
"Woy, serius deh gua itu gak halu " Ucap Raka
"Terserah lah, pergi sana gua mau tidur " Usir Rama.
Raka menghela nafas nya dan pergi keluar dari kamar Rama dan kembali ke kamar nya sendiri.
Raka melempar tubuh nya di atas ranjang empuk itu, pikiran nya tak lepas dari sorot mata wanita bercaping itu, sorot mata yang sangat mirip dengan Kiara.
Entahlah, kenapa ia bisa seyakin itu namun Raka benar-benar melihat nya dengan sangat jelas.
Raka menghela nafas nya dan memilih untuk memainkan ponsel nya, meskipun masih terbayang-bayang sorot mata dari wanita bercaping itu, namun Raka mengabaikan nya.
Sementara itu Nyi Tusta terus mengejar Nimas Rara Santang yang kini masih melesat cepat, sampai akhir nya Nyi Tusta kehilangan jejak dari Nimas Rara Santang.
"Sial, aku kehilangan jejak nya " Ucap Nyi Tusta kesal.
" Tapi itu lebih baik, tidak mungkin aku bisa melawan nya dalam keadaan tubuh ku ini " Ucap Nyi Tusta sambil kembali melesat cepat.
******
__ADS_1
Nimas Rara Santang kini masuk kembali ke dalam tubuh Kiara.
"Apaan tuh? " Gumam Kiara ketika merasakan tubuh nya di masuki sesuatu.
Mata gadis itu melihat sekitar ruangan kamar nya namun tidak ada apapun, bahkan hantu pun tidak ada.
"Mungkin cuma perasaan aku aja " Ucap Kiara sambil menutup buku novel yang ia baca.
Belum sempat Kiara melangkah ke tempat tidur, pintu kamar nya sudah di ketuk oleh seseorang.
Kiara berjalan mendekati pintu itu, ketika Kiara membuka pintu ia melihat Axel yang tengah berdiri dengan wajah panik.
" Dafa sakit, badan nya panas banget " Ucap Axel.
" Yaudah, coba aku mau liat " Ucap Kiara sambil berjalan menuju kamar Axel yang di ikuti Axel di belakang nya.
Saat Kiara sampai di kamar Axel, Kiara sudah melihat sang ayah yang seperti menelpon ambulans.
" Ayah, Dafa kenapa? " Tanya Kiara berjalan mendekati sang ayah.
__ADS_1
" Kaya nya kena DBD " Ucap Ayah Fandi yang sudah selesai dengan telepon nya.
"Ayah tadi telepon ambulans ya? " Tanya Kiara
" Iya " Ucap Ayah Fandi.
Kiara melihat Dafa yang terlihat menggigil, ada rasa lega dalam hati Kiara ketika tau kalau Dafa tidak di ganggu oleh demit dan sejenis nya, tapi ia pun juga merasa panik karena Dafa terkena DBD.
Kiara berusaha tetap tenang saat itu, ke dua orang tua nya kini dalam kondisi panik begitu pun Axel jadi Kiara tidak boleh panik, sambil menunggu ambulans Bunda Intan memberi minyak kayu putih pada tubuh Dafa.
Tak berapa lama ambulans pun tiba, Dafa pun di larikan ke rumah sakit terdekat agar bisa cepat di tangani oleh para medis.
Kiara dan yang lain nya pun mengikuti mobil ambulans itu dengan menggunakan mobil nya.
Dafa di larikan ke rumah sakit cempaka, saat menginjakkan kaki ke rumah sakit itu Kiara sudah di beri tatapan tajam dari penunggu rumah sakit itu.
Hawa dan aura dari rumah sakit itu pun gelap, Kiara mengerutkan kening nya ketika melihat hantu-hantu yang seakan ingin menerkam nya hidup-hidup saat itu juga, tatapan tajam bak singa yang lapar, anggota tubuh yang tak lengkap, bau darah yang menyeruak membuat Kiara lebih memilih membuang muka dari pada melihat hantu-hantu itu.
Kiara bukan nya takut tapi ia sedang malas berurusan dengan demit itu yang ada di pikiran nya kini adalah bagaimana keadaan Dafa itu saja yang Kiara pikirkan.
__ADS_1