyala, terus minta aku niup, tapi ya lilinnya mati karena dia yang niup.
Ah aku mandi dulu deh, habis sarapan, langsung dandan aja.
Di meja makan sudah ada Rey, Mama, dan Papa. Mereka semua ngucapin selamat ke aku, tapi kok kali ini aku merasa lebih tersentuh.
Bagaimana nggak tersentuh, kedua orang tuaku ngucapin selamat sambil menasehati dan menangis. Lah biasanya kan nggak pakai nangis. Yang bikin terharu tuh, kami berempat pelukan. Ya ampuuun, kami sudah seperti Teletubbies yang sedang berpelukan.
Setelah Mama dan Papa ngemil dan minum teh yang memang selalu tersedia tiap pagi di meja makan untuk kami, mereka pamit pergi ke kami. Yang membuat aku lega adalah mereka membawa baju ganti yang akan mereka kenakan untuk perayaan ulang tahunku.
Setelah selesai sarapan, aku minta Rey untuk bersiap - siap juga. Aku memilih untuk dandan cantik, takut aja kebanting sama Mama dokter yang penampilannya terlihat hips.
Lagi - lagi, aku harus bersyukur karena nyonya Keya pernah memaksaku untuk kursus kecantikan, sehingga aku nggak perlu pergi ke salon.
Sekitar setengah sepuluh, Mbak Rum mengabarkan kalau Mas Malik sudah menungguku di ruang keluarga. Tanpa menunggu lama aku yang sudah siap langsung menghampirinya.
Saat Mas Malik melihatku yang datang menghampirinya, dia merentangkan tangannya dan kemudian memelukku. "Selamat ulang tahun calon istrinya Mas. Harapan Mas, kamu selalu bahagia disamping Mas."
"Makasih Mas. Tapi kebahagianku salah satunya tuh kalau bos aku di kantor nggak resek, mulutnya kalau ngomong sudah nggak nyakitin perasaan aku, tapi aku nggak berani negur dia. Aku takut dikutuk jadi kodok, Mas," jawabku merengek masih di dalam pelukannya.
"Cantiknya Mas, nanti Mas tegur deh atasanmu yang ganteng itu. Tenang aja." Mas Malik menjawab sambil kedua tangannya melepaskan pelukannya dan memindahkan tangannya ke wajahku.
Sekarang aku merasakan kalau tatapan Mas Malik seperti ini membuat aku deg - degan. Perasaan mau ada yang aku cium gitu diwajahnya.
Eeeh... tapi kok, Mas Malik malah.. aduh.. aduh... wah kacau nih, tatapannya.. aduh aku malu ditatap seperti itu, aku lebih baik memejamkan mata deh biar aman.
__ADS_1
Oooh! Aku merasakan lembutnya bibir Mas Malik di bibirku! Refleks aku memegang erat bajunya. Kubiarkan Mas Malik berekspresi. Aku saat ini hanya pas - rah!
"Buka matanya dong Dek. Ini hadiah ulang tahun dari Mas. Kamu nggak suka ya?" Mas Malik dengan ekspresi muka serius tapi agak jail gitu sambil jemari tangannya menyentuh seputar bibirku.
Hah? Ngaco nih cowok! Bukannya kasih seikat bunga yang cantik, hadiah ulang tahunnya malah ngajakin senam bibir. Nggak modal banget sih! Eeh tapi ini aku deg - degan guys. Rasanya gimana gituu.
Tapi, dia mengulanginya lagi. Entah apa yang terjadi pada diriku, tidak ada niat untuk menendangnya seperti niat awal dulu kalau dia macam - macam.
"Mas... Ada Reyka. Malu kalau dia lihat. Aku panggil dia dulu ya, biar bisa langsung jalan." Aku pun melepas pegangan tanganku di bajunya. Mas Malik hanya mengangguk dan tersenyum manis. Semanis gula aren.
Tapi aku nggak langsung ke kamar Rey, aku ke meja makan dulu, ambil minum. Ya kali, aku bisa cuek habis senam bibir sama Mas Malik. Aaah lipstik aku pasti belepotan deh.
Setelah aku memanggil Rey dikamarnya yang ternyata sedang teleponan sama Jaka, aku memilih masuk kamar dulu. Touch up dulu lah. Nggak seru aja kalau ternyata riasanku belepotan gara - gara si Tuan Muda itu.
***
.
.
.
Guys, author mau siap - siap dulu ya, mau ke Shangri-La juga. Mas Malik ngundang author diem - diem.
Tunggu ya laporan pandangan matanya besok 😉
.
.
.
Bersambung
__ADS_1